Pink Floyd – Live At Pompeii

Saya salah besar, saya benar-benar keliru selama ini. Tuhan ampunilah saya! Sekian lama saya telah mempercayai sesuatu yang ternyata telah basi. Saya tertipu! Radiohead, Sonic Youth, Sigur Ros, Mogwai, Spiritualized, M83 dan lain sebagainya ternyata telah mengelabui saya. Saya mengira band-band hebat tadi adalah sesuatu yang baru dalam dunia musik atau menawarkan jenis musik yang baru?! Salah! Pink Floyd telah memainkan musik seperti band-band hebat tadi setelah saya melihat video ini. Video keluaran tahun 1972 ini [kita belum lahir bahkan ortu kita belum maried mungkin] saya dapatkan di bandara Juanda ketika sedang menjemput kerabat saya. Pertunjukan live mereka di stadion ala kerajaan Romawi [ingat film Gladiator?!] yang kosong namun sangat artistik sekali. Pink Floyd memang jenius di jamannya, bahkan sampai saat ini. Lulusan arsitek dan seni rupa bertemu untuk membuat band yang katanya beraliran psikedelik, art rock, prog rock, avant garde atau apalah – saya sendiri sampai saat ini tidak paham apa itu avant garde?! Formasi David Gilmour [vokal, gitar], Roger Waters [vokal, bass], Richard Wright [vokal, keyboard, piano], dan Nick Mason [drum] memang formasi paling pol di Pink Floyd – tanpa mengurangi rasa hormat pada Syd Barret, vokalis terdahulu mereka yang sakit jiwa. Ketika melihat dan mendengarkan video ini saya jadi teringat pada band-band jaman sekarang ; kerumitan aransemen ala Radiohead, ke-noise-an dan harmonisasi ala Sonic Youth, atau proges penjiwaan instrumen ala Mogwai. Semua itu sudah pernah dimainkan Pink Floyd! Simak ketika lagu Echoes Part 1 atau Us And Them, Pink Floyd sudah bermain seakan-akan mereka adalah Radiohead di jamannya. Di lagu A Saucerful of Secret, gitaris David Gilmour sudah bermain gitar ala Thurston Moore, bahkan lebih absurd dan liar. Lagu-lagu di video ini memang berdurasi panjang, tapi tidak membuat saya ingin beranjak atau menghentikannya. Tidak dapat saya bayangkan apabila para personel Pink Floyd lahir dan kembali muda di jaman kini. Sebuah era emas kejayaan musik yang telah mencair dan melahirkan band-band hebat yang anda dengar saat ini. Saya seperti mencapai kebahagiaan menikmati musik dengan sebotol penuh wine sambil terkagum-kagum… [rusl]

Managing Artists In Pop Music

Mitch Weiss & Perri Gaffney

Gramedia Pustaka Utama

Anda sudah lama merasa gagal dalam bermain musik? Tergabung dalam dalam band yang tidak pernah sukses? Pernah bikin label rekaman dan lalu bangkrut? Tidak becus juga mengelola bisnis clothing atau distro? Jadi promotor dan membangun bisnis event organizer yang selalu merugi dan diuber-uber polisi? Well, sepertinya anda perlu segera banting setir kalau ingin tetap bertahan aktif di industri musik yang kejam seperti sekarang. Kenapa tidak mencoba ke belakang layar dan menjadi seorang manajer band?! Siapa tahu, mungkin peruntungan anda ada di sana. Buku ini bisa jadi panduannya. Setiap bab cukup untuk memenuhi kebutuhan anda untuk menjadi seorang manajer handal. Mulai dari soal perencanaan karir musik, mengorbitkan band baru, manajemen artis, sampai pada masalah kontrak hukum, pajak, dan keuangan. Buku berjudul Managing Artists In Pop Music ; Kunci Sukses Artis dan Manajer ini ditulis oleh Mitch Weiss dan Perri Gaffney, praktisi bisnis musik asal Amerika Serikat yang telah puluhan tahun berkecimpung di bidangnya. Bagusnya, buku tidak membosankan. Ditulis secara ringan dan tepat dalam alur kalimat yang bercerita. Seperti membagi pengalaman kedua penulis di saat mereka sedang mengelola artis atau menghadapi berbagai kendala yang biasa terjadi dalam bisnis musik. Lengkap disertai berbagai contoh perjanjian dan kontrak dalam berbagai versi – yang selalu dibandingkan kelebihan serta kelemahannya. Anda bisa simak bahwa manajemen adalah masalah bakat, seni dan keterampilan. Juga bermacam studi kasus dan trik ketika menghadapi pers yang usil, promotor yang egois, atau artis yang bandel. Sebenarnya tidak ada rumus atau formula yang baku. Setidaknya, jika anda cukup memahami bagaimana industri hiburan dan bisnis musik ini berjalan, niscaya anda sudah semakin dekat dengan kesuksesan. Jelas menjadi manajer band bukan hanya sekedar mencarikan job manggung, mengurus booking, terima fee, atau membawakan peralatan musik yang seabrek itu. Buku ini sudah cukup menjelaskan banyak hal tentang seluk-beluk manajemen musik. Semua kalangan yang bergerak di dalam bidang bisnis hiburan dan industri musik perlu membacanya. Ada banyak pengalaman dan pelajaran berharga di balik setiap tahap pengelolaan bisnis musik. Well, masih bersikeras menjadi rockstar jika band anda selalu gagal dan selalu ditangani oleh orang yang salah? Coba pikirkan lagi. Mungkin takdir anda bukan menjadi seorang rockstar, melainkan ‘the next great manager’ seperti Dhani Pete [Gigi], Wendi Putranto [The Upstairs], Rudolf Dethu [SID], Santi [Koil], Jemi [Burgerkill], Bin Harlan [Efek Rumah Kaca], atau bahkan Rod Smallwood [Iron Maiden]. Terkadang cita-cita seperti itu lebih terpuji dan nyaris mendekati surga. Saya rasa masih banyak artis dan band pendatang baru di luar sana yang butuh sentuhan tangan dingin anda. Oke, baca baik-baik buku ini, terapkan sesuai kondisi, jadilah kreatif, dan lupakan dulu cita-cita anda untuk menjadi rockstar!… [samack]

Grunge Indonesia ; Subkultur Para Pecundang

YY

Gnoisetcsm.Lab

Sangat menyenangkan ada karya buku yang coba mendokumentasikan komunitas musik di tanah air. Kali ini yang dibahas adalah [komunitas] musik grunge. Sang penulis itu adalah YY, pentolan dari grup band Klepto Opera dan Ballerina’s Killer. Draft tulisan yang memiliki judul panjang Grunge Indonesia ; Subkultur Para Pecundang ini mengalir dalam 248 halaman. Komunitas grunge di negeri ini memang kalah besar dan kurang mengkilap dibandingkan dengan komunitas punk, hardcore, metal, atau bahkan indie-pop sekalipun. Namun selalu menarik untuk menyimak sepak terjang mereka di tengah arus musik independen yang cukup kompetitif. Buku ini mengingatkan saya, bahwa komunitas grunge sangatlah minoritas dan entah kenapa agak terpinggirkan. Apakah ini euphoria dari arus trend Seatle Sound dengan ‘tuhan’-nya yang bernama Kurt Cobain dalam jubah Nirvana?! Sejujurnya iya. Kenyataannya memang begitu, meski banyak ditepis oleh sebagian kalangan. Tampaknya komunitas ini juga banyak menghabiskan enerjinya hanya untuk memahami apa itu grunge – mulai dari sejarah, budaya, life style, dandanan, sampai pada trik mengimitasi para pahlawan atau musisi idolanya. Kesannya komunitas grunge itu terlalu ribet mengurusi dirinya sendiri. Terlampau mendasar dalam membangun citra scene musiknya. Dulu, saya memang sering menemui anak grunge yang hafal luar kepala tentang sejarah dan budaya musiknya. Mereka bisa bercerita banyak soal Seatle seakan-akan itu adalah kampung halamannya. Mendongeng panjang tentang Sub Pop, Nirvana, atau kemeja Flanel. Mereka memang fasih kalau disuruh bercerita soal grunge mulai dari A sampai Z. Luar biasa. Saya musti memberi aplaus untuk wawasan mereka di bidang ‘grunge-o-logi’. Anak punk, hardcore atau metal aja tidak sampai segitunya dalam memaknai genre-nya. Entah siapa yang memulai ‘pembelajaran’ seperti itu. Tapi ironisnya, scene grunge di Indonesia masih jauh di level mapan dibandingkan dengan genre lainnya. Tampak stagnan dan tertinggal, terutama dalam industri. Apakah karena terlalu sibuk menghayati perannya sebagai anak grunge?! Larut dalam dimensi keterasingan dan psikologis?! Berupaya terlalu keras menjadi ‘kurt cobain’ dibanding Kurt Cobain sendiri?! Terlalu sibuk mabuk dan membanting gitar di setiap konser?! Atau memang grunge sudah menthok dan tamat sejak ‘tuhan’-nya memilih untuk bunuh diri?! Well, ini pekerjaan rumah yang cukup besar bagi komunitas grunge di Indonesia. Sayangnya buku ini kadang ikut larut dalam diskursus seperti itu, dan kurang banyak mengupas pergerakan atau prestasi band-band grunge lokal. Kalaupun ada, itu cuma sekilas dan agak kurang mendalam. Atau memang begitu keadaannya?! Hanya mereka yang terlibat aktif yang tahu. Terlepas dari baik-buruknya suatu komunitas, dokumentasi tulisan seperti ini sangatlah penting dan bermanfaat. Karya ini bakal lebih keren lagi kalau dikasih semacam album soundtrack atau sampler dari band-band grunge lokal. Saya berharap ada juga yang mau menulis tentang komunitas musik lain, entah itu punk, hardcore atau metal. Sang penulis buku ini memang cukup jujur menelanjangi scene-nya sendiri. Kalau pun ada kontroversi, bukankah itu fungsi suatu wacana yang memang bertujuan membuka kran dialektika. Bahkan kitab suci sekalipun masih punya celah untuk diperdebatkan. Karena memang sebenarnya tidak ada pecundang di dalam motivasi belajar dan proses mengapresiasi… [samack]

The Story Of Crass

George Berger

Amazon

“Punk became a fashion just like hippy used to be and it ain’t got a thing to do with you or me.” Ada pemandangan aneh ketika saya mengunjungi Kinokuniya Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Di bagian musik, di antara buku-buku soal musisi mainstream, terselip sebuah buku dengan logo yang lumayan familiar dengan saya ; The Story of Crass. Oke, Crass memang bukan musisi yang populer di Indonesia, terus kenapa mereka punya buku ini dalam katalognya ya?! Jarang-jarang ada naskah mengenai sejarah punk Inggris tanpa menyertakan kontribusi Sex Pistols seperti dalam buku ini. Ketika Johnny Rotten meneriakan slogan “Anarchy!” hanya demi sensasi subversif dalam musiknya sekaligus marketing gimmick bagi sex shop milik pasangan Malcolm McLaren dan Viviene Westwood, Crass sudah terlebih dulu membawa realisasi kata itu ke tingkat lebih lanjut. Cikal bakal Crass diawali dengan sebuah komune anarkis bernama Dial House yang terdiri atas sekelompok mahasiswa seni, musisi, sastrawan dan aktivis perdamaian yang menyabot sebuah lahan tidur di wilayah Essex, Inggris, sebagai basis gerakan di tahun 1960-an. Mereka sudah terlebih dulu mempraktekkan prinsip esensial dalam teori anarkisme, seperti membangun pertanian mandiri untuk memperkuat basis ekonomi di tingkatan akar rumput. Seperti layaknya tren gerakan sosial paska era Baader-Meinhoff, mereka juga mengadopsi prinsip-prinsip anti-kekerasan dalam ruang geraknya. Para aktivis Dial House ini kemudian menemukan bentuk ekspresi artistiknya ketika punk gelombang pertama mulai menunjukkan embrionya. Musik-musik eksperimental avant garde yang selama ini mereka geluti dirasakan tidak bisa menyuarakan ide-ide revolusioner sudah mereka jalani. Jadilah Penny Rimbaud, Steve Ignorant, dan kawan-kawannya membentuk Crass, dengan dibantu seniman muda Gee Vaucher untuk divisi artistiknya. Yang membedakannya dengan band punk lain pada masa itu adalah mereka kerap menyertakan aksi panggungnya dengan orasi budaya, pembacaan puisi, dan diskusi. Ketika tren punk membuat banyak anak muda Inggris berkeliaran dengan kostum yang aneh dan berantakan, Crass malah tampil rapi dengan gabungan pakaian kasual dan seragam militer yang serba hitam. Tak berapa lama, Sex Pistols merilis singel Anarchy in the UK dan mengangkat punk menjadi fenomena nasional. Dalam waktu singkat punk menjadi perhatian media massa, meme pemberontakan yang menyebar membuatnya jadi fenomena kultural, tak terkecuali beberapa pihak yang mencoba bermain mata dengan industri. Pada saat itulah Crass menyatakan kematian punk, sama seperti ketika Nietzsche membunuh Tuhan. Crass memanifestasikan pernyataan mematikan tersebut dalam lagunya, Punk is Dead. Tentu saja hal ini membuat Crass jadi band yang dibenci. Berbagai pihak menyatakan Crass adalah kaum hippy, bukan punk. Bahkan Sex Pistols sendiri membuat slogan “Never Trust A Hippy!” dalam lagu Who Killed Bambi? yang secara implisit ditujukan kepada Crass. Wattie Buchan dan The Exploited mencoba menegasikannya dengan lagunya Punk Not Dead, si mulut besar Jello Biafra dan Dead Kennedys mengeluarkan kritik dalam lagu Anarchy For Sale. Tapi semua itu tidak menghentikan langkah Crass. Mereka malah semakin kritis dalam perjuangannya. Tidak hanya bersuara keras untuk masalah internal punk saja, mereka juga kerap bikin gerah pemerintah Inggris. Crass pernah menggelar aksi massa dan pemutaran film untuk menentang invasi tentara Inggris ke pulau Falklands. Di tingkatan ideologi, anarkisme bukan satu-satunya keyakinan mereka. Masalah feminisme, hak azasi binatang, perang, globalisasi, dan lingkungan hidup juga tidak luput dari perhatian mereka. Crass adalah salah satu band yang juga mempraktekan direct action dalam sepak terjangnya, tidak hanya sekedar bersuara melalui lagu. Selain dibenci, Crass juga dihormati. Kehadirannya yang inspirasional juga turut mendorong kelahiran band-band lain yang kemudian masuk dalam kategori anarko-punk dan genre-genre lainnya, seperti Conflict, Subhumans, Flux of Pink Indians, Poison Girls, MDC, Rudimentary Peni, Zounds, Resist to Exist, Aus Rotten, Disrupt, Chumbawamba, Atari Teenage Riot, Amebix, bahkan Anthrax pada awal kehadirannya. “Preaching revolution, anarchy and change as he sucked from the system that had given him his name.” [Abosa]

The First Five

Henry Rollins

2.13.61 Publishing

The First Five memuat karya-karya Henry Rollins yang tersebar ke dalam lima judul buku terpisah. Buku ini dia kerjakan di sela perjalanan tur-nya bersama Black Flag ke berbagai negara. Sebagai seorang artis yang multi-talenta [musisi, penulis dan spoken word performer], Henry berhasil memandang kompleksitas hidup dan fenomena keseharian dengan visi yang begitu jujur dan khas. Bagian pertama dari buku ini berjudul High Adventure In The Great Outdoor. Berisi kumpulan esai, puisi, cerita pendek dan naskah spoken-word yang hampir semuanya tanpa judul. Begitu singkat dan straight ibarat personal diary bagi Henry sendiri. Ego dan emosi Henry seakan tumpah. Perasaan menyendiri dan keterasingan atau alienasi begitu mendominasi. Seperti yang terbaca pada cuplikan salah satu puisinya, “I look the mirror but can’t see myself / the one that i can’t see is the one that i am  / the one that i can’t be is the one in demand.” Atau pada penggalan puisinya yang lain, “…The door’s been closed for so long / there’s something down there / it’s so quiet / no one comes to my house.” Kemudian, Pissing In The Gene Pool merupakan sesi berikutnya. Bab ini mengantarkan kita menuju dunia pikiran Henry yang lain. Rasanya Henry mulai peduli dengan kondisi di sekitarnya. Tampak apresiasinya kepada sahabat, pekerja, wanita, nilai-nilai sosial dan sisi universal lainnya. Esai dan short stories-nya di sini terinspirasi dari pengalamannya di jalanan. Baik itu ketika sendirian, bersama band, fans atau teman-temannya. “Why do people allow themselves to be compromised? Why will they give themselves away again and again? Why are those who stand up for themselves shunned, scorned and hated? Fear. Fear of being alone. Fear of being…” Sementara Bang! adalah bagian selanjutnya dari buku setebal 399 halaman ini. Di sini kita mendapati kumpulan puisi dan sajak terbaiknya, seperti Knife Street, American Hardcore, After Burn, Black Sabbath sampai Tiny Master dan Golden Boy. Pada bagian ini kita akan melihat Henry cukup sukses merangkai kalimat-kalimat indah menjadi satu karya yang kaya akan makna. Sebuah sense yang tinggi terhadap seni menulis telah ia buktikan di sini. “I used to love you / i still do / so selfish / i love the old you / the you that doesn’t shoot drugs / the you that didn’t get beat on by men…[After Burn] – “…I will show you my world / i will bring it home / my beauty / the summer nights of fire and truth / can you see it?…” [Black Sabbath]. Well, mari lanjut ke Art To Choke Hearts, bagian paling panjang yang berisi cuplikan stori dan fiksi pendek. Kebanyakan diambil dari cerita tur bareng Black Flag serta di sela perjalanannya sebagai spoken-words performer di sejumlah teater dan kampus di Amerika Serikat. Terakhir, One From None, ditulis pada masa-masa akhirnya bersama Black Flag [1986-1987]. Era di mana ia lebih mendalami aktifitasnya sebagai penulis dan spoken-word performer, hingga ke awal pembentukan Rollins Band. Di bagian ini, Henry terkesan lebih wise dan matang. Tidak terlalu meledak dan meluap-luap seperti sebelumnya. Beragam proses dan eksperiens mungkin telah membentuk kedewasaan berpikirnya – tanpa harus kehilangan nilai dan identitas yang ia yakini. “…Trying to stand on my own two feet / without leaning on some one else / looking to myself for total strength / to be one from none.” Well, ini buku yang cukup menarik. Terlepas dari fiksi, non-fiksi atau sastra, The First Five terus berjalan menghantam apa saja bagaikan frase yang dirajah di punggung Henry Rollins ; Search and Destroy!…. [LivingOz]

Music Records ; Indie Label

Idhar Rez

DAR Mizan

“Banyak informasi yang bisa didapatkan dari buku ini, terutama dunia musik independent,” kata Helvi Sjarifuddin, punggawa dari label FFWD records. Buku ini bisa jadi panduan bagi anda para pemain band yang ingin mencoba peruntungan di belantara industri musik. Apalagi jika band anda itu so-called-indie yang baru lahir dan ingin berkembang lebih jauh. Saatnya anda tunjukkan segala potensi dan kemampuan. Jangan meniru band-band independen senior yang gagal, tanpa karya dan tanpa apresiasi. Menjadi band indie itu mudah, tetapi jadi band indie yang ‘sukses’ itu memang butuh perjuangan panjang. Keringat, usaha dan kerja keras. Juga modal dan kesempatan sebagai pendukungnya. Buku karangan editor Rpple Magazine ini cukup komplit berisi tentang ; sejarah industri rekaman, mengenal manajemen rekaman, mengintip cara produksi, cara mendistribusikan rekaman, hingga cara promosi yang efektif. Segala tips dan trik ada di sini. Buku terbitan DAR Mizan ini juga dilengkapi dengan list tempat-tempat rekaman dan distribusi di tanah air. By the way, bukan berarti buku ini semacam ‘kitab suci’ atau tutorial seperti buku-buku program komputer di mana anda harus menjalani semua tahapan tehnis yang ada. Sama sekali bukan. Yang perlu anda lakukan adalah mengadopsi segala konsep yang menurut anda paling baik, lalu kembangkan sendiri di dalam lingkungan scene musik anda. Setiap daerah memiliki karakteristik scene dan industri musik yang berbeda-beda. Infrastruktur yang tersedia juga bermacam-macam. Lakukan saja secara efektif dan efisien mungkin. Kuncinya tetap optimis, bertindak positif dan terus berkarya. Tanpa manajemen dan promosi yang efektif, karya musik yang bermutu belum tentu jadi jaminan sukses bagi band. Maka jangan berdiam diri dan menunggu untuk ditemukan! Tidak ada salahnya belajar dari buku ini, daripada mendengar celotehan musisi band senior yang gagal, frustasi dan tidak melakukan apa-apa. Read and learn. Jika anda sudah menjalankan segala metode dan trik dalam buku ini namun band anda masih gagal, maka janganlah berputus asa. Mungkin band anda belum beruntung hari ini. Atau mungkin tuhan punya rencana lain hingga anda memang tidak ditakdirkan menjadi rockstar?!…  [livingOz]

Wendi Putranto ; More Than Words

Mungkin benar, menjadi seorang jurnalis rock adalah sebuah takdir! Wendi Putranto saat ini adalah seorang editor majalah Rolling Stone. Sebelumnya dia sempat bikin Brainwashed, sebuah fanzine underground di akhir era 90-an, lalu bubar di tengah jalan. Konon dia sempat merasakan jadi vokalis band metal yang tidak populer sama sekali, sehingga terpaksa banting setir untuk menulis daripada menjadi rockstar yang gagal. Dia juga ikut mengawali era jurnalisme musik di ranah dunia maya lewat berbagai situs internet, sebelum ditarik menjadi wartawan tabloid Rock yang juga gugur di tengah perjalanan. Dalam perspektif yang lebih warna-warni, dia adalah manajer The Upstairs, grup band new wave yang dia angkat dari angka nol hingga melesat lumayan sukses meracuni publik ibukota. Akhir tahun lalu, bukunya yang berjudul “Rolling Stone Music Biz ; Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik” mulai beredar di pasaran dan diikuti dengan rangkaian tur promo ke sejumlah daerah. Seluk beluk ‘bisnis musik’ nyaris menjadi nama tengah dan spesialisasinya hingga sering diundang menjadi pembicara atau narasumber di berbagai forum. Kali ini, giliran Apokalip yang mengirimkan list pertanyaan tertulis kepada seorang sahabat dan metalhead yang punya visi untuk membangun peradaban di tengah belantara industri musik yang konon tetap kejam dan menyebalkan seperti dulu, sekarang, dan mungkin untuk selamanya…

 

Seperti apa tur Music Biz baru-baru ini?

Sangat menyenangkan. Bisa berkeliling ke kota-kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, misalnya seperti Padang dan selanjutnya nanti tertarik untuk tahu Manado juga. Ada 15 kota yang akan saya kunjungi seluruhnya, mulai dari Medan, Sumatera Utara sampai Manado, Sulawesi Utara. Nanti malah tambah 5 kota lagi dengan sponsor yang berbeda. Jadi semuanya total 20 kota, sebelumnya tahun lalu sudah jalan 8 kota. Banyak juga ya? Haha. Menyenangkan karena bisa menjajal makanan khas daerah sana, sadisnya sea food Pantai Purus Padang sampai duren lemang Pekanbaru yang dahsyat!… Juga bertemu teman-teman baru, ngobrol dengan mereka, sharing pengetahuan, pengalaman, dengar curhat anak-anak band di daerah yang ternyata herannya mereka punya perasaan senasib sepenanggungan: Bosan sama tren musik pop mellow total, hahaha.

 

Apa yang mendorong anda menulis buku tersebut?

Banyak hal. Beberapa di antaranya karena melihat banyaknya para musisi legendaris Indonesia yang di hari tuanya hidup dalam kondisi yang kurang layak bahkan mengenaskan. Ada yang tidak punya rumah, sakit-sakitan tanpa memiliki asuransi kesehatan, tidak punya pekerjaan tetap dan penghasilan, apalagi dana pensiun. Apakah begini cara kita sebagai negara yang beradab menghormati para legenda dan pahlawan musiknya? Padahal industri musik di sini pasarnya sangat besar. Ada 220 juta populasi yang sebagian besarnya saya jamin senang dengan musik. Tapi kenapa para musisi atau pencipta lagunya banyak yang miskin di hari tua? Ini aneh. Seperti ada yang salah dengan sistemnya atau mereka tidak mengerti cara bekerjanya sistem di industri musik? Ini yang coba saya ulas di buku Rolling Stone Music Biz ; Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik. Semoga para musisi nanti tidak hanya memikirkan bagaimana bermain gitar, drum, atau bass dengan baik, tapi juga melek bisnisnya agar tidak tertipu di industri yang kejam ini.

 

Menurut anda, seberapa besar dampak buku itu untuk industri musik tanah air ke depan?

Waduh, nggak tahu juga ya, hehe. Mudah-mudahan dampaknya besar. Pengennya begitu.

 

Do you think music industry is still a fucking tough business?

Yes, it is. Industri musik jelas bukan Palang Merah Indonesia yang melakukan semuanya atas dasar kemanusiaan. Bisnis musik adalah bisnis yang kejam, kalau terjun dalam keadaan bodoh pasti ditindas habis. Makanya pelajari bisnisnya, kenali medannya sebelum bertempur atau anda akan mati tertindas di dalamnya.

 

Jika anda cukup konsen pada bidang industri musik, apakah artinya menonton program Inbox, Dahsyat, atau Derings di televisi juga penting bagi anda?

Ya, saya cukup sering menonton program-program musik di TV tersebut. Karena saya juga jurnalis musik makanya mesti menyerap semua tayangan musik yang ada di dalamnya seburuk apapun itu, kasihan ya, hehehe.

 

Apa yang belum dimiliki industri musik Indonesia dibandingkan apa yang ada di negeri barat sana?

Sistem yang mampu melindungi hak para pencipta lagu sebagai tulang punggung dari industri ini. Pencipta lagu atau musisi di sini haknya masih sering dilanggar. Album rekaman dibajak hingga rasio penjualannya mencapai 96%, hanya 4% rekaman asli yang beredar. Pemerintah, label rekaman, ASIRI semuanya gagal total melindungi hak cipta para pencipta lagu, padahal mereka ini semua membayar iuran untuk asosiasi serta membayar pajak cukup besar bagi negara. Parahnya lagi, seluruh label rekaman, content provider atau telco masih mengharamkan para pencipta lagu atau musisi untuk mendaftarkan karya mereka ke collecting society seperti KCI [Karya Cipta Indonesia]. Padahal ini adalah organisasi yang akan menjadi lembaga penyedia dana pensiun bagi para pencipta lagu di hari tua mereka, bahkan hingga 50 tahun setelah penciptanya meninggal dunia ahli waris mereka masih akan terus menerima royalti dari performance rights. Kontras sekali jika dibandingkan dengan seluruh kontrak rekaman yang disodorkan label rekaman internasional di AS atau Eropa. Mereka sebelumnya malah mewajibkan artis yang akan kontrak dengan label mereka untuk bergabung dengan collecting society seperti ASCAP atau BMI, dan itu tercantum dalam draft kontrak rekaman mereka. Belum lagi model bisnis sesat label-label rekaman besar jaman sekarang yang membuka manajemen artis di dalam perusahaan mereka, makin terjepit artis-artis ini nantinya, karena manajer mereka pasti lebih berpihak kepada kepentingan majikan utama [label] dibanding artisnya. Gilanya, sampai ada pula sekarang ini indie label yang ikut-ikutan model bisnis seperti ini, aneh sekali. Mudah-mudahan ini nantinya bisa dijerat hukum dengan Undang-Undang Anti Monopoli. Model bisnis seperti itu tidak terjadi di luar negeri sana. Mereka memiliki sistem kerjasama baru yang bernama “360 Deals” tapi itu sama sekali tidak merugikan artis karena di awal kerjasama label malah memberi uang advance hingga ratusan juta US$ kepada artis, dan sebagai imbal baliknya artis rela berbagi keuntungan di masa depan yang datang tak hanya dari penjualan album rekaman tapi juga tur konser, merchandise, sponsorship dan sebagainya.

 

Apakah band indie yang mengirimkan demo album ke major label masih relevan untuk saat ini?

Tidak. Kebanyakan A&R dari label rekaman saat ini sudah sangat jarang mendengar demo CD. Mungkin karena bosan. Atau mungkin karena terlalu banyak yang datang ke meja mereka dan hampir semuanya memiliki jenis musik yang seragam, pop menye-menye kloningan artis yang paling jualan saat ini. Seorang kawan saya yang menjadi A&R di sebuah label besar bercerita kalau seleksi demo kini dilakukan dengan cara melihat kovernya. Tanpa harus mendengar isinya mereka bisa langsung membuang CD tersebut ke tong sampah! Judge book by its cover, haha. Apalagi untuk kategori CD demo band-band indie, jarang yang mau dengar karena biasanya langsung kena stigma “segmented”, “terlalu keras”, “nggak jualan”, “terlalu indie”. What the fuck?! Lebih baik sekarang ini band-band itu membangun serta memperkuat fanbase masing-masing tanpa harus sign dengan major label. Teknologi sudah memungkinkan semua itu bisa berjalan kok. Pee Wee Gaskins sudah membuktikannya. Mereka bisa terkenal tanpa melalui jalur major label!…

 

Menjadi musisi atau band yang populer masih menjadi mimpi indah bagi anak muda saat ini?

Oh jelas. Ini yang saya pelajari selama tur buku saya hingga saat ini. Mereka bahkan kebanyakan tidak terlalu peduli apakah kontrak rekaman yang mereka tandatangani itu merugikan atau menindas di kemudian hari. Yang penting sekarang tandatangani aja dulu, bisa cepat ngetop dan dilihat teman, keluarga atau calon mertua di TV. Selebihnya nanti urusan belakangan. Karena bodoh akhirnya menyesal seumur hidup. Ternyata ketika mereka sukses besar dan banting tulang tur konser dari Sabang sampai Merauke, penghasilan yang didapat tidak sebanding dengan kerja kerasnya karena kontrak rekaman yang buruk. Padahal kita tahu bahwa nama tengah industri ini adalah eksploitasi kan? Welcome to the jungle, you’re gonna die, hehe. Saya tahu persis ada banyak band terkenal saat ini yang mengalami penghisapan besar-besaran dari label karena kebodohan mereka sendiri. Dan ironisnya ini semua terjadi di abad 21, abad digital, di mana semuanya padahal bisa dipelajari hanya dengan bantuan Paman Google. Selamat!…

 

Dan apakah cita-cita ‘go international’ masih memungkinkan untuk dikejar?

Go international dengan sukses internasional itu sesuatu yang berbeda. Bisa merilis album di beberapa negara Asia atau Eropa jelas bukan kategori internasional, mungkin regional. Berkonser di Hong Kong atau New York dengan para penonton buruh migran Indonesia juga bukan termasuk kategori internasional. Dan jika artis berada di dalam major label lokal atau internasional yang hanya beroperasi di Indonesia maka sudahlah, nggak usah berpikir muluk-muluk dan tidak perlu berkoar-koar di infotainment juga tentang hal itu. Karena label mereka pasti hanya akan fokus di market nasional yang jauh lebih potensial. Mereka tidak memiliki kekuatan, resources atau posisi tawar yang tinggi untuk mengorbitkan artis Indonesia ke tingkat internasional. Belum lagi rasialisme yang terjadi di dalam pentas industri musik dunia. Namun semua itu jauh lebih memungkinkan jika mereka berada di indie label, tentunya dengan ditunjang content musik yang memiliki appeal internasional atau sebaliknya, sangat Indonesia karena dinilai eksotis?! Teknologi internet memungkinkan internasionalisasi pada musik yang kita sebarluaskan. Hingga kini satu-satunya artis kita yang sukses melakukan itu menurut saya baru Anggun. Pengorbanannya? Ia hijrah ke Prancis, menikahi beberapa orang produser musik di sana, menukar kewarganegaraannya, teken kontrak dengan major label di sana, diedarkan, dipromosikan albumnya, dan tur konser ke Eropa serta Amerika. Kompensasinya? Ia kabarnya sukses menjual lebih dari 1 juta keping album di Prancis dan sekitarnya. Nothing compares to her until now. Oleh karena itu, bercita-cita menjadi the next Slank atau Iwan Fals di Indonesia masih jauh lebih masuk akal sebenarnya, hehe.

 

Oke, seperti apa rasanya bekerja di Rolling Stone?

Cukup mirip dengan yang anda lihat di film Almost Famous, hehe. Malah terkadang menurut saya jauh lebih mendebarkan dan tidak dimiliki oleh RS USA. Rock & Roll memang sejatinya tinggal permanen di kantor kami. Suatu sore tiba-tiba bisa menyaksikan Shaggydog melakukan soundcheck pada lagu favorit Anda di belakang kantor. Mendengar Bimbo menyanyikan “Tuhan” dan kami kira MP3 padahal mereka sedang soundcheck. Menemukan Ahmad Albar tengah diam terpukau mengamati cleveage Britney Spears di koridor depan kantor kami. Terlibat obrolan inspirasional dengan Fariz RM di beranda belakang, atau sekadar menyaksikan sesi pemotretan Club 8 di pinggir kolam renang kantor. Belum termasuk malam-malam menyaksikan aksi panggung Santamonica dari atas rooftop kantor, hehe. Juga bersyukur bisa menyaksikan live show para musisi legendaris negeri ini hanya dengan berdiri di halaman belakang kantor anda sendiri. Sebut saja mulai dari Koes Plus, God Bless, Fariz RM, The Rollies dan nanti Iwan Fals! Dan, pssstt, kami juga punya bar di bawah ruang kerja kami, berikut tangga akses untuk madol yang sialnya belakangan ini selalu digembok oleh HRD. Terkadang ditambah bonus traveling keliling dunia gratis untuk meliput musik, dan anda digaji pula untuk melakukan semua itu. Tapi, oya, beberapa kali godaan makhluk halus yang mengamuk karena terganggu musik setan dari speaker untuk menemani tengah malam yang tenang sepi ketika saya larut dalam tekanan deadline adalah nilai tambah bekerja di sana.

 

Artikel apa yang terakhir kali anda tulis baru-baru ini?

Hingga tulisan ini diturunkan saya sedang menulis feature panjang tentang Glenn Fredly. Saya menghabiskan empat kali pertemuan wawancara di tiga lokasi berbeda selama total lima jam lamanya bersama empat orang narasumber. Banyak fakta menarik dari dirinya yang selama ini belum pernah diungkap sama sekali ke media massa. Jika anda dan sebagian besar pembaca Apokalip lebih memandang remeh temeh kepada dirinya hanya sebagai penyanyi pemuja lagu cinta, maka tunggu saja sampai anda membaca artikel saya tentangnya! Berbeda!…

 

Oya, saya penasaran, kenapa anda suka Lester Bangs?

Saya mengenal Lester Bangs sekitar tahun 1999 ketika tengah browsing di internet untuk mencari bahan bagi fanzine yang saya tulis, Brainwashed namanya. Saya membaca artikel tentang betapa dia begitu memuja The Clash, dan betapa dia membenci The Doors dan sekaligus Led Zeppelin. Ketiga band ini sangat saya puja musik dan pemikirannya tapi hebatnya saya tidak dapat membenci Lester walau dia sangat membenci band-band favorit saya. Ini karena Lester dengan gaya bahasanya yang super ajaib dan gonzo dapat menemukan perspektif baru dalam memperkuat argumentasi kebenciannya, dan itu sangat menarik, haha. Tidak semuanya saya dapat temukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia tapi semua kata yang ditulis olehnya pada saat itu adalah terobosan baru. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh pionir macam Richard Meltzer bahkan Robert Christgau. Seperti membuat anda malu jika menulis musik dengan biasa-biasa saja. Lester memberikan standar menulis musik bagi saya pribadi.

 

Akankah anda mengikuti jejaknya; menulis artikel yang pedas dan kontroversial, lalu cabut atau dipecat dari RS suatu saat nanti…

Aturan pertama dari pengikut yang baik adalah tidak akan menjadi copy cat atau epigon, haha. Tapi Lester Bangs tidak pernah menjadi karyawan tetap Rolling Stone kok, dia cuma freelancer pemberontak yang kebetulan selalu menulis resensi jelek terhadap band-band favorit Jann S. Wenner, pendiri Rolling Stone. Ya, mampuslah akhirnya, haha…

 

Jika anda dilarang menulis topik musik, kira-kira topik apa yang akan anda angkat?

Politik. Saya punya interes yang cukup tinggi dengan wilayah ini walau saya membenci politik praktis dan tidak pernah menggunakan hak sipil dan politik saya sebagai warga negara selama ini, hehe.

 

Topik apa yang paling anda hindari untuk ditulis?

Mafia pembajakan musik. Seorang pencipta lagu legendaris suatu ketika cukup menyiratkan kepada saya untuk tidak menyentuh sama sekali wilayah ini demi keberlangsungan kehidupan [pribadi]. Dan saya juga sangat tidak tertarik sama sekali untuk menulis apapun tentang Ahmad Dhani, walau managing editor saya sempat berulangkali menugaskannya dan saya membangkang, hehe. Biarlah ini menjadi konsumsi teman-teman editor yang lain.

 

Siapa orang yang paling menyebalkan atau belagu yang pernah anda wawancara?

Otong Koil itu sangat menyebalkan sekaligus belagu ketika diwawancara, hanya hebatnya sangat sulit bagi anda untuk bisa membenci seorang Otong Koil secara bersamaan karena orang ini luar biasa ngehe cerdasnya.

 

Siapa orang yang paling ‘stupid’ atau gak nyambung saat anda wawancara?

Sialnya kebanyakan artis-artis indie. Mereka seperti tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan dan hanya sibuk untuk memproyeksikan attitude yang cool saja. Termasuk sibuk luar biasa dengan gaya dandanan dan gesture yang pas ketika diwawancara, haha.

 

Siapa orang yang paling cerdas yang pernah anda wawancara?

Cukup banyak. Otong Koil tadi. Yukie PAS juga mencerahkan. Kartika Jahja dari Tika & The Dissidents itu sangat mempesona dengan jawaban-jawabannya yang keluar hanya dalam bilangan detik setelah pertanyaan diajukan. Saya bahkan cukup kagum dia dapat melakukan wawancara secara bilingual [Inggris dan Indonesia] tanpa harus terlihat snob atau pamer. Andre, gitaris Siksakubur juga selalu dapat memberikan punch line yang cerdas. Cholil dari Efek Rumah Kaca dengan perspektifnya yang luar biasa, Fariz RM yang ternyata sangat rock & roll sekaligus kontemplatif pernyataan-pernyataannya. James F Sundah yang dengan sangat lembut menyampaikan jawaban-jawaban yang mencerahkan hingga membuat anda sulit menghentikan dia untuk pertanyaan berikutnya. Ucok Homicide yang kadang dengan amarah meletup keluar dari mulutnya namun kesompralannya memiliki makna tersendiri dan layak untuk direnungkan. Edan orang itu lah pokoknya, haha. Arian13 dari Seringai yang pintar menjawab dan sekaligus menghibur di luar dugaan. Ari Lasso yang walau lagu-lagunya bukan selera saya tapi cukup mengejutkan kecerdasannya dalam berkata-kata. Kecerdasan diplomasi Glenn Fredly yang terkadang dapat berbelok menjadi sangat jujur sekaligus membingungkan di waktu bersamaan. Bahkan seorang Pasha Ungu itu adalah teman wawancara yang cukup menakjubkan, dia bisa menemukan kata-kata yang tepat dan halus dalam memberikan justifikasi kepada apa yang dilakukan olehnya dan band-nya. Dan masih banyak lagi yang lainnya…

 

Siapa perempuan paling cantik yang pernah anda wawancarai?

Rebecca? Penyanyi solo yang keturunan Magelang-Belanda itu? Tapi sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk mewawancara perempuan-perempuan cantik. Seringkali tidak berkesan. Yang jauh lebih penting bagi saya adalah mewawancara perempuan-perempuan berdada besar sekaligus berisi otaknya.

 

Siapa orang yang paling anda harapkan untuk diwawancara saat ini?

Saya sebenarnya sangat tertarik untuk dapat mewawancara serius Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs/Morfem. Terdengar membingungkan ya? Haha. Tapi ini benar. Sebagai manajer mereka, saya sangat sering mengantar band ini untuk melakukan wawancara dengan media massa apapun, dan setiap kali jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Jimi itu cukup membuat saya iri dengan wartawan tersebut. Di kepala saya selalu bilang, “Anjing, ini jawaban keren, seharusnya gue yang nulis nih.” Haha, memang bodoh tapi itu kenyataannya. Jimi adalah orang yang sangat bisa men-deliver jawaban dengan sangat bagus dan menghibur sekaligus hanya dalam hitungan detik saja. Dan sialnya, saya terlanjur punya prinsip untuk tidak menulis atau mewawancara band yang saya manajeri sendiri, apalagi kemudian menerbitkannya di Rolling Stone. No fucking way!…

 

Pernah mengalami saat-saat di mana anda merasa bodoh atau blank dalam mewawancarai seseorang?

Ketika mendapat assignment dadakan untuk mewawancara artis tanpa mendengar musik atau album mereka sebelumnya. Tanpa riset saya merasa sangat bodoh untuk berani mewawancara seseorang.

 

Pernahkah anda diprotes atau dikomplain oleh narasumber atas hasil tulisan anda?

Secara tidak langsung saya pernah mendengar kalau para eksekutif label-label rekaman negara ini tersinggung atau marah ketika saya ‘mendeklarasikan’ kiamatnya industri musik nasional tiga tahun lalu di Rolling Stone. Juga ketika saya menulis pamflet digital tentang “Strategi Baru Label Rekaman Membunuh Artis-artisnya” yang akhirnya banyak disebarluaskan orang dari blog ke blog, email ke email, mailing list ke mailing list, dan sebagainya. Dianggapnya tulisan itu berlebihan dan misinterpretasi, padahal itu adalah hasil observasi saya terhadap model bisnis masa depan industri musik nasional yang dari sekarang pun bisa dilihat sangat merugikan artis atau pencipta lagunya sendiri. Saya pernah diteriaki juga di muka umum oleh seorang artis besar di Kemang Food Fest karena memberikan dua bintang saja bagi album terbarunya. Cuek lah, it’s part of the job, dimusuhin artis, haha.

 

Pernahkah ada orang yang menolak untuk anda wawancarai?

Sangat sulit untuk bisa mewawancara para eksekutif label rekaman terbesar di Indonesia. Entah kenapa.

 

Pernahkah ada orang atau band yang merengek-rengek minta anda liput?

Kata merengek sepertinya terlalu berlebihan. Tidak ada yang sampai se-desperate itu juga agar bisa diliput Rolling Stone, untuk apa? Tidak segitu pentingnya kok. Haha. Paling lobi-lobi kecil di atas meja bundar belakang kantor atau penawaran sejumlah uang secara terang-terangan agar band mereka diliput. Sayangnya, Rolling Stone membayar kami jauh lebih besar dari yang mereka tawarkan, hahaha, bercanda. Tapi pasti miris juga kalo pembaca kami tidak mendapat apa-apa setelah membaca artikel band tersebut. At least, sejelek apapun band-nya, for God’s sake, milikilah nilai berita!…

 

Apa kalimat pujian yang paling anda ingat atas karya tulisan anda?

Tidak ingat lagi. Malas juga mengingat-ingat pujian, lebih berkesan hinaan karena jadi semakin tertantang, haha. Yang pasti, ketika tulisan sudah dibaca orang dan mereka mendapat sesuatu dari sana, itu sudah lebih jauh dari cukup.

 

Dari semua karya tulisan anda, mana yang paling favorit?

Ini juga malas untuk saya tahu. Karena ujung-ujungnya setelah majalah itu baru saja kelar dicetak dan saya baca ulang tulisannya selalu tidak pernah puas dan merasa kurang sya’ik terus. Inilah dampak menjadi sok perfeksionis.

 

Lalu mana menurut anda yang paling buruk alias jadi tulisan gagal?

Hampir semua kayaknya, haha. Saya sendiri merasa kurang suka pada tulisan-tulisan saya sepanjang 2009. Kacrut lah pokoknya. Saya penulis yang lambat karena terlampau banyak berpikir jauh daripada berakhir dalam tindakan, haha.

 

Mana yang lebih kamu sukai ; menulis fitur band, esai, wawancara, liputan acara, atau resensi?

Saya suka semuanya kecuali belakangan ini resensi. Saya pernah rally panjang diskusi dengan seorang teman yang kebetulan juga artis pencipta lagu membahas masalah resensi album di majalah dan selepas itu entah kenapa secara langsung argumentasi brengseknya selalu sukses menjustifikasi serta menghantui saya ketika berniat meresensi album. Mirip dengan perspektif makan babi dalam Islam. Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya bisa melanggarnya.

 

Mereview album rekaman teman anda sendiri? Anda masih bisa jujur dan obyektif?

Walau belakangan jarang mereview tapi saya percaya saya orang yang cukup bisa menjaga obyektivitas. Jangankan dengan band teman, band yang saya manajeri sendiri pun begitu. Bisa dicek ke teman-teman di sekitar saya tentang hal ini. Kalau dianggap menyebalkan dan sok tahu oleh teman sendiri yah biarin saja, di belakang hari nanti mereka pasti paham kok. Ini cuma masalah integritas profesi. Nothing personal and nothing else matters, hahaha.

 

Seberapa penting obyektifitas dalam menulis?

Buat saya ini penting banget. Dengan bersikap obyektif artinya malah ikut melindungi kepentingan pembaca tulisan kita sendiri. Saya percaya penulis yang baik adalah yang mampu men-service pembaca dengan muatan informasi yang jujur apa adanya, bernilai sekaligus menghibur dalam satu paket tulisan. Jadi bukan berpihak pada kepentingan pengiklan, sponsor, atau label rekaman, tapi sepenuhnya bagi kepentingan para pembaca kita.

 

Salahkah jika jurnalis menulis secara subyektif?

Tidak salah jika anda sedang menulis resensi album, resensi buku atau resensi konser, misalnya. Tak pernah ada yang obyektif muatannya dalam ketiga contoh tulisan tersebut. Saya berpegang teguh pada doktrin yang diucapkan J.B. Wahyudi, dosen jurnalistik saya di kampus dulu, “Semua rangsangan yang kita terima melalui seluruh panca indera kita bersifat obyektif, sementara semua rangsangan yang kita keluarkan dari panca indera kita adalah subyektif setelah sebelumnya terjadi pemrosesan lebih dulu sesuai nilai, moral, etika, pengetahuan serta kemampuan yang kita miliki.” Dang! Kok kayak kuliah lagi ya? Haha. Tapi harus diakui dalam menulis feature artis itu akan jauh lebih seru dengan gaya narasi berbumbu subyektif.

 

Apakah jadi masalah jika seorang jurnalis menulis materi musik yang tidak disukainya? Misalnya mereview album yang bukan seleranya?

Oke, kita artinya sudah sampai pada sesi duka bekerja di majalah musik mainstream seperti Rolling Stone sekarang, hahaha. Mustahil juga untuk menghindari hal-hal di atas ini, tapi atas nama industri di mana majalah ini adalah salah satu komponen penggeraknya maka terjadilah! Hahaha.

 

Selain Rolling Stone, media musik apa yang bisa anda rekomendasikan kepada publik?

Sejujurnya, saya sekarang kurang suka membaca Rolling Stone USA. Saya lebih suka baca Mojo, Classic Rock, Metal Hammer, Decibel, Revolver, Spin. Untuk blog musik saya suka Blabbermouth, Pitchfork, Apokalip, IF Media, Musikator, Up The Irons Indonesia, Deathrockstar, Jurnallica, dan beberapa blog pribadi orang-orang biasa yang mampu menulis musik dengan sangat luar biasa dan menggerakkan. Salut saya untuk mereka semua!…

 

Surat kabar atau majalah apa yang rutin anda baca?

Saya biasanya rutin membaca koran Kompas, majalah Tempo dan Detik.com. Untuk yang terakhir saya sama sekali tidak berharap pada akurasi dan kebenaran berita tapi hanya kecepatan informasi saja, breaking news!…

 

Apakah memungkinkan untuk melahirkan kembali Brainwashed Zine?

Mungkin saja. Cuma tidak berformat zine, webzine kayaknya lebih hemat energi dan waktu hahaha. Tapi sialnya saya sekarang ini tidak punya cukup waktu untuk melakukan semuanya. Etos potong tempel dengan bantuan grafis dari komputer Windows 3.1 adalah romantisme belaka, hahaha.

 

Masih ingat apa artikel musik pertama yang pernah anda bikin untuk fanzine anda itu?

Wah, agak lupa nih, karena sudah 14 tahun yang lalu. Nanti kalo ingat saya kasih tahu. Perlu membuka arsip Brainwashed di gudang sebelah mana rumah saya soalnya.

 

Dulu saat mengelola Brainwashed, sepertinya anda terlalu sering mengulas Grausig?

Benar. Malah dulu tahun 1996 fanzine Brainwashed pertama kali saya terbitkan sebagai fanzine Grausig sebenarnya. Karena sepupu saya adalah drummer band death metal Grausig dan anak-anak metal Jakarta generasi kedua ini dulunya nongkrong di rumah kakek saya. Band-band underground metal seperti Grausig, Trauma, Betrayer, Delirium Tremens, Corporation Of Bleeding hampir setiap hari dulu nongkrong di sana. Kebetulan sepupu saya dulu memiliki studio musik juga di sana, banyak band metal/punk/hardcore yang latihan di sana waktu itu. Karena saya kuliah jurnalistik dan punya banyak teman anak metal kenapa juga tidak menerbitkan majalah musik yang mendukung pergerakan band-band bagus dari teman kita sendiri? Apalagi saat itu nggak satu pun media cetak mainstream yang mau atau memahami musik yang mereka mainkan. Dulu saya menyebutnya sebagai majalah underground. Itu istilah yang saya pakai sebelum mengenal terminologi fanzine, hehe.

 

Menurut anda, apa dampak dari wawancara dan kontroversi Melody Maker @ Metal Maniacs?

Dampak terhadap bandnya atau dampak terhadap scene metal? Dampak terhadap band yang paling saya sesalkan adalah kebohongan publik yang mereka sebarluaskan, bisa jadi banyak yang tak percaya lagi dengan reputasi band ini nantinya. Sementara kita tahu bergerak di musik bawah tanah itu yang diperlukan adalah integritas dan kejujuran bermusik. Saya tidak peduli dengan style musik yang mereka mainkan, mau itu perpaduan antara J-rock dengan black metal sekalipun, dangdut dengan metal, masa bodoh! Itu adalah kebebasan mereka sendiri dalam memilih genre musik. Bukan hak orang lain untuk mengintervensi atau menentukan musik apa yang harus dimainkan sebuah band. Kalo begitu namanya polisi scene, percuma juga terjun ke scene bawah tanah kalo masih banyak aturan kan? Bebaskeun! Hahaha.

 

Kenapa anda tidak mewawancarai Suffocation ketika mereka datang ke Indonesia?

Saya bahkan tidak menonton konser mereka sama sekali! Salah satu band fave dan saya melewatkannya begitu saja karena dikirim managing editor ke Bali untuk meliput Soundrenaline. Menyebalkan! Hari itu saya sampai beberapa kali menelepon promotornya dan berharap konser mereka dibatalkan lagi seperti sebelumnya. Tahu apa jawab Ucok, promotornya pas saya telepon? “Ini gue lagi duduk di samping Mike Smith [drummer Suffocation] sekarang, elo mau wawancara?” Monyeeett!…

 

Siapa jurnalis Rolling Stone [internasional] saat ini yang paling anda suka tulisannya?

Sekali lagi, saya sebenarnya kurang suka membaca Rolling Stone USA. Tapi kalau disuruh maka saya pilih membaca tulisannya David Fricke, Steve Knopper, Austin Scaggs atau Brian Hiatt. Ah, Jenny Eliscu juga oke.

Siapa saja penulis atau jurnalis musik lokal yang anda kagumi?

Arian13, Ucok Homicide, Samack, Soleh Solihun, Hasief Ardiasyah, Rio Tantomo, Denny MR, Denny Sakrie. Hey, jangan salah, seorang Fariz RM juga penulis yang oke, coba cek bukunya yang berjudul Inspirasi… Living in Harmony. Keren!…

 

Oya, anda khan masih menjadi manajer The Upstairs, gimana kabar band itu?

Kabar baik. Mereka sedang menciptakan materi untuk album baru yang akan segera beredar mudah-mudahan akhir tahun ini nanti. Akan segera masuk dapur rekaman sebentar lagi. Oya, kami baru saja ditinggal Dian Maryana dan Alfi Chaniago belum lama ini.

 

Selain bermusik, apa yang biasa dikerjakan vokalis Jimi Multhazam saat ini?

Jimi adalah penyiar radio Trax FM Jakarta sekarang ini. Dia siaran sore setiap harinya bersama Buluk, gitaris vokalis Superglad. Harus didengar tuh, gokil! Orang-orang tua ini kerjaannya tiap hari mendoktrin dan membohongi ABG-ABG ibukota, hahaha. Selain itu Jimi rutin menjemput istrinya tercinta sekarang. A lovely couple…

 

Pernahkah anda meminjam busana Jimi yang penuh warna-warni itu?

No! No fucking way! Hahaha. Saya tidak punya nyali sebesar dia untuk urusan bercelana panjang pinky skinny di keramaian publik hipster ibukota. Lagipula secara tradisional selera busana kami memang sangatlah berbeda. Dia dibesarkan oleh A Flock of Seagulls sementara saya Slayer. Saya familiar dengan aksesori kulit, paku, besi sementara dia kacamata hitam bingkai putih, sabuk putih dan sepatu putih. Cuma saya masih setia menunggu Jimi mengenakan baggy trouser sampai sekarang, sampai kapan pun. New waver yang taat adalah yang bercelana baggy. Hah!…

 

Siapa saja band lokal baru yang paling anda rekomendasikan akhir-akhir ini?

Mungkin istilah yang lebih tepat artis pendatang baru. Cukup banyak. Saya sedang tergila-gila dengan Endah N’ Rhesa, Frau, Sandhy Sondoro, Gugun Blues Shelter, Tika & The Dissidents, Armada Racun, Airportradio, The Authentics, The Flowers [bukan band baru tapi baru bangkit lagi].

 

Jika anda tiba-tiba berada di tengah areal festival Woodstock 1969, apa yang bakal anda lakukan di sana?

Menghisap ganja, bercinta di alam terbuka, mengenakan ikat kepala, naik VW combie, dan menyembah speaker ketika Jimi Hendrix memainkan All Along the Watchtower. Ah, tidak, saya sangat bahagia dibesarkan di jaman pasca hippie alias thrash metal kok, takjub bisa melihat konser Sepultura dan Metallica yang rusuh. Anak muda 70-an punya konser Deep Purple yang rusuh, angkatan 90-an juga punya konser Metallica yang rusuhnya sampai masuk film dokumenter dunia, hahaha.

 

Jika misalnya film G30S/PKI diproduksi ulang, siapa sutradara dan aktor yang paling anda rekomendasikan?

Sutradara tetap Arifin C. Noer [bangkitkan dari kubur!], dia jenius! Penata musik tetap Embie C. Noer, dia juga sangat jenius! Saya masih takut mendengar ilustrasi musik film ini sampai sekarang. Aktornya Tommy Soeharto sebagai Soeharto tentunya, Tyo Pakusadewo sebagai Jenderal Nasution, Rudy Wowor sebagai DN Aidit, Deddy Mizwar sebagai pak haji anti komunis, Sarah Sechan sebagai tokoh Gerwani, dan Slamet Rahardjo Djarot sebagai bapak yang selalu marah-marah dengan keadaan itu loh ketika di rumah.

 

Biasanya, situs apa yang pertama kali anda buka ketika browsing?

http://www.rollingstone.co.id. Terdengar klise dan promosi ya? Tapi itu kenyataannya, hehe.

 

Gimana opini anda soal kontroversi RPM Konten Multimedia?

Menolak! Enough said. Karena pihak Menkominfo sendiri yang akhirnya membatalkan.

 

Apa dampaknya kalau aturan tersebut ‘terpaksa’ diberlakukan?

Indonesia akan mengalami jaman kegelapan yang dialami Afghanistan selama berada di bawah kendali rejim Taliban!

 

Soundtrack musik atau lagu apa yang paling cocok untuk rapat pansus skandal Bank Century?

Bring Your Daughter to The Slaughter dari Iron Maiden!

 

Pena lebih tajam daripada pedang, anda masih percaya frase itu?

Tidak. Jaman sekarang internet lebih berbahaya dari pena, setidaknya itu menurut Tifatul Sembiring atau Raden Mas Roy Suryo, sang pengamat telematika yang hobinya memandikan keris.

 

Jika anda diberi kesempatan untuk menulis buku lagi, kira-kira bakal jadi buku tentang apa?

Wisata Kuliner Underground; manual cerdas menguasai bisnis kuliner, hehe. Cita-cita menulis buku retrospektif musik rock bawah tanah lokal masih bergelora sih, doakan saja bisa mengumpulkan energi lagi untuk melakukan risetnya. Bakal sangat panjang, pastinya! Kemarin saja saya menghabiskan waktu dua tahun lamanya, yang ini mungkin lima tahun? Hajarrr!…

 

[samack]

Jujur saja, sangat menyenangkan dan meringankan setelah berbincang dengan seorang jurnalis pintar seperti Wendi. Terlebih dalam versi tertulis, di mana editor Apokalip nyaris tidak melakukan penyuntingan apapun karena semua teks jawabannya sangatlah orisinil dan sempurna dengan format yang pas, bahkan untuk tatanan tanda baca sekalipun. Hail to you, Wenz Rawk!…

Oya, kata ‘More Than Words’ sebagai judul artikel sama sekali tidak ada hubungannya dengan lagu megahits milik grup band Extreme yang melankolis, but who cares anyway?! Haha.