Grunge Indonesia ; Subkultur Para Pecundang

YY

Gnoisetcsm.Lab

Sangat menyenangkan ada karya buku yang coba mendokumentasikan komunitas musik di tanah air. Kali ini yang dibahas adalah [komunitas] musik grunge. Sang penulis itu adalah YY, pentolan dari grup band Klepto Opera dan Ballerina’s Killer. Draft tulisan yang memiliki judul panjang Grunge Indonesia ; Subkultur Para Pecundang ini mengalir dalam 248 halaman. Komunitas grunge di negeri ini memang kalah besar dan kurang mengkilap dibandingkan dengan komunitas punk, hardcore, metal, atau bahkan indie-pop sekalipun. Namun selalu menarik untuk menyimak sepak terjang mereka di tengah arus musik independen yang cukup kompetitif. Buku ini mengingatkan saya, bahwa komunitas grunge sangatlah minoritas dan entah kenapa agak terpinggirkan. Apakah ini euphoria dari arus trend Seatle Sound dengan ‘tuhan’-nya yang bernama Kurt Cobain dalam jubah Nirvana?! Sejujurnya iya. Kenyataannya memang begitu, meski banyak ditepis oleh sebagian kalangan. Tampaknya komunitas ini juga banyak menghabiskan enerjinya hanya untuk memahami apa itu grunge – mulai dari sejarah, budaya, life style, dandanan, sampai pada trik mengimitasi para pahlawan atau musisi idolanya. Kesannya komunitas grunge itu terlalu ribet mengurusi dirinya sendiri. Terlampau mendasar dalam membangun citra scene musiknya. Dulu, saya memang sering menemui anak grunge yang hafal luar kepala tentang sejarah dan budaya musiknya. Mereka bisa bercerita banyak soal Seatle seakan-akan itu adalah kampung halamannya. Mendongeng panjang tentang Sub Pop, Nirvana, atau kemeja Flanel. Mereka memang fasih kalau disuruh bercerita soal grunge mulai dari A sampai Z. Luar biasa. Saya musti memberi aplaus untuk wawasan mereka di bidang ‘grunge-o-logi’. Anak punk, hardcore atau metal aja tidak sampai segitunya dalam memaknai genre-nya. Entah siapa yang memulai ‘pembelajaran’ seperti itu. Tapi ironisnya, scene grunge di Indonesia masih jauh di level mapan dibandingkan dengan genre lainnya. Tampak stagnan dan tertinggal, terutama dalam industri. Apakah karena terlalu sibuk menghayati perannya sebagai anak grunge?! Larut dalam dimensi keterasingan dan psikologis?! Berupaya terlalu keras menjadi ‘kurt cobain’ dibanding Kurt Cobain sendiri?! Terlalu sibuk mabuk dan membanting gitar di setiap konser?! Atau memang grunge sudah menthok dan tamat sejak ‘tuhan’-nya memilih untuk bunuh diri?! Well, ini pekerjaan rumah yang cukup besar bagi komunitas grunge di Indonesia. Sayangnya buku ini kadang ikut larut dalam diskursus seperti itu, dan kurang banyak mengupas pergerakan atau prestasi band-band grunge lokal. Kalaupun ada, itu cuma sekilas dan agak kurang mendalam. Atau memang begitu keadaannya?! Hanya mereka yang terlibat aktif yang tahu. Terlepas dari baik-buruknya suatu komunitas, dokumentasi tulisan seperti ini sangatlah penting dan bermanfaat. Karya ini bakal lebih keren lagi kalau dikasih semacam album soundtrack atau sampler dari band-band grunge lokal. Saya berharap ada juga yang mau menulis tentang komunitas musik lain, entah itu punk, hardcore atau metal. Sang penulis buku ini memang cukup jujur menelanjangi scene-nya sendiri. Kalau pun ada kontroversi, bukankah itu fungsi suatu wacana yang memang bertujuan membuka kran dialektika. Bahkan kitab suci sekalipun masih punya celah untuk diperdebatkan. Karena memang sebenarnya tidak ada pecundang di dalam motivasi belajar dan proses mengapresiasi… [samack]

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: