Bedah Lirik ; Surga Di Bawah Telapak Kaki Anjing

Melihat banyaknya respon dari berbagai pihak, dan sepertinya ada celah untuk terperosok lebih dalam ke arah pemahaman yang buta akan lirik dari lagu “Surga Di Bawah Telapak Kaki Anjing” [Funeral Inception, H.A.T.E]. Saya sebagai penulis lirik lagu tersebut, tergerak untuk menceritakan apa sebenarnya maksud dari lirik lagu tersebut, dan ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya, saya harus menjelaskan lirik dari lagu yang saya buat. Di sini saya akan mengangkat beberapa kutipan pembahasan tentang hadits yang saya temukan, dan sedikit artikel dari kawan saya, Riki Paramitha. Hmm, let’s get it started…

Ada yang mengangkat lirik ini menjadi bahasan di salah satu milis, yang pada intinya mereka yang berdebat dalam milis ini setuju dengan inti lirik ini, tapi ada yang sedikit gusar karena dihubungkan dengan hadis nabi yang berbunyi, “al-jannatu tahta a’damil umahat” artinya surga di bawah telapak kaki ibu.

Berikut kutipan yang saya dapat dari internet :

الجنة تحت أقدام الأمهات ، من شئن أدخلن ، و من شئن أخرجن

“Surga berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya.”

Hadits ini hadits maudhu’ [palsu]. Telah diriwayarkan oleh Ibnu Adi (I/325) dan juga oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa dengan sanad dari Musa bin Muhammad bin Atha’, dari Abul Malih, dari Maimun, dari Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu’anhu.  Kemudian al-Uqaili mengatakan bahwa hadits ini munkar. Bagian pertama dari riwayat tersebut mempunyai sanad lain, namun mayoritas rijal sanadnya majhul.

Dalam masalah ini, saya kira cukupi dengan riwayat yang di keluarkan oleh Imam Nasa’i dan Thabrani dengan sanad hasan, yaitu kisah seseorang yang datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya, Adakah engkau masih mempunyai ibu? Orang itu menjawab, Ya, masih. Beliaupun kemudian bersabda,

فالزمها فإن الجنة تحت رجليها

“Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” (*)

Kutipan di atas, untuk memperjelas bersama, mana hadits yang sekiranya akan menjadi substansi pertanyaan saudara-saudara, jika pembahasan lirik ini diarahkan ke pelecehan sabda Nabi dsb. Hell fucking No. Read on…

Kawan saya, Riki Paramitha, seorang karyawan di perusahaan ternama, memberikan satu kesempatan kepada lagu ini untuk diserap dan dicerna oleh orang yang kebetulan bukan metalheads ;

Sebuah track metal “Surga di Bawah Telapak kaki Anjing” yang belakangan jadi populer dan kontroversial karena pake acara di-banned segala. Saya sempat meminta pendapat dua orang rekan saya [yang juga konsultan SAP, satu di Malaysia; satu di Singapore] untuk menilai track ini [kebetulan keduanya ngerti Bahasa, dan dua-duanya nggak ngerti metal. Jadi fair yah…

Pendapat dari konsultan SG :

“Ini adalah track yang dilatarbelakangi oleh kebencian yang sangat eksplisit. Kebencian tersebut begitu dalam, sehingga mengabaikan banyak hal di seputaran norma (norm) yang ada, terutama dalam bertutur. Terkesan hanya mencari aspek sensasi saja dengan brutalism yang ditampilkan; dan di lain pihak mencerminkan bahwa penulis dari track ini adalah seorang yang sangat radikal akan tetapi jauh dari kesan cerdas.”

Pendapat dari konsultan MY :

“Penulis berusaha menampilkan fenomena sosial yang cukup sensitif; yaitu penggunaan nama agama [in the name of religion, in the name of God] untuk pembenaran beberapa tindakan yang justru berada di luar norma agama itu sendiri. Dan dalam hal ini secara praktek justru yang terjadi adalah pemerkosaan terhadap agama itu sendiri dan pemutarbalikan definisi antara ‘mulia’ dan ‘hina’. Kalau semua sudah diputarbalikkan, maka surga tentunya berada di bawah telapak kaki anjing, bukankah begitu? Ini adalah sebuah kritik dengan cara yang satir, seperti yang biasa ditampilkan di teater-teater kontemporer. Penulis track ini pastilah orang yang luar biasa cerdas dan brilian. Apakah dia seorang budayawan [man of culture] di Indonesia?”

Hah? Ternyata untuk hal yang relatif terukur seperti ini bisa menghasilkan dua pendapat yang secara kontras berbeda. Padahal topiknya cukup sempit; hanya mengenai sebuah lirik; dan belum membahas masalah musikalitas. Tapi sudah menghasilkan dua pendapat yang contrary different.

Apalagi kalau kita mau membahas mengenai hal-hal yang bersifat infinity dan sangat tidak terukur seperti God, satan, heaven, dan hell [karena beyond rationality, dan tidak dapat dipecahkan dengan logika matematika atau logika empiris yang biasa dipakai di science]. Dan tools serta basic logic yang dipakai oleh manusia pada umumnya belum dapat mencapai kesimpulan yang commonly agreed untuk hal ini. Jadi sangat tergantung dari persepsi, paradigma, sudut pandang, atau perspektif.

Tony Sotello dkk di …And Time Begins mengkedepankan prinsip Fisika dan Generatio Spontanea untuk proses penciptaaan. Well, barangkali begitulah kesimpulan yang dihasilkan menurut pencarian Tony Sotello dkk. Respect for that.

Glen Benton dan Dave Suzuki lebih sangar lagi. Dengan deskripsi pembantaian terhadap seseorang yang sedang beribadah, Glen bertanya, “Where is Your God, Now?” Ada benarnya juga; intervensi Tuhan [Divine Intervention] terhadap kegiatan sehari-hari memang susah didefinisikan.

Lord Ahriman dkk malah menampilkan keberpihakan atau sympathy for the devil lewat Diabolis Interium. Kurang lebih sama dengan material yang ditampilkan Shagrath & friends di The Serpentine Offerings. Di mana hal ini ada benarnya, kalau kita menilik sejarah masuknya ajaran Trinitas di jazirah Viking.

Nergal & his Polish terror squad malah konsisten di jalur ancient god/paganism; dan malah punya agenda yang mirip eksperimen [research] untuk mencari pembenaran terhadap hal yang sedang dipelajarinya atau obsessed with. Well, barangkali begitulah ‘konsep Tuhan’ menurut Mr. Nergal, kalau dilihat dari latar belakang pergaulannya dengan orang-orang seperti Krzysztoft Azarewicz.

Jadi semuanya dikembalikan kepada persepsi masing-masing. Karena sesungguhnya kita semua dalam proses pencarian kok. Dan yang harus dihindari adalah kalau kita mulai merasa yang paling benar dan merasa lebih mulia karena pemahaman kita yang [menurut kita] lebih, terhadap Tuhan dan hal-hal yang related dengan-Nya. Ini malah menyesatkan. Secara etika adalah salah, dan secara norma agama justru lebih salah lagi.
Agama dan praktek agama serta pengakuan terhadap eksistensi Tuhan adalah sebuah proses; dan bukanlah sebuah output. Output-nya mana dunk? Output-nya adalah tercermin dari tindakan kita sehari-hari. Kalau istighfar segudang, Shalat rajin, atau rajin kuliah minggu, tapi masih nyolong dan banyak berbuat curang; yah artinya Surga berada di bawah telapak kaki anjing. Bukankah begitu?…

Tanpa banyak bicara lagi, sudah mulai terbukakah kawan-kawan, yang mungkin pernah terbersit, bahwa saya menghina sabda Rasulullah SAW? Hell fucking no. Sama sekali tidak.

Sekali lagi, semua lirik yang saya ciptakan, adalah refleksi kritis saya atas apa yang terjadi di sekitar saya. Tentunya, bukan saya saja yang muak akan fenomena tolol ini, di mana orang berkoar-koar bertindak atas nama tuhan, tapi tingkah lakunya tidak mencerminkan orang yang mengedepankan ketuhanannya – yang mana semua agama tidak pernah memerintahkan tindakan kekerasan, penghancuran, pemaksaan apalagi membunuh dalam nama tuhan. Saat ini, jika kita terjun bebas ke dalam ranah bawah tanah musik Indonesia, baik itu metal, hardcore dan punk sekaligus, kita akan melihat dan mendengar protes mereka yang mungkin senada. Mungkin hanya momentum yang belum memungkinkan suara mereka untuk terdengar. Jadi, jangan kaget ketika gelombang protes dan penolakan atas kekerasan yang dilakukan atas nama agama yang diusung oleh berbagai ormas itu meledak melalui suara-suara parau mereka bersamaan dengan musik bising yang mereka usung. Kami sadar, bahwa kami adalah sekelompok kecil musisi, minoritas yang mungkin dipandang sebelah mata. But this is reality. Terlepas dari benar atau salah kami bertindak, adalah manusiawi kami mencari titik tolak perlawanan dalam bentuk apapun, walau sekecil apapun. And this is what we can do for our society. Hopefully we can do something bigger and bigger next time…

Hormat untuk semua kalangan, yang telah memberikan perhatian terhadap lirik lagu ini, baik yang pro dan kontra. Junjung tinggi etika berdebat tanpa otot. Perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan dan menghancurkan!…
[Doni Herdanu Tona]

 

Penulis adalah vokalis Funeral Inception, band death metal asal Jakarta. Albumnya yang bertitel “H.A.T.E” sudah beredar di bawah label Rottrevore Records. Artikel di atas bersumber dari catatan Facebook penulis.

Sepuluh Alasan Kenapa Banyak Band Gagal

Segala keluh kesah dari musisi yang merasa band-nya gitu-gitu aja tentu sudah sering kita dengar. Tidak usah jauh-jauh, kemungkinan malah dialami oleh band teman anda, atau justru band anda sendiri?! Curhat panjang tentang iklim daerah yang tidak kondusif, hubungan antar personil yang dis-harmonis, atau kesempatan emas yang seakan tidak pernah datang. Semua ini tentu pernah dirasakan oleh band yang sedang mencoba ‘menaklukkan’ industri musik yang dikenal kejam. Ending yang biasa terjadi adalah kebanyakan band merasa menthok, lalu bubar atau menghilang. Untuk memperbesar kemungkinan ‘happy-ending’, kami coba membuka manuskrip lama tentang Sepuluh Alasan Kenapa Banyak Band Gagal karya Jeffrey A Macak yang kami rasa masih relevan. Ini sangat mendasar, dan mungkin bisa mencerahkan peluang karir band anda selanjutnya. Tidak percaya, silahkan cermati satu-persatu ‘ayat-ayat cinta’ yang ada di bawah ini…

 

Satu ; Mereka Tidak Memiliki Tujuan

Jika Anda tidak memiliki tujuan dalam mengembangkan karier, bagaimana Anda bisa mendeteksi sebuah kemajuan? Bisnis musik adalah bisnis yang keras, apalagi jika Anda tidak memiliki panduan yang jelas. Kebanyakan label rekaman, penerbit musik, manajer, produser, pengacara hiburan dan bahkan agensi booking tidak akan mau bekerjasama dengan artis yang belum jelas menentukan arah dan tujuan bagi bandnya. Mereka lebih memilih untuk bekerjasama dengan musisi yang memiliki tujuan jelas dan cekatan.

 

Dua ; Mereka Tidak Memiliki Perangkat Menuju Kesuksesan

Berlawanan dengan kepercayaan orang banyak, sebenarnya memang ada sebuah “proses” untuk menjadi musisi professional dan mendapatkan sebuah kontrak rekaman. Industri musik dipenuhi dengan rumor, mitos dan misinformasi yang membuatnya sulit untuk menggoreskan kesuksesan di atasnya. Dengan memahami bagaimana industri musik ini bekerja tentunya dapat menjadi aset yang sangat berharga. Bagian dari “proses” yang dimaksud ini termasuk di antaranya adalah penggunaan “perangkat” khusus yang telah menjadi standar dalam ruang lingkup industri musik!

Daftar berikut memuat beberapa perangkat wajib yang Anda butuhkan guna mengejar karier yang serius sebagai musisi professional ;

 

PRESS KIT / PROMO PACK

– Sebuah demo kaset / CD yang berisikan 3-5 lagu TERBAIK band Anda. (Kualitas jelas berpengaruh!)

– Biografi artis. (Informasi penting tentang sang artis, termasuk siapa saja mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang sedang mereka kerjakan, dan sebagainya.)

– Daftar lagu (song list). (Seluruh judul lagu yang dibawakan oleh sang artis, milik sendiri atau cover)

– Lirik-lirik lagu. (materi lirik-lirik lagu milik sang artis yang termuat dalam demo mereka.

– Foto artis.

– “Write-ups” (Berbagai kisah menarik atau resensi yang ditulis media cetak tentang sang artis, bisa juga mengenai liputan tentang mereka di radio maupun televisi.)

 

MAILING LIST

Salah satu faktor terpenting dari kesuksesan Anda adalah dengan membangun, memelihara serta memaksimalkan pemanfaatan mailing list. Milis ini terdiri dari nama-nama dan kontak informasi para penggemar, kontak media, pelaku industri musik dan siapa saja yang memiliki minat yang sama (bisnis dan sebaliknya) dengan Anda (sang artis). Sebuah mailing list dapat menjadi aset yang berharga bagi artis siapa saja apabila mereka memanfaatkannya secara maksimal.

 

DAFTAR TARGET MEDIA

Pemanfaatan media guna mendukung kemajuan karier Anda merupakan hal yang sangat penting sifatnya. Ini mencakup di antaranya penerbitan-penerbitan industri musik, majalah-majalah, surat kabar, radio, televisi dan internet. Sebuah band atau artis yang sangat berbakat dan secara berkesinambungan melakukan promosi bagi kemajuan kariernya memiliki kesempatan yang besar untuk mendapat “perhatian” untuk dikontrak label rekaman. Pernahkah Anda mendengar orang berkata, “saya nggak pernah lihat dan nggak pernah tahu band mereka.” Nah, Anda harus berlawanan dengan komentar tadi! Berusahalah untuk selalu “tampil” sebanyak mungkin di depan banyak orang. Penuhi keingintahuan industri dan khalayak luas dengan aksi band Anda maka dijamin band Anda akan tampil di banyak tempat! Manfaatkan penggunaan media dengan memasang iklan atau beriklan secara gratis, sebarkan rilis pers, write-ups dan resensi, dan kalau bisa usahakan tampil di radio dan televisi juga.

 

Tiga ; Mereka Tidak Memiliki Seseorang Untuk Memandu Karier

Salah satu tanggung jawab dari manajer personal adalah untuk membantu artis mengambil keputusan yang berhubungan dengan karier musik mereka. Masalahnya, kebanyakan artis biasanya tidak memiliki banyak waktu untuk mencari manajemen yang bagus. Biasanya ini terjadi karena kebanyakan manajer yang professional dan berpengalaman, sibuk sendiri dengan klien mereka masing-masing. Karena alasan inilah, banyak musisi yang lantas meminta kawan mereka sendiri untuk menjadi manajer. Yang sering terjadi kemudian, sang teman tadi ternyata justru cenderung menjadi seorang booking agent dibandingkan manajer personal band. (Lebih gampang mencarikan panggung tentunya dibandingkan harus memandu karier musik artis!) Karena “teman-teman” ini sangat awam dengan bisnis musik, mereka terkadang jatuhnya malah sering mempersulit dibanding mempermudah. Jika memang manajer yang Anda cari, maka carilah manajer! Jika teman-teman Anda berniat untuk membantu, mereka bisa menjual tiket di konser atau belajar mengoperasikan lighting! Jangan pertaruhkan karier band Anda di tangan seseorang yang sama sekali tidak memahami cara bekerja bisnis musik apalagi tidak berpengalaman sama sekali di dunia bisnis yang satu ini.

 

Empat ; Mereka Menunggu Untuk Ditemukan

Jika Anda “menunggu untuk ditemukan”, maka saya punya satu pertanyaan sederhana….”APA YANG SEBENARNYA YANG KAMU TUNGGU?” Ini seperti berkata, “Saya sedang menunggu sukses!” Jelas tidak masuk akal! Apa yang dimaksud oleh musisi-musisi ini ketika mereka bilang tengah menunggu untuk ditemukan sebenarnya adalah: “Saya sudah mentok karena benar-benar nggak tahu harus melakukan apa lagi!” Tidak ada yang perlu ditunggu-tunggu, mulai lakukan sesuatu, SEKARANG!… Demand discovery, never wait for it!

 

Lima ; Mereka Kurang Berdedikasi

Banyak band yang telah manggung bareng selama lebih dari 10 tahun sebelum akhirnya mendapatkan kontrak rekaman! Itulah dedikasi! Itulah kegigihan! Keuletan seperti itulah yang dapat membawa artis/band ke puncak kesuksesan di bisnis musik. Anda tentu tidak perlu tampil 10 tahun lamanya sebelum “keajaiban” terjadi, namun, bila Anda memiliki dedikasi untuk mengarungi suka-duka dan sukses menghalau segala rintangan yang manghalang, agaknya Anda sudah semakin dekat dengan “keajaiban” tersebut.

 

Enam ; Mereka Benar-Benar Tidak Tahu Apa Yang Harus Dilakukan

Oke, berikut ini adalah; “3 Rahasia Besar untuk menjadi Seorang Musisi Profesional dan Mendapatkan Kontrak Rekaman!”

– Asah terus bakat Anda! Latihan, latihan, latihan!

– Didiklah diri Anda dengan berbagai pengetahuan tentang bisnis musik! Jangan sekali-sekali beranggapan kalau Anda mengerti semuanya, cari tahu! Jika Anda berfikir akan tahu dengan sendirinya nanti… Anda benar, memang begitu, tapi ini terjadi setelah Anda tersandung dan jatuh berkali-kali. Jauh lebih pelik dari yang Anda bayangkan! Memang asyik-asyik saja belajar sambil mempraktekannya, tapi jangan sampai belajar dari kesalahan yang terjadi berkali-kali, dong! Ini sangat memakan waktu dan sangat menyakitkan bagi diri Anda sendiri tentunya. Carilah fakta-fakta dan pelajari bisnis ini dengan cara yang benar!

– Promosi, promosi, promosi! Mungkin Anda adalah musisi terhebat atau penyanyi paling sensasional yang pernah ada di planet ini, tapi kalau tanpa didukung promosi, siapa yang tahu?

 

Tujuh ; Mereka Lebih Banyak Punya Alasan Mengapa Mereka Tidak Bisa Dibandingkan Mereka Bisa!

Banyak musisi yang belum apa-apa sudah memasang banyak penghalang di benak mereka. Hal ini malah membuat mereka jauh dari kesuksesan. Jangan biarkan kekurangan PD merongrong bakat atau karier musik yang telah Anda impi-impikan sejak lama. Ego yang sehat malah dibutuhkan dalam bisnis musik. (seorang ego-maniak tidak mendapat tempat di sini!)

 

Delapan ; Mereka Tidak Memiliki Komitmen Jangka Panjang

Jika Anda tidak jujur melihat diri Anda sendiri sebagai seorang musisi lebih dari 6 bulan sampai satu atau dua tahun, maka Anda sedang melalui sebuah fase yang bagi kita musisi “beneran” selalu berharap agar Anda MENGHILANG secepatnya! Menjadi seorang musisi adalah kerja keras seumur hidup, bukannya iseng-iseng! Musisi-musisi yang sukses di industri musik tidak sekadar memasukkan jempol kaki mereka untuk memeriksa keadaan air, mereka langsung terjun dengan kepala mereka lebih dahulu dan TIDAK pernah melihat ke belakang lagi! Sekali Anda telah menjadi seorang musisi maka seumur hidup Anda akan terus menjadi musisi!

 

Sembilan ; Mereka Tidak Serius

Jika Anda memperlakukan musik hanya sebagai hobi, maka selamanya ia akan seperti itu! Jika Anda tidak menggiring musik dan band Anda menjadi serius, maka tidak seorangpun yang akan mau serius dengan band Anda! Jika tujuan Anda adalah menjadi musisi profesional, Anda harus menampilkan diri Anda dan apa yang Anda lakukan secara profesional pula!

 

Sepuluh ; Mereka Tidak Berbakat Sama Sekali

Salah satu alasan terbesar mengapa begitu sulit untuk menembus bisnis musik adalah karena bisnis ini merupakan bisnis yang kompleks. Semua orang kebelet menjadi bintang. Apa yang membuatnya semakin sulit ditembus ternyata karena makin banyak lahir musisi jadi-jadian yang merusak kesempatan bagi musisi-musisi berbakat! Label-label rekaman dibombardir dengan demo-demo “sampah” yang sangat jauh dari standar industri musik. Tidak heran makanya demo-demo ini kemudian langsung berakhir di keranjang sampah walau belum sempat dibuka sama sekali! Ini artinya bagi musisi professional, orang tersebut harus menunggu sampai bagian A&R dari label-label rekaman tersebut selesai menyortir satu-persatu ribuan “sampah” tersebut sebelum akhirnya benar-benar dibuka dan disimak oleh mereka.

 

[Jeffrey A. Macak]

 

Esai di atas adalah arsip lama yang pernah di-posting oleh seorang teman pada mailing-list Deathrockstar. Kami kopi, simpan, dan munculkan kembali di sini. Yah, semoga bermanfaat!…

Serbuan Taktis Studio Gigs

Akhir-akhir ini, scene musik kota Malang dimeriahkan oleh fenomena Studio Gigs. Itu loh, gigs sederhana yang digelar di dalam studio musik. Di mana band beragam genre tampil langsung disaksikan oleh teman-teman dekat atau fans-nya. Acara ini sudah sering digelar, bahkan nyaris rutin hampir dua minggu sekali. Band yang tampil pun cukup beragam, mulai dari punk, hardcore, metal, sampai grindcore. Mulai dari band lokal Malang, sampai guest band dari Jakarta, Bandung, bahkan pernah ada band dari Australia segala!…

 

Konon acara studio gigs ini berawal dari inisiatif para band itu sendiri yang lalu digarap oleh organiser kolektif serta pengelola studio musik selaku sang pemilik ‘venue’. Mungkin awalnya sebagai alternatif ketika venue biasa sudah mulai ditutup, dipersulit ijinnya, atau kelewat mahal sewanya. Juga menjadi ‘showcase’ bagi band-band baru [new-comer] untuk unjuk gigi – karena mungkin peluang mereka untuk tampil dalam konser bersama band-band cadas yang lebih ‘populer’ itu terbilang susah dan butuh proses. Sebuah bukti eksistensi rasanya. It’s a good thing!…

 

Studio gigs?! Sebenarnya ini bukan barang baru. Di luar negeri sana sudah eksis sejak lama dan relatif sering digelar. Konsepnya hampir sama. Tampil live di dalam studio musik. Ditonton langsung oleh fans, kerabat, pers atau undangan khusus. Cenderung lebih spontan, intim, santai, dan komunikatif – dibandingkan event musik pada umumnya. Coba bayangkan menonton band yang sedang latihan deh. Seperti itu biasanya. Jelas akan banyak diselingi canda bahkan kesalahan tehnis seperti salah kord, gitar fals, senar putus, atau cymbals yang roboh. A lot of fun!…

 

Studio gigs juga bisa jadi ajang promo atau showcase bagi band yang baru merilis karya album baru. Bahkan ada sejumlah band luar sana yang mengundang fans-nya dalam sesi latihan di studio. Aneh memang, tetapi siapa yang tidak antusias melihat bagaimana cara Muse atau Chimaira bikin lagu di studio?! Siapa tahu band lokal macam Extreme Decay, Screaming Factor atau Begundal Lowokwaru juga tertarik menjalankan metode ini.

 

Namun, jika saja studio gigs yang ada di Malang ini dikemas secara lebih menarik lagi pasti keren. Band-nya tidak perlu banyak-banyak. Cukup 3-5 band aja, jadi mereka bisa tampil santai dan maksimal. Kalau bisa band-nya juga lebih komunikatif kepada audiens. Setidaknya kasih cerita atau prolog di tiap lagu. Kalau perlu membongkar karakter sound dan musik mereka. Yah, semacam presentasi kecil-kecilan lah…

 

Contoh yang paling dekat dan bisa ditiru tentang konsep studio gigs mungkin adalah tayangan Live From Abbey Road yang disiarkan Metro TV setiap pekan. Memang bukan murni studio gigs sih, tetapi agak mirip dan bisa jadi inspirasi. Di studio legendaris itu, Iron Maiden pernah tampil santai, pake kaos sport, dan bertelanjang kaki. Mereka bercerita detil tentang musiknya – mulai dari stori di balik lagu, lirik, sampai melodi gitarnya. Cukup sederhana, tapi enak ditonton…

 

Kembali ke Malang, semoga ajang studio gigs bisa lebih eksis, variatif dan menarik. Tetap rutin dijalankan dengan penuh gairah, inovasi dan kreatifitas. Sehingga tidak sekedar ajang ‘pelampiasan rasa frustasi’ ketika venue tidak ada, atau band gak pernah diundang show. Yups, sebab studio gigs itu milik siapa saja – band apapun, semua genre, band besar atau kecil. Paling tidak kawan-kawan penggagas studio gigs selama ini sudah menunjukkan sebuah eksistensi dan siap berproses lebih jauh. Oke, sampai jumpa di studio!…

 

[494.28.6]

Artikel di atas pernah dimuat di Common Ground fanzine edisi

Scum On Feel Noise ; Insane We’ll Meet Again

Tulisan ini saya tulis pada tahun 1998 bersama [alm] Ivan Scumbag di Kaum Kidul, di kamar Ivan, di bawah pengaruh vodka, leksotan, dan ganja. ini adalah tulisan meracau. Sampai sekarang saya tak tahu ini menceritakan soal apa. Tapi yang jelas ini menceritakan kebanggaan kami akan Burgerkill. ini juga refleksi lain dari lagu “Blank Proudness”. Saya sangat yakin, beberapa kalimat yang tercantum di artikel ini asalnya akan saya masukkan sebagai lirik lagu “Blank Proudness”. Saya memberi judul tulisan ini “Insane We’ll Meet Again”, terinspirasi dari penggalan lirik lagu “Crystal Ship”-nya The Doors – sementara Ivan memberi judul tulisan ini “Scum On Feel the Noise!”. Saya akhirnya memuat dua judul itu. So, inilah, tulisan kami berdua…

 

We preach riot, hatred, self-loathing, bloody revolution and complete contemp for compromise. We have more energy and anger and intelligence than anyone in this whole cursed world, refusing to get on the anarcho/squat/shit treadmill. We wanna be the biggest rock nightmare ever and we wanna take all the nation with us. We’ll do whatever is required and give you the biggest ever post humous record sales We’ve spray painted our school shirt to wipe out the brainwash and the boredom. We are he scums that remind people of misery. When we jumped on the stage, it’s not a rock or hardcore cliché, but the geometery of contempt. We’ve seen so much energy at raves but also too much love. It’s so nice to see young people enjoying themselves and keeping out of trouble. We don’t display our wounds, we shove them in people’s faces. We are young beautiful scum pissed off with the world. All we’ve ever wanted is the reality of oblivion to get the jackplugged to hell. There is more self-hate in this band than you can realize. And if you keep on following our footsteps, then you’ll find that we hate ourselves totally.

 

Everybody in the nation is turned on by the happy-Monday-shit-music because of the lifestyle. But, we have the songs and ideas to back it up—because we are the most original lifestyle and band on the world. By denying ourselves a past, we are trying to find a worthwhile present out of this junky wreckage of life. We are the guitar edge of 90’s youth enfranchisement but for us, life is still repetition, humiliation, boredom. You can’t dance if you allow reality to eat in your thoughts. Just the same as you can’t stage dive. We kick them away. So you better listen to this shit or you fuck off. Wipe out the aristocracy, now kill! Government and country dump the scum falg and we drowning in manufactured ego fuckers. Boredom bred the thoughts of throwing bricks and we’ve been down for so damn long. We feel like rest of this country by banging our head against the wall.

 

We are the the suicide of non-generation. We are as faraway from anything in time as possible. We ruined everything—when fresh faced the little boys in gaudy t-shirt’s made exciting rocks and hardcore which they were convinced would shame the world into improvement. Retrogressive, exciting and inspired. You’ll probably hate us. We’re not in the personal entertainment. We aren’t wallowing in any music paper’s freaks. We might sound like the last 30 years of rock or sound like year 2100 of rock, our mind and soul addresses the issues of universal mind.

 

It’s a search. A frantic search for the absolutely nothing. An opening of one door after another. As yet there’s no consistent phyilosophy or politics. Sensousness and evil is an attractive image now. The snakeskin that will be shed sometimes. Works, performs of a striving for metamorphosis. Dark life, the dark side of life, the evil things,  the darkside of the moon brokenthru to some cleaner, freer realm.

 

It’s a purification ritual in the alchemical sense. First you have to have the period of disorder, chaos, refusing to a primeval disaster region. Out of that, you purify the elements and find a new seed of life which transform all life, all matter, and all personality until finally you emerge and marry all those dualism and opposites. Then you’re not talking about evil and good anymore but something unified and pure. Our music and personalities as seen on the performs are still in the state of chaos and disorder with maybe an incipient element of purity kind of starting. Lately, when we’ve appeared in person, it’s started to merge together. The city is looking for a ritual to join its fragment. This is just like a sort of the electric wedding ritual. And we are too. Insane we’ll meet again.

 

[Kims & Scumbag]

Ujungberung, circa 1998

 

Perspektif Hukum Terhadap Pembentukan Grup Band

Adalah hal menarik bila kita menyimak berita seputar artis musik baik melalui media cetak maupun tayangan infotainment di televisi. Berita yang mengisahkan persengketaan hukum antara artis dan manajernya, artis dengan perusahaan rekaman atau bahkan dengan sesama anggota dalam satu grup band musik yang berujung ke meja hijau. Acap kali luput dari perhatian atau terlupakan oleh suatu grup band yang baru memulai karirnya atau bahkan yang telah lama adalah menentukan aturan main (rule of game) dalam band-nya sendiri. Kondisi ini dapat dipahami dan lazim terjadi karena pada awalnya grup band dibentuk tidak lebih dari sebuah pertemanan dari orang-orang yang memiliki hobi atau tujuan yang sama di bidang musik.

 

Perjanjian Band

Aturan main (rule of game) itu sebenarnya dapat ditemukan dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Bagi sebagian grup band pemula memang agak risih membicarakan sesuatu yang terlalu ‘formil’ di awal pembentukan band yang baru saja dibentuk. Namun sebenarnya pandangan ini keliru, justru momen itulah yang tepat untuk merumuskan segala hal terkait dengan grup band ke depan. Momen di mana berbagai macam tawaran belum banyak berdatangan seperti tawaran rekaman, tawaran konser, tur, dan sebagainya.

 

Perjanjian Band (Band Agreement) bukan satu-satunya perjanjian yang terkait dengan grup band. Ada beberapa bentuk perjanjian lain, manakala grup band telah melakukan interaksi dengan pihak lain, seperti perjanjian dengan penulis/pencipta lagu (songwriter contract), manajer (management agreement), Agen (booking agent agreement), perusahaan rekaman (recording contract), publikasi (publishing contract), distributor (distribution contract), perusahaan iklan, event organizer tour (performance contract), atau dengan pihak-pihak ketiga lainnya melalui perjanjian lisensi hak reproduksi (reproduction license) untuk menuliskan lagu dalam bentuk cetak, hak sinkronisasi bila lagu digunakan dalam film (sychronization lisence), atau mechanical license oleh perusahaan rekaman, dan sebagainya. Tidak hanya itu, ada pula pernyataan tentang hak cipta atas karya musik bagi pencipta (assignment of musical work copyright) atau pernyataan tentang hak cipta atas rekaman suara bagi artis (assignment of sound recording copyright).

 

Berbagai bentuk perjanjian itu pada prinsipnya menggunakan kaedah perjanjian sebagaimana dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Tetapi bila ditelusuri lebih jauh dalam bisnis ini akan didapati kompleksitas ketersinggungan hukum dan bisnis, yang bila kurang jeli akan menuai masalah dikemudian hari atau dari sisi bisnis menjadi tidak menguntungkan. Grup band pada bagian ini harus menemukan ahli hukum yang menguasai bidang ini.

 

Penulis tidak bermaksud untuk menguraikan satu persatu berbagai bentuk perjanjian tersebut karena memang hal itu akan mudah ditemukan setelah grup band telah eksis. Pada kesempatan ini secara khusus akan dikaji beberapa hal penting seputar pembentukan grup band sebagai langkah awal yang sering luput dari perhatian para pendiri grup band, akan tetapi sering menjadi sumber permasalahan hukum.

 

Pentingnya Nama

Nama bagi suatu grup band sangat penting karena mampu menggambarkan identitas, ciri maupun karakter musik yang berfungsi sebagai pembeda dengan grup band lain. Di samping performa, nama yang baik dapat memudahkan proses pemasaran (marketing). Nama suatu grup band akan bernilai jual tinggi sejalan dengan popularitas grup band tersebut.

 

Hal penting setelah penentuan nama grup band adalah menentukan siapa yang berhak menggunakan nama tersebut dan siapa pemiliknya. Apakah milik kolektif anggota pendiri grup band atau salah seorang dari anggota grup band tersebut? Selanjutnya, apabila grup band bubar, siapa yang berhak menggunakannya? Klausul-klausul inilah yang mesti telah dimuat dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Masalah nama grup band ini kadangkala dianggap sepele tetapi tidak sedikit yang menjadi akar permasalahan hingga ke pengadilan.

 

Kasus yang terjadi antara Kassbaum vs Steppenwolf Productions, INC dapat menggambarkan pentingnya nama bagi sebuah grup band. Nicholas Kassbaum adalah mantan pemain bass grup band ”Steppenwolf”. Steppenwolf adalah grup band rock yang dibentuk pada tahun 1967 oleh Jhon Kay, Jerry Edmonton, Michael Monarch dan Goldie McJohn. Sementara Kassbaum bergabung setahun setelah grup band dibentuk. Pada tahun itu pula baru dibuat ”Perjanjian Kerjasama” (partnership agreement) yang menyatakan masing-masing anggota grup band memiliki kedudukan dan kepemilikan yang sama atas Steppenwolf. Steppenwolf makin dikenal dengan berbagai macam tawaran kontrak rekaman maupun konser. Kemampuan Kassabaum memberikan karakteristik tersendiri pada setiap penampilan Steppenwolf. Pada 1971, Kassabaum keluar dari grup band dan salah seorang pendiri, Jhon Kay, menyatakan Steppenwolf bubar. Namun, pada 1975 Kassabaum dan Goldie McJohn membentuk grup band baru dengan nama ”The New Steppenwolf”. Penggunaan nama baru itu menuai masalah karena dianggap memanfaatkan popularitas nama Steppenwolf sebelumnya. Akhirnya Kassabaum harus membayar $ 17.500,00 kepada Jhon Kay dan Steppenwolf Productions, INC untuk memperoleh hak ekslusif (exclusive right) menggunakan nama tersebut.

 

Pelajaran berharga dalam kasus Kassabaum di atas adalah urgensi menentukan kepemilikan dan penggunaan nama grup band. Boleh jadi pemilik nama band hanyalah satu atau dua dari anggota inti grup band. Bila demikian, maka tidak diperkenankan membagi kepemilikannya kepada anggota lain kecuali bila anggota yang bersangkutan telah menjadi anggota tetap grup band. Lantas, bagaimana penggunaan nama band bila grup band bubar? Maka ini pun mestinya telah diatur sebelumnya, oleh karena dapat saja sebuah perusahaan rekaman (record company) yang telah menginvestasikan berbagai hal pada grup band memiliki hak untuk menggunakan nama band tersebut bila grup bubar.

 

Realitas di atas setidaknya memberikan sinyal penting bagi anggota grup band pemula untuk mempersiapkan Perjanjian Band (Band Agreement) secara komprehensif atau mungkin bagi grup band yang sudah berkarir lama untuk me-review perjanjian dasar grup band ini guna mengantisipasi munculnya berbagai persoalan hukum ke depan.

 

Struktur Band

Anggota grup band dapat saja menentukan berbagai macam hal terkait dengan grup band-nya seperti kepemilikan nama band maupun pembagian keuntungan. Dengan kata lain, grup band bebas menentukan keinginannya untuk kemudian diterjemahkan dalam berbagai dokumen hukum. Lagi-lagi, di sini diperlukan ahli hukum yang kreatif dalam memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) dari grup band.

 

Bagi grup band sendiri perlu memutuskan bentuk struktur bandnya. Pilihan bentuk ini akan menerangkan pertanggungjawaban atas grup band dan berdampak pada tata cara masuknya anggota baru atau bahkan bagi anggota grup yang keluar. Sulit untuk mengatakan mana bentuk struktur yang paling baik. Namun, setidaknya ada 2 (dua) tipe umum dari suatu grup band, yaitu bentuk Perusahaan Terbatas (limited company) dan bentuk Kerjasama Perdata (partnership). Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tergantung pada mana yang dianggap lebih menguntungkan bagi grup band.

 

Bila grup band memilih bentuk kerjasama perdata (partnership), maka Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun berbentuk Perjanjian Kerjasama Band (Band Partnership Agreement). Perjanjian ini akan memuat bagaimana grup band beroperasi setiap hari, nama band maupun pemisahan aset dan sebagainya. Seluruh anggota grup band dalam bentuk ini memiliki kesetaraan dalam pembagian keuntungan maupun menanggung bila timbul kerugian. Struktur band dengan kerjasama perdata (partnership) ini sebenarnya telah diatur dalam Pasal 1618 KUH Perdata dengan istilah yang berbeda yakni, ”Persekutuan”. Dalam pasal itu diuraikan bahwa ”persekutuan adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya”.

 

Di samping bentuk Partnership, grup band dapat memilih bentuk Perusahaan Terbatas. Dalam bentuk ini, karakteristik Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun memuat Perjanjian Saham (shareholders’ agreement). Dalam beberapa hal bentuk ini memiliki kelebihan dalam pemisahan aset pribadi, peningkatan efisiensi di bidang pajak, pembagian keuntungan dan sebagainya.

 

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa sulit untuk mengatakan struktur band mana yang terbaik. Namun yang diingat adalah pilihan bentuk akan memberikan konsekuensi hukum berbeda bagi grup band dalam hal kepemilikan nama, keluarnya anggota dari grup band atau masuknya anggota baru, pertanggungjawaban atas aset serta pembagian keuntungan yang diperoleh.

 

Penutup

Adalah bijaksana bagi suatu grup band apabila dalam pencapaian karir musiknya tidak mengabaikan aspek hukum yang melingkupinya. Uraian penulis di atas, hanya beberapa dari sekian banyak kompleksitas perspektif hukum terhadap suatu grup band. Merumuskan formulasi terkait grup band akan mudah dilakukan dalam keadaan grup band belum ada masalah. Perspektif hukum pada awal pembentukan grup band adalah upaya efektif dalam menyiasati kemungkinan terjadinya masalah hukum di masa datang.

 

[Khaerul H Tanjung]

Dedy Kurniadi & Co, Lawyers

 

Artikel ini diangkat sebagai reaksi terhadap kasus sengketa band yang menimpa Peterpan, Slank [bimbim-kaka vs bongky-indra-pay], Ratu, Caramel, Aaarrgghh, Betrayer, Rotten Corpse, serta sederet band bermasalah lainnya. Juga sebagai antisipasi bagi semua band untuk kasus serupa. Gak peduli band mainstream atau indie. Pop atau cadas. Band anda mungkin bisa jadi masalah selanjutnya…

The Good, The Bad and The Ugly

 

Dengan diawali intro ‘Ecstasy of Gold’, inilah penggalan cerita ringan dari seorang [mantan] fans grupband Metallica. Seperti layaknya penggemar yang fanatik, berlebihan dan nyaris menjadi ‘groupie’. Ada satu masa di mana seorang fans musti mengejar pengalaman yang indah dan seru. Sekalipun itu harus bertindak nekat, bodoh dan konyol. Juga sedikit tampak naif, childish, dan fetish. Hingga tiba-tiba merasa dikhianati, lalu marah dan memilih untuk murtad. Pengalaman baik atau buruk kadang memang perlu diceritakan. This is a Metallica fans story based on his own words. And why so serious?!…

 

Pertama kali tahu dan mengenal Metallica?! Mmhh, sulit diingat kapan tepatnya. Tapi yang pasti masih awal-awal masa seragam putih-biru alias SMP, sekitar tahun 1989 – 1990. Yah, itu tidak lama setelah saya mengenal musik keras. Ini juga tidak lepas dari jasa kawan sebangku SMP yang pertama kali mengenalkan saya kepada band-band keras, sekaligus sahabat saya sampai hari ini. Namanya Asrofin alias Wencling. Thanks to you dude!…

 

Album Metallica yang pertama kali saya beli adalah Master of Puppets di lapak kaset bajakan sekitar Toko Buku Siswa [Malang]. Harganya cuma tiga ribu perak. Mutu rekamannya tidak terlalu bagus. Sampulnya adalah hasil foto reproan.

 

Tidak lama, di tempat yang sama, saya juga membeli The Best of Metallica, sebuah kaset C-90 yang berisi koleksi lagu dari tiga album pertama mereka. Kayaknya sih ini rekaman bootleg. Sebab tidak pernah ada dalam diskografi resmi Metallica.

 

Gara-gara dua kaset bajakan itu saya jadi suka dan nge-fans ama Metallica. Mulai memproklamirkan diri sebagai seorang metal militia dan metallikatz. Hidup saya mulai berubah…

 

Selanjutnya saya selalu membeli semua kaset Metallica yang asli di toko kaset. Baik itu versi album, live, kompilasi, maupun singel yang cuma 3-4 lagu itu. Mulai dari era Kill ‘Em All sampai kepada Black Album. Komplit!…

 

Lima album pertama Metallica adalah favorit saya semua. Tidak ada yang lebih baik, dan tidak ada yang lebih buruk. Dulu kalau sendirian di kamar pas malam hari, saya sering memutarnya secara berurutan, mulai dari Kill Em All sampai Black Album.

 

Sampai hari ini, belum pernah ada album thrash metal sebaik Master of Puppets, tidak juga Reign In Blood-nya Slayer!…

 

Lagu The Thing That Should Not Be adalah salah satu track metal paling elegan yang pernah saya dengarkan.

 

Setiap mendengarkan lagu Creeping Death, tepatnya di bagian tengah lagu yang klasik itu, saya selalu mengucapkan koor “Die! Die! Die!” dalam hati, seakan ikut berteriak di konser mereka.

 

Awalnya lagu Helpless, Am I Evil dan The Wait saya kira lagu asli ciptaan Metallica, ternyata bukan yah?!…

 

Menurut saya, album And Justice For All adalah salah satu pionir dan landmark bagi musik progresif metal dan math-metal. Semua lagunya bernuansa epic!..

 

Lagu One sering saya bayangkan cocok jadi soundtrack film Platoon. Yah, pas intro perang dan suara baling-baling helikopter itu…

 

Saya kenal Pushead dari Metallica. Dari sleeve cover And Justice For All tepatnya, atau artwork yang dinamai Hammer of Justice.

 

Black Album kayaknya bisa jadi rekaman cadas yang paling easy listening yang pernah ada di muka bumi.

 

Sampai pada Black Album, saya ingin tanya kepada anda ; Adakah band metal di planet ini yang sukses secara musikal dan komersil seperti Metallica?!

[ya, oke, saya tahu jawaban anda…]

 

Rata-rata untuk setiap album Metallica saya pernah membelinya sebanyak tiga kali – terpaksa gara-gara rekaman itu hilang, dipinjam tidak kembali, atau rusak.

 

Saya bisa memainkan full lagu Nothing Else Matters, Fade To Black, dan Enter Sandman dengan gitar bolong. Juga potongan intro Seek and Destroy, serta petikan akustik Master of Puppets dan One meskipun gak sempurna.

 

Semua koleksi rekaman Metallica saya adalah format kaset. Gila, sampai hari ini saya tidak pernah punya apalagi membeli satu pun CD Metallica. What a bad fans?!…

 

Kamar saya dulu sempit. Cuma 4 x 2 meter. Hampir seluruh dindingnya tertutup poster band. Maaf, cuma ada poster Metallica, band lain gak boleh, hehe.

 

Hey, bukan poster import yang gede dan berkualitas baik itu. Melainkan poster berbahan kertas karton biasa yang sering dijual di kaki lima. Poster-poster Metallica itu saya beli di pinggir jalan seharga 250 – 500 perak pada jaman itu.

 

Saat itu, fanatisme yang berlebihan terhadap Metallica ternyata bikin saya kurang ‘menguasai’ Slayer, Anthrax, Megadeth, atau Testament.

 

Sejak SMP sampai SMA saya suka mencoret-coret buku sekolah saya dengan logo klasik Metallica maupun judul lagu-lagu mereka.

 

Gara-gara suka Metallica, saya jadi ikut sentimen dan gak suka sama Dave Mustaine. Juga sebisa mungkin mengabaikan Megadeth!…

 

Saya dan teman-teman sempat kecanduan potongan rambut skin, yaitu sisi rambut yang ditipiskan seperti potongan Jason Newsted paska Black Album.

 

Cliff Burton dan Jason Newsted adalah member Metallica favorit saya!

[yang berarti tidak ada lagi personil favorit dalam formasi Metallica saat ini?!]

 

Saya dan seorang kawan sering iseng membanding-bandingkan suara setiap penyanyi. Kami sempat punya tebakan ; Siapa penyanyi Indonesia yang suara vokalnya mirip James Hetfield?! Jawabannya adalah Sawung Jabo!

[gak percaya?! Bandingkan aja suara mereka berdua!…]

 

Era awal 90-an ada band lokal namanya Nevermind dan Meteor. Saya suka nonton dua band ini karena mereka selalu mengkover lagu-lagu milik Metallica. Btw, drummer Nevermind itu akhirnya kita kenal sebagai Ravi, gitaris Extreme Decay.

 

Saya dan kawan-kawan dulu gemar naik gunung. Kami pernah naik gunung Panderman [2200mdpl] yang terletak di sebelah barat kota Malang dengan membawa poster flag Metallica hanya untuk foto-foto. Weird?!…

 

Saya, Budi dan Feri adalah tiga sekawan yang berangkat dari Malang untuk nonton konser Metallica di Jakarta [1993]. Pas hari H, saya terpaksa berbohong kepada ayah saya kalau mau nonton film midnight di bioskop. Sorry dad, it’s Metallica!…

 

Kami bertiga benar-benar perjuangan untuk nonton Metallica. Naik kereta kelas ekonomi, duit pas-pasan, dan tidak punya kenalan di Jakarta. Benar-benar bonek, Modal nekat!…

 

Sebelum show, kami sempat jalan-jalan ke Blok M sekedar untuk mencari suvenir yang berbau Metallica, seperti kaos atau postcard.

 

Di Lebak Bulus kami sempat terjebak di tengah ‘perang’ massa vs aparat, menerobos barikade, kucing-kucingan sama petugas, sampai kepala kegencet pintu masuk. A near death experience?!…

 

Tapi akhirnya kami ada di dalam arena menjadi saksi hidup konser Metallica – dan segala kerusuhan yang ada di luar stadion. Fight fire with fire! Haji kami mabrur!…

 

Potongan tiket konser Metallica masih saya tempel di belakang pintu kamar. Di sebelahnya juga saya tempel postcard Master of Puppets yang dibeli di Blok M.

 

Menuju konser Metallica adalah perjalanan ‘tour’ saya yang kedua, setelah berangkat ke Surabaya menonton konser Sepultura [1992] bersama Wencling.

 

Saya tidak pernah punya kaos original atau import Metallica. Cukup sulit mencarinya pada saat itu. Kaos-kaos Metallica yang pernah saya beli itu produk lokal dari C59 atau More Shop [Blok M, Jkt].

 

Saya bahkan pernah membeli kaos One warna putih di Mitra Department Store Malang!

 

Kaos Metallica favorit saya sebenarnya adalah Sad But True. Itu loh yang gambar dua tengkorak saling berhadapan dan biasa dipakai Jason Newsted ketika manggung. Sayang, sampai sekarang belum kesampean punya kaos itu!…

 

Akhirnya saya sempat punya kaos Metallica yang orisinil [import] berdesain Ride The Lightning yang didapatkan teman saya, Plecie, dari kios pakaian bekas. Tapi entah di mana kaos itu sekarang…

 

Gara-gara terpengaruh oleh penampilan Metallica, saya juga jadi suka memakai kaos hitam polos dan jins hitam ketat.

 

Bacaan favorit saya tentang Metallica adalah Hai Klip edisi Metallica yang diterbitkan oleh Majalah Hai menjelang band itu show di Jakarta [1993]. Saya sampai beli dua kali, dan keduanya hilang tanpa jejak. Cari lagi mana mungkin ada…

 

Ketika saya tinggal di Bandung, kaset bootleg The Best of Metallica itu saya berikan pada Alan, gitaris Tympanic Membrane. Ternyata dia juga fans Metallica, selain Carcass dan Bad Religion katanya.

 

Album Metallica yang terakhir kali saya beli adalah kaset Garage Inc di lapak kaset bekas di stadion Gajayana Malang. Sekedar ingin tahu seperti apa Metallica kalau mengkover lagu orang…

 

Saya tidak pernah membeli album Load [1996] sampai St.Anger [2003]. Mendengarkannya pun nyaris gak mau!…

 

Sejak album Load keluar, saya menyatakan diri bukan fans Metallica dan putus hubungan dengan mereka. Kadang saya anggap band ini udah tidak ada dan layak diimbuhi kalimat [RIP] alias Rest In Peace di belakang nama mereka – untuk sementara sih, sampai mereka rilis karya yang bagus dan ‘normal’ kembali!…

 

Saya sempat membenci Lars Ulrich ketika Metallica bersengketa soal mp3 dan menuntut Napster. Sebab saya merasa tidak ada yang salah dengan mp3 dan file-sharing. Lars aja yang kelewat sok dan arogan…

 

Kasus sengketa Metallica versus Napster sempat akan jadi topik skripsi saya pas kuliah di fakultas hukum. Tapi sayang gak jadi, karena di Indonesia saat itu belum ada peraturan hukum di bidang terkait [tehnologi informasi, internet, mp3].

 

Proyek S&M bersama pasukan orkestra-nya Michael Kamen itu lumayan. Cukup kreatif dan sensasional…

 

Saya punya DVD bajakan Some Kind of Monster tapi hanya saya setel sepotong-sepotong dan belum pernah ditonton secara lengkap.

 

Metallica di era St.Anger adalah blunder terbesar mereka. Mendengarkan album itu rasanya seperti mendengarkan band baru yang ingin menjadi the next Limb Bizkit atau the next Linkin Park!…

 

Blunder Metallica lainnya adalah ketika mereka semua mencukur pendek rambutnya dan merekrut Rob Trujillo sebagai bassist. Avril Lavigne di konser MTV Icon?! Bah!

 

Saya tidak suka sama bassist berperawakan gorila, Rob Trujillo. He’s a lucky bastard. Tambah benci lagi karena dia suka pake celana pendek selutut pas manggung. Metallica with short pants?! Damn you!

 

Ada ribuan bahkan jutaan band yang mengkover lagu Metallica. Dalam berbagai versi dan genre. Tetapi hanya beberapa yang menjadi favorit saya, antara lain Whiplash [Motorhead, Kiss of Death], Motorbreath [Jeruji, 3rd], dan One [Korn, MTV Icon].

 

Band lokal yang selalu mengingatkan saya pada Metallica adalah Roxx, Rotor, Nevermind, Meteor, Jeruji, dan Seringai.

 

The next Metallica is Mastodon!… bukan Trivium apalagi Avenged Sevenfold!

 

Saya baru tahu kalau ada situs penggemar Metallica di Indonesia [fansite]. Cek aja di www.indonesiapullingteeth.com.

 

Saya pertama kali mendapatkan album Death Magnetic seminggu yang lalu dalam format MP3 yang dibawa Yoda ke rumah. Langsung saya setel bersama Budi dan Feri. Ini takdir yang menarik. Sebab kami bertiga juga yang sama-sama nonton konser Metallica bareng di Jakarta, tahun 1993 lalu. Thanks meister Yoda!

 

Saya menaruh harapan yang sangat besar ketika mendengar berita bahwa Rick Rubin akan memproduseri album Death Magnetic. Sebab Bob Rock selalu gagal selepas Black Album.

 

Sudah seminggu terakhir ini saya selalu memutar Death Magnetic dan lagu-lagu lawas Metallica. Demi sebuah nostalgia dan tuntutan berwacana…

[serta untuk menyiapkan edisi spesial di Apokalip!]

 

Setelah Death Magnetic apakah saya masih menolak Metallica atau musti kembali menjadi fans mereka?! Well, sampai pada baris terakhir ini saya belum memutuskan…

 

Waiting for the one

The day that never comes

When you stand up and feel the warmth

But the sunshine never comes

No the sunshine never comes

 

 

[Some Kind of Samakk]

Underground Kita Berbeda

Jika dirunut pada sejarah masuknya musik rock ke Indonesia, khususnya kota Bandung, diawali sejak tahun 70-an. Musik rock yang masuk ke Indonesia adalah musik rock yang berasal dari benua Amerika dan Eropa. Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan budaya benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya baru yang diciptakan oleh para generasi muda pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai ide-ide yang subversif. Pada tahun 50-an para seniman di Prancis dan Inggris biasa mengekspresikan karya-karya mereka di subway atau stasiun kereta api bawah tanah. Karena mereka tidak pernah diberi akses oleh pemerintah pada fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya mereka mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat itu. Utamanya pada saat itu di benua Eropa telah mengalami puncak kejayaan dari sebuah revolusi di berbagai bidang kesenian. Sehingga cenderung menolak hal-hal baru karena dianggap bisa merusak tatanan kemapanan yang sudah terbentuk. Sementara kaum mudanya merasakan sebuah kondisi stagnasi dan kebosanan.  Setiap malam para seniman-seniman itu berkumpul mengekspresikan berbagai macam karya ‘avant garde’ mereka. Dari mulai pentas musik, teater, seni rupa, puisi, performance art, hingga karya instalasi yang rumit. Mereka saling berekspresi dan saling mengapresiasi satu sama lain. Karya-karya yang dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Karya yang diciptakan pada saat itu menjadi semacam ‘basic’ bagi perkembangan semua karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah ‘underground’ untuk pertama kalinya muncul.

 

‘Underground’ Era  Revolusi Industri

 

Di tahun yang sama juga benua Eropa mengalami revolusi industri. Ketika sektor-sektor industri di Eropa melakukan transformasi teknologi yang drastis. Demi efesiensi dan mempercepat kapasitas produksi pasca berakhirnya perang dunia kedua pabrik-pabrik di Eropa mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin. Hal ini berdampak pada banyaknya pengangguran dan menimbulkan masalah sosial. Di Inggris lahirlah kelompok-kelompok buruh yang terkena PHK mengorganisir diri ke dalam kelompok berbagai organisasi ‘working class’. Dengan dandanan khas rambut plontos t-shirt putih dan bersepatu boots dr.Martens, setiap malam mereka menggelar pentas-pentas musik di subway serta melakukan ‘squat’ atau reclaiming terhadap gedung-gedung kosong bergabung dengan para imigran dari Jamaika, Maroko, dan Afrika. Lirik yang disampaikan adalah lirik protes terhadap kondisi sosial dan kesetiakawanan. Dari sinilah muncul proses eksplorasi musik hingga terciptalah musik heavy yang dipelopori oleh kelahiran band Black Sabbath. Musik yang kelam dan lirik yang mengekplorasi sisi gelap manusia sebagai penyikapan terhadap kondisi sosial pada saat itu. Kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa ideologi. Ada yang cenderung fasis dan ultra nasionalis dan pastinya jadi rasis. Ada juga yang berideologi kesetaraan dan anarkis. Dari sinilah lahir budaya ‘punk’ dengan segala macam aktifitas seni dan gerakan politisnya.

 

Foto3 & foto13

Puncaknya adalah ketika terjadi peristiwa Paris ’68 di Prancis. Pada saat itu mahasiswa sebagai bagian dari ‘middle class’ atau kaum intelektual melebur bersama para kaum ‘underground’ dan kaum miskin kota dalam hal ini korban PHK akibat dampak dari revolusi industri melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut perbaikan ekonomi. Selama berminggu-minggu mereka membuat  barikade di jalan-jalan kota Paris dan melakukan aksi mogok secara nasional. Hingga akhirnya pemerintah Prancis melakukan reformasi total di segala bidang. Salah satu alumnus peristiwa Paris ’68 adalah Malcolm Mc Laren yang jadi manajer band punk rock kontroversial sepanjang masa, Sex Pistols.

 

‘Underground’ Era Flower Generation

 

Kondisi di Amerika kurang lebih sama. Di Amerika pada tahun 50-an masih menganut sistem politik apartheid dan perbudakan. Masyarakat sosial Amerika pada saat itu terbagi menjadi tiga kelas sosial utama. Kelas borjuis yaitu kaum pengusaha, birokrat dan agamawan yang cenderung rasis dan menjunjung tinggi semangat ‘white supremacy’. Kaum tehnokrat yang terdiri kaum intelektual dan mahasiswa. Kaum buruh yang terdiri dari budak-budak kulit hitam. Pembagian strata sosial ini membawa dampak pada pola berkesenian. Pada saat itu para budak kulit hitam yang kebanyakan berasal dari benua afrika oleh hukum yang berlaku pada saat itu mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Gaji yang tidak sesuai dengan porsi kerja dan tindakan diskriminatif di segala bidang. Semua gerak langkah mereka dibatasi hingga menimbulkan rasa frustasi yang begitu mendalam.

 

Satu-satunya saluran ekspresi mereka adalah lewat media musik. Mereka biasanya dipisahkan dari lingkungan kulit putih dengan cara kolonisasi. Dibuatkan area perkampungan yang kumuh atau dikenal dengan istilah ‘ghetto’ dan sengaja dibuat miskin secara sistematis hingga menimbulkan kerawanan sosial. Setiap malam sehabis lelah bekerja mereka biasanya berkumpul dan memainkan musik. Musik yang diciptakan adalah musik yang sifatnya sangat personal. Musik yang menjadi ekspresi pribadi dalam mengekspresikan segala kesumpekan dalam diri. Lahirlah kemudian jazz dan blues. Musik yang cenderung instrumental. Karena pada saat itu membuat lirik yang bernada protes sosial apalagi dilakukan oleh kulit hitam merupakan pelanggaran berat. Mereka membentuk komunitas dan menggelar konser-konser sederhana di bar-bar kulit hitam. Saling berekspresi dan mengapresiasi sambil meneriakan protes-protes lewat nada-nada sendu dan bernuansa kelam. Kalaupun memakai lirik maka pengucapannya dilakukan dengan cepat, bergumam dan menggunakan ‘bahasa kode’ yang hanya dimengerti oleh komunitas itu sendiri. Musik yang pada saat itu sangat diharamkan untuk didengar apalagi dimainkan oleh kaum kulit putih.

 

Dari sinilah muncul sikap DIY [do-it-yourself]. Para musisi kulit hitam ini membuat perusahaan rekaman ‘motown records’ yang khusus memproduksi artis-artis kulit hitam dan mendistribusikannya ke setiap koloni-koloni yang tersebar di seantero benua Amerika. Mereka membuat jaringan komunikasi dan media komunitas kulit hitam. Mulai mengorganisir diri dalam gerakan yang lebih ke arah politis. Salah satunya organisasi ‘black panther’. Lahirlah pionir pejuang-pejuang kemanusiaan yang mengusung isu kesetaraan hak, diantaranya Malcolm X dan Martin Luther King.

 

Hingga suatu saat Elvis Presley mendobrak budaya konservatif tersebut. Diam-diam dia mendatangi bar-bar kulit hitam yang menampilkan musik blues dan jazz. Dia terinspirasi dari aliran musik tersebut hingga digabungkan dengan musik country. Lahirlah rock & roll. Musik yang pada saat itu mengalami penolakan keras dari kaum konservatif dan kalangan gereja. Rock & roll pada jaman Elvis disebut sebagai ‘musik pemuja setan’. Karena iramanya dianggap mendorong anak muda untuk berjoget seronok dan membangkang pada orangtua.

 

Ketika Amerika mengalami krisis ekonomi berkepanjangan akibat perang dunia kedua dan terlibat dalam perang Vietnam, beberapa kalangan seniman ‘underground’, kalangan akademisi dan para veteran perang menggelar aksi protes anti perang Vietnam serta menuntut perbaikan kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka menggelar panggung-panggung festival musik secara besar-besaran. Contohnya adalah Woodstock pada tahun 1969. Panggung tersebut diisi oleh artis-artis multi-etnis. Meneriakan semangat yang sama, ‘make peace not war’. Dari sinilah cikal bakal dari kaum hippies. Kaum ‘flower generation’ yang sudah bosan dengan segala kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Namun kembali gerakan ini tidak berlangsung lama dikarenakan terjadi proses komodifikasi dan eksploitasi besar-besaran oleh para pelaku industri mainstream. Terutama industri yang bergerak di bidang hiburan dan fashion. Pada akhirnya hanya dua elemen nilai itulah yang ‘dijual’ dan sampai ke khalayak. Band-band heavy metal pada era itu sudah tidak dianggap ‘underground’ lagi. Beberapa pelaku sub-kultur akhirnya menolak cara-cara tersebut dan lebih memilih kembali pada jalur ‘underground’ serta mengembangkan sistem mereka sendiri. Pada era 70-an para pelaku komunitas sub-kultur ini telah mampu menciptakan dan mengembangkan berbagai penyikapan alternative untuk melawan arus mainstream. Lahirnya industri indie label yang mengakomodir semangat independensi dan berbagai macam media independen adalah salah satu contohnya.

 

‘Underground’ Era Orla

 

Di Indonesia sendiri pada tahun 60-an ketika Soekarno masih berkuasa, perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik pada saat itu. Soekarno yang berkuasa mengambil poros Jakarta-Beijing-Moskow sebagai garis politiknya di masa perang dingin. Sehingga hal-hal yang sifatnya berbau Amerika dianggap sebagai sesuatu yang kontra revolusioner dan bentuk imperialisme budaya barat. Sehingga musik rock & roll pada saat itu dianggap ‘menyesatkan’ dan ‘kebarat-baratan’ serta dilarang dikonsumsi oleh anak muda Indonesia. Terlepas dari segala muatannya yang membawa pada semangat perubahan, segala sesuatu yang datang dari ‘barat’ pasti dilarang. Semua bentuk kesenian haruslah mengacu pada realisme sosialis dan tidak mengandung muatan borjuisme. Beberapa band seperti Koes Plus mendapatkan perlakuan represif dari aparat keamanan. Beberapa radio yang memutar musik rock & roll ditutup. Petugas keamanan rajin melakukan razia-razia ke tempat keramaian anak muda. Apabila kedapatan mengenakan setelan ‘barat’ pasti ditahan. Apabila ketahuan menggelar acara musik rock & roll atau istilah Soekarno disebut musik ‘ngak-ngik-ngok’ pasti dibubarkan. Sehingga pada saat itu beberapa musisi lokal menggelar acara-acara musik rock & roll secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain menghindari razia petugas keamanan. Dari sinilah awal lahirnya istilah ‘underground’ di Indonesia.

‘Underground’ Era Orba

 

Pasca Soekarno runtuh dimulailah era orde baru. Segala bentuk kesenian yang berasal dari barat mulai masuk dan ikut mempengaruhi perkembangan musik Indonesia. Kebijakan politik yang diambil pada saat itu lebih mengarah kepada politik pencitraan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan penuh dengan nuansa keterbukaan. Di tahun 1970-an, musik cadas tidak pernah menyebut dirinya sebagai komunitas musik indie, mengingat pada saat itu Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Uriah Heep merupakan komoditas yang dianak-emaskan oleh industri major label di benua Amerika dan Eropa. Begitu pun dengan musik cadas di Indonesia semacam Giant Step, God Bless, Superkid, atau SAS yang lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai musik ‘underground’. Komunitas mereka sangat bangga dengan sebutan itu, mengingat tak semua orang suka akan musik yang kekuatan bunyinya jauh di atas 60 dB atau jauh di atas batas toleransi pendengaran manusia. Ada semacam pola imitasi yang berkembang pada saat itu. Terutama dari jenis musik yang dimainkan dan pola fashion. Sehingga yang terjadi adalah proses imitatif kebudayaan luar yang datang namun tidak mampu menyerap kondisi realitas yang terjadi di kultur lokal. Banyak band Indonesia pada saat itu yang mencoba menjadi Deep Purple, Led Zeppelin atau Black Sabbath. Mereka benar-benar meniru habis-habisan apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun yang diadopsi hanya sebatas musikalitas dan fashionnya saja. Sementara isu-isu sosial yang terjadi pada tingkat lokal sama sekali tidak tersentuh. Mereka lebih memilih memproduksi karya dengan lirik yang dinilai ‘aman’ dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan pemerintah yang totaliter. Fenomena yang dihasilkan pada era ini hanyalah fenomena ‘aksi protes’ yang diekspresikan dalam aksi panggung yang kontroversial, pemakaian obat bius dan seks bebas.

 

Walaupun ada beberapa band yang dianggap fenomenal pada masa itu namun hanya sebatas di paparan karya musikalitas dan tidak membawa perubahan secara radikal di tingkat masyarakat. Sementara stigma seniman di mata para akademisi terutama musisi rock adalah urakan, tidak mempunyai intelektualitas tinggi, dan bersikap apolitis. Sehingga muncul kesenjangan persepsi yang sangat lebar antara musisi dan kalangan akademisi pada saat itu. Sehingga beberapa gerakan mahasiswa pada saat itu tidak melibatkan musisi secara aktif. Karena apabila kesadaran untuk melakukan perubahan secara bersama-sama itu dimunculkan pada saat era tersebut sepertinya reformasi tidak perlu menunggu hingga tahun 1998.

 

Ada semacam kegagapan dalam menyikapi realitas perubahan. Di satu sisi kebebasan untuk menyerap segala informasi dari luar mulai terbuka di sisi yang lain proses pemasungan terhadap kebebasan berekspresi kembali terjadi, bahkan lebih mengerikan dibandingkan era Soekarno. Dan itu secara umum kondisi tersebut diterima begitu saja oleh kalangan musisi pada saat itu. Istilah ‘underground’ pada saat itu mengalami pergeseran makna. Hanya diartikan sebagai musik ‘brang-breng-brong’, aksi panggung teatrikal dan kontroversial serta komposisi musik yang rumit dipenuh skill-skill tingkat tinggi. Nilai-nilai perlawanan yang diusung hanya sebatas pada pemberontakan terhadap nilai feodalistik yang sudah mapan namun tidak secara kritis mencari alternatif baru dalam menciptakan nilai pembanding dan nilai tandingan. Baik itu media komunikasi independen maupun sistem ekonomi tandingan yang dikembangkan.

 

Sehingga yang terjadi adalah gerakan budaya tandingan yang coba disusun pada akhirnya ikut larut dalam dinamika budaya mainstream di mana segala sesuatunya hanya berorientasi pada permintaan pasar [market oriented]. Masa ini berlangsung hingga dekade tahun 80-an.

 

‘Underground’ di Ujungberung

 

Ketika pada tahun akhir 80-an arus globalisasi ikut melanda Indonesia. Investasi asing mulai masuk seiring dengan masuknya IMF ke Indonesia. Dan hal tersebut mulai berdampak bagi perkembangan musik ‘underground’ di Indonesia, khususnya di kota Bandung. Arus informasi yang kuat telah mendorong beberapa majalah dan rilisan kaset ‘underground’ dari luar negeri mulai masuk dan banyak dikonsumsi oleh musisi di Bandung. Di Ujungberung sendiri terjadi sebuah fenomena ‘shock culture’ yang hebat. Ketika lahan-lahan agraris yang produktif disulap oleh para investor asing menjadi lahan industri yang sarat polutan. Kultur bertani dan bercocok tanam yang kental dengan nuansa komunal tiba-tiba secara drastis dirubah menjadi kultur buruh/pekerja yang secara sistematis diarahkan menjadi mahluk asosial. Hal ini jelas berdampak pada perilaku masyarakat secara umum. Muncul konflik-konflik kepentingan lokal dalam menyikapi masalah tersebut. Pemuda sebagai bagian dari sebuah struktur masyarakat menyikapi masalah tersebut dengan mencari saluran-saluran ekspresi yang dinilai bisa mewakili gejolak perasaan mereka. Maka musik metal dijadikan media berekspresi yang dinilai sesuai dengan kondisi keresahan mereka. Musik yang cepat, agresif serta lirik-lirik protes yang sarkastik menjadi pelarian mereka.

 

Radikalisme Ideologi DIY Ujungberung

 

Tahun 1989 ada empat band pelopor di Ujungberung yang sudah memainkan komposisi lagu metal ekstrim semacam Napalm Death, Sepultura, Obituary, Carcass dan lain-lain. Mereka adalah Funeral, Necromancy, dan Orthodox. Mereka adalah angkatan pertama di Ujungberung yang mulai menanamkan radikalisme dalam mengekspresikan karya mereka. Ketika trend festival musik pada saat itu masih berkutat di hard rock dan slow rock, mereka dengan berani mengacak-ngacak panggung festival itu dengan komposisi thrash metal dan death metal. Tampilan fashion yang ofensif dan style musik yang bising mereka bergerilya dari satu panggung festival ke festival yang lain mengusung semangat ‘kumaha aing’. Keikutsertaan mereka dalam festival tersebut lebih mengarah kepada pembuktian eksistensi dan pernyataan sikap. Mereka mulai memproduksi lagu-lagu sendiri dengan mengangkat isu-isu sosial yang sedang populis pada saat itu.

 

Dengan kritis mereka mereka menyikapi kultur festival musik sebagai bentuk dari pemasungan kreativitas. Parameter penilaian yang justru pada akhirnya malah mengkerdilkan makna kejujuran dalam berekspresi. Semangat menurut pasar hanya menciptakan bentuk keseragaman dalam karya dan pada akhirnya melahirkan kebosanan. Media-media mainstream pada saat itu hanya menampilkan informasi musik yang itu-itu saja. Pada tahun 1993 mulailah terbentuk beberapa komunitas musik ekstrim di Bandung. Mereka rajin membuka ruang-ruang diskusi menyikapi realitas yang sedang terjadi terutama di tingkat lokal. Mengorganisir diri ke dalam bentuk komunitas yang mempunyai kecintaan dan minat yang sama. Saling bertukar informasi dan membuat workshop media dan eksplorasi teknologi alat musik. Penyikapan konkret mereka buktikan dengan cara membuat media-media informasi tandingan yang isinya lebih kepada pengenalan kultur ini kepada khalayak. Dari situlah maka mereka mulai merambah acara-acara festival musik di kota Bandung. Dari mulai event ‘agustusan’ hingga pensi-pensi SMA. Pada masa itu sikap diskriminatif terhadap band ‘underground’ kerap terjadi. Dari mulai aksi teror secara verbal hingga yang sifatnya fisik. Tidak jarang mereka harus menerima hinaan ataupun cibiran dari beberapa orang yang tidak suka atau bahkan yang tidak mengerti sama sekali tentang aliran musik ekstrim. Band-band yang beraliran punk, hardcore, grindcore dan black metal kerap mendapatkan perlakukan diskriminatif dari pihak penyelenggara. Dari mulai jatah waktu tampil yang dikorupsi, perlakuan pihak sound system yang dengan sengaja mengacaukan setting sound, hingga terror fisik dari preman lokal yang merasa tersaingi.

 

Sikap tersebut terbentuk karena tatanan sosial pada saat itu pada umumnya masih dihinggapi perasaan xenophobia atau selalu merasa khawatir terhadap nilai dan tatanan baru yang muncul. Mereka selalu merasa bahwa hal baru sama dengan ancaman baru. Pada saat itu parameter berekspresi adalah sesuatu yang dapat menembus batasan yang sudah ditetapkan oleh pihak industri musik mainstream. Paradigma musik yang bagus adalah musik yang berorientasi pada kebutuhan pasar yang dapat masuk rating televisi dan menguasai jajaran top-ten radio. Belum terbentuk mental penerimaan yang baik terhadap hal baru yang dapat menambah khazanah keberagaman, utamanya di bidang musik.

 

Kondisi nyata seperti itulah yang menjadi latar belakang komunitas Ujungberung bercita-cita menggelar acara musik yang konsepnya menampilkan semua jenis musik underground dalam satu panggung. Terinspirasi oleh pagelaran Hullabaloo #1 pada tahun 1994 yang sukses digelar di Gor Saparua yang menampilkan musik underground dengan berbagai macam aliran. Dari mulai hip-hop, grindcore, pop, punk, hingga musik industrial. Komunitas Ujungberung mengadopsi konsep tersebut namun format musik yang disuguhkan lebih kepada sajian musik dengan distorsi tingkat tinggi. Lahirlah acara Bandung Berisik #1 pada tahun 1995 yang melahirkan acara-acara metal legendaris khas ala Ujungberung seperti Bandung Death Fest, Rebellion Fest, dan Rottrevore Death Fest yang rutin digelar secara berkala menampilkan band beraliran metal ekstrim.

 

Counter Culture

 

Era 1996 hingga 1997 komunitas musik ‘underground’ di Bandung mengalami masa perkembangan yang pesat. Konsep kolektivisme dan DIY mulai banyak direalisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan kongkret. Dari mulai membuat perusahaan rekaman berbasiskan indie label lengkap dengan konsep distribusi dan promosinya, pembuatan merchandise band, pembuatan media informasi komunitas berupa fanzine fotokopian, hingga kepada penggarapan event yang mengandalkan semangat kolektivisme. Jenis karya musik yang dihasilkan makin beragam dan cenderung makin agresif. Lirik yang diproduksi mulai banyak menyentuh hal-hal yang sifatnya politis. Banyak lirik pada saat itu yang bercerita tentang nasib buruh, petani, dan kaum miskin kota. Dengan frontal mulai melakukan kritik-kritik terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengatasi krisis. Industri musik mainstream pada saat itu sedang dilanda kejenuhan pasar. Paska booming Slank dan Iwan Fals pada saat itu tidak ada lagi fenomena musik yang luar biasa.

 

Media-media mainstream mulai kehabisan bahan berita hingga akhirnya komunitas ‘underground’ dengan segala bentuk dinamika pergerakannya menjadi bahan eksploitasi berita. Hampir semua media terutama media cetak mainstream yang ber-target marketing anak muda membahas fenomena pergerakan musik ‘underground’ terutama yang terjadi di kota Bandung. Hal tersebut jelas berdampak sangat besar pada perkembangan musik ‘underground’ pada saat itu yang seolah-olah di-setting menjadi trend musik masa kini. Melalui peran media mainstream pula hingga akhirnya booming musik ‘underground’ ini mewabah hampir di semua kota besar di Indonesia, utamanya di pulau Jawa.

 

Lahirlah beberapa komunitas musik ‘underground’ di kota Jakarta, Bali, Surabaya, Malang, Yogya dan Medan. Beberapa pagelaran bertema serupa ramai digelar di kota-kota tersebut dalam skala kecil. Di kota Bandung yang notabene adalah barometer musik ‘underground’ pada saat itu hampir setiap minggu Gor Saparua menjadi langganan acara-acara musik ‘underground’ yang diorganisir oleh beberapa komunitas di kota Bandung. Gor Saparua selalu dipenuhi oleh massa ‘underground’ yang rata-rata berusia belia dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang dan kota-kota lainnya. Terjadilah transformasi informasi dan proses penyerapan kultur. Dari sinilah awal terbentuknya jaringan komunikasi lintas komunitas dalam rangka memperluas jaringan. Beberapa komunitas dari luar kota Bandung dijadikan basis distribusi bagi penyebaran produk dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas sub kultur. Bahkan sekarang sudah terbentuk jaringan event yang diorganisir secara kolektif yang rutin menjalin kerjasama penyelenggaraan event ‘underground’.

 

Pada masa itu lahirlah acara-acara musik seperti Bandung Underground yang di organisir oleh komunitas Muda-Mudi Margahayu, Gorong-Gorong Bandung diorganisir oleh komunitas punk P.I., Bandung Minoritas, Campur Aduk dan lain-lain. Namun pada masa itu pula situasi politik dan ekonomi Indonesia mengalami guncangan. Masa peralihan kekuasaan yang diwarnai kisruh pertarungan politik di tingkat elit kekuasaan berdampak besar pada perekonomian. Tragedi krisis moneter yang mengguncang hebat perlahan ikut membawa dampak pada perkembangan musik Underground, khususnya di kota Bandung. Demonstrasi besar-besaran kerap mewarnai jalanan kota Bandung. Daya beli masyarakat secara keseluruhan mulai menurun dikarenakan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Hingga pola konsumsi masyarakat pada saat itu berubah dengan cara mengurangi hal-hal yang dirasa tidak terlalu penting. Acara yang biasanya ramai dipenuhi oleh penonton lambat laun mulai sepi pengunjung. Beberapa organiser yang berasal dari beberapa komunitas independen di Bandung mulai menarik diri untuk membuat event musik ‘underground’. Di samping tidak mau mengalami kerugian secara finansial [walaupun pada saat itu dan sampai sekarang tidak pernah mencari keuntungan], juga disebabkan kendala perijinan yang semakin represif terhadap hal-hal yang sifatnya mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Beberapa yang memaksakan diri mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan sepi penonton atau dengan alasan meresahkan dan mengganggu ketertiban secara sepihak dibubarkan oleh aparat keamanan. Beberapa pelaku subkultur ‘underground’ pada masa itu ikut melebur bersama beberapa organ buruh dan mahasiswa aktif menggelar aksi-aksi demonstrasi menuntut perubahan di segala bidang.

 

Pada saat sulit tersebut justru komunitas Ujungberung banyak mengalami kemajuan yang signifikan. Banyak band-band baru terbentuk dengan semangat dan idealisme yang tinggi. Beberapa band seperti Jasad, Sacrilegious, Sonic Torment, Burgerkill dan Forgotten bahkan telah mampu memproduksi dan mendistribusikan album perdana mereka secara independen. Pada masa itu komunitas Ujungberung mulai membangun basis ekonomi komunitas sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi komunitas dengan cara membangun distro Rebellion yang khusus menjual produk-produk band Ujungberung dan komunitas musik lain di Bandung. Semua murni dilakukan atas dasar dorongan insting untuk bertahan hidup.

 

Ekonomi Kreatif

 

Dinamika pergerakan komunitas ‘underground’ sebagai bagian dari sebuah sub kultur di Bandung khususnya di Ujungberung ternyata membawa dampak pada sikap kemandirian ekonomi. Semangat kemandirian atau independensi yang mereka usung telah mampu menjadi trigger atau pemicu bagi eksplorasi kreativitas. Tidak hanya di sektor karya musik saja namun telah meluas pada sektor ekonomi. Spirit pemberontakan yang mereka usung telah mampu menyelesaikan beberapa persoalan sosial yang ada khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja. Di komunitas Ujungberung sendiri sejak tahun 2004 hingga sekarang telah terbangun beberapa unit bisnis yang berbasiskan komunitas. Dari mulai usaha sablon, distro, konveksi pakaian, studio rekaman, perusahaan rekaman indiependen, jasa distribusi, studio rekaman, usaha penerbitan, toko buku dan usaha warnet. Semuanya murni dikelola oleh para pelaku komunitas ‘underground’ Ujungberung dan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan yang sama. Beberapa pelaku komunitas ini terlibat aktif sebagai kru band dan teknisi studio rekording di kota Bandung. Semuanya saling bersinergi dan menciptakan perbaikan ekonomi minimal bagi para individu dan internal komunitas.

Semua bentuk kreatifitas yang diusung oleh para pelaku industri kreatif dalam hal ini adalah pelaku sub kultur telah mampu memberikan ‘wajah’ pada kota Bandung. Beberapa gelaran event musik yang digelar di Bandung selalu dijadikan tolak ukur dan parameter perkembangan musik bagi kota lain. Bentuk dan perkembangan fesyen dikota Bandung selalu menjadi trendsetter bagi perkembangan industri fesyen di Indonesia.

 

Pada tahun 2008 hingga 2013, kota Bandung oleh British Council dijadikan proyek percontohan sebagai ‘creative city’ di kawasan asia pasifik. Sebuah kota yang memang secara budaya berhasil dibangun citranya oleh komunitas kreatif berbasiskan indiependen. Proses pencapaian tersebut dilakukan atas dasar insting untuk bertahan hidup dalam mensikapi situasi. Jiwa yang kritis dan semangat ‘pemberontakan’ memanfaatkan potensi yang seadanya namun didukung oleh semangat kolektivisme yang tinggi hingga berhasil mengatasi semua hambatan yang ada – meski tanpa daya dukung yang kuat dari pemerintah berupa kebijakan dan fasilitas yang layak untuk mengekspresikan energi kreatif mereka. Mau didukung atau tidak mereka tidak peduli, karena secara sistem mereka telah teruji kemandiriannya.

 

Tapi kata kunci dari segalanya adalah keteguhan prinsip. Panceg Dina Jalur, tidak gamang menghadapi perubahan. Membaca segala bentuk perubahan sebagai kulit saja bukan sebuah inti. Sehingga ketika harus menyesuaikan diri dengan perubahan tak lantas kehilangan diri tenggelam dalam euphoria di permukaan. Segala pencapaian itu juga harus dikelola dengan sinergi yang positif antara lahan-lahan garapan kreatifitas, sehingga akan terus berkembang dan pada gilirannya memberikan hal positif bagi masyarakat luas.

 

[Addy Gembel]

www.addygembel.multiply.com

Artikel di atas merupakan bahan presentasi diskusi yang dikutip dari hasil riset penulis untuk penulisan buku sejarah komunitas “Ujungberung Rebels, Panceg Dina Jalur” dan sejarah “Bandung Underground”. Riset dilakukan sejak November 2007 bersama Kimung dari Minor Books dan Common Room Network Foundation. Rencananya buku tersebut akan diterbitkan pada Januari 2009. Beberapa hasil riset ini pernah dipresentasikan di beberapa forum diskusi dan dimuat di beberapa media cetak, seperti Rolling Stone Indonesia, Pikiran Rakyat dan Ripple magazine.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.