Scum On Feel Noise ; Insane We’ll Meet Again

Tulisan ini saya tulis pada tahun 1998 bersama [alm] Ivan Scumbag di Kaum Kidul, di kamar Ivan, di bawah pengaruh vodka, leksotan, dan ganja. ini adalah tulisan meracau. Sampai sekarang saya tak tahu ini menceritakan soal apa. Tapi yang jelas ini menceritakan kebanggaan kami akan Burgerkill. ini juga refleksi lain dari lagu “Blank Proudness”. Saya sangat yakin, beberapa kalimat yang tercantum di artikel ini asalnya akan saya masukkan sebagai lirik lagu “Blank Proudness”. Saya memberi judul tulisan ini “Insane We’ll Meet Again”, terinspirasi dari penggalan lirik lagu “Crystal Ship”-nya The Doors – sementara Ivan memberi judul tulisan ini “Scum On Feel the Noise!”. Saya akhirnya memuat dua judul itu. So, inilah, tulisan kami berdua…

 

We preach riot, hatred, self-loathing, bloody revolution and complete contemp for compromise. We have more energy and anger and intelligence than anyone in this whole cursed world, refusing to get on the anarcho/squat/shit treadmill. We wanna be the biggest rock nightmare ever and we wanna take all the nation with us. We’ll do whatever is required and give you the biggest ever post humous record sales We’ve spray painted our school shirt to wipe out the brainwash and the boredom. We are he scums that remind people of misery. When we jumped on the stage, it’s not a rock or hardcore cliché, but the geometery of contempt. We’ve seen so much energy at raves but also too much love. It’s so nice to see young people enjoying themselves and keeping out of trouble. We don’t display our wounds, we shove them in people’s faces. We are young beautiful scum pissed off with the world. All we’ve ever wanted is the reality of oblivion to get the jackplugged to hell. There is more self-hate in this band than you can realize. And if you keep on following our footsteps, then you’ll find that we hate ourselves totally.

 

Everybody in the nation is turned on by the happy-Monday-shit-music because of the lifestyle. But, we have the songs and ideas to back it up—because we are the most original lifestyle and band on the world. By denying ourselves a past, we are trying to find a worthwhile present out of this junky wreckage of life. We are the guitar edge of 90’s youth enfranchisement but for us, life is still repetition, humiliation, boredom. You can’t dance if you allow reality to eat in your thoughts. Just the same as you can’t stage dive. We kick them away. So you better listen to this shit or you fuck off. Wipe out the aristocracy, now kill! Government and country dump the scum falg and we drowning in manufactured ego fuckers. Boredom bred the thoughts of throwing bricks and we’ve been down for so damn long. We feel like rest of this country by banging our head against the wall.

 

We are the the suicide of non-generation. We are as faraway from anything in time as possible. We ruined everything—when fresh faced the little boys in gaudy t-shirt’s made exciting rocks and hardcore which they were convinced would shame the world into improvement. Retrogressive, exciting and inspired. You’ll probably hate us. We’re not in the personal entertainment. We aren’t wallowing in any music paper’s freaks. We might sound like the last 30 years of rock or sound like year 2100 of rock, our mind and soul addresses the issues of universal mind.

 

It’s a search. A frantic search for the absolutely nothing. An opening of one door after another. As yet there’s no consistent phyilosophy or politics. Sensousness and evil is an attractive image now. The snakeskin that will be shed sometimes. Works, performs of a striving for metamorphosis. Dark life, the dark side of life, the evil things,  the darkside of the moon brokenthru to some cleaner, freer realm.

 

It’s a purification ritual in the alchemical sense. First you have to have the period of disorder, chaos, refusing to a primeval disaster region. Out of that, you purify the elements and find a new seed of life which transform all life, all matter, and all personality until finally you emerge and marry all those dualism and opposites. Then you’re not talking about evil and good anymore but something unified and pure. Our music and personalities as seen on the performs are still in the state of chaos and disorder with maybe an incipient element of purity kind of starting. Lately, when we’ve appeared in person, it’s started to merge together. The city is looking for a ritual to join its fragment. This is just like a sort of the electric wedding ritual. And we are too. Insane we’ll meet again.

 

[Kims & Scumbag]

Ujungberung, circa 1998

 

Perspektif Hukum Terhadap Pembentukan Grup Band

Adalah hal menarik bila kita menyimak berita seputar artis musik baik melalui media cetak maupun tayangan infotainment di televisi. Berita yang mengisahkan persengketaan hukum antara artis dan manajernya, artis dengan perusahaan rekaman atau bahkan dengan sesama anggota dalam satu grup band musik yang berujung ke meja hijau. Acap kali luput dari perhatian atau terlupakan oleh suatu grup band yang baru memulai karirnya atau bahkan yang telah lama adalah menentukan aturan main (rule of game) dalam band-nya sendiri. Kondisi ini dapat dipahami dan lazim terjadi karena pada awalnya grup band dibentuk tidak lebih dari sebuah pertemanan dari orang-orang yang memiliki hobi atau tujuan yang sama di bidang musik.

 

Perjanjian Band

Aturan main (rule of game) itu sebenarnya dapat ditemukan dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Bagi sebagian grup band pemula memang agak risih membicarakan sesuatu yang terlalu ‘formil’ di awal pembentukan band yang baru saja dibentuk. Namun sebenarnya pandangan ini keliru, justru momen itulah yang tepat untuk merumuskan segala hal terkait dengan grup band ke depan. Momen di mana berbagai macam tawaran belum banyak berdatangan seperti tawaran rekaman, tawaran konser, tur, dan sebagainya.

 

Perjanjian Band (Band Agreement) bukan satu-satunya perjanjian yang terkait dengan grup band. Ada beberapa bentuk perjanjian lain, manakala grup band telah melakukan interaksi dengan pihak lain, seperti perjanjian dengan penulis/pencipta lagu (songwriter contract), manajer (management agreement), Agen (booking agent agreement), perusahaan rekaman (recording contract), publikasi (publishing contract), distributor (distribution contract), perusahaan iklan, event organizer tour (performance contract), atau dengan pihak-pihak ketiga lainnya melalui perjanjian lisensi hak reproduksi (reproduction license) untuk menuliskan lagu dalam bentuk cetak, hak sinkronisasi bila lagu digunakan dalam film (sychronization lisence), atau mechanical license oleh perusahaan rekaman, dan sebagainya. Tidak hanya itu, ada pula pernyataan tentang hak cipta atas karya musik bagi pencipta (assignment of musical work copyright) atau pernyataan tentang hak cipta atas rekaman suara bagi artis (assignment of sound recording copyright).

 

Berbagai bentuk perjanjian itu pada prinsipnya menggunakan kaedah perjanjian sebagaimana dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Tetapi bila ditelusuri lebih jauh dalam bisnis ini akan didapati kompleksitas ketersinggungan hukum dan bisnis, yang bila kurang jeli akan menuai masalah dikemudian hari atau dari sisi bisnis menjadi tidak menguntungkan. Grup band pada bagian ini harus menemukan ahli hukum yang menguasai bidang ini.

 

Penulis tidak bermaksud untuk menguraikan satu persatu berbagai bentuk perjanjian tersebut karena memang hal itu akan mudah ditemukan setelah grup band telah eksis. Pada kesempatan ini secara khusus akan dikaji beberapa hal penting seputar pembentukan grup band sebagai langkah awal yang sering luput dari perhatian para pendiri grup band, akan tetapi sering menjadi sumber permasalahan hukum.

 

Pentingnya Nama

Nama bagi suatu grup band sangat penting karena mampu menggambarkan identitas, ciri maupun karakter musik yang berfungsi sebagai pembeda dengan grup band lain. Di samping performa, nama yang baik dapat memudahkan proses pemasaran (marketing). Nama suatu grup band akan bernilai jual tinggi sejalan dengan popularitas grup band tersebut.

 

Hal penting setelah penentuan nama grup band adalah menentukan siapa yang berhak menggunakan nama tersebut dan siapa pemiliknya. Apakah milik kolektif anggota pendiri grup band atau salah seorang dari anggota grup band tersebut? Selanjutnya, apabila grup band bubar, siapa yang berhak menggunakannya? Klausul-klausul inilah yang mesti telah dimuat dalam Perjanjian Band (Band Agreement). Masalah nama grup band ini kadangkala dianggap sepele tetapi tidak sedikit yang menjadi akar permasalahan hingga ke pengadilan.

 

Kasus yang terjadi antara Kassbaum vs Steppenwolf Productions, INC dapat menggambarkan pentingnya nama bagi sebuah grup band. Nicholas Kassbaum adalah mantan pemain bass grup band ”Steppenwolf”. Steppenwolf adalah grup band rock yang dibentuk pada tahun 1967 oleh Jhon Kay, Jerry Edmonton, Michael Monarch dan Goldie McJohn. Sementara Kassbaum bergabung setahun setelah grup band dibentuk. Pada tahun itu pula baru dibuat ”Perjanjian Kerjasama” (partnership agreement) yang menyatakan masing-masing anggota grup band memiliki kedudukan dan kepemilikan yang sama atas Steppenwolf. Steppenwolf makin dikenal dengan berbagai macam tawaran kontrak rekaman maupun konser. Kemampuan Kassabaum memberikan karakteristik tersendiri pada setiap penampilan Steppenwolf. Pada 1971, Kassabaum keluar dari grup band dan salah seorang pendiri, Jhon Kay, menyatakan Steppenwolf bubar. Namun, pada 1975 Kassabaum dan Goldie McJohn membentuk grup band baru dengan nama ”The New Steppenwolf”. Penggunaan nama baru itu menuai masalah karena dianggap memanfaatkan popularitas nama Steppenwolf sebelumnya. Akhirnya Kassabaum harus membayar $ 17.500,00 kepada Jhon Kay dan Steppenwolf Productions, INC untuk memperoleh hak ekslusif (exclusive right) menggunakan nama tersebut.

 

Pelajaran berharga dalam kasus Kassabaum di atas adalah urgensi menentukan kepemilikan dan penggunaan nama grup band. Boleh jadi pemilik nama band hanyalah satu atau dua dari anggota inti grup band. Bila demikian, maka tidak diperkenankan membagi kepemilikannya kepada anggota lain kecuali bila anggota yang bersangkutan telah menjadi anggota tetap grup band. Lantas, bagaimana penggunaan nama band bila grup band bubar? Maka ini pun mestinya telah diatur sebelumnya, oleh karena dapat saja sebuah perusahaan rekaman (record company) yang telah menginvestasikan berbagai hal pada grup band memiliki hak untuk menggunakan nama band tersebut bila grup bubar.

 

Realitas di atas setidaknya memberikan sinyal penting bagi anggota grup band pemula untuk mempersiapkan Perjanjian Band (Band Agreement) secara komprehensif atau mungkin bagi grup band yang sudah berkarir lama untuk me-review perjanjian dasar grup band ini guna mengantisipasi munculnya berbagai persoalan hukum ke depan.

 

Struktur Band

Anggota grup band dapat saja menentukan berbagai macam hal terkait dengan grup band-nya seperti kepemilikan nama band maupun pembagian keuntungan. Dengan kata lain, grup band bebas menentukan keinginannya untuk kemudian diterjemahkan dalam berbagai dokumen hukum. Lagi-lagi, di sini diperlukan ahli hukum yang kreatif dalam memahami kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) dari grup band.

 

Bagi grup band sendiri perlu memutuskan bentuk struktur bandnya. Pilihan bentuk ini akan menerangkan pertanggungjawaban atas grup band dan berdampak pada tata cara masuknya anggota baru atau bahkan bagi anggota grup yang keluar. Sulit untuk mengatakan mana bentuk struktur yang paling baik. Namun, setidaknya ada 2 (dua) tipe umum dari suatu grup band, yaitu bentuk Perusahaan Terbatas (limited company) dan bentuk Kerjasama Perdata (partnership). Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tergantung pada mana yang dianggap lebih menguntungkan bagi grup band.

 

Bila grup band memilih bentuk kerjasama perdata (partnership), maka Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun berbentuk Perjanjian Kerjasama Band (Band Partnership Agreement). Perjanjian ini akan memuat bagaimana grup band beroperasi setiap hari, nama band maupun pemisahan aset dan sebagainya. Seluruh anggota grup band dalam bentuk ini memiliki kesetaraan dalam pembagian keuntungan maupun menanggung bila timbul kerugian. Struktur band dengan kerjasama perdata (partnership) ini sebenarnya telah diatur dalam Pasal 1618 KUH Perdata dengan istilah yang berbeda yakni, ”Persekutuan”. Dalam pasal itu diuraikan bahwa ”persekutuan adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuan, dengan maksud untuk membagi keuntungan yang terjadi karenanya”.

 

Di samping bentuk Partnership, grup band dapat memilih bentuk Perusahaan Terbatas. Dalam bentuk ini, karakteristik Perjanjian Band (band agreement) yang dibuat pun memuat Perjanjian Saham (shareholders’ agreement). Dalam beberapa hal bentuk ini memiliki kelebihan dalam pemisahan aset pribadi, peningkatan efisiensi di bidang pajak, pembagian keuntungan dan sebagainya.

 

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa sulit untuk mengatakan struktur band mana yang terbaik. Namun yang diingat adalah pilihan bentuk akan memberikan konsekuensi hukum berbeda bagi grup band dalam hal kepemilikan nama, keluarnya anggota dari grup band atau masuknya anggota baru, pertanggungjawaban atas aset serta pembagian keuntungan yang diperoleh.

 

Penutup

Adalah bijaksana bagi suatu grup band apabila dalam pencapaian karir musiknya tidak mengabaikan aspek hukum yang melingkupinya. Uraian penulis di atas, hanya beberapa dari sekian banyak kompleksitas perspektif hukum terhadap suatu grup band. Merumuskan formulasi terkait grup band akan mudah dilakukan dalam keadaan grup band belum ada masalah. Perspektif hukum pada awal pembentukan grup band adalah upaya efektif dalam menyiasati kemungkinan terjadinya masalah hukum di masa datang.

 

[Khaerul H Tanjung]

Dedy Kurniadi & Co, Lawyers

 

Artikel ini diangkat sebagai reaksi terhadap kasus sengketa band yang menimpa Peterpan, Slank [bimbim-kaka vs bongky-indra-pay], Ratu, Caramel, Aaarrgghh, Betrayer, Rotten Corpse, serta sederet band bermasalah lainnya. Juga sebagai antisipasi bagi semua band untuk kasus serupa. Gak peduli band mainstream atau indie. Pop atau cadas. Band anda mungkin bisa jadi masalah selanjutnya…

The Good, The Bad and The Ugly

 

Dengan diawali intro ‘Ecstasy of Gold’, inilah penggalan cerita ringan dari seorang [mantan] fans grupband Metallica. Seperti layaknya penggemar yang fanatik, berlebihan dan nyaris menjadi ‘groupie’. Ada satu masa di mana seorang fans musti mengejar pengalaman yang indah dan seru. Sekalipun itu harus bertindak nekat, bodoh dan konyol. Juga sedikit tampak naif, childish, dan fetish. Hingga tiba-tiba merasa dikhianati, lalu marah dan memilih untuk murtad. Pengalaman baik atau buruk kadang memang perlu diceritakan. This is a Metallica fans story based on his own words. And why so serious?!…

 

Pertama kali tahu dan mengenal Metallica?! Mmhh, sulit diingat kapan tepatnya. Tapi yang pasti masih awal-awal masa seragam putih-biru alias SMP, sekitar tahun 1989 – 1990. Yah, itu tidak lama setelah saya mengenal musik keras. Ini juga tidak lepas dari jasa kawan sebangku SMP yang pertama kali mengenalkan saya kepada band-band keras, sekaligus sahabat saya sampai hari ini. Namanya Asrofin alias Wencling. Thanks to you dude!…

 

Album Metallica yang pertama kali saya beli adalah Master of Puppets di lapak kaset bajakan sekitar Toko Buku Siswa [Malang]. Harganya cuma tiga ribu perak. Mutu rekamannya tidak terlalu bagus. Sampulnya adalah hasil foto reproan.

 

Tidak lama, di tempat yang sama, saya juga membeli The Best of Metallica, sebuah kaset C-90 yang berisi koleksi lagu dari tiga album pertama mereka. Kayaknya sih ini rekaman bootleg. Sebab tidak pernah ada dalam diskografi resmi Metallica.

 

Gara-gara dua kaset bajakan itu saya jadi suka dan nge-fans ama Metallica. Mulai memproklamirkan diri sebagai seorang metal militia dan metallikatz. Hidup saya mulai berubah…

 

Selanjutnya saya selalu membeli semua kaset Metallica yang asli di toko kaset. Baik itu versi album, live, kompilasi, maupun singel yang cuma 3-4 lagu itu. Mulai dari era Kill ‘Em All sampai kepada Black Album. Komplit!…

 

Lima album pertama Metallica adalah favorit saya semua. Tidak ada yang lebih baik, dan tidak ada yang lebih buruk. Dulu kalau sendirian di kamar pas malam hari, saya sering memutarnya secara berurutan, mulai dari Kill Em All sampai Black Album.

 

Sampai hari ini, belum pernah ada album thrash metal sebaik Master of Puppets, tidak juga Reign In Blood-nya Slayer!…

 

Lagu The Thing That Should Not Be adalah salah satu track metal paling elegan yang pernah saya dengarkan.

 

Setiap mendengarkan lagu Creeping Death, tepatnya di bagian tengah lagu yang klasik itu, saya selalu mengucapkan koor “Die! Die! Die!” dalam hati, seakan ikut berteriak di konser mereka.

 

Awalnya lagu Helpless, Am I Evil dan The Wait saya kira lagu asli ciptaan Metallica, ternyata bukan yah?!…

 

Menurut saya, album And Justice For All adalah salah satu pionir dan landmark bagi musik progresif metal dan math-metal. Semua lagunya bernuansa epic!..

 

Lagu One sering saya bayangkan cocok jadi soundtrack film Platoon. Yah, pas intro perang dan suara baling-baling helikopter itu…

 

Saya kenal Pushead dari Metallica. Dari sleeve cover And Justice For All tepatnya, atau artwork yang dinamai Hammer of Justice.

 

Black Album kayaknya bisa jadi rekaman cadas yang paling easy listening yang pernah ada di muka bumi.

 

Sampai pada Black Album, saya ingin tanya kepada anda ; Adakah band metal di planet ini yang sukses secara musikal dan komersil seperti Metallica?!

[ya, oke, saya tahu jawaban anda...]

 

Rata-rata untuk setiap album Metallica saya pernah membelinya sebanyak tiga kali – terpaksa gara-gara rekaman itu hilang, dipinjam tidak kembali, atau rusak.

 

Saya bisa memainkan full lagu Nothing Else Matters, Fade To Black, dan Enter Sandman dengan gitar bolong. Juga potongan intro Seek and Destroy, serta petikan akustik Master of Puppets dan One meskipun gak sempurna.

 

Semua koleksi rekaman Metallica saya adalah format kaset. Gila, sampai hari ini saya tidak pernah punya apalagi membeli satu pun CD Metallica. What a bad fans?!…

 

Kamar saya dulu sempit. Cuma 4 x 2 meter. Hampir seluruh dindingnya tertutup poster band. Maaf, cuma ada poster Metallica, band lain gak boleh, hehe.

 

Hey, bukan poster import yang gede dan berkualitas baik itu. Melainkan poster berbahan kertas karton biasa yang sering dijual di kaki lima. Poster-poster Metallica itu saya beli di pinggir jalan seharga 250 – 500 perak pada jaman itu.

 

Saat itu, fanatisme yang berlebihan terhadap Metallica ternyata bikin saya kurang ‘menguasai’ Slayer, Anthrax, Megadeth, atau Testament.

 

Sejak SMP sampai SMA saya suka mencoret-coret buku sekolah saya dengan logo klasik Metallica maupun judul lagu-lagu mereka.

 

Gara-gara suka Metallica, saya jadi ikut sentimen dan gak suka sama Dave Mustaine. Juga sebisa mungkin mengabaikan Megadeth!…

 

Saya dan teman-teman sempat kecanduan potongan rambut skin, yaitu sisi rambut yang ditipiskan seperti potongan Jason Newsted paska Black Album.

 

Cliff Burton dan Jason Newsted adalah member Metallica favorit saya!

[yang berarti tidak ada lagi personil favorit dalam formasi Metallica saat ini?!]

 

Saya dan seorang kawan sering iseng membanding-bandingkan suara setiap penyanyi. Kami sempat punya tebakan ; Siapa penyanyi Indonesia yang suara vokalnya mirip James Hetfield?! Jawabannya adalah Sawung Jabo!

[gak percaya?! Bandingkan aja suara mereka berdua!...]

 

Era awal 90-an ada band lokal namanya Nevermind dan Meteor. Saya suka nonton dua band ini karena mereka selalu mengkover lagu-lagu milik Metallica. Btw, drummer Nevermind itu akhirnya kita kenal sebagai Ravi, gitaris Extreme Decay.

 

Saya dan kawan-kawan dulu gemar naik gunung. Kami pernah naik gunung Panderman [2200mdpl] yang terletak di sebelah barat kota Malang dengan membawa poster flag Metallica hanya untuk foto-foto. Weird?!…

 

Saya, Budi dan Feri adalah tiga sekawan yang berangkat dari Malang untuk nonton konser Metallica di Jakarta [1993]. Pas hari H, saya terpaksa berbohong kepada ayah saya kalau mau nonton film midnight di bioskop. Sorry dad, it’s Metallica!…

 

Kami bertiga benar-benar perjuangan untuk nonton Metallica. Naik kereta kelas ekonomi, duit pas-pasan, dan tidak punya kenalan di Jakarta. Benar-benar bonek, Modal nekat!…

 

Sebelum show, kami sempat jalan-jalan ke Blok M sekedar untuk mencari suvenir yang berbau Metallica, seperti kaos atau postcard.

 

Di Lebak Bulus kami sempat terjebak di tengah ‘perang’ massa vs aparat, menerobos barikade, kucing-kucingan sama petugas, sampai kepala kegencet pintu masuk. A near death experience?!…

 

Tapi akhirnya kami ada di dalam arena menjadi saksi hidup konser Metallica – dan segala kerusuhan yang ada di luar stadion. Fight fire with fire! Haji kami mabrur!…

 

Potongan tiket konser Metallica masih saya tempel di belakang pintu kamar. Di sebelahnya juga saya tempel postcard Master of Puppets yang dibeli di Blok M.

 

Menuju konser Metallica adalah perjalanan ‘tour’ saya yang kedua, setelah berangkat ke Surabaya menonton konser Sepultura [1992] bersama Wencling.

 

Saya tidak pernah punya kaos original atau import Metallica. Cukup sulit mencarinya pada saat itu. Kaos-kaos Metallica yang pernah saya beli itu produk lokal dari C59 atau More Shop [Blok M, Jkt].

 

Saya bahkan pernah membeli kaos One warna putih di Mitra Department Store Malang!

 

Kaos Metallica favorit saya sebenarnya adalah Sad But True. Itu loh yang gambar dua tengkorak saling berhadapan dan biasa dipakai Jason Newsted ketika manggung. Sayang, sampai sekarang belum kesampean punya kaos itu!…

 

Akhirnya saya sempat punya kaos Metallica yang orisinil [import] berdesain Ride The Lightning yang didapatkan teman saya, Plecie, dari kios pakaian bekas. Tapi entah di mana kaos itu sekarang…

 

Gara-gara terpengaruh oleh penampilan Metallica, saya juga jadi suka memakai kaos hitam polos dan jins hitam ketat.

 

Bacaan favorit saya tentang Metallica adalah Hai Klip edisi Metallica yang diterbitkan oleh Majalah Hai menjelang band itu show di Jakarta [1993]. Saya sampai beli dua kali, dan keduanya hilang tanpa jejak. Cari lagi mana mungkin ada…

 

Ketika saya tinggal di Bandung, kaset bootleg The Best of Metallica itu saya berikan pada Alan, gitaris Tympanic Membrane. Ternyata dia juga fans Metallica, selain Carcass dan Bad Religion katanya.

 

Album Metallica yang terakhir kali saya beli adalah kaset Garage Inc di lapak kaset bekas di stadion Gajayana Malang. Sekedar ingin tahu seperti apa Metallica kalau mengkover lagu orang…

 

Saya tidak pernah membeli album Load [1996] sampai St.Anger [2003]. Mendengarkannya pun nyaris gak mau!…

 

Sejak album Load keluar, saya menyatakan diri bukan fans Metallica dan putus hubungan dengan mereka. Kadang saya anggap band ini udah tidak ada dan layak diimbuhi kalimat [RIP] alias Rest In Peace di belakang nama mereka – untuk sementara sih, sampai mereka rilis karya yang bagus dan ‘normal’ kembali!…

 

Saya sempat membenci Lars Ulrich ketika Metallica bersengketa soal mp3 dan menuntut Napster. Sebab saya merasa tidak ada yang salah dengan mp3 dan file-sharing. Lars aja yang kelewat sok dan arogan…

 

Kasus sengketa Metallica versus Napster sempat akan jadi topik skripsi saya pas kuliah di fakultas hukum. Tapi sayang gak jadi, karena di Indonesia saat itu belum ada peraturan hukum di bidang terkait [tehnologi informasi, internet, mp3].

 

Proyek S&M bersama pasukan orkestra-nya Michael Kamen itu lumayan. Cukup kreatif dan sensasional…

 

Saya punya DVD bajakan Some Kind of Monster tapi hanya saya setel sepotong-sepotong dan belum pernah ditonton secara lengkap.

 

Metallica di era St.Anger adalah blunder terbesar mereka. Mendengarkan album itu rasanya seperti mendengarkan band baru yang ingin menjadi the next Limb Bizkit atau the next Linkin Park!…

 

Blunder Metallica lainnya adalah ketika mereka semua mencukur pendek rambutnya dan merekrut Rob Trujillo sebagai bassist. Avril Lavigne di konser MTV Icon?! Bah!

 

Saya tidak suka sama bassist berperawakan gorila, Rob Trujillo. He’s a lucky bastard. Tambah benci lagi karena dia suka pake celana pendek selutut pas manggung. Metallica with short pants?! Damn you!

 

Ada ribuan bahkan jutaan band yang mengkover lagu Metallica. Dalam berbagai versi dan genre. Tetapi hanya beberapa yang menjadi favorit saya, antara lain Whiplash [Motorhead, Kiss of Death], Motorbreath [Jeruji, 3rd], dan One [Korn, MTV Icon].

 

Band lokal yang selalu mengingatkan saya pada Metallica adalah Roxx, Rotor, Nevermind, Meteor, Jeruji, dan Seringai.

 

The next Metallica is Mastodon!… bukan Trivium apalagi Avenged Sevenfold!

 

Saya baru tahu kalau ada situs penggemar Metallica di Indonesia [fansite]. Cek aja di www.indonesiapullingteeth.com.

 

Saya pertama kali mendapatkan album Death Magnetic seminggu yang lalu dalam format MP3 yang dibawa Yoda ke rumah. Langsung saya setel bersama Budi dan Feri. Ini takdir yang menarik. Sebab kami bertiga juga yang sama-sama nonton konser Metallica bareng di Jakarta, tahun 1993 lalu. Thanks meister Yoda!

 

Saya menaruh harapan yang sangat besar ketika mendengar berita bahwa Rick Rubin akan memproduseri album Death Magnetic. Sebab Bob Rock selalu gagal selepas Black Album.

 

Sudah seminggu terakhir ini saya selalu memutar Death Magnetic dan lagu-lagu lawas Metallica. Demi sebuah nostalgia dan tuntutan berwacana…

[serta untuk menyiapkan edisi spesial di Apokalip!]

 

Setelah Death Magnetic apakah saya masih menolak Metallica atau musti kembali menjadi fans mereka?! Well, sampai pada baris terakhir ini saya belum memutuskan…

 

Waiting for the one

The day that never comes

When you stand up and feel the warmth

But the sunshine never comes

No the sunshine never comes

 

 

[Some Kind of Samakk]

Underground Kita Berbeda

Jika dirunut pada sejarah masuknya musik rock ke Indonesia, khususnya kota Bandung, diawali sejak tahun 70-an. Musik rock yang masuk ke Indonesia adalah musik rock yang berasal dari benua Amerika dan Eropa. Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan budaya benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya baru yang diciptakan oleh para generasi muda pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai ide-ide yang subversif. Pada tahun 50-an para seniman di Prancis dan Inggris biasa mengekspresikan karya-karya mereka di subway atau stasiun kereta api bawah tanah. Karena mereka tidak pernah diberi akses oleh pemerintah pada fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya mereka mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat itu. Utamanya pada saat itu di benua Eropa telah mengalami puncak kejayaan dari sebuah revolusi di berbagai bidang kesenian. Sehingga cenderung menolak hal-hal baru karena dianggap bisa merusak tatanan kemapanan yang sudah terbentuk. Sementara kaum mudanya merasakan sebuah kondisi stagnasi dan kebosanan.  Setiap malam para seniman-seniman itu berkumpul mengekspresikan berbagai macam karya ‘avant garde’ mereka. Dari mulai pentas musik, teater, seni rupa, puisi, performance art, hingga karya instalasi yang rumit. Mereka saling berekspresi dan saling mengapresiasi satu sama lain. Karya-karya yang dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Karya yang diciptakan pada saat itu menjadi semacam ‘basic’ bagi perkembangan semua karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah ‘underground’ untuk pertama kalinya muncul.

 

‘Underground’ Era  Revolusi Industri

 

Di tahun yang sama juga benua Eropa mengalami revolusi industri. Ketika sektor-sektor industri di Eropa melakukan transformasi teknologi yang drastis. Demi efesiensi dan mempercepat kapasitas produksi pasca berakhirnya perang dunia kedua pabrik-pabrik di Eropa mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin. Hal ini berdampak pada banyaknya pengangguran dan menimbulkan masalah sosial. Di Inggris lahirlah kelompok-kelompok buruh yang terkena PHK mengorganisir diri ke dalam kelompok berbagai organisasi ‘working class’. Dengan dandanan khas rambut plontos t-shirt putih dan bersepatu boots dr.Martens, setiap malam mereka menggelar pentas-pentas musik di subway serta melakukan ‘squat’ atau reclaiming terhadap gedung-gedung kosong bergabung dengan para imigran dari Jamaika, Maroko, dan Afrika. Lirik yang disampaikan adalah lirik protes terhadap kondisi sosial dan kesetiakawanan. Dari sinilah muncul proses eksplorasi musik hingga terciptalah musik heavy yang dipelopori oleh kelahiran band Black Sabbath. Musik yang kelam dan lirik yang mengekplorasi sisi gelap manusia sebagai penyikapan terhadap kondisi sosial pada saat itu. Kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa ideologi. Ada yang cenderung fasis dan ultra nasionalis dan pastinya jadi rasis. Ada juga yang berideologi kesetaraan dan anarkis. Dari sinilah lahir budaya ‘punk’ dengan segala macam aktifitas seni dan gerakan politisnya.

 

Foto3 & foto13

Puncaknya adalah ketika terjadi peristiwa Paris ’68 di Prancis. Pada saat itu mahasiswa sebagai bagian dari ‘middle class’ atau kaum intelektual melebur bersama para kaum ‘underground’ dan kaum miskin kota dalam hal ini korban PHK akibat dampak dari revolusi industri melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut perbaikan ekonomi. Selama berminggu-minggu mereka membuat  barikade di jalan-jalan kota Paris dan melakukan aksi mogok secara nasional. Hingga akhirnya pemerintah Prancis melakukan reformasi total di segala bidang. Salah satu alumnus peristiwa Paris ’68 adalah Malcolm Mc Laren yang jadi manajer band punk rock kontroversial sepanjang masa, Sex Pistols.

 

‘Underground’ Era Flower Generation

 

Kondisi di Amerika kurang lebih sama. Di Amerika pada tahun 50-an masih menganut sistem politik apartheid dan perbudakan. Masyarakat sosial Amerika pada saat itu terbagi menjadi tiga kelas sosial utama. Kelas borjuis yaitu kaum pengusaha, birokrat dan agamawan yang cenderung rasis dan menjunjung tinggi semangat ‘white supremacy’. Kaum tehnokrat yang terdiri kaum intelektual dan mahasiswa. Kaum buruh yang terdiri dari budak-budak kulit hitam. Pembagian strata sosial ini membawa dampak pada pola berkesenian. Pada saat itu para budak kulit hitam yang kebanyakan berasal dari benua afrika oleh hukum yang berlaku pada saat itu mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Gaji yang tidak sesuai dengan porsi kerja dan tindakan diskriminatif di segala bidang. Semua gerak langkah mereka dibatasi hingga menimbulkan rasa frustasi yang begitu mendalam.

 

Satu-satunya saluran ekspresi mereka adalah lewat media musik. Mereka biasanya dipisahkan dari lingkungan kulit putih dengan cara kolonisasi. Dibuatkan area perkampungan yang kumuh atau dikenal dengan istilah ‘ghetto’ dan sengaja dibuat miskin secara sistematis hingga menimbulkan kerawanan sosial. Setiap malam sehabis lelah bekerja mereka biasanya berkumpul dan memainkan musik. Musik yang diciptakan adalah musik yang sifatnya sangat personal. Musik yang menjadi ekspresi pribadi dalam mengekspresikan segala kesumpekan dalam diri. Lahirlah kemudian jazz dan blues. Musik yang cenderung instrumental. Karena pada saat itu membuat lirik yang bernada protes sosial apalagi dilakukan oleh kulit hitam merupakan pelanggaran berat. Mereka membentuk komunitas dan menggelar konser-konser sederhana di bar-bar kulit hitam. Saling berekspresi dan mengapresiasi sambil meneriakan protes-protes lewat nada-nada sendu dan bernuansa kelam. Kalaupun memakai lirik maka pengucapannya dilakukan dengan cepat, bergumam dan menggunakan ‘bahasa kode’ yang hanya dimengerti oleh komunitas itu sendiri. Musik yang pada saat itu sangat diharamkan untuk didengar apalagi dimainkan oleh kaum kulit putih.

 

Dari sinilah muncul sikap DIY [do-it-yourself]. Para musisi kulit hitam ini membuat perusahaan rekaman ‘motown records’ yang khusus memproduksi artis-artis kulit hitam dan mendistribusikannya ke setiap koloni-koloni yang tersebar di seantero benua Amerika. Mereka membuat jaringan komunikasi dan media komunitas kulit hitam. Mulai mengorganisir diri dalam gerakan yang lebih ke arah politis. Salah satunya organisasi ‘black panther’. Lahirlah pionir pejuang-pejuang kemanusiaan yang mengusung isu kesetaraan hak, diantaranya Malcolm X dan Martin Luther King.

 

Hingga suatu saat Elvis Presley mendobrak budaya konservatif tersebut. Diam-diam dia mendatangi bar-bar kulit hitam yang menampilkan musik blues dan jazz. Dia terinspirasi dari aliran musik tersebut hingga digabungkan dengan musik country. Lahirlah rock & roll. Musik yang pada saat itu mengalami penolakan keras dari kaum konservatif dan kalangan gereja. Rock & roll pada jaman Elvis disebut sebagai ‘musik pemuja setan’. Karena iramanya dianggap mendorong anak muda untuk berjoget seronok dan membangkang pada orangtua.

 

Ketika Amerika mengalami krisis ekonomi berkepanjangan akibat perang dunia kedua dan terlibat dalam perang Vietnam, beberapa kalangan seniman ‘underground’, kalangan akademisi dan para veteran perang menggelar aksi protes anti perang Vietnam serta menuntut perbaikan kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka menggelar panggung-panggung festival musik secara besar-besaran. Contohnya adalah Woodstock pada tahun 1969. Panggung tersebut diisi oleh artis-artis multi-etnis. Meneriakan semangat yang sama, ‘make peace not war’. Dari sinilah cikal bakal dari kaum hippies. Kaum ‘flower generation’ yang sudah bosan dengan segala kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Namun kembali gerakan ini tidak berlangsung lama dikarenakan terjadi proses komodifikasi dan eksploitasi besar-besaran oleh para pelaku industri mainstream. Terutama industri yang bergerak di bidang hiburan dan fashion. Pada akhirnya hanya dua elemen nilai itulah yang ‘dijual’ dan sampai ke khalayak. Band-band heavy metal pada era itu sudah tidak dianggap ‘underground’ lagi. Beberapa pelaku sub-kultur akhirnya menolak cara-cara tersebut dan lebih memilih kembali pada jalur ‘underground’ serta mengembangkan sistem mereka sendiri. Pada era 70-an para pelaku komunitas sub-kultur ini telah mampu menciptakan dan mengembangkan berbagai penyikapan alternative untuk melawan arus mainstream. Lahirnya industri indie label yang mengakomodir semangat independensi dan berbagai macam media independen adalah salah satu contohnya.

 

‘Underground’ Era Orla

 

Di Indonesia sendiri pada tahun 60-an ketika Soekarno masih berkuasa, perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik pada saat itu. Soekarno yang berkuasa mengambil poros Jakarta-Beijing-Moskow sebagai garis politiknya di masa perang dingin. Sehingga hal-hal yang sifatnya berbau Amerika dianggap sebagai sesuatu yang kontra revolusioner dan bentuk imperialisme budaya barat. Sehingga musik rock & roll pada saat itu dianggap ‘menyesatkan’ dan ‘kebarat-baratan’ serta dilarang dikonsumsi oleh anak muda Indonesia. Terlepas dari segala muatannya yang membawa pada semangat perubahan, segala sesuatu yang datang dari ‘barat’ pasti dilarang. Semua bentuk kesenian haruslah mengacu pada realisme sosialis dan tidak mengandung muatan borjuisme. Beberapa band seperti Koes Plus mendapatkan perlakuan represif dari aparat keamanan. Beberapa radio yang memutar musik rock & roll ditutup. Petugas keamanan rajin melakukan razia-razia ke tempat keramaian anak muda. Apabila kedapatan mengenakan setelan ‘barat’ pasti ditahan. Apabila ketahuan menggelar acara musik rock & roll atau istilah Soekarno disebut musik ‘ngak-ngik-ngok’ pasti dibubarkan. Sehingga pada saat itu beberapa musisi lokal menggelar acara-acara musik rock & roll secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain menghindari razia petugas keamanan. Dari sinilah awal lahirnya istilah ‘underground’ di Indonesia.

‘Underground’ Era Orba

 

Pasca Soekarno runtuh dimulailah era orde baru. Segala bentuk kesenian yang berasal dari barat mulai masuk dan ikut mempengaruhi perkembangan musik Indonesia. Kebijakan politik yang diambil pada saat itu lebih mengarah kepada politik pencitraan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan penuh dengan nuansa keterbukaan. Di tahun 1970-an, musik cadas tidak pernah menyebut dirinya sebagai komunitas musik indie, mengingat pada saat itu Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Uriah Heep merupakan komoditas yang dianak-emaskan oleh industri major label di benua Amerika dan Eropa. Begitu pun dengan musik cadas di Indonesia semacam Giant Step, God Bless, Superkid, atau SAS yang lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai musik ‘underground’. Komunitas mereka sangat bangga dengan sebutan itu, mengingat tak semua orang suka akan musik yang kekuatan bunyinya jauh di atas 60 dB atau jauh di atas batas toleransi pendengaran manusia. Ada semacam pola imitasi yang berkembang pada saat itu. Terutama dari jenis musik yang dimainkan dan pola fashion. Sehingga yang terjadi adalah proses imitatif kebudayaan luar yang datang namun tidak mampu menyerap kondisi realitas yang terjadi di kultur lokal. Banyak band Indonesia pada saat itu yang mencoba menjadi Deep Purple, Led Zeppelin atau Black Sabbath. Mereka benar-benar meniru habis-habisan apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun yang diadopsi hanya sebatas musikalitas dan fashionnya saja. Sementara isu-isu sosial yang terjadi pada tingkat lokal sama sekali tidak tersentuh. Mereka lebih memilih memproduksi karya dengan lirik yang dinilai ‘aman’ dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan pemerintah yang totaliter. Fenomena yang dihasilkan pada era ini hanyalah fenomena ‘aksi protes’ yang diekspresikan dalam aksi panggung yang kontroversial, pemakaian obat bius dan seks bebas.

 

Walaupun ada beberapa band yang dianggap fenomenal pada masa itu namun hanya sebatas di paparan karya musikalitas dan tidak membawa perubahan secara radikal di tingkat masyarakat. Sementara stigma seniman di mata para akademisi terutama musisi rock adalah urakan, tidak mempunyai intelektualitas tinggi, dan bersikap apolitis. Sehingga muncul kesenjangan persepsi yang sangat lebar antara musisi dan kalangan akademisi pada saat itu. Sehingga beberapa gerakan mahasiswa pada saat itu tidak melibatkan musisi secara aktif. Karena apabila kesadaran untuk melakukan perubahan secara bersama-sama itu dimunculkan pada saat era tersebut sepertinya reformasi tidak perlu menunggu hingga tahun 1998.

 

Ada semacam kegagapan dalam menyikapi realitas perubahan. Di satu sisi kebebasan untuk menyerap segala informasi dari luar mulai terbuka di sisi yang lain proses pemasungan terhadap kebebasan berekspresi kembali terjadi, bahkan lebih mengerikan dibandingkan era Soekarno. Dan itu secara umum kondisi tersebut diterima begitu saja oleh kalangan musisi pada saat itu. Istilah ‘underground’ pada saat itu mengalami pergeseran makna. Hanya diartikan sebagai musik ‘brang-breng-brong’, aksi panggung teatrikal dan kontroversial serta komposisi musik yang rumit dipenuh skill-skill tingkat tinggi. Nilai-nilai perlawanan yang diusung hanya sebatas pada pemberontakan terhadap nilai feodalistik yang sudah mapan namun tidak secara kritis mencari alternatif baru dalam menciptakan nilai pembanding dan nilai tandingan. Baik itu media komunikasi independen maupun sistem ekonomi tandingan yang dikembangkan.

 

Sehingga yang terjadi adalah gerakan budaya tandingan yang coba disusun pada akhirnya ikut larut dalam dinamika budaya mainstream di mana segala sesuatunya hanya berorientasi pada permintaan pasar [market oriented]. Masa ini berlangsung hingga dekade tahun 80-an.

 

‘Underground’ di Ujungberung

 

Ketika pada tahun akhir 80-an arus globalisasi ikut melanda Indonesia. Investasi asing mulai masuk seiring dengan masuknya IMF ke Indonesia. Dan hal tersebut mulai berdampak bagi perkembangan musik ‘underground’ di Indonesia, khususnya di kota Bandung. Arus informasi yang kuat telah mendorong beberapa majalah dan rilisan kaset ‘underground’ dari luar negeri mulai masuk dan banyak dikonsumsi oleh musisi di Bandung. Di Ujungberung sendiri terjadi sebuah fenomena ‘shock culture’ yang hebat. Ketika lahan-lahan agraris yang produktif disulap oleh para investor asing menjadi lahan industri yang sarat polutan. Kultur bertani dan bercocok tanam yang kental dengan nuansa komunal tiba-tiba secara drastis dirubah menjadi kultur buruh/pekerja yang secara sistematis diarahkan menjadi mahluk asosial. Hal ini jelas berdampak pada perilaku masyarakat secara umum. Muncul konflik-konflik kepentingan lokal dalam menyikapi masalah tersebut. Pemuda sebagai bagian dari sebuah struktur masyarakat menyikapi masalah tersebut dengan mencari saluran-saluran ekspresi yang dinilai bisa mewakili gejolak perasaan mereka. Maka musik metal dijadikan media berekspresi yang dinilai sesuai dengan kondisi keresahan mereka. Musik yang cepat, agresif serta lirik-lirik protes yang sarkastik menjadi pelarian mereka.

 

Radikalisme Ideologi DIY Ujungberung

 

Tahun 1989 ada empat band pelopor di Ujungberung yang sudah memainkan komposisi lagu metal ekstrim semacam Napalm Death, Sepultura, Obituary, Carcass dan lain-lain. Mereka adalah Funeral, Necromancy, dan Orthodox. Mereka adalah angkatan pertama di Ujungberung yang mulai menanamkan radikalisme dalam mengekspresikan karya mereka. Ketika trend festival musik pada saat itu masih berkutat di hard rock dan slow rock, mereka dengan berani mengacak-ngacak panggung festival itu dengan komposisi thrash metal dan death metal. Tampilan fashion yang ofensif dan style musik yang bising mereka bergerilya dari satu panggung festival ke festival yang lain mengusung semangat ‘kumaha aing’. Keikutsertaan mereka dalam festival tersebut lebih mengarah kepada pembuktian eksistensi dan pernyataan sikap. Mereka mulai memproduksi lagu-lagu sendiri dengan mengangkat isu-isu sosial yang sedang populis pada saat itu.

 

Dengan kritis mereka mereka menyikapi kultur festival musik sebagai bentuk dari pemasungan kreativitas. Parameter penilaian yang justru pada akhirnya malah mengkerdilkan makna kejujuran dalam berekspresi. Semangat menurut pasar hanya menciptakan bentuk keseragaman dalam karya dan pada akhirnya melahirkan kebosanan. Media-media mainstream pada saat itu hanya menampilkan informasi musik yang itu-itu saja. Pada tahun 1993 mulailah terbentuk beberapa komunitas musik ekstrim di Bandung. Mereka rajin membuka ruang-ruang diskusi menyikapi realitas yang sedang terjadi terutama di tingkat lokal. Mengorganisir diri ke dalam bentuk komunitas yang mempunyai kecintaan dan minat yang sama. Saling bertukar informasi dan membuat workshop media dan eksplorasi teknologi alat musik. Penyikapan konkret mereka buktikan dengan cara membuat media-media informasi tandingan yang isinya lebih kepada pengenalan kultur ini kepada khalayak. Dari situlah maka mereka mulai merambah acara-acara festival musik di kota Bandung. Dari mulai event ‘agustusan’ hingga pensi-pensi SMA. Pada masa itu sikap diskriminatif terhadap band ‘underground’ kerap terjadi. Dari mulai aksi teror secara verbal hingga yang sifatnya fisik. Tidak jarang mereka harus menerima hinaan ataupun cibiran dari beberapa orang yang tidak suka atau bahkan yang tidak mengerti sama sekali tentang aliran musik ekstrim. Band-band yang beraliran punk, hardcore, grindcore dan black metal kerap mendapatkan perlakukan diskriminatif dari pihak penyelenggara. Dari mulai jatah waktu tampil yang dikorupsi, perlakuan pihak sound system yang dengan sengaja mengacaukan setting sound, hingga terror fisik dari preman lokal yang merasa tersaingi.

 

Sikap tersebut terbentuk karena tatanan sosial pada saat itu pada umumnya masih dihinggapi perasaan xenophobia atau selalu merasa khawatir terhadap nilai dan tatanan baru yang muncul. Mereka selalu merasa bahwa hal baru sama dengan ancaman baru. Pada saat itu parameter berekspresi adalah sesuatu yang dapat menembus batasan yang sudah ditetapkan oleh pihak industri musik mainstream. Paradigma musik yang bagus adalah musik yang berorientasi pada kebutuhan pasar yang dapat masuk rating televisi dan menguasai jajaran top-ten radio. Belum terbentuk mental penerimaan yang baik terhadap hal baru yang dapat menambah khazanah keberagaman, utamanya di bidang musik.

 

Kondisi nyata seperti itulah yang menjadi latar belakang komunitas Ujungberung bercita-cita menggelar acara musik yang konsepnya menampilkan semua jenis musik underground dalam satu panggung. Terinspirasi oleh pagelaran Hullabaloo #1 pada tahun 1994 yang sukses digelar di Gor Saparua yang menampilkan musik underground dengan berbagai macam aliran. Dari mulai hip-hop, grindcore, pop, punk, hingga musik industrial. Komunitas Ujungberung mengadopsi konsep tersebut namun format musik yang disuguhkan lebih kepada sajian musik dengan distorsi tingkat tinggi. Lahirlah acara Bandung Berisik #1 pada tahun 1995 yang melahirkan acara-acara metal legendaris khas ala Ujungberung seperti Bandung Death Fest, Rebellion Fest, dan Rottrevore Death Fest yang rutin digelar secara berkala menampilkan band beraliran metal ekstrim.

 

Counter Culture

 

Era 1996 hingga 1997 komunitas musik ‘underground’ di Bandung mengalami masa perkembangan yang pesat. Konsep kolektivisme dan DIY mulai banyak direalisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan kongkret. Dari mulai membuat perusahaan rekaman berbasiskan indie label lengkap dengan konsep distribusi dan promosinya, pembuatan merchandise band, pembuatan media informasi komunitas berupa fanzine fotokopian, hingga kepada penggarapan event yang mengandalkan semangat kolektivisme. Jenis karya musik yang dihasilkan makin beragam dan cenderung makin agresif. Lirik yang diproduksi mulai banyak menyentuh hal-hal yang sifatnya politis. Banyak lirik pada saat itu yang bercerita tentang nasib buruh, petani, dan kaum miskin kota. Dengan frontal mulai melakukan kritik-kritik terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengatasi krisis. Industri musik mainstream pada saat itu sedang dilanda kejenuhan pasar. Paska booming Slank dan Iwan Fals pada saat itu tidak ada lagi fenomena musik yang luar biasa.

 

Media-media mainstream mulai kehabisan bahan berita hingga akhirnya komunitas ‘underground’ dengan segala bentuk dinamika pergerakannya menjadi bahan eksploitasi berita. Hampir semua media terutama media cetak mainstream yang ber-target marketing anak muda membahas fenomena pergerakan musik ‘underground’ terutama yang terjadi di kota Bandung. Hal tersebut jelas berdampak sangat besar pada perkembangan musik ‘underground’ pada saat itu yang seolah-olah di-setting menjadi trend musik masa kini. Melalui peran media mainstream pula hingga akhirnya booming musik ‘underground’ ini mewabah hampir di semua kota besar di Indonesia, utamanya di pulau Jawa.

 

Lahirlah beberapa komunitas musik ‘underground’ di kota Jakarta, Bali, Surabaya, Malang, Yogya dan Medan. Beberapa pagelaran bertema serupa ramai digelar di kota-kota tersebut dalam skala kecil. Di kota Bandung yang notabene adalah barometer musik ‘underground’ pada saat itu hampir setiap minggu Gor Saparua menjadi langganan acara-acara musik ‘underground’ yang diorganisir oleh beberapa komunitas di kota Bandung. Gor Saparua selalu dipenuhi oleh massa ‘underground’ yang rata-rata berusia belia dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang dan kota-kota lainnya. Terjadilah transformasi informasi dan proses penyerapan kultur. Dari sinilah awal terbentuknya jaringan komunikasi lintas komunitas dalam rangka memperluas jaringan. Beberapa komunitas dari luar kota Bandung dijadikan basis distribusi bagi penyebaran produk dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas sub kultur. Bahkan sekarang sudah terbentuk jaringan event yang diorganisir secara kolektif yang rutin menjalin kerjasama penyelenggaraan event ‘underground’.

 

Pada masa itu lahirlah acara-acara musik seperti Bandung Underground yang di organisir oleh komunitas Muda-Mudi Margahayu, Gorong-Gorong Bandung diorganisir oleh komunitas punk P.I., Bandung Minoritas, Campur Aduk dan lain-lain. Namun pada masa itu pula situasi politik dan ekonomi Indonesia mengalami guncangan. Masa peralihan kekuasaan yang diwarnai kisruh pertarungan politik di tingkat elit kekuasaan berdampak besar pada perekonomian. Tragedi krisis moneter yang mengguncang hebat perlahan ikut membawa dampak pada perkembangan musik Underground, khususnya di kota Bandung. Demonstrasi besar-besaran kerap mewarnai jalanan kota Bandung. Daya beli masyarakat secara keseluruhan mulai menurun dikarenakan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Hingga pola konsumsi masyarakat pada saat itu berubah dengan cara mengurangi hal-hal yang dirasa tidak terlalu penting. Acara yang biasanya ramai dipenuhi oleh penonton lambat laun mulai sepi pengunjung. Beberapa organiser yang berasal dari beberapa komunitas independen di Bandung mulai menarik diri untuk membuat event musik ‘underground’. Di samping tidak mau mengalami kerugian secara finansial [walaupun pada saat itu dan sampai sekarang tidak pernah mencari keuntungan], juga disebabkan kendala perijinan yang semakin represif terhadap hal-hal yang sifatnya mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Beberapa yang memaksakan diri mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan sepi penonton atau dengan alasan meresahkan dan mengganggu ketertiban secara sepihak dibubarkan oleh aparat keamanan. Beberapa pelaku subkultur ‘underground’ pada masa itu ikut melebur bersama beberapa organ buruh dan mahasiswa aktif menggelar aksi-aksi demonstrasi menuntut perubahan di segala bidang.

 

Pada saat sulit tersebut justru komunitas Ujungberung banyak mengalami kemajuan yang signifikan. Banyak band-band baru terbentuk dengan semangat dan idealisme yang tinggi. Beberapa band seperti Jasad, Sacrilegious, Sonic Torment, Burgerkill dan Forgotten bahkan telah mampu memproduksi dan mendistribusikan album perdana mereka secara independen. Pada masa itu komunitas Ujungberung mulai membangun basis ekonomi komunitas sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi komunitas dengan cara membangun distro Rebellion yang khusus menjual produk-produk band Ujungberung dan komunitas musik lain di Bandung. Semua murni dilakukan atas dasar dorongan insting untuk bertahan hidup.

 

Ekonomi Kreatif

 

Dinamika pergerakan komunitas ‘underground’ sebagai bagian dari sebuah sub kultur di Bandung khususnya di Ujungberung ternyata membawa dampak pada sikap kemandirian ekonomi. Semangat kemandirian atau independensi yang mereka usung telah mampu menjadi trigger atau pemicu bagi eksplorasi kreativitas. Tidak hanya di sektor karya musik saja namun telah meluas pada sektor ekonomi. Spirit pemberontakan yang mereka usung telah mampu menyelesaikan beberapa persoalan sosial yang ada khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja. Di komunitas Ujungberung sendiri sejak tahun 2004 hingga sekarang telah terbangun beberapa unit bisnis yang berbasiskan komunitas. Dari mulai usaha sablon, distro, konveksi pakaian, studio rekaman, perusahaan rekaman indiependen, jasa distribusi, studio rekaman, usaha penerbitan, toko buku dan usaha warnet. Semuanya murni dikelola oleh para pelaku komunitas ‘underground’ Ujungberung dan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan yang sama. Beberapa pelaku komunitas ini terlibat aktif sebagai kru band dan teknisi studio rekording di kota Bandung. Semuanya saling bersinergi dan menciptakan perbaikan ekonomi minimal bagi para individu dan internal komunitas.

Semua bentuk kreatifitas yang diusung oleh para pelaku industri kreatif dalam hal ini adalah pelaku sub kultur telah mampu memberikan ‘wajah’ pada kota Bandung. Beberapa gelaran event musik yang digelar di Bandung selalu dijadikan tolak ukur dan parameter perkembangan musik bagi kota lain. Bentuk dan perkembangan fesyen dikota Bandung selalu menjadi trendsetter bagi perkembangan industri fesyen di Indonesia.

 

Pada tahun 2008 hingga 2013, kota Bandung oleh British Council dijadikan proyek percontohan sebagai ‘creative city’ di kawasan asia pasifik. Sebuah kota yang memang secara budaya berhasil dibangun citranya oleh komunitas kreatif berbasiskan indiependen. Proses pencapaian tersebut dilakukan atas dasar insting untuk bertahan hidup dalam mensikapi situasi. Jiwa yang kritis dan semangat ‘pemberontakan’ memanfaatkan potensi yang seadanya namun didukung oleh semangat kolektivisme yang tinggi hingga berhasil mengatasi semua hambatan yang ada – meski tanpa daya dukung yang kuat dari pemerintah berupa kebijakan dan fasilitas yang layak untuk mengekspresikan energi kreatif mereka. Mau didukung atau tidak mereka tidak peduli, karena secara sistem mereka telah teruji kemandiriannya.

 

Tapi kata kunci dari segalanya adalah keteguhan prinsip. Panceg Dina Jalur, tidak gamang menghadapi perubahan. Membaca segala bentuk perubahan sebagai kulit saja bukan sebuah inti. Sehingga ketika harus menyesuaikan diri dengan perubahan tak lantas kehilangan diri tenggelam dalam euphoria di permukaan. Segala pencapaian itu juga harus dikelola dengan sinergi yang positif antara lahan-lahan garapan kreatifitas, sehingga akan terus berkembang dan pada gilirannya memberikan hal positif bagi masyarakat luas.

 

[Addy Gembel]

www.addygembel.multiply.com

Artikel di atas merupakan bahan presentasi diskusi yang dikutip dari hasil riset penulis untuk penulisan buku sejarah komunitas “Ujungberung Rebels, Panceg Dina Jalur” dan sejarah “Bandung Underground”. Riset dilakukan sejak November 2007 bersama Kimung dari Minor Books dan Common Room Network Foundation. Rencananya buku tersebut akan diterbitkan pada Januari 2009. Beberapa hasil riset ini pernah dipresentasikan di beberapa forum diskusi dan dimuat di beberapa media cetak, seperti Rolling Stone Indonesia, Pikiran Rakyat dan Ripple magazine.

They Got The Gun But We Got The Number

“They got the gun but we got the number / Gonna win, Yeah, We’ll take it over! C’mon!… They got the gun but we got the number / Gonna win, Yeah, We’ll take it over! C’mon!!!..” [521, The Doors]

 

Menyikapi tragedi di gedung AACC, Sabtu kelabu 9 Februari 2008, Solidaritas Independen Bandung melakukan dua solusi, yaitu dengan cara litigasi dan non-litigasi. Litigasi berkaitan dengan hukum, sementara non-litigasi berkaitan dengan pendataan kembali kondisi sosial budaya yang berkaitan dengan tragedi tersebut. Saya termasuk dalam tim non-litigasi.

 

Ada satu hal yang saya kritisi dalam pernyataan-pernyataan dari komunitas menyikapi Tragedi AACC. Kebanyakan pernyataan-pernyataan tersebut adalah respon yang lebih mengkonfrontasi pernyataan kepolisian dan pemerintah. Satu lagi wacana yang merebak, menuding pemerintah lalai dalam menangkap gejala global di kalangan pemuda, terutama dalam gairah musik metal di kota Bandung yang ujung-ujungnya meminta fasilitas gedung kesenian kepada pemerintah.

 

Untuk memandang masalah ini lebih jernih, bekerja sama dengan Jurusan Sastra Jerman Unpad, maka saya, Addy Gembel, dan Ucok Homicide menggelar diskusi Si Kumis dan Begundal di Ujungberung Rebels, Nihilisme Nietzsche, Ivan Scumbag, dan Dinamika Ujungberung Rebels. Diskusi ini awalnya akan membedah dinamika komunitas Ujungberung Rebels sebagai salah satu komunitas musik metal bawahtanah tertua dan tertangguh dari perspektif filsafat nihilisme dan ubermensch-nya Nietzsche.

 

Satu hal yang sangat penting untuk dicatat dalam diskusi ini ternyata adalah kesadaran akan sejarah komunitas. Ujungberung Rebels tumbuh sejak akhir 1980-an. Di awal 1990-an mereka sudah membentuk sebuah komunitas bernama Bedebah, singkatan dari Bandung Death Metal Area – walau pada kenyataannya tak cuma anak-anak death metal yang ikut bergabung degan mereka. Punk rock, thrash metal, death metal, grindcore, black metal, hingga industrial saling berbaur. Nama Bedebah sendiri diambil dari program siaran di radio Salam Rama Dwihasta, Taruna Parahyangan, Ujungberung. Bedebah memutar lagu-lagu Carcass, Napalm Death, Terrorizer, Deicide, dan Sepultura ketika radio-radio lain masih menyiarkan musik heavy metal.

 

Pada era ini ada empat band metal yang menjadi ikon Ujungberung ; Funeral, Necromancy, Jasad, dan Orthodox. Mereka menggebrak berbagai panggung di Kota Bandung – dari panggung-panggung festival, hingga pensi-pensi sekolahan. Mereka minoritas tetapi sangat solid. Bergerak dari satu panggung ke panggung yang lain bersama-sama, dengan attitude metal, dan semangat kebersamaan. Generasi ini pula yang pertama kali membuka kran informasi mengenai permetalan dunia dengan menggencarkan pemesanan majalah metal internasional, kaos, kaset atau CD band-band metal, juga merekam ulang, dan memperbanyak serta menyebarkannya di kalangan mereka sendiri. Mereka juga berani membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri di atas panggung.

 

Apa yang telah mereka rintis ternyata menginspirasi generasi selanjutnya. Di Ujungberung, inspirasi ini menemukan wadahnya ketika Studio Palapa berdiri pada tahun 1993. Berdiri dua band baru ; Analvomit dan Three Side of Death. Kemudian berdiri juga Disinherit, Sonic Torment, Sacrilegious, Forgotten, Burgerkill, Infamy, Naked Truth, Beside, Embalmed, Disinfected, Injected Sufferage, dan lain-lain. Perkembangan ini kemudian diolah dalam sebuah organisasi bernama Extreme Noise Grinding [ENG]. Berdiri tahun 1995, ENG merancang dua program propaganda metal Ujungberung, yaitu dengan penerbitan zine dan pergelaran musik. Zine yang kemudian berdiri adalah Revolution Programs atau kita kenal sebagai Revograms [Mei 1995]. Sementara pergelaran yang digeber adalah Bandung Berisik Demo Tour atau kita kenal sebagai Bandung Berisik #1. Semua band yang manggung di event ini telah memiliki lagu sendiri dan merekamnya ke dalam sebuah demo. Tradisi mencipta lagu semakin kuat di sini. Majalah Hai pada tahun 1995 mencatat dari 10 band indie Indonesia, tiga di antaranya berasal dari Ujungberung [Jasad, Sonic Torment, dan Sacrilegious].

 

Kedua propaganda tersebut berhasil dengan gemilang. Komunitas musik metal bawahtanah Ujungberung semakin menggurita. Studio Palapa yang asalnya mampu menampung para musisi muda, kini terasa semakin sempit saja. Tak lama kemudian, mereka, dengan kaos hitamnya segera memenuhi trotoar jalan raya Ujungberung. Pada era ini, pembelajaran komunitas akan bermusik sedang gencar dilakukan. Eksplorasi sound yang mantap, aksesoris-aksesoris instrument, hingga pembinaan kru, tehnisi, sound engineer, dan manajerial. Kita kemudian kenal nama Homeless Crew dari Ujungberung. Sebuah nama yang juga merepresentasikan menolak kemapanan dan kenyamanan. Jiwa-jiwa yang resah mulai lahir saat itu…

 

Segala keresahan itu mereka tuangkan menjadi karya. Setidaknya telah ada empat belas band di Ujungberung pada tahun 1997. Mereka kembali berkumpul untuk menggelar Bandung Berisik #2 dan merencanakan rilisan kompilasi lagu-lagu band-band metal bawahtanah Ujungberung. Kompilasi ini rencananya diberi judul Ujungberung Rebels. Namun, ketika dirilis Aquarius pada tahun 1998, judulnya berubah menjadi Independen Rebels. Nama Ujungberung Rebels sendiri sejak itu lekat menjadi identitas komunitas musik metal bawahtanah Ujungberung.

 

Komunitas ini kemudian banyak melahirkan, tak hanya band-band metal terbaik di Indonesia, atau mungkin di Asia, tetapi juga sederet kru yang berkomitmen dan berkualitas tinggi. Komunitas ini perlahan namun pasti telah berkembang. Salah satu faktor yang menunjang perkembangan band-band metal, adalah hadirnya Generasi Muda Radio [GMR] dan Gelora Saparua sebagai tempat pergelaran musik.

 

Setelah berbagai masa susah dan senang, kini Ujungberung Rebels diwarnai setidaknya tiga sektor ekonomi kreatif di dalamnya, yaitu fesyen, label, dan literasi. Di ranah fesyen, Ujungberung Rebels punya MediaGraph, Chronic, Distribute, Reek, Melted, dan Scumbag Premium Throath. Di ranah label rekaman Ujungberung Rebels memiliki Pisces Records, Rottrevore Record, dan Revolt! Records. Sementara di bidang literasi ada MinorBacaanKecil, Minor Books, Totalokal, dan toko buku Omuniuum. Selain itu, ada juga ranah perekonomian lainnya seperti warnet dan sentra kuliner.

 

Segala pencapaian tersebut rasa-rasanya benar-benar dilakukan sendirian. Sama sekali tak ada campur tangan pihak-pihak lain selain komunitas Ujungberung Rebels sendiri, dan Bandung Underground serta komunitas-komunitas musik metal bawahtanah luar kota pada umumnya. Tak ada campur tangan pemerintah, lembaga pendidikan, institusi agama, kepolisian, parpol, ormas. Kita berdikari! Berdiri di atas kaki sendiri!…

 

X X X X X

 

Menjadi sesuatu yang aneh jika kemudian kita sekarang meminta-minta sebuah gedung pertunjukan kepada pemerintah. Dari sejarah komunitas Ujungberung Rebels yang juga berhubungan erat dengan komunitas-komunitas independen lainnya di Kota Bandung, tak pernah ada kisahnya kita meminta-minta apapun kepada pemerintah. Jangan karena sebuah tragedi, hati kita lalu lantas lembek, enggan mengakui jika ini adalah tanggung jawab kita bersama, seluruh komunitas di Kota Bandung itu sendiri. Menyalahkan pemerintah atau polisi bukanlah sebuah solusi yang bijak karena dengan demikian kita sudah mengakui adanya eksistensi lembaga-lembaga tersebut dalam perkembangan kesejarahan kita.

 

Maka demikian, Tragedi AACC hendaknya menjadi ajang instrospeksi diri kita sebagai komunitas. Mungkin selama ini kita lengah, terlalu egois memikirkan diri sendiri hingga lupa bahwa kondisi sosial budaya kita secara tak sadar semakin membesar dan membesar. Di jalanan sana ribuan atau bahkan jutaan remaja menanti untuk kita raih, untuk kita ajak berkreasi, maju bersama-sama, berkembang bersama-sama. Tragedi AACC dalam hal ini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk bersatu mengkonsolidasikan diri bersama kawan-kawan dalam sebuah barisan yang rapat dan kuat. Satu tujuan bersama : membesarkan komunitas. Itu komitmen yang harus tetap teguh dipegang oleh setiap individu dalam komunitas.

 

Untuk mendapatkan tempat pertunjukan, misalnya, sebenarnya kita bisa menggunakan kekuatan massa. Perkiraan kawan-kawan di Ujungberung Rebels, massa mereka di Bandung saja sudah bisa mencapai sepuluh ribu jiwa. Jika dari satu orang saja dapat menyumbang lima puluh ribu, berarti setidaknya jika seluruhnya ikut menyumbang akan terkumpul dana 500.000.000. Lima ratus juta! Ini adalah sebuah potensi yang sangat besar jika dapat dikelola dengan baik oleh pihak komunitas sendiri. Belum pihak-pihak lain yang saya yakin akan sangat mendukung program ini dan sedapat mungkin membantu kita merelisasikannya. Kita beli tanah lapang, rawat sebagai lapangan di kota yang juga difungsikan sebagai taman kota, youth center, pusat riset dan dokumentasi, skatepark, dan tentu saja tempat pergelaran kesenian dengan biaya sewa paling rendah.

 

Saya yakin 700% tempat ini akan aman dan dirawat bersama oleh komunitas. Rasa memiliki mereka akan lapangan ini akan besar dan karenanya tanggung jawab mereka untuk merawat dan menjaga juga akan sangat kuat. Jika ini berhasil, saya kira juga dapat dijadikan percontohan pendidikan kewarganegaraan yang baik bagi warga Bandung pada umumnya.

 

Maka kini terserah kepada kita. Akan lari dari tanggung jawab setelah merintis dan mengembangkan komunitas ini? Atau tetap membangkang menghajar jalanan, membantai setan yang berdiri mengangkang? Saya? Seluruh jiwa saya ada dalam tulisan ini!…

 

[Kimung]

Penulis adalah editor MinorBacaanKecil, mantan personil Burgerkill dan penulis buku “My Self ; Scumbag Beyond Life and Death”.

Sebuah Peradaban Dari Bawah Tanah Kota Malang [IV]

Setelah mengalami evolusi penting, scene cadas kota Malang melahirkan lembaran baru yang masih berlangsung dan mungkin tidak akan terputus. Sebuah era yang dimainkan oleh pelaku-pelaku muda dan menjadi intro pertama dari scene, underground, do-it-yourself, gigs, squat, serta segala kata kunci yang pernah digilai saat itu. Sebuah jaman bingung dan konyol bersama pemuda-pemuda yang masih dalam ‘fase pencarian’. Egois, ambisius, penuh slogan dan bombastis. Hingga tiba-tiba logo pentagram, simbol X di tangan, lambang anarki, serta rambut pirang dan mohawk lem kayu bertebaran di mana-mana…

Era 1996 – 2000 ; Periode Penggali Tanah

Sepeninggal komunitas Gemma [Generasi Musisi Malang] sekitar tahun 1995, muncul kemudian generasi anyar yang berusia belasan tahun hadir mengisi lembaran kosong aktifitas rock dan metal di Malang. Mereka adalah anak-anak muda yang sebelumnya dibesarkan sebagai penonton, fans atau band peserta festival garapan Gemma. Mereka juga mengaku banyak belajar dari fenomena scene rock lokal selama kurun waktu sebelumnya. “Kita emang mulai kumpul pas nonton acara-acaranya Gemma itu. Kalo ada anak yang pake kaos band sangar atau ada band yang bawain lagu kenceng pasti deh kita samperin dan ajak kenalan,” kenang seorang kawan lama mengingat masa-masa awal ketika mereka mulai berkumpul bersama.

 

Anak-anak muda itulah yang mulai mengenal idiom Underground [istilah dari pers/media bagi gerakan bermusik melalui jalur alternatif yang tidak umum dan tidak lazim] dan Do It Yourself atau D.I.Y [etos kerja yang mandiri atau swadaya]. Dari situ pula mereka mulai tahu yang namanya Scene [lingkungan komunitas yang berdasarkan kesamaan hobi, minat atau idealisme], Gigs [konser kecil] dan Squat [tongkrongan/basis]. Meskipun kadang masih dalam terminologi yang sempit dan membabi-buta. Maklum, istilah-istilah itu masih jadi ‘barang baru’ bagi mereka.

 

Spontan mereka coba mempraktekkan nilai-nilai independensi dan etika do-it-yourself dalam bermusik. Mereka mulai membuat jaringan dengan komunitas serupa yang berada di Bandung, Jakarta, Surabaya, Jogja dan Bali. Networking tersebut berhasil terbentuk dari kesamaan latar belakang, selera, trend, visi, pola pikir, serta rentang usia yang tidak jauh beda. Mereka tampak antusias bekerjasama dengan penuh rasa solidaritas dan saling mendukung tanpa ada pengkotak-kotakan. Boleh dibilang mereka adalah anak-anak muda yang mempelopori munculnya sebuah sub-kultur baru di kota Malang. Istilahnya saat itu ; Arek Underground!!!

 

Bersamaan dengan evolusi musik cadas, genre-genre metal yang lebih ekstrim dan aktual seperti aliran blackmetal, deathmetal hingga grindcore jadi referensi utama bagi anak muda di jaman itu. Mereka mulai tertantang untuk bermain musik dan membentuk band baru. Lahirlah kemudian band-band dengan nama unik dan cenderung seram seperti Rotten Corpse, Perish, Sekarat, Santhet, Keramat, Genital Giblets, Grindpeace, Peti Mati, Sacrificial Ceremony, Ritual Orchestra dan masih banyak lagi.

 

Band-band itu awalnya tumbuh dengan memainkan lagu-lagu karya band asing [coversong], sambil sesekali mencoba menulis karya lagu sendiri. Jika ada kesempatan mereka berupaya manggung pada event parade atau festival musik yang mengharuskan setiap band membayar biaya pendaftaran. Tak jarang mereka rela patungan sambil membawa suporter dalam ‘misi suci’ penyebaran eksistensi serta idealisme musik mereka. Semacam ‘show of force’ kepada masyarakat lah istilahnya…

 

Beberapa pertunjukan musik yang merangkum aksi band-band underground lokal pada saat itu antara lain ; Fisheries karya mahasiswa Fakultas Perikanan Unibraw, Independent di kampus ITN, RMC garapan muda-mudi karang taruna di Singosari, serta sejumlah parade musik di GOR Pulosari dan gedung DKM. Satu kawan yang lain ikut bercerita, “Kehadiran kita di konser-konser itu selalu menarik perhatian penonton awam deh pokoknya. Ngeri kali yah mereka, soalnya penampilan kita sangar-sangar, trus selalu maju headbanging pas band-nya anak-anak manggung.”

 

Sebagian dari anak-anak muda itu lalu membidani kelahiran sebuah komunitas underground lokal bernama Total Suffer Community [TSC] – yang embrionya sudah dicetuskan sejak pertengahan tahun 1995. Ide membuat ‘klub underground’ itu lahir setelah mereka melihat komunitas serupa di luar kota juga memiliki ‘identitas’ sendiri, seperti misalnya Extreme Noise Grinding [Ujungberung], Bandung Lunatic Underground, Blackmass [Bandung], Jogja Corpsegrinder, Bali Corpsegrinder, atau Independent [Surabaya].

 

Saat itu, obsesi awal TSC hanya ingin membuat konser underground yang pertama di Malang. Proyek tersebut akhirnya berhasil diwujudkan lewat event bertajuk Parade Musik Underground [PMU] di gedung Sasana Asih YPAC, pada tanggal 28 Juli 1996. PMU sendiri akhirnya sempat jadi serial gigs lokal terbesar hingga mencapai sekuelnya yang ketiga di tahun 1998 dengan mengundang berbagai band cadas dari Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Bali. Bahkan boleh dibilang, PMU merupakan landmark bagi konser-konser underground selanjutnya di Malang.

 

Kehadiran TSC yang dikepalai oleh Budhy Sarzo itu membuat scene musik cadas di kota Malang makin semarak. Eksistensi mereka mewarnai gaya hidup dan budaya lokal kaum muda. Anak-anak muda yang hampir selalu berkostum item-item itu seringkali terlihat bergerombol di sekitar kantor Kabupaten depan Malang Plaza, Food Center Hero Supermarket, atau di seberang Dieng Plaza pada setiap pekannya. Semacam ‘black gathering’ atau ‘rocks on weekend’?!…

 

Nongkrong mingguan yang disertai sharing informasi musik itu semakin membuka wawasan mereka tentang berbagai aktifitas di dalam scene underground. Obrolan mereka saat itu tidak jauh dari tema musik cadas, band, konser, sampai pada cara-cara bikin rekaman, fanzine, serta merchandise. Kadang juga diselingi dengan ajang pinjam-meminjam kaset, menyetel video konser asing dalam format VHS, tukar-menukar kaos metal, atau sekedar ‘jual-beli’ stiker dan foto band.

 

Dari situ perkembangan musik di kancah lokal mulai berjalan lebih maju. Genre dan selera musik yang mereka terima makin beragam dan variatif. Selain deskripsi rock dan metal, sejumlah aliran musik lain seperti punk, hardcore dan industrial juga mulai mewabah. Makin lama makin banyak yang ikut nongkrong di areal TSC. Uniknya, muncul kemudian ‘proses administrasi’ bagi semua anggota. Setiap anggota juga didata, dikenai iuran, serta berhak mendapatkan kartu member lengkap dengan nomor induk. Halah?!…

 

Bertambahnya anggota baru membuat TSC merangkumnya ke dalam divisi-divisi khusus yang didasarkan atas aliran musik. Yah, mirip ‘penjurusan’ kalau di sekolah, lengkap dengan ‘ketua kelas’-nya masing-masing. Hal itu semata-mata untuk mempermudah komunikasi bagi setiap kalangan genre musik yang ada.

 

Penggemar musik death metal dan grindcore tetap dominan di squat ini. Afril [Extreme Decay] saat itu masih memimpin umat black metal bersama Ipul [Santhet] dan Gayonk [Perish]. Ook [Grindpeace] memang maniak metal tapi menjadi salah pemuja musik noise dan industrial. Kalangan hardcore sepertinya dikomandoi Sandi, Doni, dan Viktor [Primitive Chimpanzee]. Sedangkan punk rock diminati oleh para personil No Man’s Land dan arek-arek ‘Gang Songo’. Meriah lah pokoknya…

 

Setiap komunitas genre itu akhirnya membuat squat-nya masing-masing. Mereka juga kerap berkumpul, berbincang dan merancang rencana untuk mengembangkan wawasan musiknya. Banyak cara yang biasa mereka lakukan seperti misalnya merancang gigs atau memesan kaset, CD, majalah musik dan kaos band favorit melalui jalur mail-order ke distributor asing.

 

Munculnya squat-squat kecil ternyata tidak hanya berdasarkan pada pilihan genre musik saja. Seperti maraknya tawuran geng antar kampung pada jaman itu, tidak lama kemudian muncul juga sejumlah squat yang eksis secara geografis di beberapa wilayah atau daerah penting. Awalnya mungkin anak-anak itu bertetangga, terus punya selera musik yang sama, lalu saling barter kaset, dan sering nongkrong bareng pada akhirnya. Yah, mungkin saatnya underground mulai masuk kampung dan ikut mewarnai rapat pemuda karang taruna. Hah!…

 

Kampung-kampung beraroma cadas mulai bermunculan di seputar kota. Sebut saja Sumbersari yang identik dengan blackmetal sehingga kerap dijuluki Triple S [Sumbersari Satan Service]. Kemudian anak-anak deathmetal dan grindcore yang bermarkas di sekitar Sanan, Bango, dan Sukun. Daerah Oro-oro Dowo [Gang Songo] dan Kotalama juga dikenal memiliki basis punk dan hardcore yang cukup kuat. Begitu juga wilayah Bareng yang sudah dikenal rock & roll sejak tempo doeloe serta mempunyai variasi genre musik yang beragam. Keberadaan squat semacam ini juga meluas hingga di kampung-kampung lain seperti Selorejo, Ketawang Gede, Dinoyo, Pakis, Singosari, Batu dan sebagainya.

 

Uniknya, squat yang tumbuh di sejumlah kampung itu justru produktif dan bikin scene kota Malang lebih dinamis. Beberapa di antaranya bahkan mampu membuat gigs-gigs lokal yang penting. Misalnya saja anak-anak kampung Sukun dengan gigs andalannya Chaos Sukun Live, lalu kampung Sanan dan Bango berkolaborasi bikin event musik Krisis, atau arek-arek Selorejo dengan serial gigs Ontrant-Ontrant yang masih aktif sampai sekarang dan sudah empat kali digelar. Belum lagi Pakis Parah, Singosari Bentrok, dan lain-lain.

 

Pada pertengahan tahun 1996 beberapa anak muda menggagas penerbitan media cetak independen dalam bentuk fanzine. Media itu dimaksudkan untuk menjaring informasi dan komunikasi yang lebih intens di kalangan publik underground. Terbitlah kemudian Mindblast, sebuah fanzine metal yang bertahan tiga edisi sampai tahun 1998. “Fanzine itu lahir dari rasa iri setelah melihat Bandung punya Revograms. Nekat aja dulu coba-coba bikin dengan modal terbatas. Pas Mindblast aktif, di Jakarta ada Brainwashed, trus Jogja juga punya Megaton. Eh, ternyata Mindblast cukup efektif juga untuk mengangkat scene Malang pada saat itu,” tutur salah satu editornya.

 

Media sederhana berformat fotokopian semakin marak dan terus berlanjut dengan kemunculan Imbecile, Escort, Brain To Think Mouth To Speak, Kemerdekaan Zine, Ndeso Zine, serta beberapa fanzine dan newsletter lokal lainnya. Semuanya dijalankan secara ikhlas, mandiri dan swadaya. Sekedar untuk transfer informasi dan proses dokumentasi scene musik cadas. “Meskipun pada akhirnya rugi trus bubar, hehe. Gak masalah kok demi scene tercinta. Biar rame!” ujar sebagian besar anggota redaksinya.

 

Saat itu peran media radio juga masih aktif men-support komunitas ini. Selain Senaputra, beberapa radio swasta dan eksperimen kampus juga mulai membuka airtime-nya untuk program siaran musik keras. Salah satunya adalah radio Bhiga FM milik unit kegiatan mahasiswa Unmer Malang yang rela menampung demo-demo rekaman lokal dari Malang maupun luar kota. “Jangan malas, apalagi menunggu. Kita sendiri lah yang musti aktif datang ke radio-radio itu sambil bawa kaset-kaset demo band lokal. Kalo perlu ikut siaran!” kata Ook menceritakan pengalamannya dulu ketika bergerilya ke radio-radio untuk promo band.

 

Sayangnya, scene musik lokal yang sedang menghangat itu sempat mengalami ‘tragedi’  yang cukup menyesakkan dada. Pada tahun 1997, GOR Pulosari tiba-tiba dibongkar oleh pemerintah daerah dan dikabarkan bakal mengalami renovasi. Namun yang terjadi kemudian venue legendaris itu malah berubah menjadi ruko dan supermarket. Kejadian tidak lama setelah mahasiswa STIEKN Malang menggelar festival musik di sana – yang menampilkan Pas Band, Burgerkill, dan Forgotten dari Bandung, serta sejumlah band lokal seperti Perish dan Sekarat.

 

Sayang, situs rock lokal yang bernilai sejarah tinggi itu akhirnya tinggal kenangan. Menyedihkan. Alhasil frekuensi pertunjukan musik rock di Malang juga ikut merosot drastis. Proyek peralihan fungsi GOR Pulosari itu bisa dianggap sebagai salah satu dosa terbesar pemerintah daerah terhadap perkembangan seni dan musik di kota Malang. Dengan geram seorang musisi lokal pun berujar, ”Root-nya musik rock di Malang itu ya dari Pulosari. Band kayak AKA, Godbless, Elpamas, sampai Slank pun pernah maen di situ. Band-band lokal juga besar dari situ. Sudah layak kalo kita protes trus menuntut pada pemerintah yang bodoh itu!…”

 

Beruntunglah komunitas underground dibekali etos kerja do-it-yourself yang masih bisa mendukung proses aktualisasi mereka. Mereka masih mampu merancang gigs sendiri meski dalam skala dan venue yang kecil. Buktinya berbagai jenis konser dan gigs yang dikelola secara mandiri mulai digelar di sana-sini. Kebanyakan muncul dengan judul titel acara yang unik, seperti misalnya Konflik, Spektakuler, Brotherhood, Pakis Parah, Expose, MCHC, The Sound of Fury, dan lain sebagainya.

 

Setelah GOR Pulosari raib, pertunjukan musik keras memang lebih sering memilih aula sekolah atau kampus sebagai venue-nya. Setiap acara biasanya mematok aksi 20 sampai 30 band dengan harga tiket antara 3000 hingga 5000 rupiah. Terkadang pihak panitia juga menyertakan band luar kota yang lumayan populer sebagai bintang tamunya, seperti Hellgods [Bdg], Slowdeath [Sby], Noise Damage [Bdg], Vexation [Bdg], Tympanic Membrane [Bdg], Demonstration Effect [Bali], Eternal Madness [Bali], Trauma [Jkt], Death Vomit [Jogja], dan lain sebagainya.

 

Kesalahan rocker-rocker generasi lama yang tidak mendokumentasikan karyanya dalam bentuk rekaman juga mulai diperbaiki oleh generasi saat itu. Minimnya sarana studio recording di Malang tidak bikin band lokal ketinggalan dalam proses merekam materi musik mereka. Memperbanyak jam terbang dengan manggung di berbagai daerah menjadi target mereka selanjutnya. Undangan show di luar kota disabet meski dalam budget dana yang minim atau tanpa bayaran sekalipun. Ketika itu berkarya, bikin demo rekaman dan pengalaman pentas adalah tiga hal utama yang ingin dicapai setiap band agar eksistensinya semakin diakui publik.

 

No Man’s Land tercatat sebagai band Malang pertama yang mampu membuat demo dan memasarkannya secara gerilya kepada fans-nya. Keberanian band punk rock itu untuk merilis album Separatist Tendency menjadi sangat fenomenal. Sebab ketika itu nama mereka notabene masih sangat baru dan belum terlalu dikenal publik. Tanpa diduga, Separatist Tendency berhasil terjual laris dari tangan ke tangan dan menjadi salah satu album lokal yang klasik hingga saat ini. “Album itu direkam live selama 15 jam di studio Oase pada bulan Februari 1996. Total kami hanya menghabiskan biaya dua ratus ribu,” terang Didit selaku frontman No Man’s Land.

 

Di sektor metal, Rotten Corpse adalah nama band yang paling populer saat itu. Selain sering menjajah panggung lokal, mereka juga sempat diundang manggung di berbagai kota mulai dari Surabaya, Bandung, sampai Jakarta. Nama mereka mulai diakui secara nasional setelah tampil pada sejumlah pentas underground yang fenomenal di jaman itu, seperti Bandung Underground #2 [1996], Total Noise Jakarta [1996], dan Bandung Berisik #2 [1997].

 

Setelah merilis demo secara independen, Rotten corpse akhirnya rekaman di studio Natural [Surabaya] dan menghasilkan album Maggot Sickness. Rilisan berformat kaset yang diproduksi Graveyard Production itu termasuk sukses untuk skala pasar metal yang sempit. Rekaman tersebut bahkan sempat dirilis ulang oleh sebuah label dari Malaysia untuk pasar distribusi di Asia Tenggara. Kesuksesan Maggot Sickness baik secara kualitas musik maupun reaksi publik untuk sementara ini masih dianggap sebagai patok tertinggi dalam sejarah rilisan album metal lokal dari Malang. Album ini bahkan masuk dalam deretan 20 Album Rock Revolusioner di Indonesia yang dimuat pada majalah MTV Trax2 edisi Agustus 2004.

 

Sejumlah band lokal yang lain juga mulai aktif dalam proyek rekaman dan panggung. Contohnya Sekarat berhasil merilis dua album independen, serta sempat manggung di Bali, Sidoarjo dan Surabaya. Kemudian Perish dengan debut album From The Rising Dawn yang penjualannya mencapai sold-out. Gayonk dkk bahkan sempat menjadi nama yang fenomenal bagi scene black metal di negeri ini. Mereka diundang tampil di Jogja, Bandung, Jakarta, hingga Denpasar. Nasib baik juga dialami Ritual Orchestra yang show-nya merambah hingga ke luar Jawa dan albumnya laris manis hingga di pasaran internasional.

 

Kemunculan label-label rekaman lokal seperti Confuse Records, Bittersounds, Raw Tape, atau Youth Frontline membuat scene kota Malang makin bergairah. Beberapa rekaman band lokal yang sempat beredar pada jaman itu antara lain ; Keramat “Approximate Death”, Bangkai “For What?!”, Extreme Decay “Bastard”, Mystical “Sawan Bajang”, HorridTruth/Boisterous “Split”, Antiphaty “W.A.R”, No Man’s Land “Punk Rock & Art-School Drop Outs”, Don’t Regret “Violence Cause”, Stolen Vision “They Makes Me Stronger”, The Babies “Malang City Punk Rocker”, dan masih banyak lagi.

 

“Gila, sampai orang-orang di kota lain juga pada heran. Banyak banget yah rilisan dari band-band Malang?!” ungkap sorang kawan menyatakan kekagumannya. Ini tidak lepas dari peran Ook yang saat itu mengelola Confuse Records dan sering merilis berbagai demo lokal untuk dipasarkan ke penjuru nusantara. Bayangkan satu etalase atau satu lapak pun bisa penuh hanya dengan stok demo-demo rekaman lokal Malang. Usaha sablon dan merchandise juga ikut berkembang mewarnai scene ini. Tiap band mulai memproduksi kaos, emblem, pin, atau stiker. Gus Dinn dan Ook lalu mempelopori munculnya distro pertama di Malang yaitu Abstract, yang kemudian berubah nama jadi Smash Shop.

 

Setelah mengoyak pasar nasional, giliran band lokal coba merambah pasar internasional. Mereka mulai melakukan kerjasama bilateral dengan jaringan label atau band di luar negeri melalui koresponden [ya, surat-menyurat via pos!]. Usaha tersebut ternyata cukup menuai hasil. Beberapa band sempat dikontrak label asing dan rilisannya dipasarkan sampai ke mancanegara. Upaya tersebut termasuk brilian dan patut dibanggakan. Setidaknya mereka turut mengharumkan nama Indonesia di peta scene underground internasional.

 

Extreme Decay adalah salah satu contoh band yang aktif dalam berbagai proyek kompilasi dan split-tape internasional. Mereka pernah bekerjasama dengan grupband Agathocles [Belgia], Demisor [S’pore], dan Parkinson [S’pore], serta berbagai label distribusi di Eropa dan Amerika. No Man’s Land juga sempat merilis split-tape dengan Karatz [M’sia] yang didistribusikan di asia tenggara. Antiphaty, Ritual Orchestra dan Perish juga pernah merasakan nasib serupa dalam proyek kompilasi internasional.

 

Jika indikasinya adalah berkarya, maka selama rentang tahun 1996 – 2000 boleh disebut sebagai masa paling produktif bagi scene underground Malang. Banyaknya karya rekaman lokal yang disertai dengan rutinitas gigs, eksistensi media serta label independen menjadi bukti nyata produktifitas mereka. Sungguh fenomena yang aneh dan membanggakan. Mengingat cukup banyak keterbatasan yang ada pada jaman itu. Namun mereka tetap bisa berjalan dengan cap ganjil dari para orang tua dan masyarakat awam. Tanpa dukungan dari pihak korporat atau industri mayor. Nyaris tanpa ekspos media, apalagi internet belum populer. Ditambah juga sarana dan referensi yang sangat minim. Namun toh anak-anak muda itu mampu bekerja secara mandiri dan aktif memanfaatkan jaringan untuk menghasilkan karya yang maksimal. Sejak era ini pula scene kota Malang mulai dianggap sebagai salah satu basis underground yang cukup aktif, penting dan disegani oleh publik nasional. And they can makes their own history…

 

[Samack]

Esai ini adalah bagian dari proyek dokumentasi scene rock MLG oleh Solidrock. Artikel berikutnya [era 2000-an] bakal mengupas invasi industri, arus tehnologi dan globalisasi, serta evolusi yang terjadi pada scene cadas kota Malang. Ketika reklame, fashion, distro, mp3, serta internet mulai menjadi panglima. Dan ucapkan selamat datang pada generasi rock milenium ketiga!…

Malang City Hardcore

Seorang tokoh hardcore lokal yang cukup veteran coba menuliskan esai ringan tentang konsepsi idiom MCHC alias Malang City Hardcore. Slogan populer yang mustinya jadi pemantik api semangat untuk selalu eksis dan berjuang. Frontman band Today Is Struggle ini siap berbagi wacana, kebanggaan dan semangat dalam upaya membangun scene lokal yang mungkin akan lebih menggairahkan!…

 

Malang City Hardcore atau yang biasa dikenal dengan MCHC adalah sebuah istilah untuk komunitas hardcore di kota Malang. Sekitar tiga tahun yang lalu istilah ini demikian populer. Malang City Hardcore sempat jadi idiom terkenal dan jadi penanda bagi daerah mana band hardcore tersebut berasal. Apakah pada tulisan ini akan saya kemukakan tentang memori tersebut?? Oh tidak, sama sekali tidak! Pada tulisan ini tidak akan saya kemukakan tentang memori tentang majunya sebuah [kalau saya boleh menyebutnya] kebesaran komunitas hardcore di kota Malang yang terjadi 2-3 tahun yang lalu. Di sini saya hanya akan kemukakan tentang rujukan kita untuk memakai istilah Malang City Hardcore. Apakah kiranya istilah itu sudah layak digunakan di kota Malang yang tercinta ini?!…

 

Istilah semacam MCHC tentu sudah pernah kita ketahui bersama kalau di Amerika sana juga ada NYHC dan Boston Hardcore. Di eropa juga ada Europe Hardcore yang terkenal dengan H8000-nya. Namun di setiap scene istilah tersebut selain sebagai penanda daerah, juga bisa jadi penanda dari jenis musik, karakter sound, serta isu lirik yang mereka usung. Jika NYHC dengan Biohazard, Beastie Boys, Madball hingga Warzone adalah karakter musik yang biasanya khas tercampuri oleh unsur dari musik daerah setempat seperti hip-hop dan reggae. Demikian pula Boston Hardcore cenderung dengan musik oldschool yang memiliki karakher vokal lebih berteriak daripada menyanyi, plus isu-isu tentang straight edge yang lebih militan. Sementara H8000 mengusung musik hardcore yang sangat metal. Bahkan ada yang dicampuri unsur blackmetal. Liriknya sendiri mengusung tema yang lebih dari sekedar straight edge. Sebab mereka juga kerap berbicara tentang animal right atau veganisme. Bahkan mengangkat isu yang sempat ramai di eropa waktu itu yakni GodFreeYouth, sebuah idiom bagi komunitas yang tidak menyakini akan adanya Tuhan!!

 

Kembali pada pembicaraan tema semula. Dari ketiga contoh di atas dapat dilihat bahwa istilah tersebut selain sebagai penanda daerah asal band atau komunitas, juga menggambarkan suatu karakter musik, sound dan tema lirik yang khas. Nah, sudahkah di kota Malang ini tercipta sebuah musik hardcore yang sedemikian khas ala Malang?! Yang setidaknya jika ada orang yang mendengarkan musiknya saja sudah bisa menyimpulkan, ”Oh, ini pasti dari Malang!”

 

Apakah idiom semacam itu bersifat sebuah kebangaan semu akan daerahnya sendiri? Seperti halnya sebuah chauvisme yang sangat membabi-buta dan merendahkan daerah lain? Akh, saya kira tidaklah demikian adanya. Jika di Indonesia idiom-idiom semacam itu mungkin lebih kepada informasi daerah asal band atau komunitas yang bersangkutan. Seperti halnya MCHC [Malang], SBHC [Surabaya], YKHC [Yogyakarta], Jakarta Hardcore, Bekasi Hardcore, Bali Hardcore, Bandung Harcdore dan daerah lainya.

 

Lalu apakah tulisan ini sebagai antitesa terhadap idiom-idiom tersebut?! Ouw, jangan salah, karena saya justru sepakat dengan idiom-idiom tersebut. Hal itu bukanlah sebuah chauvisme sempit sebagaimana yang pernah dikhawatirkan teman saya. Bukan juga sebuah kebanggaan semu. Melainkan sekedar informasi daerah dan akhirnya sebuah semangat untuk membangun komunitas atau scene yang lebih kuat. Konsep ini menurut saya memang harusnya dimulai dari daerah kita masing-masing. Untuk kemudian memulai kerjasama dan menjalin kontak dengan daerah lain – baik itu secara personal, band, hingga komunitas. Dari situlah kita bisa menjalin sebuah friendship dan brotherhood. So proud to your city, build your scene, respect other scenes, Indonesian hardcore unites!…

 

[xdayadx]

 

Esai di atas diambil dari catatan blog sang penulis, yang saat ini masih memimpin grupband Today Is Struggle dan juga editor Filler fanzine.

Setangkai Dahlia Hitam Dari Begundal


Stori menarik di antara partisipasi Burgerkill ketika membuka show The Black Dahlia Murder di Jakarta, [03/11]. Sepulang dari konser tersebut, Ebenz menyandarkan gitar kesayangannya dan mulai mengangkat pena. Tentunya bukan untuk membuat laporan penyelidikan atas kasus pembunuhan The Black Dahlia. Konseptor Burgerkill tersebut dengan bangga menceritakan pengalaman serunya selama seharian itu. Dituliskan spesial hanya untuk pembaca Apokalip.com. And we will bleed, for sure…

Alhamdulillah, akhirnya kami diberi kepercayaan untuk menjadi band pembuka konser The Black Dahlia Murder [TBDM] di Hall Basket A Senayan. Band asal Michigan yang baru saja merilis album bertajuk Nocturnal itu datang ke tanah air dalam rangkaian Nocturnal World Tour 2007. Pada event ini, Dead Squad dan Purgatory juga ikut tampil sebagai talent pembuka. Tentunya kedua nama tersebut akan menambah panasnya aura event metal akbar di hari Sabtu yang lumayan cerah ini.

 

Sekitar jam 08.30 pagi rombongan kami tiba di venue untuk melakukan soundcheck. Kebetulan lokasi venue tidak terlalu jauh dari daerah Kebayoran tempat di mana kami menginap semalam. Sambil menunggu para tehnisi menurunkan semua alat dari atas bis rombongan, saya berjalan-jalan menengok kondisi venue konser malam nanti. Saya melihat sebuah panggung ukuran lumayan besar yang dilengkapi soundsystem berkapasitas sekitar 30.000 watt, dan sebuah backdrop besar di bagian belakang panggung yang dilengkapi logo besar TBDM. Wuiihh, rasanya masih gak percaya kalau bisa sepanggung dengan band sekelas mereka. Benar-benar sebuah kesempatan besar buat saya dan teman-teman satu tim untuk unjuk taring di depan mereka. Dan tentunya kami bisa menyaksikan langsung konser TBDM tanpa harus membeli tiket yang dibandrol seharga 200 ribu, hehe.

 

Sementara menunggu Dead Squad menyelesaikan soundcheck-nya, saya mencoba menghampiri salah satu panitia untuk menanyakan jadwal soundcheck TBDM. Menurut informasi yang saya dapat ternyata semua peralatan TBDM tertinggal di San Fransisco karena adanya kesalahan pihak bandara di sana dan terpaksa jadwal soundcheck mereka mundur hingga jam tiga sore. Wah, agak sedikit kecewa sebetulnya, rencana kami melihat langsung cara kerja mereka dalam hal menggarap sound panggung terpaksa dilewatkan karena kami tidak mungkin menunggu selama itu, dan harus kembali ke tempat menginap untuk istirahat. Pas jam sepuluh Burgerkill mulai soundcheck. Memang agak lumayan mundur dari jadwal yang ditentukan yaitu jam delapan pagi. Setelah hampir dua jam dan merasa yakin sejauh ini semua peralatan, lighting dan soundsystem berjalan baik, jam dua belas kami semua turun dari panggung dan bersiap untuk pulang.

 

Ketika berjalan menuju bis, ternyata di luar kami melihat tiga orang personil TBDM sedang bercanda bertelanjang dada sambil mengepal sebuah botol bir di tangan mereka. Perawakan yang cukup besar dibungkus tato yang menghiasi sebagian badan, membuat tampilan mereka segan untuk dihampiri. Namun ternyata dugaan saya salah, sewaktu salah seorang dari kami berusaha menyapa, mereka langsung menghampiri dan mengajak kami semua berkenalan. Cool, they nice. Hal itu yang ada di benak saya ketika pertama kali berkenalan dengan mereka. Setelah meminta izin akhirnya kita bisa berfoto bersama. Di kesempatan itu juga saya memberikan sebuah poster TBDM berbingkai yang sengaja saya disain khusus untuk mereka sebagai cinderamata. Dengan antusias mereka mengucapkan terima kasih dan merasa sangat disambut oleh teman-teman di Indonesia. Tidak lama kemudian kami berpamitan pulang, dan mereka bertiga langsung dibawa oleh pihak panitia untuk melakukan interview dengan sebuah majalah lokal.

 

Sekitar jam 19.30, kami tiba di venue dan langsung membawa semua peralatan yang akan dipakai. Sial, Saya terlambat. Di atas panggung Purgatory sedang menggempur hampir 3000-an metalhead yang sudah hadir dengan musik yang powerfull dan tehnikal. Enam lagu mereka mainkan dalam durasi lebih dari 40 menit dan cukup membuat para metalhead kelelahan. Band yang dimotori dua bersaudara, Al dan Lutfi, membuka event ini dengan sebuah tontonan yang menarik. Atraksi panggung yang cukup liar mereka suguhkan mulai dari Impious yang intens hingga lagu terakhir Error. Sebuah perpaduan baik antara emosi musik Purgatory dengan performance yang cukup menghibur. Hanya saja yang saya sayangkan mereka tidak tampil dengan kostum lengkap yang sudah menjadi ciri mereka. Ditambah adanya sedikit trouble di speaker PA beberapa kali. Yeah, but they still rocks as a rule!

 

Setelah break setting 15 menit, sekitar jam 20.30 giliran Dead Squad yang mengambil alih panggung. Pasukan perang debutan ibukota yang dimotori oleh beberapa wajah lama komunitas underground Jakarta ini langsung menyerang dengan Pasukan Mati. Andyan [ex-Siksa Kubur] bermain sangat apik di belakang set drumnya. Ditemani Boni [ex-Tengkorak], Stevie, Babal, dan Prisa sebagai ratu perang juga ikut memanaskan crowd yang jumlahnya terus bertambah. Serangan mereka sempat terhenti ketika di tengah setlist terjadi masalah dengan drum trigger yang dipakai. Tampak beberapa tehnisi mereka dengan cekatan berusaha memperbaikinya. Yah, terkadang kendala teknis memang sulit dihindari di tengah konser. But the show must go on! Band yang dalam waktu dekat berencana untuk masuk studio dan merampungkan album pertamanya ini akhirnya melanjutkan setlist dan menutup konsernya dengan Bangsat Kuasa. Walaupun ada sedikit masalah teknis, namun Dead Squad tetap tampil sangar dengan kekuatan maksimalnya. Benar-benar sebuah band debutan yang layak untuk disimak!

 

Akhirnya jam tangan saya menunjukan angka 21.15, giliran saya dan teman-teman Burgerkill untuk melakukan eksekusi. Sambil menunggu MC dan para tehnisi menyiapkan semua peralatan, kami berlima melakukan pemanasan di sisi panggung dan berembuk tujuh buah lagu dari setlist yang telah disiapkan. Setelah MC memanggil kami untuk ke atas panggung, melalui speaker PA terdengar intro petikan gitar Resah Dera Jiwa diputar sebagai setlist pembuka konser kami. Tanpa basa-basi Darah Hitam Kebencian dibesut sebagai tanda kami telah siap untuk menampar telinga para audience. Respon yang luar biasa pun dipertontonkan oleh para metalhead yang semakin memenuhi Hall Basket A Senayan. Benar-benar sebuah kondisi yang sangat membakar emosi kami di atas panggung. Di tengah lagu Shadow of Sorrow, saya melihat Brian Eschbach [gitar] dan Trevor Strnad [vokal] dari TBDM berdiri di samping set-drum Andris sambil mengacungkan kepalan tangannya dan ikut bergoyang. Hehe, ternyata mereka bisa juga menikmati musik kami.

 

Baru saja setengah lagu We Will Bleed kami mainkan sebagai set list penutup, tiba-tiba seluruh amplifier dan speaker yang ada di panggung mati total! Dalam kondisi panik saya coba menanyakan sebabnya kepada pihak panitia yang berada di dekat panggung. “Wah sorry bos, genset-nya kehabisan solar!” jawabnya. Damn! Kehabisan solar?! Benar-benar sebuah jawaban yang sulit dipercaya. Seharusnya pihak penyelenggara sudah mengantisipasi hal ini sebelumnya. Sebuah kejadian yang harus tidak ada di event sebesar ini. Tapi mau bilang apa? Kami tetap punya kewajiban menyelesaikan konser ini dan terpaksa harus menunggu sampai genset-nya bisa digunakan lagi.

 

Ada kejadian lucu ketika kami semua sedang menunggu di sisi panggung, tiba-tiba Bart [gitar] dari TBDM naik ke atas panggung dan langsung memasang semua peralatan miliknya. Langsung saya menghampiri dan menerangkan kepadanya bahwa kami belum selesai konser. Tiba-tiba saja dia memeluk saya dan meminta maaf karena dikiranya setlist kami sudah selesai. Hehe, he’s a good guy. Setelah itu dia juga mendatangi satu-persatu tim kami untuk meminta maaf. Dua puluh menit kemudian semua listrik di panggung menyala, kami langsung menggeber Atur Aku dan kembali disambut oleh para metalhead yang masih bersemangat. Yah, untung setelah rehat yang cukup lama, mereka tetap bisa memanaskan gedung yang berkapasitas 4000 orang ini. Hingga lagu Sakit Jiwa sebagai akhir dari konser kami malam itu.

 

Setelah turun dari panggung, Trevor Strnad dan Bart mendatangi kami seraya berkata, “You’re already blew this fuckin’ place dude! Great show, we really enjoy it!” Wah gila, gak nyangka mereka memperhatikan konser kami. “Thanks dude, but don’t worry those guys in the pit are waiting for you to destroy this place too!” jelas saya kemudian. “No fuckin’ way. We can’t do that. Just wish me luck okay!” balasnya. Tak lama kemudian Bart kembali mendatangi saya dan berniat meminjam efek Tube Screamer, karena efek miliknya mendadak tidak berfungsi dengan baik, dan saya pun meminjamkannya.

 

Saatnya The Black Dahlia Murder naik ke atas panggung. Tak bisa disangkal hampir semua mata tertuju kepada lima orang pemuda bergaya gaek yang langsung menghajar audience dengan Elder. Shannon Lucas [drums] sebagai pendatang baru di tubuh TBDM bermain sangat presisi memotori setiap lagu yang dimainkan. Sementara John Kempainen [bass] juga bermain konstan menemani Brian Eschbach, Trevor Strnad, dan Bart di baris depan panggung.

 

Permainan apik dan akurat yang mereka suguhkan semakin menghibur diimbangi oleh emosi crowd metalhead yang terus memanas. Sound yang dihasilkan melalui speaker PA pun cukup nyaman untuk dinikmati. Di tengah Vulgar sebagai lagu ke-10 dari setlist mereka, tiba-tiba saja aliran listrik di atas panggung kembali drop dan mengakibatkan seluruh peralatan mati sejenak. Terlihat Trevor Strnad dengan geram membanting microphone yang dipegangnya. Brian Eschbach pun langsung memarahi salah satu panitia yang berjaga di atas panggung. Untunglah tak lama kemudian listrik menyala dan mereka kembali melanjutkan konsernya.

 

Setelah kejadian tersebut nasib sial masih terus menimpa TBDM, beberapa kali level suara dari speaker monitor dan speaker PA naik turun dikarenakan tegangan listrik yang tidak stabil. Tentu saja hal ini sangat mengganggu konsentrasi seluruh personil TBDM. Hingga lagu terakhir Funeral terlihat sekali ketidaknyamanan mereka. Namun di akhir konsernya mereka berlima tetap semangat dan sopan berpamitan kepada para metalhead Indonesia dari muka panggung, “We’ll be back someday. You guys fuckin’ rules. Thank you Indonesia!” Yah walaupun banyak terjadi kendala, setidaknya TBDM tetap memperlihatkan kelasnya sebagai band kelas dunia berkapasitas super. Sebagai pendengarnya saya merasa sangat puas menyaksikan konser mereka malam itu.

 

Tepat jam 23.30 event yang berjalan aman ini kelar dengan segala kejadian teknis yang perlu dikaji ulang dan diperbaiki lagi ke depannya. Mudah-mudahan kita sebagai negara yang mulai dilirik oleh para artis dan band internasional, dapat berusaha lebih maksimal untuk memfasilitasi segala kebutuhan teknis sebuah konser. Rasa kepuasan dan kenyamanan di dalam konser sudah menjadi syarat mutlak yang harus dijaga kualitasnya – baik dari sisi musisi ataupun penonton.

 

Akhirnya tepat jam dua belas malam kami berlima mendatangi dressing room TBDM. Sambutan hangat pun kami terima dari mereka yang ternyata sangat senang bisa berkenalan dan bermain bersama Burgerkill. Setelah berfoto bersama, bercanda, bertukar CD dan menenggak beberapa bir yang disediakan, kami pun berpamitan. Sebuah pengalaman yang tidak mungkin kami lupakan. Ini sebuah momen di mana kami diakui oleh mereka sebagai bagian dari pergerakan komunitas heavymetal yang solid dan tersebar di seluruh dunia. One Mission, One Vision, and One Blood. So guys, see you on the next metal concert, and keep smokin’ metal engine!…

 

[Ebenz]

Gitaris & Frontman Burgerkill

Foto dok.BKHC

Tulisan di atas merupakan kontribusi spesial dari sahabat kami, mr. Ebenz, kepada tim Apokalip & Begundal Malang. Bermula dari perbincangan telpon antara Ook dan Ebenz di tengah malam paska show TBDM, “Oke deh, ntar ceritanya aku tulis buat Apokalip…”

25 Tahun Dalam Badai Death Metal

Semua orang tahu benar bahwa saya adalah fans berat death metal, dan kenyataan itu cukup membuat saya merasa bangga. Saya ingin membicarakan perihal death metal dan banyak keajaiban sekitar hal itu yang saya saksikan. Meskipun death metal hampir tidak dikenal oleh dunia luas (kalangan mainstream), ini adalah sebuah genre besar yang memiliki area yang luas untuk dijelajahi. Bahkan masih terdapat wilayah-wilayah dalam death metal yang belum diselidiki hingga saat ini…

 

Secara musikal, death metal adalah aliran paling fleksibel di antara genre metal lainnya. Ia tidak hanya memiliki kadar brutalitas berlebih, namun juga absah dengan sifat-sifat teknikal, melodikal, dan kerumitan tertentu. Hal-hal kecil boleh masuk dan tetap menjadi death metal. Genre metal lainnya tidak bisa seperti itu. Death metal bisa diibaratkan seperti air. Bagi kalangan luar mungkin kelihatannya biasa namun death metal mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki substansi lain. Pernahkah anda menjumpai sebuah band progressive metal yang vokalnya growling terus-menerus? Pernahkan anda menyaksikan sebuah band power metal dengan brutalitas tingkat ekstrim dalam musiknya? Tidak. Saya kira tidak.

 

Karakteristik Death Metal

Sebelum saya masuk ke inti bahasan, saya ingin mengenalkan anda sedikit mengenai genre ini. Secara sederhana, death metal adalah perpaduan antara suara growling yang dalam, gitar yang disetel rendah serta penuh distorsi, bass yang berat, serta drum yang intense dan menderu. Lirik lagu adalah penarik perhatian utama departemen kreatif. Temanya bisa beragam, dari darah dan gore, setan, hingga horor dan filsafat. Struktur musiknya juga variatif, mulai yang simpel dan brutal, hingga yang intense dan teknikal. Growl vokal berbeda-beda, antara lain growl tinggi dan parau, serta growl rendah nan garang. Saking kayanya, orang bisa bilang bahwa death metal itu sekaya kerajaan binatang!

 

Sejarah Death Metal

Sekarang kita beranjak ke sejarah death metal. Genre ini sendiri memiliki latar belakang yang luas dan warna-warni. Agak sukar bagi saya untuk menjelaskan semua sisi genre hebat ini dalam satu hari. Karena itu di sini saya akan berusaha menunjukkan hal-hal utama saja, dan peristiwa-peristiwa penting yang mewakili inovasi ke depan, dan topik-topik semacam ini. Sekarang silakan anda duduk dengan nyaman karena saya akan segera membawa anda ke suatu perjalanan menyelami death metal.

 

Death Metal Gelombang Pertama (1983 – 1990)

Death metal dapat dirunut akarnya ke masa keemasan heavy metal di tahun 1980-an. Dari pengaruh hebat yang dibawa band-band thrash metal seperti Slayer dan Kreator, death metal mulai tumbuh semenjak sebagian kecil orang yang tersebar di Amerika mencomot sound thrash metal yang cepat dan agresif milik Slayer dan Kreator lalu menambahkannya dengan ramuan brutal berkadar ekstra. Tidak diketahui dengan pasti band mana yang menjadi penemu pertama death metal namun penelitian telah membawa kita kepada tiga nama kunci ; Death dari Florida (Death aslinya bernama Mantas ketika pertama kali dibentuk), Possessed yang lahir di California, dan Master yang berbasis di Illinois; ketiga band ini sama-sama terbentuk tahun 1983.

 

 

Sound yang diperkenalkan ketiga band ini adalah drum yang sangat cepat, menderu dan konsisten dengan blast-beat, riff secepat halilintar, dan vokal growl rendah serta parau yang dikombinasikan dengan teriakan tinggi yang memekakkan telinga. Isi liriknya sebagian besar membawa tema gore dan setan. Beberapa event penting terjadi di tahun 80-an. Death memulai terbentuknya scene death metal di Florida, nantinya hal ini berpengaruh terhadap berdirinya dua band inovatif lain di kota yang sama di era 80-an yakni Morbid Angel dan Obituary. Possessed membantu menanamkan tema satanisme sebagai tema lirik utama, serta berpengaruh terhadap berdirinya band-band death metal di California. Master membantu berdirinya scene death metal di North East (Illinois, New York, Pennsylvania, dsb).

 

Di samping tiga inovator tersebut (Death, Possessed, Master), ada beberapa band penting lain yang juga bermunculan di era 80-an yang kelak akan menjadi band death metal yang sangat diperhitungkan. Band-band itu antara lain Morbid Angel, Obituary, Deicide, dan Cannibal Corpse. Kita akan membicarakan band-band itu nanti.

 

Ciri musik ;

  1. Growl yang rendah dan parau serta teriakan bernada tinggi.
  2. Gitar yang disetel rendah, penuh distorsi.
  3. Bass yang gelap dan garang.
  4. Drum yang bertempo sangat cepat, blast-beat.
  5. Secara keseluruhan, sound-nya sangat dekat dengan sound genre ayahnya, yakni  Thrash Metal.

Album penting:

  1. Death “Scream Bloody Gore”
  2. Possessed “Seven Churches”
  3. Master “Master”
  4. Obituary “Slowly We Rot”
  5. Morbid Angel “Altars Of Madness”

 

Death Metal Gelombang Kedua (1990 – 1999)

Masa kedua adalah sebuah era di mana death metal benar-benar mulai populer. Banyak hal terjadi di era ini; bermunculannya band-band penting, perubahan dalam sound, dan merebaknya kontroversi di sekitar aliran ini. Pada kenyataannya banyak sekali peristiwa penting terjadi di masa ini, saya akan mencoba memecahnya berdasarkan tahun. Jangan kaget apabila saya mengganti pokok pembicaraan terlalu tiba-tiba.

 

Pada tahun 1990, Death merilis “Spiritual Healing”, sebuah album dengan tema yang agak lain dibanding tema album death metal saat itu. Di album ini mereka lebih berfokus pada isu sosial dan filosofis, tidak lagi darah dan gore seperti dua album mereka sebelumnya. Deicide merilis album debutnya, “Deicide”. Album ini benar-benar mengangkat satanisme ke tingkat yang sangat ekstrim. Satanisme yang sangat serius, bukan satanisme murahan yang pernah anda temukan dalam album-album Venom. Bisa jadi saya terlalu melebih-lebihkan saja karena saya fans Deicide. Yang jelas album ini sangat sukses di kalangan underground, karena musiknya yang catchy dan mengesankan. Di tahun yang sama Cannibal Corpse mengeluarkan album pertamanya, “Eaten Back To Life”. Album ini memperkenalkan sebuah gaya baru dalam growl yang disebut ‘The Cookie Monster’ yang dibawa oleh vokalis mereka, Chris Barnes. Dalam growl gaya ini, suara yang dikeluarkan lebih kasar dan dalam, mirip dengan vokal sebuah tokoh dalam Sesame Street, the Cookie Monster. Dan karena gaya vokal ini mengeluarkan sound yang agresif dan jahat, kata-kata yang diucapkan vokalis menjadi lebih susah ditangkap. Kelak gaya vokal ini akan menjadi penanda utama atau atribut paling mudah dikenal orang saat mereka membicarakan death metal.

 

Sekarang kita masuk ke tahun 1991. Tahun ini menjadi saksi munculnya brutal death metal, yang dimainkan oleh dua inovator utama aliran ini, Suffocation dan Immolation. Genre ini dicirikan oleh growl yang rendah dan ultra-berat, dan penekanan ekstra pada bass, gitar dengan setelan rendah, dan penggunaan bass drum yang lebih intense. Genre ini, meski kelihatannya amat simpel, namun untuk memainkannya membutuhkan ketrampilan teknis dan penguasaan musik yang tinggi. Dua album brutal death metal yang dirilis di tahun ini adalah “Effigy Of The Forgotten” dari Suffocation dan “Dawn Of Possession” milik Immolation.

 

Tahun 1992 tercatat sebagai tahun di mana death metal mulai menunjukkan kesuksesan komersil. Dimulai dengan album masterpiece dari Obituary, “The End Complete”. Album ini terjual 250.000 kopi di seluruh dunia, termasuk salah satu album death metal paling laris sepanjang masa. Ada beberapa faktor yang berperan dalam kesuksesan album ini. Pertama adalah label. Obituary dikontrak oleh Roadrunner Records, sebuah label cukup besar yang menjadi rumah bagi band-band death metal terdahulu. Roadrunner memiliki modal untuk mencetak banyak kopi dan mampu mengedarkannya ke para distributor. Kedua adalah basis penggemar yang luas. Obituary telah memiliki basis fans yang hebat saat album mereka keluar. Ketiga adalah fakta bahwa di tahun yang sama, Obituary melakukan tur bersama band death metal terkenal lain, Cannibal Corpse. Album sukses lain yang keluar tahun tersebut adalah “Legion” dari Deicide. Album ini juga dirilis oleh Roadrunner Records dan didistribusikan luas ke seluruh belahan dunia. Album paling inovatif pada tahun tersebut adalah “Soul Of A New Machine” dari Fear Factory. Rilisan ini adalah album death metal pertama yang mengenalkan vokal bersih, suatu langkah yang dianggap tabu bertahun-tahun sebelumnya. Terobosan ini akan menjadi jalan bagi banyak band death metal untuk melakukan inovasi mencengangkan dalam aliran ini kemudian.

 

Melangkah ke tahun 1993. Peristiwa paling menonjol di tahun ini adalah rilisan album “Covenant” milik Morbid Angel. Dianggap penting sebab itu adalah album death metal pertama yang dirilis oleh label besar, mencatatkan Morbid Angel sebagai band death metal pertama yang bergabung dengan label besar. Label yang mengontrak mereka adalah Giant Records. Meski tidak tampak seperti label besar namun Giant Records ditopang oleh Warner Brother Records, salah satu label rekaman terbesar di dunia.

 

Sekarang saatnya mengoper persneling. Di tahun 1994, Cannibal Corpse merilis “The Bleeding”, album rekaman terakhir mereka bersama vokalis Chris Barnes. Cryptopsy meluncurkan “None So Vile”, salah satu album death metal terbaik yang pernah dihasilkan oleh band Kanada. Di tahun 1995, Suffocation mengeluarkan “Pierced From Within”, yang dengan cepat menjadi album death metal klasik.

 

Melompat ke tahun 1998, kita akan menemukan band pionir death metal dari Florida, Death, merilis album terakhir mereka “The Sound of Perseverance”. Album ini memperlihatkan puncak pencapaian band ini. Sound mereka bergeser dari death metal menjadi lebih progressive metal. Album ini merangkum teknik perkusi rumit dari sosok terkenal Richard Christy, performa bass luar biasa Scott Clendenin, serta permainan gitar yang kompleks dan dalam oleh duo Shannon Hamm dan Chuck Schuldiner. Ini adalah album yang benar-benar memberi definisi baru genre death metal. Sama pentingnya dengan “The Sound of Perseverance”, adalah “Gore Metal”, debut album milik Exhumed. Dianggap penting karena album ini juga merekam perkembangan genre musik. Gore Metal berakar dari death metal, namun memiliki sound melodik lebih banyak dan riff yang catchy. Yang jelas, dalam album ini seringkali ada tiga vokalis yang berbeda, seperti Carcass di awal karirnya. Album ini segera menjadi inspirasi ribuan band lain untuk menirunya, dan memainkan jenis musik yang sama. Anyway, ini era yang ekspansif. Karena tak mungkin bagi saya untuk menjelaskan semua peristiwa yang terjadi di era tersebut pada halaman ini, saya akan berhenti di sini.

 

Ciri Musik:

  1. Kemunculan brutal death metal
  2. Berkembangnya progressive death metal
  3. Membiaknya Gore Metal

 

Album Penting:

  1. Death “The Sound Of Perseverance”
  2. Morbid Angel “Covenant”
  3. Deicide “Legion”
  4. Cannibal Corpse “Eaten Back To Life”
  5. Suffocation “Pierced From Within”
  6. Immolation “Dawn Of Possession”
  7. Exhumed “Gore Metal”

 

Death Metal Gelombang Ketiga (2000 – sekarang)

Ini adalah gelombang terkini dalam death metal. Di era ini kita bisa melihat bahwa death metal kembali memperoleh popularitasnya kembali di seluruh penjuru dunia. Ide-ide baru tumbuh subur dari dalam bawah tanah. Band-band baru menjejakkan langkah mereka menuju kerajaan baru. Rilisan penting pertama di era ini adalah album Morbid Angel “Gateways to Annihilation” di tahun 2000. Album ini meneruskan pengaruh progressive death metal yang dibawa Death. Album lain yang dirilis di tahun yang sama adalah “Insineratehymn”, sebuah karya yang menancapkan kembali pengaruh Deicide.

 

Tragedi menimpa masyarakat death metal pada 2001 dengan kematian Chuck Schuldiner karena kanker otak. Komunitas death metal berduka karena kehilangan salah satu sosok pionir dan pemikir terbaiknya. Melangkah ke 2002, kita menyaksikan lebih ekspansifnya penyebaran gore metal, seiring rilisan kaya inovasi “Mondo Medicale” dari Impaled. Tak dapat dilepaskan dari pengaruh hebat Carcass, Impaled membangun genre gore metal dengan melodi dan kemampuan bermusik yang prima. Death metal terus berkembang di tahun 2003, saat Exhumed meluncurkan “Anatomy Is Destiny”. Dalam album ini riff menjadi bagian wajib, skill juga makin mendapatkan fokus yang lebih besar, dan pengaruh band-band Swedish death metal makin kentara. Saat ini kita tengah hidup di era gelombang ketiga death metal dan keadaan senantiasa berubah. Kita belum tahu ke mana gelombang ini akan membawa kita, jadi kita tunggu saja.

 

Who Said Death Metal Is Dead?!

Mendekati akhir dari laporan ini, kita mesti ingat bahwa death metal terus berkembang dalam tempo yang cepat, dan terus berubah seiring waktu. Lima tahun dari sekarang barangkali informasi dalam tulisan ini akan jadi usang! Apabila anda menemukan kekeliruan dalam tulisan ini misalnya informasi yang tak lengkap atau ada peristiwa penting yang terlewatkan, itu semata-mata kelemahan saya dan mohon dimaafkan. Tapi saya tidak patut khawatir, sebab kita semua memiliki pemikiran yang berbeda-beda, dan niat saya menuliskan laporan ini bukanlah sebagai tugas namun untuk berbagi informasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui sedikit tentang genre death metal dan agar yang saya tulis ini menjadi catatan di waktu mendatang.

 

[Ethan "Insineratehymn" Mittel]

Staf think-tank di situs Metal Storm

Alih bahasa oleh Ibnu

Foto dan gambar diambil dari netz

 

Tulisan ini diterjemahkan dari situs Metal Storm. Kupasan histori death metal dalam versi singkat dan personal, tapi tetap menarik dan boleh jadi acuan. Jika ingin referensi yang lebih lengkap lagi, kami rekomendasikan anda membaca buku “Choosing Death ; The Improbable History of Death Metal & Grindcore”, karya Albert Mudrian [Feral House, 2004].

 

Sebuah Peradaban Dari Bawah Tanah Kota Malang [III]

Era ’90-an sering disebut sebagai masa terbaik dan ‘golden ages’ dalam scene rock & roll di manapun. Sekaligus merupakan dekade yang paling kejam serta membingungkan. Lahirnya berbagai [sub]genre rock hingga yang paling bungsu sekalipun. Serbuan arus tehnologi dan informasi hiburan. Invasi media, MTV dan benih internet. Serta transisi wacana dan ‘pembaptisan’ sebuah generasi baru. Berikut separuh dekade pertama dari scene rock kota Malang!…

Periode Pemotong Rumput [1990 – 1995]

Memasuki era 90-an, musik rock digeber lebih ekstrim ketika berbagai tipe musik metal seperti heavymetal, speedmetal maupun thrashmetal dipuja-puja oleh kawula muda kota Malang. Metallica, Megadeth, Kreator, Slayer, Sepultura, Testament, Anthrax, Iron Maiden, Overkill sampai Helloween sudah bagaikan ‘pahlawan’ dan ‘orang tua’ baru bagi mereka.

Denyut nadi band-band lokal masih berdetak dengan maraknya ajang parade dan festival musik lokal yang dipelopori komunitas Generasi Musisi Malang [Gemma]. Musik keras selalu jadi sajian utama, yang bahkan mampu merambah pentas-pentas umum di sekolah dan kampus. Agak berbeda dengan kondisi sekarang, di mana acara musik malah dipenuhi oleh band-band yang ‘so-called-indie’ atau band top-40.

Di awal era 90-an, ada sejumlah band lokal yang cukup ‘happening’. Dye Maker [into Kreator] atau Gusar [into old Sepultura] dikenal gagah dan sering jadi headliner di setiap pentasnya. Lalu ada Mayhem [into Kreator/Necrodeath] yang dalam aksi panggungnya kerap memanggil arwah Micky Jaguar sambil meminum darah kelinci. Darkness, yang hampir selalu mengkover lagu andalan She’s Gone [Stellheart] mencuri perhatian lewat atraksi sang gitaris yang selalu memainkan gitar pakai gigi pada sesi solonya.

Kemudian Nevermind yang doyan mengusung lagu kover dari Metallica, di mana Ravi [sekarang gitaris Extreme Decay & Berry Prima] masih main drum di band ini. Sementara Primitive Symphony sudah menjajal musik cepat dan intens ala Napalm Death dan Brutal Truth. Beberapa nama lain seperti Epitaph, Abstain, Megatrue, Resek, atau Orchestration Foolish juga cukup aktif dalam pentas dan sudah mulai menulis lagu sendiri, meskipun tidak semuanya berhasil direkam menjadi demo.

Aktifitas dan gaya hidup arek-arek penggila musik cadas juga mulai tampak di setiap akhir pekannya. Mereka kerap nongkrong di areal lapak kaset bajakan serta stand lukisan foto amatir di deretan toko buku Siswa, daerah alun-alun kota Malang. Dandanan mereka cukup khas dan mudah dikenali. Rambut gondrong, kaos hitam, jins ketat dan sepatu kets yang dipadu dengan asesoris kalung, anting atau gelang metal. Rawkz!

Di jaman scene musik lokal yang belum mengenal distro apalagi merchandise band, anak-anak muda itu sudah mulai menggemari fashion rock/metal. Kaos-kaos bergambar band pujaan menjadi kostum wajib untuk nonton konser atau sekedang nongkrong bareng. Tetapi saat itu bukanlah produk impor seperti halnya yang dipakai anak-anak sekarang. Mereka biasanya membeli produk domestik dari Bandung, Surabaya atau Jakarta. Tidak peduli kaos band bermerek C59, HR Prod, atau More Shop asalkan berdesain band favorit pasti dilahap!…

Tapi ada yang menarik ketika beberapa orang merasa kurang puas dengan kaos-kaos band yang ada di pasaran. Kaos impor mungkin terlalu mahal bagi mereka yang notabene masih pelajar, mahasiswa atau pengangguran. Pembelian via mail-order pun masih asing di telinga mereka. Sebagai alternatifnya, mereka bikin kaos sendiri cara dilukis [bukan disablon!]. Nama kakak beradik, Tanto dan Dwi, saat itu dikenal sebagai seniman muda berbakat yang sering menerima order melukis kaos band. Konsumen bisa memilih sendiri model desainnya sesuai keinginan, pasti ekslusif dan cuma dibikin satu biji. Jangan heran kalau dulu ada kaos Dismember, Disharmonic Orchestra, Pestilence, Pungent Stench, Messiah, atau Greenday dengan gambar disain yang tidak umum, bahkan janggal dan gak masuk akal!…

Saat itu rekaman album rock dan metal asing terbilang cukup banyak beredar di pasaran Indonesia. Untuk yang satu ini, kita musti berterima kasih pada perusahan distributor Indo Semar Sakti, dengan label stiker ‘trash’-nya di box kaset. Sedangkan untuk rekaman-rekaman klasik yang terbilang langka dan tidak dirilis di Indonesia kita terpaksa harus mempercayakan kepada produser kaset bajakan. Tidak seperti sekarang yang lebih mudah karena bisa order langsung atau download via internet.

Bicara soal kaset bajakan, dulu hanya dengan uang tiga ribu perak arek Malang sudah bisa membawa pulang rekaman-rekaman klasik seperti Napalm Death Scum, Kreator Pleasure To Kill, AMQA Mutant Cats From Hell, D.R.I Crossover, atau Death Scream Bloody Gore. Hampir semuanya adalah bajakan dari label VSP Malaysia, dengan kover selembar foto reproan [tanpa sleeve apalagi lirik!] serta kualitas rekaman yang tidak terlalu bagus.

Informasi aktual tentang musik cadas juga hanya bisa mereka penuhi lewat media-media tradisional [sekali lagi, belum ada internet saat itu!]. Salah satu media yang cukup terbuka dan ikut mendukung progres musik rock saat itu adalah radio Senaputra. Stasiun radio yang ber-frekuensi AM itu hampir setiap hari memutar lagu dan informasi seputar musik keras.

Pada jam-jam siaran yang bising itulah Senaputra kerap ditongkrongi oleh anak-anak muda. Mereka datang membawa kaset rekaman, me-request lagu, dan tiba-tiba memasang marga ‘Cavalera’ atau ‘Petrozza’ di belakang namanya. Cukup klasik, unik dan lucu. Nama-nama udara seperti Antok Schenker, Budi Sarzo, Ivan Petrozza, Johan Cavalera, Andri Teaz, Ujik Obituary, Adin Murmur, Tepi Sepultura, atau Momon Ventor menjadi akrab di telinga pendengar setia radio tersebut.

Di balik meja studio siaran Senaputra, sosok Ovan Tobing adalah nama paten yang mengasuh setiap program musik keras di radio itu. Beliau dikenal memiliki figur dan wibawa yang kuat di kalangan publik rock kota Malang. Pria yang akrab dipanggil Bung Ovan ini juga spesialis MC untuk beberapa konser rock penting di Jawa Timur, seperti pada serial Festival Rock Log Zhelebour, Sepultura [1992], sampai Helloween [2004].

Pamor Senaputra sebagai radio yang konsen pada musik rock memang cukup melegenda. Mungkin sama halnya dengan radio Mustang [Jkt] atau GMR [Bdg]. Sejumlah musisi mulai dari Godbless, Elpamas, Power Metal, Nicky Astria, hingga Rotor dan Tengkorak pernah menyempatkan berkunjung ke radio tersebut dalam rangka promo maupun wawancara on-air. Dan belum lama ini, Burgerkill serta Seringai masih sempat diundang talkshow di Senaputra.

“Wah, ini pertama kalinya kita diwawancarai ama radio frekuensi AM. Salut, masih ada juga ternyata,” komentar Ebenz [gitaris Burgerkill] heran ketika diundang talkshow di Senaputra, Juli 2006 lalu. “Malah radio ini yang pertama kali dapet dan muterin rekaman lengkap materi album baru Beyond Coma and Despair yang justru belum kami rilis!” Sadisnya, Senaputra juga jadi stasiun radio terakhir yang sempat mewawancarai mendiang vokalis Burgerkill, Ivan Scumbag, sebelum meninggal dunia tiga pekan kemudian. Ugh!

Hingga sekarang, program musik keras di radio yang dikenal memiliki koleksi lagu-lagu rock yang lumayan langka dan klasik ini masih terus berlanjut. Gaya siaran yang unik, ‘old school’ dan berkarakter ‘Arema’ masih dipertahankan oleh stasiun radio yang sejak awal 2007 sudah berpindah gelombang ke frekuensi FM itu. Selain Senaputra, pada saat itu juga ada beberapa radio eksperimen yang beroperasi secara gelap dan amatir, serta kerap memutar lagu-lagu cadas meski dalam jadwal siaran yang tidak teratur.

Berbagai pertunjukan musik rock tetap membahana di kota Malang. Selain festival musik yang hanya diisi band-band lokal, beberapa pertunjukan skala besar juga masih menghebohkan. Kota Malang tetap diserbu aksi musisi rock sekelas Slank, Elpamas, Dewa, Power Metal, Mel Shandy hingga rocker-rocker regional macam Andromeda, Red Spider atau Kamikaze.

Salah satu momen rock terpenting di Jawa Timur, khususnya bagi para metalhead, adalah konser Sepultura di stadion Tambaksari, Surabaya [1992]. Band asal Brasil itu datang di waktu yang tepat, saat masyarakat sedang demam thrashmetal dan Sepultura adalah favorit bagi banyak anak muda. Ribuan arek metal Malang berangkat menuju Surabaya, dan bergabung bersama puluhan ribu penonton menyaksikan event garapan Log Zhelebour Production yang juga menampilkan Mel Shandy dan Power Metal sebagai opening act tersebut.

Memasuki era pertengahan 90-an, komunitas Gemma mulai mengalami konflik internal dan tidak terlalu aktif lagi. Imbasnya, sebagian besar band angkatan awal seperti kehilangan motor penggerak semenjak Gemma non-eksis. Dye Maker dan Mayhem perlahan hilang tanpa kabar. Gusar juga bubar dan hanya menyisakan sebuah rekaman demo latihan studio [rehearsal]. Selebihnya band-band yang lain memilih untuk tidak aktif, vakum, atau membubarkan diri tanpa menghasilkan karya apapun. Sayang, setelah sekian lama menggemakan musik keras, tampaknya revolusi band-band ‘Angkatan Gemma’ musti berakhir di sini. Menyedihkan…

Kemudian lahir satu kondisi yang menarik pada peta musik cadas kota Malang. Ini mirip seperti slogan ‘destroy, erase, improve’. Seakan-akan ada reinkarnasi penting dari sisa-sisa generasi sebelumnya. Beberapa musisi berusia muda nekat ‘menghancurkan’ euforia masa lalu. Mereka mengumpulkan kekuatan kembali dan hadir dalam wacana serta selera yang lebih anyar. Anak-anak muda itu punya satu visi yang lalu dituangkan dalam gerakan bermusik, bikin band baru, serta merancang konsep musik yang lebih aktual.

Seperti personil Orchestration Foolish yang bikin band baru dengan musik yang lebih brutal lagi dengan nama Rotten Corpse. Primitive Symphony memilih ber-transformasi menjadi Bangkai serta memantapkan diri di jalur grindcore yang ngebut ala Napalm Death atau Brutal Truth. Lalu Abstain yang membubarkan diri dan merancang band deathmetal, Malignant Covenant, yang kemudian bernama Sekarat. Sejumlah band baru juga lahir, seperti misalnya Genital Giblets [eks Brutality], UGD, Kurusetra, Clinic Death, Syaitan, dan masih banyak lagi.

Informasi musik makin berkembang dan variatif melalui invasi media radio, majalah Hai, atau MTV. Arek-arek Malang juga mulai mengenal variasi [sub]genre yang lain. Hal ini dibuktikan lewat eksistensi band-band baru seperti Grindpeace [industrial-metal], Ritual Orchestra [blackmetal], No Man’s Land [punk], Ingus [punk/HC], Santhet [blackmetal], Obnoxious [punk], dan masih banyak lagi.

Anak-anak muda inilah yang kemudian banyak mengisi halaman musik cadas lokal sejak sekitar tahun 1994. Mereka notabene masih berstatus pelajar atau mahasiswa tingkat awal dan justru lebih aktif serta dominan dalam aktifitas scene musik lokal. Tak heran kalau pertunjukan musik [parade/festival] saat itu lebih banyak digelar di wilayah kampus atau sekolah. Parade musik Fisheries di Unibraw dan Independent di kampus ITN adalah serial music-fest yang cukup populer, serta selalu menampilkan aksi band-band beraliran cadas.

Separuh dekade pertama ’90-an menjadi masa transisi bagi para pelaku aktifitas scene musik di Malang. Sekilas tampak seperti kembali ke titik nol dan menjadi sebuah pengulangan sejarah. Sejak satu generasi sudah melupakan mimpinya menjadi rockstar dan musti kembali pada kehidupan nyata seperti bekerja atau berkeluarga. Hingga akhirnya satu tunas baru lahir dan nekat menciptakan ‘dunianya’ sendiri. Mereka adalah anak-anak muda yang dulu hanyalah segerombolan penonton yang duduk diam di tribun. Mereka mulai berani tampil di front depan membawa wacana dan pola pikir bermusik yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ya, generasi telah berganti dan komando telah diambil alih…

[Samack]

Esai ini adalah bagian dari proyek dokumentasi scene rock MLG oleh Solidrock. Artikel berikutnya [1995-2000] merupakan intro pertama dari scene, underground, metal, punk, hardcore, do-it-yourself, gigs, squat, serta segala kata kunci yang sangat kamu gilai saat ini. Dan rasanya sebagian orang akan mulai terharu serta menitikkan air mata…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.