Rebel Meets Rebel

Vokalis grup band Forgotten, Addy Gembel, membagi cawan cerita tentang proses selebrasi karya bukunya yang berjudul “Tiga Angka Enam”. Termasuk juga kegiatannya membantu penerbit Minor Books dan sindikat musik Sonic Torment, sejak dari masa persiapan sampai pada malam launching dan bedah buku di Common Room Bandung, 25 April 2009 lalu – yang kemudian dia akui sebagai ‘Malam ter-Anjing dengan Nuansa Kutukan Tiga Angka Enam’. Hell Fukken Yeah…

 

Hari itu tubuh saya nyaris rubuh. Empat hari terakhir berkejaran dengan agenda yang padat dan serba mepet.,dipusingkan oleh rencana launching dan bedah buku Tiga Angka Enam. Setahun yang lalu, Kimung mengutarakan rencana reuni band Sonic Torment. Berhubung Dinan [vokalis] sekarang hidup dan tinggal di Bali, maka Kimung ngajakin saya untuk menjadi vokalisnya Sonic Torment. Dengan senang hati saya menyanggupi, karena Sonic Torment adalah band idola saya, dan rencana setahun yang lalu itu akan diwujudkan dalam bentuk penampilan perdana di acara launching dan bedah buku Tiga Angka Enam.
Berhubung Minor Books adalah tipe single-fighter dan tidak punya tim, maka saya juga memutuskan untuk menjadi tim kerja serabutan Minor Books. Kondisi keuangan saya yang morat-marit karena deposit tabungan habis ludes tandas tak bersisa, maka saya hanya mengandalkan semangat dan keajaiban saja. Beruntung Kimung punya motor, hingga selama tiga hari pra launching kami berdua selalu mesra berboncengan kesana-kemari menyelesaikan setiap agenda. Dari mulai latihan bareng Sonic Torment, hingga mengejar waktu memenuhi berbagai undangan jadi pembicara.
Saya masih bisa merasakan semangat yang sama ketika untuk pertama kalinya Sonic Torment berkumpul kembali memulai sesi latihan. Andris yang kesulitan menyesuaikan tempo lagu yang kagok, Kimung yang mendadak menjadi serak karena sudah lama tidak teriak-teriak, Opick Dead yang kesulitan menghapal chord-chord lagu, dan Ayi yang selalu nampak nervous. Binar muka itu masih sama seperti binar semangat tiga belas tahun yang lalu, sampai akhirnya  lagu demi lagu berhasil kami selesaikan dalam sesi latihan di studio.
Beberapa jam sebelum acara dimulai, saya dan Kimung masih sibuk beredar kesana-kemari. Kimung sibuk ngurusin sound, sementara saya bersama Viki sibuk beredar belanja membeli segala macam kebutuhan logistik untuk keperluan performing art Koloni Hitam. Waktu terus bergerak cepat melesat menyayat hari. Orang-orang mulai berdatangan dan berkumpul di halaman Common Room. Dengan kesadaran tinggi mereka mulai membagikan jatah anggur secara kolektif. Gelas-gelas plastik mengalami siklus isi-kosong secara berulang dan simultan.
Penampilan pertama dihajar oleh siksa audio distorsi dari Black Friday Orchestra. Band ini ditunggangi oleh Gustaf pada gitar dan peramu komposisi suara bising, Kimung pada tambur dan Regi mengisi vokal puisi amarah tiada henti. Musik latar berdesibel tinggi serta petikan gitar frekuensi low merayapi ruang. Hantaman tambur menggulung mendebarkan bertalu-talu. Penuh cela Regi mulai berceloteh membaca setiap larik dan baris cerpen Tiga Angka Enam. Katarsis yang selama ini diidamkan hari itu muncul dan memeluk mereka dengan penuh haru dan rindu. Naik ke atas meja dan membuka celana adalah sebuah semiotika pada kejujuran makna realitas. Ada banyak marah dan kecewa dari setiap nada yang terhantar untuk senja yang gemerlap dan memabukan.

 

Setelah itu disambung oleh sesi tanya jawab. Pertanyaan dan jawaban terlontar penuh dinamika. Forum sore yang mencerdaskan. Walaupun sisa kekagetan masih nampak di beberapa raut teman yang datang setelah sebelumnya melihat aksi moderator membuka celana dan berteriak-teriak di atas meja. Gelas-gelas plastik masih beredar konstan menawarkan suntikan adrenalin berlebih.

 

Hingga tiba saatnya pada penampilan performing art Koloni Hitam. Sebuah layar plastik bening dianugerahi sepasang sayap yang berbeda oleh tuhan agung Jek melalui semprotan cat ber-aerosol tinggi. Sayap malaikat maut dan sayap kupu-kupu. Tubuh molek berdiri pasrah kaku dan dengan ganas digagahi oleh tuhan agung Jek melalui sapuan cat semprot dan belitan tissue toilet. Di garis depan, tuhan Akay merekonstruksi tubuhnya menjadi mahluk berkepala lakban. Tanpa dialog dia lontarkan bahasa verbal melalui suara gesekan lakban plastik yang menutupi kepalanya. Ketika lakban itu ditarik kasar berderit memekak memecah alam bawah sadar. Paku dua belas senti menancap dalam, memenuhi rongga antara batok kepala dan tomat menjelang busuk.

 

Anggur merah kelas jalanan ditempel erat di sekujur tubuh yang kini tertutup rapat oleh balutan tissue toilet. Sayap telah terpasang sempurna. Selang-selang bening membelit menjadi arteri utama yang mengalirkan setiap nutrisi memabukan membentuk simbol angka 666. Tuhan Akay masih mencoba mendekonstruksi tubuhnya. Kali ini dia menciptakan neraka melalui semburan-semburan api. Di titik tengah sebuah simbol pentagram menguapkan aroma spiritus yang menyengat tajam.

 

Dua pembaca naskah saling berbalas menyerang dengan intonasi mereka masing-masing. Alunan komposisi Toleat dan Karinding persembahan dari Karinding Attack bergerak melambat menarik kesadaran menuju alam bawah sadar. Hingga akhirnya simbol pentagram terbakar dan anggur dalam selang-selang arteri berisi nutrisi memabukan bergerak liar. Warna merah, ungu dan biru melaju merayapi selang arteri, membelit sempurna tubuh yang terpasung membeku. Malam itu tiga angka enam telah menemukan maknanya melalui persepsi terhadap gerak dan bahasa tubuh.

 

Tiba saatnya Sonic Torment menghabiskan hidangan waktu yang tersisa. Dibuka oleh lagu Black dengan nuansa kontemplatif. Kali ini semua orang dipaksa berdiri menyingkir ketika lagu Status Tai Anjing meluncur kasar dari mulut saya. Serupa muntahan darah dan nanah berbau busuk mengotori jiwa-jiwa yang sok suci. Menyusul Whole System Fuck dan Golok Berbicara menebarkan teror audio. Tidak perlu panjang lebar saya jelaskan seperti apa konsernya Sonic Torment. Bayangkan saja kalian sedang mabuk anggur murahan di sudut terminal lalu tiba-tiba kepala kalian dibacok golok tumpul!…

 

Acara berakhir dengan sempurna namun suasana pesta baru saja dimulai. Terima kasih untuk mereka yang sudah rela datang dan membantu banyak hal. Karena hidup adalah udunan maka yang terjadi adalah suplai miras tiada henti. Pasukan anjing edan setan babi Ujungberung Rebels mengutuk malam itu dengan sempurna. Kawan-kawan yang pantang berkhianat dan selalu menjadi ancaman bagi siapapun. Terbahak bercanda saling menyerang secara verbal. Saling memaki dan melantunkan ayat-ayat serapah cacian pada setiap orang yang tidak dikenal di depan mukanya.
Menjelang malam datang tuhan Iyo Pure Saturday. Sebelumnya Iyo telah dinobatkan sebagai ‘Ketua Vokalis Anjing’ oleh Butche The Cruel. Bersama kawan yang lain malam itu kami sepakat untuk berubah wujud menjadi serigala yang menebar kutukan di segala penjuru kota. Hingga akhirnya tegukan tequila menjadi simbol pembaptisan bagi saya sebagai anggota dari ‘vokalis anjing’. Jabatan saya saat ini adalah Menpora [menteri pemuda porak poranda]. Iyo dinobatkan sebagai ketua seumur hidup, dan Butche the Cruel sebagai wakil ketua. Sedangkan yang memegang jabatan sekretaris adalah Viki Mono.
Setelah puluhan botol bir kami perah, Andris tergolek mabuk dan kepala saya terasa bersayap dan Butche yang terus meracau merangkai serapah menggunakan bahasa Mexico. Yang berhasil saya tangkap hanyalah kata-kata “fuck, motherfucker, shit, dumb ass, pussies, stoopid motherfuckers, dickhead,…” Selebihnya saya merasa seperti sedang menonton film gangster chicanos.
Akhirnya kami putuskan harus mengakhiri petualangan malam itu. Hentakan irama stoner dengan volume kencang memenuhi kabin mobil Viki ketika pagi itu kami sepakat untuk menekan pedal gas hingga mentok di atas jembatan layang Pasupati, dikejar sunrise yang penuh amarah. Band Rebel Meets Rebel menghantarkan irama southern yang kental menyublim atmosfir semangat redneck. Kami semua merasa jadi koboi yang rindu akan perapian, daging panggang dan whisky pekat. Menemani malam beku oleh hantaran simponi lolong serigala. Kami semua melolong merayakan penutupan malam yang biadab. Sebuah quotes sempurna diteriakkan oleh Butche The Cruel pada semua orang yang melintas, “Fuck you all, you stooped motherfuckers!!!”,

 

Lalu dia meludah dan tertawa. Hell yeah…

 

[Addy Gembel]

Addy Gembel adalah penulis buku ‘Tiga Angka Enam’ dan vokalis Forgotten. Tulisan ini bersumber dari blog pribadi beliau ; www.addygembel.multiply.com.

Buku “Tiga Angka Enam” sudah beredar di bawah label penerbit Minor Books, Bandung.

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: