Kill Or Be Killed!

“So, are you guys ready for Burgerkill Western Australia Tour next year?!” Masih melekat di ingatan saya saat pertama kali mendengar pertanyaan ini dilontarkan kepada kami melalui loud speaker telpon genggam saya di awal November 2008 lalu. Kebetulan sore itu selepas latihan kami semua berkumpul di studio Burgerkill dan mendengarkan seluruh percakapan saya dengan teman kami Jason dari Xenophobic Distributions mengenai rencana untuk menggelar Burgerkill “The Invasion of Noise” Western Australia Tour 2009. Serentak kami berteriak kesenangan sambil berjoget ria mendengarnya…

Ini benar-benar seperti mimpi bisa terbang ke benua lain bersama teman-teman satu band dan bermain musik sekeras-kerasnya di negara orang, haha. Yah, syukurlah sedikit demi sedikit doa-doa kami mulai dikabulkan. Mimpi-mimpi kami di Burgerkill untuk bisa bertempur di medan perang dunia metal internasional dan juga bisa membawa nama tanah air tercinta tempat di mana Burgerkill lahir, merangkak, berdiri, dan berjalan bersama selama 14 tahun ini mulai terwujud.

 

Namun tentunya tawaran tour di Australia ini tidak datang begitu saja. Pada awal Agustus 2008 lalu album ketiga kami, Beyond Coma and Despair, telah resmi dirilis dan beredar di seluruh Australia atas kerjasama Revolt! Records dengan Xenophobic Distributions, yang dikelola oleh Jason Hutagalung, seorang metalhead Indonesia yang sehari-harinya berprofesi sebagai tattoo artist dan dibantu oleh istrinya Lauren Wilson. Semenjak itu respon dan antusiasme komunitas metal Australia akan Burgerkill mulai terasa. Lagu-lagu kami mulai menjadi high-rating di beberapa stasiun radio metal di sana, serta berhasil masuk chart bersama band-band metal internasional lainnya. Video klip single pertama kami, Shadow Of Sorrow, juga mulai sering diputar di RAGE TV, sebuah channel TV musik rock yang disiarkan secara nasional.

 

Selain itu, banyaknya email bernada positif dari para metalhead di sana juga jadi pertimbangan pihak Xenophobic Distribution untuk membawa Burgerkill ke Australia. Jujur saja sampai hari ini terkadang saya masih tidak percaya dengan apa yang sudah kami lewati. Banyak sekali cerita dan pelajaran berharga yang saya rasa tidak ada salahnya untuk berbagi dan diceritakan kepada semua teman-teman di Indonesia.

 

So, here’s the story… Waktu tiga bulan bukanlah waktu yang ideal bagi kami untuk mempersiapkan sebuah perjalanan tour bertaraf internasional pertama di sepanjang karir bermusik Burgerkill. Tapi mau tidak mau hanya itu sisa waktu yang tersedia dan memaksa kami untuk bergerak cepat. Ada setumpuk persyaratan administrasi yang harus kami penuhi, dan tentunya sejumlah dana transportasi yang tidak sedikit juga harus kami cari dalam jangka waktu yang pendek. Mujurnya dukungan yang kami terima dari teman-teman di komunitas kreatif Bandung sangatlah besar. Melalui ide-ide dan kerja keras mereka akhirnya pihak pemerintah dapat turut memberi dukungan dan membantu dalam menyelesaikan sebagian permasalahan tadi. Tapi tidak hanya itu, kami masih dihadapi oleh satu masalah krusial yang sangat menentukan. Jadwal keberangkatan semakin mendekat dan kami masih tidak tahu kepastian keluar atau tidaknya visa kerja kami dari pemerintah Australia. Karena sudah pasti tanpa visa tidak mungkin bagi kami untuk melakukan rangkaian show di sana.

 

Di sela-sela waktu persiapan, kami berencana untuk menggelar sebuah show kecil demi menghibur teman-teman Begundal Bandung yang sudah cukup lama tidak menyaksikan Burgerkill bermain di kota kelahirannya. Tentunya tanpa dukungan mereka, kami tidak akan bisa melangkah sampai sejauh ini. Namun sangat disayangkan acara ini tidak dapat terlaksana atas pertimbangan keamanan. Sedih rasanya harus terpenjara di rumah sendiri, tempat di mana seharusnya kami bisa lebih bebas dan nyaman dalam berkarya juga berekspresi. Tapi sudahlah, mudah-mudahan saja mereka benar-benar paham dengan apa yang mereka putuskan, toh mungkin memang belum saatnya kami main di sini.

 

Akhirnya pada tanggal 13 Februari 2009, tanpa mengantungi visa kerja, tim kami yang terdiri dari delapan orang terbang ke pulau dewata Bali sebagai arena pemanasan sebelum kami bertolak ke Perth, 18 Februari 2009. Kurun waktu satu minggu kami isi dengan kegiatan show di beberapa tempat di Bali – di antaranya Hard Rock Cafe, Peanuts Bar dan sebuah secret gig di Twice Bar milik Jerink [Superman Is Dead]. Sambutan para Begundal Bali pun luar biasa. Mereka selalu memenuhi setiap venue tempat kami bermain. Dukungan yang terus menerus mereka berikan sangat memanjakan kami selama di sini.

 

Namun perasaan cemas dan ketakutan akan visa terus menghantui kami selama di Bali. Benar-benar tidak bisa dibayangkan apa jadinya kalau saja visa kami tidak keluar dan harus kembali ke Bandung dengan rasa kecewa. Hingga tepat satu hari sebelum jadwal keberangkatan, visa kerja yang ditunggu-tunggu akhirnya resmi dikeluarkan oleh pihak imigrasi Australia yang bermarkas di Sydney melalui email. Sinting! Benar-benar last minutes!…

 

Keesokannya, sekitar jam sembilan pagi kami sudah tiba di bandara Ngurah Rai Bali untuk melakukan check-in lebih awal mengingat banyaknya jumlah barang dan equipment yang kami bawa. Pesawat kami pun take-off dengan sempurna pada pukul 10.30. Suasana dalam pesawat sangat menyenangkan. Semua terlihat bersemangat. Selama perjalanan kami terus membahas hal-hal yang berhubungan dengan perjalanan di sana nanti. Setelah menempuh waktu empat jam di udara, akhirnya pesawat kami mendarat di Perth International Airport, WA sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Tim Xenophobic pun sudah menunggu dan menjemput kami. Cuaca Perth sore itu sangat cerah dan bersahabat. Segarnya udara bersih yang kami hirup seperti memberi isyarat ‘selamat datang’ di negara yang indah ini. Terlihat sekali senyum-senyum bahagia menghiasi wajah kami. “Gelo! Nepi oge geuning budak Ujung Berung ka Australia, haha!…”

 

Setelah memastikan semua barang bawaan masuk ke dalam mobil, kami pun bergegas menuju daerah Fremantle, kota kecil dekat Perth di mana rumah Jason dan Lauren menjadi ‘basecamp’ kami selama tiga minggu ke depan. Sesampainya di sana, kami langsung dijamu oleh makanan-makanan khas Australia yang jelas berbeda dengan apa yang kami makan sehari-hari di Indonesia. Maaf, saya pribadi punya sedikit masalah dengan jenis-jenis makanan tertentu, jadi dengan menyesal saya tidak dapat menikmati sebagian hidangan yang disuguhkan.

 

Selepas makan kami semua berkumpul di teras belakang rumah dan mulai membicarakan jadwal kegiatan kami selama di sini. Malam itu kami diberi kabar bahwa tiga show awal dari tujuh show yang dijadwalkan terpaksa dibatalkan karena kesalahan koordinasi dengan pihak Western Front sebagai organiser lokal. Walau sedikit kecewa tapi bukan masalah buat kami. Toh masih ada empat show yang tersisa, yang artinya masih ada empat panggung untuk bersenang-senang.

 

Otomatis jadwal awal pekan kami hanya diisi dengan kegiatan promo di beberapa media cetak dan radio – di antaranya Xpress Magazine, Drum Media, Critical Mass FM dan Anger Management FM. Dua nama terakhir adalah radio metal ternama yang memiliki ribuan pendengar di seluruh Australia, dan di sana juga lagu-lagu Burgerkill sering mengudara. Selain menjalani promo, kami juga diajak berkeliling untuk melihat isi kota Perth yang sangat indah. Kami sempat mendatangi beberapa toko musik sekedar mengecek keberadaan CD Burgerkill di sana. Terharu rasanya bisa menyaksikan album kami satu rak bersama rilisan album metal dari seluruh dunia.

 

Setiap malam, biasanya kami isi dengan mengunjungi beberapa bar tempat para metalhead berkumpul. Di sinilah kami mulai berinteraksi dengan komunitas musik ekstrem kota Perth yang terkenal sangat solid dan terbesar di Australia. Banyak hal yang cukup mengejutkan selama berinteraksi dengan mereka. Selain musik kami yang sudah mereka kenal ternyata kami banyak sekali bertemu dengan metalhead yang bertatokan logo Burgerkill di tubuhnya. Hehe, gak nyangka ternyata kami sudah memiliki banyak die-hard fans di sini. Oh ya, sesekali kami menyempatkan untuk merekam berbagai kegiatan yang kami lakukan di Aussie. Rencananya sepulang tour kami akan kembali melanjutkan proyek DVD dokumenter perjalanan karir Burgerkill yang sudah lama tertunda.

 

Dua hari menjelang show pertama, kami menyempatkan latihan di Soundworks studio. Selain bergerak di bisnis rental studio, Soundworks juga merupakan salah satu promotor metal ternama yang sering mendatangkan berbagai band metal dari seluruh penjuru dunia. Beberapa di antaranya seperti Deicide, Meshuggah, Down, Morbid Angel, Carcass dan lain sebagainya. Kami sempat tercengang dengan harga sewa studio di sana. Untuk latihan satu jam kami harus membayar $55 AUD atau sekitar 400 ribu dalam rupiah, sedangkan aturannya minimal kami harus menyewa studio paling sedikit satu shift atau empat jam. Setidaknya uang 1,4 juta yang harus keluar dari saku kami. Gila!

 

Dengan harga semahal itu fasilitas yang disediakan oleh Soundworks hanyalah sebuah ruangan kosong, air conditioner, dua buah speaker dan satu mixer kecil. Sisanya band diharuskan untuk membawa equipment mereka sendiri. Bayangkan betapa sulit dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan hanya sekedar untuk bermain band. Untung teman-teman metalhead di sini sangat membantu kami dengan meminjamkan sisa alat yang dibutuhkan dengan gratis. Bahkan Andris sempat dibelikan sebuah double pedal baru oleh salah satu teman kami – yang kemudian diangkat menjadi teknisi drum Andris selama tour berlangsung.

 

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, serangan pertama kami di ranah metal Australia dimulai dari Black Betty’s Bar, Northbridge, pada tanggal 26 Februari 2009. Tempat ini merupakan salah satu bar yang legendaris di mana banyak sekali band metal dunia yang pada awal karirnya bermain di tempat ini, seperti Deicide, Kreator, Dying Fetus dan Cannibal Corpse. Dengan kapasitas 300 orang dan dilengkapi dengan sound system yang sangat baik, Black Betty’s menjadi salah satu tempat hang-out favorit bagi para metalhead lokal. Pada rangkaian tour ini, Burgerkill ditemani oleh beberapa band asal Perth, di antaranya Neverborn, Gallow For Grace, Sin Of The Father dan Dyschord yang baru saja pulang dari tour nasionalnya bersama White Chappel [USA].

 

Ketika soundcheck ada sebuah pemandangan yang cukup aneh bagi kami. Seluruh band pengisi acara malam itu membawa semua equipment mereka masing-masing, tidak terkecuali drumkit! Sebuah persiapan yang patut diacungi jempol. Kalau di Indonesia kebanyakan kita selalu dimanjakan dengan budaya main band cukup bawa badan, atau hanya perlu membawa gitar dan bass saja. Tapi tidak untuk di sini, semua band diwajibkan membawa seluruh backline karena pihak venue hanya menyediakan panggung beserta sound system-nya saja.

 

Show dimulai sekitar jam sembilan malam, dibuka oleh penampilan Human Extinction Project dan dilanjutkan dengan Neverborn. Ada sekitar 200 orang yang hadir di malam itui. Sambil menikmati aksi panggung Dyschord yang cukup apik dan enerjik, kami semua bersiap-siap lalu berdo’a bersama sebelum manggung. Tepat jam 23.30, kami membuka malam itu dengan Darah Hitam Kebencian yang disambut meriah oleh para metalhead yang memenuhi moshpit. Memang menurut cerita kami dengar, lagu itu sudah sangat akrab di telinga mereka. Tanpa peduli bahasa yang berbeda, mereka terus ber-headbanging dan mengikuti setiap beat yang kami mainkan di sepanjang lagu. Di tengah set kami sempat mengajak Big Mac dari Neverborn untuk ikut menyanyikan lagu cover version dari Pantera, Mouth For War. Moshpit pun semakin liar dan benar-benar membakar emosi kami berlima di atas panggung. Total dua belas lagu yang kami geber malam itu berjalan dengan mulus. Show pertama Burgerkill berjalan sukses!..

Rupanya penampilan kami malam itu ternyata membawa imbas yang sangat positif. Berbagai respon dari komunitas metal kota Perth mulai berdatangan. Show-show Burgerkill berikutnya selalu dipenuhi oleh para metalhead yang ingin melihat aksi panggung kami. Rasa respek dan dukungan yang mereka berikan menjadi bentuk telah terjalinnya persahabatan di antara komunitas metal Australia dengan komunitas metal Indonesia. Nyaman sekali bisa berada di tengah-tengah mereka, semoga saja bisa menjadi awal yang baik bagi keduanya…

 

Puncak dari perjalanan kami pada The Invasion Of Noise Tour ini adalah Soundwave Festival, 2 Maret 2009 –  sebuah festival rock terbesar di lima kota Australia dengan aksi 60 band cadas dari seluruh dunia yang bermain di enam stage terpisah dan selalu sukses meraup sekitar 50.000 penonton. Tahun ini, Burgerkill adalah satu-satunya band dari benua Asia yang berkesempatan tampil di event akbar tersebut. Didukung dengan sound system berkekuatan 50.000 watt, kami akan bermain di stage 4 bersama sederet band metal papan atas seperti In Flames, Lamb of God, Devil Driver, Unearth, All That Remains, Everytime I Die dan Lacuna Coil. Tidak pernah terbayangkan oleh kami sebelumnya bisa ikut merasakan aura dan suasana sebuah festival rock raksasa, serta bermain di satu panggung bersama mereka semua…

 

Di hari itu, sekitar jam tujuh pagi kami beserta tim Xenophobic berangkat dari rumah menuju Steel Blue Ouval Perth, tempat di mana Soundwave Festival diselenggarakan. Kami berangkat lebih awal untuk memastikan segala sesuatunya sesuai rencana dan jadwal yang telah disusun pihak penyelenggara. Ada satu hal yang saya suka dengan festival ini. Dari rundown acara yang kami lihat, tidak ada satu pun band yang diberikan waktu soundcheck. Tidak ada si anak emas atau siapapun yang menjadi prioritas utama, semua mendapat hak yang sama tanpa peduli sehebat apa dan sebesar apa mereka. Semua pengisi acara juga sangat taat pada aturan, dan tidak ada tawar-menawar untuk mendapatkan secuil fasilitas lebih. Setiap band benar-benar diuji kesiapannya secara kerjasama tim, mental, teknis, dan performa di atas panggung. This is the real war, this is the real battlefield!…

Akhirnya tepat jam 12.00 kami mulai menghajar 4000 penonton yang sudah hadir siang itu. Sesekali saya menengok ke arah sang Merah Putih yang sengaja dipasang di atas panggung sebagai identitas dari mana kami berasal. Bangga sekali rasanya bisa menjadi duta musik metal Indonesia di event ini. Crowd yang memadati arena juga tampak sangat menikmati suguhan dari kami. Mulai dari Darah Hitam Kebencian, Shadow of Sorrow, Unblessing Life, dan Under The Scars selalu mendapat sambutan baik. Hingga lagu Angkuh sebagai penutup set, ribuan horns sign di udara dari para metalhead Australia juga ikut menutup penampilan kami hari itu. Sebuah pengalaman dan pemandangan yang sangat luar biasa di sepanjang perjalanan karir bermusik Burgerkill. Bahagia rasanya kerja keras dan perjuangan kami selama ini dapat diterima dengan baik oleh khalayak metal di sini. Ditambah dengan datangnya sebuah tawaran baru untuk mengikuti seluruh rangkaian tour Soundwave Festival 2010 di lima kota besar Australia, tahun depan.

 

Tanggal 5 Maret 2009, sekitar pukul 16.30 kami terbang kembali menuju Indonesia. Kami pun bersyukur telah menjalani seluruh rangkaian Western Australia Tour 2009 tanpa hambatan yang berarti. Sebuah pencapaian karir yang sangat memacu untuk terus melanjutkan cita-cita dan mimpi-mimpi kami berikutnya. Andai saja almarhum Ivan Scumbag bisa berada di sini dan ikut menjalani semua suka dan duka bersama – seperti yang selalu kami cita-citakan ketika beliau masih ada. Tapi kami yakin dari atas sana Ivan bisa merasakan apa yang kami rasakan dan akan terus memberikan spirit terbaiknya di setiap langkah yang akan kami tempuh.

 

Selepas tour ini kami semua semakin sadar pentingnya sebuah harmonisasi, kerjasama dan kesamaan visi dalam berjuang demi mencapai sebuah tujuan bersama. Dengan harapan suatu saat nanti komunitas musik bawah tanah di Indonesia dapat diakui kualitas dan keberadaannya di taraf internasional. Serta mampu memberi perubahan yang signifikan terhadap kondisi industri musik Indonesia yang semakin menyedihkan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua teman dan musisi bawah tanah di seluruh penjuru Indonesia untuk lebih berani menunjukan taringnya di jagad metal dunia. Selamat berjuang!

 

This war we’ve achieved has allowed us to win. Keep smokin’ metal engine, cheers!…

 

[True Megabenz]

 

Dedicated to Indonesian Metal Scene and our beloved brothers; Ivan “Scumbag” Firmansyah and Robin “Noxa“ Hutagaol. Rest in peace bro, we always love you!…

True Megabenz adalah frontman dan gitaris Burgerkill.

Tulisan ini juga dimuat dalam majalah Rolling Stone edisi Mei 2009 [edited version].

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: