Dari Kota Kembang Menuju Kota Bunga

Ini adalah kepergian saya untuk kesekian kalinya ke kota Malang. Masih ingat betul pada tahun 1996 untuk pertama kalinya saya datang ke kota Malang. Pada waktu itu saya bersama Forgotten dan Burgerkill pergi ke Malang untuk urusan manggung. Kali ini saya datang bersama rombongan band Ujungberung yang terdiri dari Bleeding Corpse, Jasad dan Disinfected. Tujuannya manggung di acara ulang tahun sebuah distro kolektif kepunyaan kawan saya di Malang…

 

Sebelumnya, saya pergi ke Malang selalu menggunakan jalur kereta api ekonomi Bandung-Surabaya yang tarifnya masih 15 ribu perak, lalu disambung dengan bis jurusan ke Malang. Sekarang kami berangkat menuju Kediri dengan harga tiket 35 ribu lalu disambung dengan bis ke Malang dengan ongkos 13 ribu. Perjalanan kereta ekonomi dimulai dari stasiun Kiaracondong Bandung pada jam 8 malam. Jumlah rombongan yang berangkat ada 20 orang lengkap dengan pemain band, crew dan pedagang merchandise.

 

Kondisi kereta ekonomi ternyata sama saja. Kusam, kumuh, reyot dengan kondisi WC yang audubillahimindalik. Malam itu kami pergi meninggalkan Bandung menuju Kediri. Sepanjang jalan gerbong yang kami tempati begitu riuh oleh obrolan dari yang mulai serius curhat sampe bercanda dengan gaya yang keterlaluan. Menjelang tengah malam seksi konsumsi mulai bertugas menjadi bartender. Gelas-gelas plastik berputar berpindah ke setiap bangku. Sajian penghilang penat dan anti masuk angin. Begitulah rayuan mereka untuk sekedar meyakinkan bahwa apa yang kami konsumsi mempunyai manfaat untuk perjalanan panjang ini. Entah berapa botol yang sudah dihabiskan karena setiap kali saya minta makanan justru malah minuman lagi yang diberikan. Paduan wiski dan coke atau kadang rasanya gahar mirip arak cap Orang Tua.

 

Beruntung kami menggunakan kereta ekonomi malam jadi jumlah penumpang yang berdesakan tidak separah kereta ekonomi siang hari. Kali ini relatif ‘nyaman’. Parameternya adalah kami bisa duduk dan sempat beberapa kali tertidur. Entah karena pengaruh minuman yang kami konsumsi atau memang suasana gerbong benar-benar nyaman saya lupa-lupa ingat. Tapi yang terakhir saya ingat suasanya mirip dengan kereta api yang dibajak bandit perampok lalu mereka berpesta menghamburkan hasil rampokan mereka.

 

Sesuai namanya kereta ekonomi, maka ada banyak peluang ekonomi untuk saling berbagi rejeki. Kereta kelas proletariat yang dimanfaatkan banyak orang untuk dijadikan ladang penghidupan. Lalu lalang pedagang asong seolah tak pernah berhenti menjajakan aneka barang. Layaknya sebuah pasar berjalan namun kondisi interaksi transaksinya dibalik. Pedagang yang berkeliling sementara konsumen duduk diam. Dari mulai nasi ayam sampai pedagang bantal semuanya berebut menawarkan dagangan dengan semangat pialang saham dilantai bursa efek. Setiap stasiun yang kami singgahi mereka silih berganti bertukar posisi seolah memang mempunyai teritori masing-masing. Hingga akhirnya malam berganti siang dan kami masih saja di sini. Pemandangan di luar gerbong lumayan jadi hiburan hingga suasana tidak sebosan ketika malam. Satu persatu stasiun yang disinggahi saya hitung, satu persatu pemandangan dari balik kaca gerbong silih berganti. Hingga akhirnya jam 11 siang kami sampai di kota Kediri. Total waktu perjalanan antara Bandung-Kediri adalah 16 jam dan dipaksa singgah di 39 stasiun untuk memberi kesempatan kereta api eksekutif lewat dengan angkuh.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan perjalanan bis kecil menuju kota Malang selama 3 jam. Kondisi jalan yang berkelok dan kontur yang naik turun adalah alasan kenapa di setiap jendela tergantung kantong kresek yang bisa diakses gratis. Rutenya benar-benar hardcore. Apalagi kami harus ‘kediri’ alias kenyang berdiri namun pemandangan yang disajikan benar-benar dramatis. Dari mulai hutan heterogen khas daerah tropis hingga hutan pinus. Kebetulan sedang musim durian hingga sepanjang jalan barisan pedagang durian berjejer dengan aromanya yang menggoda. Suhu makin dingin dan tak terasa kami telah rela berdiri berdesakan selama 3 jam hingga sampailah kami di kota Batu.

 

Kota yang mirip dengan Lembang di Bandung ini berada di ketinggian 800 di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 18 derajat celcius. Cuacanya nyaris selalu mendung sepanjang hari dilapisi kabut. Fasilitas menginap kami adalah sebuah villa terpencil dengan bentangan alam yang dramatis. Begitu sampai di villa kami disuguhi welcome drink yang lumayan menghentak. Mereka menyebutnya dengan ‘tequilla mountain’. Berwarna bening dengan aroma vodka namun rasanya mirip air mineral yang dioplos alkohol 70 persen. Duduk di taman sambil ngobrol nostalgia dengan beberapa teman dari Malang sekedar melepas kangen. Hingga akhirnya beberapa kawan muntah dengan sukses dan saya sendiri terkapar di atas sofa depan beranda di antara gerimis dan kabut pegunungan yang turun perlahan.

 

Malam harinya suasana makin meriah. Kebetulan ada pertandingan sepakbola antara Persib versus Arema Malang yang disiarkan langsung di televisi. Maka malam itu kami merubah ruangan villa menjadi tribun sepakbola yang ramai oleh hooligan pendukung masing-masing tim. Kami berubah wujud menjadi supporter Viking yang beringas lengkap dengan nyanyian-nyanyian khas stadion. Sementara kawan-kawan dari Malang berubah menjadi supporter Aremania. Taruhannya adalah apabila salah satu tim ada yang kalah maka diharuskan membeli miras satu karton. Lumayan menegangkan. Bukan masalah harga minumannya tapi kami tegang bagaimana cara menghabiskan miras satu karton. Nyanyian dan teriakan malam itu mewarnai suasana di villa. Umpatan kasar dan saling ejek ramai sepanjang pertandingan. Hingga akhirnya skor berakhir dengan angka 0-0. Semua bersorak girang, bantal-bantal, kursi dan sepatu beterbangan hingga akhirnya kami sepakat membeli sekarton miras dengan jalan patungan di antara dua kubu. Dan malam terasa sangat panjaaaang…

 

Esok harinya kami semua berangkat menuju venue di kawasan alun-alun kota Batu. Bangunan gedung olahraga mirip GOR bulutangkis. Kapasitasnya untuk 1500 penonton. Saya datang agak terlambat hingga tidak semua band saya tonton. Saya datang pada saat band Sekarat tampil di atas panggung. Sekarat adalah salah satu ikon band death metal di kota Malang.  Atraksi teatrikal yang disuguhkan mampu membuat saya dan penonton yang hadir terhibur. Vokalisnya membawa dua kepala kambing yang baru disembelih komplit dengan darah yang masih mengucur lalu dibilaskan ke tubuh sang vokalis, lalu kepala kambing tersebut dilemparkan ke arah penonton. Alhasil penontonnya pada bubar karena jijik dan ngeri…

 

Penampilan selanjutnya adalah Keramat. Masih dari genre death metal dan juga salah satu ikon di kota Malang. Penampilannya biasa saja kecuali penampilan drummernya yang masih tetap impresif. Setelah itu naik Disinfected. Mereka datang tidak dengan formasi lengkap. Yang tersisa hanya Amenk, vokalisnya saja. Sisanya adalah pemain cabutan dari Bleeding Corpse, Undergod dan Demons Damn. Penampilan mereka berkesan ‘dipaksakan’ karena sepanjang lagu Disinfected tampil tanpa pemain bass. Setelah itu naik Screaming Factor. Saya banyak mendengar cerita hebat band ini dari beberapa kawan di Bandung yang pernah melihat penampilan mereka. Cerita itu ternyata benar adanya. Penampilan mereka sanggup memuaskan rasa penasaran saya. Tak heran band potensial ini mempunyai massa yang loyal dan ekspresif. Nyaris sepanjang pertunjukan mereka berteriak menyanyikan setiap lirik lagunya. Benar-benar mengesankan.  Setelah itu giliran Jasad yang menjadi band pamungkas untuk acara ini.

 

Tidak ada yang istimewa dari Jasad kecuali penampilan vokalisnya yang menggunakan kostum batik lurik khas jawa dan iket kepala khas sunda. Kolaborasi yang sempurna apalagi ditambah dengan intro musik tarawangsa yang diputar menjelang lagu pertama masuk. Kejutan lainnya adalah tampilnya Uji ‘Popo’ vokalisnya Demons Damn yang ikut berduet dengan Jasad. Satu hal yang sempat membuat bulu kuduk saya meremang adalah ketika melihat penonton Malang yang notabene mayoritas menggunakan bahasa jawa dengan antusias ikut menyayikan lagu-lagu Jasad yang berlirik sunda. Bahkan mereka dengan lantang berteriak minta request lagu-lagu jasad yang menggunakan judul berbahasa sunda. Saya sempat kebingungan sendiri dan bertanya saya sedang berada di mana saat ini?!…

 

Akhirnya konser berakhir pukul 10 malam dengan aman. Nampak wajah lelah penonton yang tertib membubarkan diri. Dari keterangan panitia tiket yang terjual mencapai 900 tiket. Sebuah pencapaian yang luar biasa karena pasca digusurnya GOR Pulosari di kota Malang maka otomatis komunitas musik di Malang mengalami kesulitan untuk menggelar berbagai event musik. Hal inilah yang menjadikan proses regenerasi band-band metal di Malang terkesan lambat. Padahal kota Malang sejak dulu terkenal banyak melahirkan musisi bertalenta dan menjadi barometer musik, khususnya musik rock di indonesia. Kondisinya hampir mirip dengan kota Bandung. Baru kali ini mereka mencoba membuat event di luar kota Malang dan ternyata hasilnya mendapat sambutan yang luar biasa. Banyak komunitas dari luar kota Malang seperti dari Surabaya, Kediri, Banyuwangi, Yogya yang sengaja datang menonton.

 

Rasanya tidak perlu diceritakan seperti apa aftershow party yang terjadi di villa tempat kami menginap hingga akhirnya kami harus memperpanjang masa sewa villa tersebut. Dinginnya kota Batu serta lokasi villa yang terpencil membuat kami benar-benar terbenam dan larut bersama bergelas-gelas minuman yang kami racik dalam sebuah galon besar. Hingga akhirnya saya tersadar keesokan harinya dengan kepala berat dan mata berkunang sepanjang hari. Sensasi hangover itu akhirnya bisa hilang setelah menyantap cuimie ‘sikong’. Sajian kuliner yang cukup legendaris di kota Batu. Sentuhan cita rasa mandarinnya sangat kental ditambah ornamen ‘restorannya’ yang kental akan nuansa oriental. Setelah bosan di kota Batu akhirnya saya sepakat untuk memilih berkeliling kota Malang berburu wisata kuliner khas Malang.

 

Tidak ada banyak yang berubah dari kota ini setelah kunjungan saya 10 tahun yang lalu. Masih dingin, teduh, nyaman namun sekarang nampak lebih bersih dan tertata rapih. Ada banyak hal yang saya temukan di sini terutama makanannya. Bakso Malang?…yeah, coba saja kalian cari dan tentukan secara acak maka kalian langsung berkesimpulan bahwa ini adalah bakso terenak yang pernah kalian makan bahkan untuk level tukang bakso yang pake gerobak. Coba juga roti goreng. Bentuk dan rasanya mirip kue odading di Bandung, namun tekstur dan rasanya jauh lebih enak. Tahu Campur adalah sajian yang tak kalah menantang. Rasanya mirip lontong kari namun dengan sedikit modifikasi dan ada aroma petis yang khas. Yang suka duren bisa coba sajian berbeda yaitu ketan duren. Nasi ketan yang diberi kuah berupa santen manis dan buah duren. Malam harinya saya nongkrong di kawasan Payung, Batu. Suasananya mirip dengan Lembang lengkap dengan warung-warung di pinggir jalan yang menyajikan menu jagung bakar, pisang bakar dan roti bakar. Saya memilih menikmati suasana alam pegunungan bersama beberapa botol bir.

 

Bagi yang suka menu eropa dengan cita rasa lokal bisa mencoba Burger Buto. Sesuai namanya, ukuran burger ini memang ‘buto’ [raksasa]. Ukurannya sebesar piring makan lebih besar sedikit. Satu burger bisa untuk 3 orang. Ornamen ruangannya mirip museum dengan koleksi foto-foto Malang tempo doeloe. Singgah juga di café Und Corner di kawasan yang asri mirip di daerah dago yang rimbun dan banyak bangunan berarsitektur kolonial. Suasana yang hommy dengan menu andalannya adalah apple pie yang di-mix dengan gula jawa. Nikmati sepaket bersama wedang jahe dan musik shoegaze yang menghanyutkan. Atau mampir di toko Oen yang legendaris di Malang. Menu utamanya adalah es krim home made. Resepnya dibuat orsinil sejak tahun 1930-an. Suasananya tokonya masih dipertahankan sejak toko itu berdiri.

 

Bagi yang seneng Soto coba juga Soto Kambing Pak Kosim. Lokasinya rada ke pinggir kota Malang di daerah pesawahan. Gubuk sederhana khas pesawahan dengan tampilan pikulan  tukang soto menjadi display yang eksotik. Sajiannya adalah soto daging kambing yang empuk. Sambil makan kita disuguhi pemandangan sawah yang membentang hijau dan kalau malam kita bisa melihat gemerlap city light di kawasan kota Batu. Minumnya bisa air jeruk panas sebagai penetralisir kadar kolesterol. Untuk melawan hawa dingin di kota Malang datang saja ke kawasan pecinan Malang dan mampir di kedai wedang jahe kawasan Kidul Dalem. Pesan wedang ronde yang rasa dan aroma jahenya sangat pekat. Cemilannya bisa roti goreng yang juga tak kalah jadi primadona. Cocok buat pengusir hawa dingin dan menyegarkan badan.

 

Rasanya halaman ini tidak akan cukup untuk menampung beragam pengalaman menarik di kota Malang. Kota yang dianggap oleh komunitas musik Ujungberung sebagai ‘rumah kedua’ karena banyak hal yang memang mirip dengan kota Bandung. Kota yang juga menjadi barometer musik underground di Jawa Timur. Masyarakatnya yang ‘someah’, toleran, terbuka dan juga kreatif. Makanan yang murah dan enak serta suasana kotanya yang menyenangkan.

 

Secara khusus saya ingin mengucapkan terima kasih untuk kawan di Malang. Liv yang baik dan rela menjadi ‘orang tua asuh’ saya , Anton Rotten atas kebaikannya mau berbagi kamarnya untuk dijadikan ruang kerja saya, Samack dengan koleksi arsip lengkapnya tentang Ujungberung, Giman atas obrolannya tentang sejarah dinasti Cina, Pleci buat oleh-olehnya. Mas Budi Sarzo atas sambutan dan pesta meriahnya, Ipul yang selalu ceria, Oox dan Iyan atas segala informasinya serta beberapa teman yang telah berbaik hati berbagi minuman dari mulut botol yang sama – you guys rock!… Juga untuk perpustakaan kota Malang yang masih buka hingga tengah malam dan pengelolaannya yang sangat modern, pedestrian yang nyaman, taman dan hutan kota dan untuk musim penghujan yang menguggah banyak inspirasi. Terima kasih banyak semuanya…

 

[addy gembel]

Addy Gembel adalah seorang penulis, petualang, dan vokalis grupband Forgotten. Tulisan di atas bersumber dari blog pribadi beliau ; www.addygembel.multiply.com

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: