Berharap Banyak, Terlalu Banyak

Tinggal sebelas tahun di sebuah pulau yang masih anti terhadap cara berfikir yang kritis, membuatku banyak belajar, belajar memanfaatkan situasi yang justru memerangi kamu, yang menjegal langkahku, membuatku memutar otak dan terus mencari solusi. Berikut ini hasil telaahku bersama kaum muda dalam dan luar negeri. Karena kamu tak cukup menggali di tanahmu sendiri…

 

Kamu yang selalu berharap banyak dari kerja yang sudah ‘menurutmu’ cukup menguras tenaga, pikiran dan uang. belajarlah dari situasi ini…

 

Banyak sekali kawan-kawan yang sudah tahunan membuat sebuah karya, promosi dan membekali dirinya dengan segudang ilmu performance di atas panggung, tapi semua masih merasa kurang dalam penjualannya. Beberapa memaksakan diri dan banyak juga yang kecewa dari respon yang didapat, sisanya pasrah saja dan menunggu ajal tiba.

 

Menggali dari pengalamanku di masa silam, mari kita lihat… Scene Ujungberung di masa lampau tak ubahnya kuburan dari para pemimpi. Belum ada geliat yang kuat bagaimana cara survive di dunia kerasnya musik sekeras yang mereka mainkan.

 

Pertama keluar dari dunia mimpi, exist adalah solusinya, Sonic Torment yang kudirikan di tahun 1995 adalah project untuk menunjukan bahwa berkarya tidak memerlukan rasa percaya diri keahlian dan kemampuan material sebesar band idaman kita. Dengan peralatan, uang dan keinginan yang seadanya semua bisa dilakukan. Lahirlah kemudian album Haatzaai Artikelen.

 

Bagiku ini adalah konsep exist yang memicu kita untuk lebih kreatif dan berani. Masa lalu yang tanpa dunia internet membuat komunitas Ujungberung melakukan promosi dengan turun ke jalan dan ini adalah langkah exist yang membuat kita lebih mudah untuk dipandang. Tidak puas dengan itu, kami lakukan dengan menulis dan mem-fotocopy. Kami di masa itu merasa melakukan apa yang harus dilakukan. Penerus selanjutnya hanya tinggal melebarkan dari apa yang telah kita lakukan…

 

Cukupkah?! Tentu tidak, gerilya ini akan terus berlanjut. Musisi Ujungberung saat ini banyak memegang peran penting dalam komunitas di Bandung, karena mereka lebih exist dan lebih berani, juga karena mereka tidak pernah setengah-setengah dalam melakukannya.

 

Cukupkah?! Nah ini dia yang kucari. Ternyata mereka, dan aku juga, merasakannya. Kami merasa ‘stuck’ dengan apa yang seharusnya jadi milik kita.

 

Bicara tentang exist membutuhkan banyak keringat dan uang, layaknya idealis melawan globalisasi. Solusi ini yang tak bisa aku dapatkan dari kawan-kawanku – yang kalau aku tanya, pasti akan kembali bertanya.

 

dari pengalaman di atas ternyata setelah bisa Exist kita masih membutuhkan untuk lebih Survive!…

 

Intinya ; setelah sekolah selesai, kita akan melanjutkan sekolah, setelah ilmu terkumpul kita akan kembali menggali ilmu, setelah bekerja usai kita akan kembali bekerja. Karena itulah Sang Pencipta menjadikan kita makhluk yang paling sempurna.

 

Berikut ini pelajaran apa yang aku dapatkan dan bisa kamu renungi…

 

Pada suatu ketika saya pernah diwawancara oleh Lena Resborn dan Jhon Resborn, dua kakak beradik asal Sweden, yang pernah singgah ke Indonesia untuk menulis tentang komunitas metal Hhrdcore di sini. Karena saya rasa mereka tidak cukup puas dengan jawabanku, maka aku kemudian balik bertanya, apa yang kurang dari kami?!…

 

“Kamu kurang mempromosikan diri, kamu kurang belajar tentang bagaimana caranya mendapatkan respon dari promosi yang pernah kamu lakukan, kamu kurang banyak memanfaatkan tehnologi yang ada, kamu kurang bekerja keras mempelajarinya, kamu kurang berkorban lebih banyak untuk keyakinanmu, kamu kurang bersenang-senang dengan kebebasan yang kamu dapatkan di negerimu sendiri [dibanding negara di Eropa, Indonesia adalah negara yang paling merdeka], kamu terlalu banyak mengeluh, kamu terlalu sering bilang capek, dan kamu kurang yakin dengan jawaban-jawaban dari interviewku!”

 

Ini lucu bukan?! Tapi ini jujur…

 

Aku kemudian bertanya lagi, “Apa yang harus aku, kami lakukan?”

 

Dia tidak menjawabnya, hanya menceritakan bahwa apa yang kita lakukan di Indonesia semuanya sudah dilakukan di jamannya Twisted Sister! Apa yang dilakukan para scenester di Eropa dan di Swedia kini hanya tinggal bagaimana caranya untuk bisa survive! Bagaimana caranya survive tanpa harus lagi bekerja pada orang lain! Be 100% Musician! 666% komitmen, kalo kata Pak Kimung mah…

 

Pembicaraanku ini bak godam yang memukul tengkorak kepalamu hingga isinya memuncrat berhamburan keluar [mmm, harus dibikin gambarnya neh!…]

 

Sekarang mari kita gali solusinya…

 

Mari kita berkaca pada diri sendiri [lupakan respon dari kawanmu, dari fansmu, dari komunitasmu] karena aku akan mengajarkan langsung pada dirimu, bukan pada orang yang ada di sekitarmu, bukan pada kepercayaanmu yang lemah itu, juga bukan pada masa lalumu yang tak sedikitpun membuatmu terlihat cool.

 

Pertama…

Berhentilah menghabiskan waktu hanya untuk bicara yang tak ada isinya. Berhentilah keluyuran yang tak jelas tujuannya. Saatnya kamu berkaca dan mulailah bertanya, “Apa yang paling kusuka dari semua ini? Talenta apa yang aku miliki yang menurutku jelek tapi menurut orang lain bagus? Apa yang harus kulakukan dari semua anugerah yag kumiliki ini?…”

 

Kedua…

Saat kamu mendapatkan jawabannya, lalu mulailah berkomitmen bahwa kamu akan memperdalamnya lebih dalam, dan mempraktekannya secara lebih berani. Memiliki band adalah memiliki sebuah perusahaan kecil yang kalau diasah akan terus mengkilap dan menghasilkan sesuatu yang berharga. Apabila kamu seorang vokalis [tidak harus vokalis juga bisa], dan talentamu adalah menulis, maka mulailah menulis biography band-mu, mulailah mengisi blog-mu dengan kegiatan band-mu, mulailah promosi tentang lagu-lagumu, mulailah menyebarkan informasi tentang apa yang kamu perjuangkan dan apa pendapatmu tentang semua yang terjadi pada duniamu. Apabila kamu suka dengan art dari album-album favoritmu mulailah menggambar, mulailah bersahabat dengan tukang gambar dan mulailah belajar tentang indahnya dunia gambar. Kalau kamu seorang musisi sejati mulailah sharing tehnik, mulailah banyak menghabiskan waktu bersama guitar dan peralatanmu, dan buatlah lagu sebanyak mungkin. Apabila di band-mu tidak ada yang memiliki talenta seperti itu mulailah berfikir inilah saatnya untuk membubarkan bandmu, karena aku yakin dan kamu yakin semuanya tak akan membawa faedah sebab ternyata bandmu hanyalah band trendi semata!…

 

Ketiga…

Membuat band berarti kamu membuat sebuah perusahaan kecil di mana kamu harus memiliki orang-orang yang bisa dipercaya akan mampu mendongkrak kemandegan, dan menghasilkan profit yang cukup untuk membiayai kamu dan keluargamu, sehingga kamu tak perlu lagi menjadi budak orang lain.

 

Keempat…

Bekerja keras!

 

Kelima

Bekerja lebih keras!

 

Keenam dan seterusnya…

Terus bekerja lebih giat dan lebih keras!…

 

Lihatlah Sonic Torment… Bagiku ini bukan sebuah band, ini adalah perusahaan kecilku dalam memupuk image dari para personilnya. Silahkan cek, aku suka menggambar dan menulis, dan aku memberikan sepenuh hatiku untuk keduanya. Begitu juga Kimung yang kalian tahu kiprahnya lewat buku Scumbag dan provokasi-provokasinya di komunitas Bandung. Abah yang sekarang memberikan seluruh jiwanya bersama Burgerkill, selalu pol dalam permainan drumnya, dan masih punya cita-cita membuat les drum. Sementara yang lainnya seperti Ayi, Opik, Addy Gembel, Mby dan Sule?! Semuanya masih bekerja di dunia yang selalu ada hubungannya dengan seni, dan akan terus memberikan kontribusi sepenuh hati…

 

What we need more this time?! Bekerja lebih keras dan belajar lebih giat dengan keberanian yang lebih gila, juga komitmen yang lebih besar untuk memperkaya diri lewat ilmu dan talenta yang kami miliki untuk bergerak maju.

 

Bagaimana dengan kamu?!

Kalau jawabanmu, “Saya sudah cukup puas dengan keadaan sekarang!” berarti siap-siap saja kamu dipecat dari bandmu sendiri, karena kamu termasuk orang yang tak ada gunanya. Fukkin’ parasite must die!…

 

[Dinan Profanatica]

Hasil obrolan dengan Kimung Core, Dede Suhita, Prima Yudistira, Lena & Jhon Resborn, Man Jasad, Ari Bleeding Corpse, Dethu Suicide Glam, Mbah Surip, Butche, Mby Anduk, Marcell, Age Grindcorner, Ebenk BK, Ray Cappo, Chaerul NoinBullet, Aries Rafly Stankovic, Sabdo Mulyo, Dedex Adler, Sony Hendriyadi, Monez, Eko Deep Insight, dan semua yang selalu jadi inspiratorku, kawan!…

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: