A Tale Of Two Gigs

Boleh percaya atau tidak: Tuhan tersenyum beberapa waktu lalu. Tanyalah mereka yang menggemari musik metal dan hardcore. Sebagian sudah pasti mengangguk setuju. Mereka, tentunya yang mengangguk, pasti menyebutkan Malevolent Creation dan Misery Signals sebagai karunia yang dilimpahkan Tuhan dalam satu minggu yang sama – setelah didahului sebuah karunia bernama Lamb of God beberapa minggu sebelumnya. Sebagian lagi, terutama yang tidak begitu percaya bahwa ada entitas bernama Tuhan, bisa jadi hanya mempercayai keduanya bisa manggung di Jakarta semata karena paduan tepat beberapa variabel seperti ; promotor yang beruntung, jadwal yang pas, serta Jakarta yang tidak banjir. Namun, kemana pun anda bertanya tulisan ini menunjukkan keduanya tak peduli akan semua kemungkinan tersebut. Yang penting; mereka datang, mereka senang, mereka lemas, mereka pengang dan mereka pun pulang. Soal ada Tuhan yang baik atau tidak itu nomor 23!…

Chapter I : Malevolent Creation @ Viky Sianipar Music Hall Jkt [23/03]

“Mbak, sepuluh tiket ya?” tukas lelaki berambut gondrong di depan tiket box. Ada perbedaan mencolok dalam raut muka mereka berdua. Yang bertanya terlihat berapi-api ingin segera dilayani sedangkan yang ditanya mulai panik melihat pasukan hitam yang mengerubunginya. Syahdan, dipikirnya dia adalah Abimanyu di tengah kurungan pasukan Kurawa. Namun, jelas keduanya sama-sama tak sabar ; yang satu ingin segera bertemu pahlawannya, yang satu lagi tak sabar menunggu kerjaan kelar dan dompet mekar.

Makin malam, venue Viky Sianipar semakin hitam. Maklum, ini konser salah satu eksponen death metal paling tuir, begitu kata salah satu reporter majalah musik lokal yang percakapannya terlalu kencang untuk tidak tertangkap kuping. Maka tak ayal mereka yang datang berlomba menunjukkan bahwa mereka cukup ‘metal’ luar dalam. Saya tidak tahu apa mereka memang ‘metal’ di dalam, yang pasti di luar mereka sangat ‘metal’. Berbagai t-shirt metal berseliweran; yang belel maupun yang masih kentara lipatannya. Kebanyakan adalah ‘heavy weights of [death] metal’, mulai dari Deeds of Flesh, Malevolent Creation, Prong sampai Opeth – walaupun tidak menutup kemungkinan nama-nama muda seperti Despised Icon juga terlihat.  Apa mau dikata; ini khan konser metal, jadi begitulah baju zirahnya…

Seperti biasa poster kembali berbohong. Acara yang semestinya dimulai pukul 20.00 molor tak kunjung dimulai. Walau gerbang sudah dibuka, yang disuguhkan hanya hiburan audio metal semata. Baru beberapa menit kemudian, sekitar pukul 20.30, sang empunya acara memanggil crowd yang masih adem di luar untuk segera masuk karena salah satu legenda scene lokal sudah menunggu. Legenda dibuka oleh sebuah legenda malam itu…

Forgotten sebuah legiun musik cerdas, legendaris namun tak satanis, menurut saya. “Selamat malam semua. Senang sekali kami bisa membuka band legendaris Malevolent Creation,” begitu celoteh basa-basi Adi Gembel malam itu. Standar. Sejurus kemudian mereka membuka repertoir dengan Kegelapan Itu Bernyawa yang disusul dengan Tiga Angka Enam, Hidup Adalah Kutukan, serta Perang Demi setan. Repertoir tersebut ternyata belum memanaskan penonton yang ada. Hanya ada riak kecil di ujung pagar pembatas. Alih-alih panas, penonton malah asyik bercengkerama dengan sang Gembel sambil sesekali meneriakkan “Tuhan Telah Mati!”. Memang sound Forgotten malam itu cukup jauh dari ideal. Sebagian besar output gitar sebelah kiri tidak kentara. Tapi bukan di situ masalahnya. Mungkin sihir Malevolent Creation terlalu kental, atau bisa jadi mereka yang menonton adalah inkarnasi Joko Suprianto, sang mesin diesel, bukan titisan Mike Tyson[2]. Namun, panas atau tidak audiens-nya, ‘Tuhan’ memang harus mati di tangan Adi Gembel. Maka dikumandangkanlah Tuhan Telah Mati di ujung aksi Forgotten yang disambung langsung dengan kover lagu klasik milik Deep Purple, Smoke On The Water.

Kemudian, Malevolent Creation segera naik panggung. Untung tak perlu waktu lama bagi mereka untuk mengeset segala piranti panggungnya. Sebab jika tidak maka Rian Pelor siap menjadikan mereka bulan-bulanan kelakarnya. Tepat pukul 21.30 satu persatu personel grup legendaris tersebut mulai keluar dan disambut oleh percik gempita para penonton.

Entahlah dengan lagu apa mereka membuka show. Memang tidak cukup waktu mengenalkan repertoir mereka ke membran pendengaran ini. Namun, percayalah selama show satu jam tersebut mereka lebih banyak memainkan repertoir lawas ketimbang lagu-lagu yang ada dalam Doomsday X. Dari apa yang saya ingat dan dengar, mereka justru menggeber komposisi seperti Monster, Homicidal Rants, Manic Demise, The Will To Kill, sampai Malevolent Creation yang mereka ciptakan dua dekade lalu.

Gangguan yang muncul semenjak Forgotten manggung ternyata masih tersisa sampai Malevolent Creation naik panggung. Kerap kali sulit mendengar solo yang dilakukan salah satu gitaris band gaek ini karena menumpuknya layer sound malam itu. Entahlah karena saya duduk di sayap timur balkon panggung, atau memang ada gangguan dalam output mereka. Toh, penonton di bawah tempat saya duduk tak pernah pusing dengan hal itu.

Penonton mencapai ekstase-nya dengan berbagai cara. Entah itu dengan sekedar diam tertegun menonton memandangi jagoan mereka sambil mengenang kembali kenangan kolektif yang menyatukan mereka semua di sana, atau menari berputar membentuk lingkaran, atau bersama-sama melemparkan salah satu penonton melewati pagar pembatas sambil terus meneriakkan komposisi yang mereka idamkan. Hebat! Sebagian penonton tak lagi muda [layaknya sang empunya konser], namun sepertinya mereka sudah menemukan ‘fountain of youth’ lebih dulu dari Jack Sparrow[3]. Mereka tak henti-hentinya berpesta sampai konser tuntas ketika encore, Malevolent Creation, dimainkan. Lengkap sudah sebuah konser metal dengan segala ritusnya diselesaikan zonder masalah.

After show, dua lelaki menghampiri ketika saya cemas menunggu angkot jurusan Pasar Minggu di kisaran Manggarai. Raut muka keduanya tampak puas. Masih terlihat ada jejak keringat di muka mereka. Salah satu di antaranya langsung bertanya, “Mas, stasiun Manggarai sebelah mana ya?”. Syahdan, tangan saya terangkat menunjuk arah stasiun sambil berusaha menyunggingkan senyum “Deket kok mas. Sebelah sana, emang pulang kemana?” saya balik bertanya. “Bogor” jawab salah satu dari mereka. Sambil mengucapkan terimakasih keduanya beranjak. Sayup terdengar percakapan mereka akan moshpit dan repertoir Malevolent Creation. Kentara sekali mereka masih mabuk. Sebab tidak ada kereta api Ekonomi AC ke Bogor di atas jam sebelas malam di hari Minggu!…

 

Chapter II: Misery Signals @ Stardust Café Jkt [26/03]

Riann Pelor, si MC Ngen**t, adalah manusia paling beruntung di Jakarta. Pria yang dulu saya kenal sebagai vokalis legiun post hardcore Jakarta, Daggerstab, toh memang makin sering berkoar sebagai MC ketimbang menjalani tugasnya sebagai penyedia divisi suara dalam grupnya. Nyata dengan setelan yang hampir sama dengan yang dipakai saat konser Malevolent Creation [penutup kepala coklat dan kemeja sleeveless senada serta jeans], ia berdiri di atas panggung Stardust Café untuk memperbanyak pundi-pundi rupiahnya. Kali ini ia berkelakar dalam salah satu runtutan Misery Signals Controller Indonesia Tour.

Karena pemanggung utama adalah Misery Signals, maka kali ini kaos yang berseliweran lebih didominasi oleh nama-nama band yang lebih muda. Banyak yang memamerkan kaos bertuliskan Bring Me the Horizon, Despised Icon, Alesana, Meshuggah, serta Misery Signals itu sendiri. Jelas ini adalah kurusetra[4] yang berbeda, baju zirahnya sudah pasti sedikit berbeda. Kalaupun ada band tua yang namanya terpampang pada salah satu t-shirt, maka nama itu adalah adalah The Misfits. Akh, semoga suatu hari ada yang menulis lebih serius tentang bagaimana t-shirt menjadi salah satu identitas yang dikenakan oleh gig-goers – serta kemudian ditangkap sebagai sebuah peluang bisnis dan seutas penyambung nyawa band.

Masuk Stardust, membran telinga saya langsung disambut oleh komposisi hardcore/post hardcore milik Alice, sebuah band asal Bandung. Dengan seorang yang vokalis yang cukup gempal dan suara yang lumayan gahar, sebenarnya Alice punya potensi menjadi sebuah band yang memamerkan hardcore yang macho. Tak ada yang membedakan Alice dengan band hardcore kekinian lainnya; chugga-chugga, lots of breakdown serta riff gitar simpel. Kalaupun ada yang sedikit beda, mereka dengan genit menyempilkan sedikit part swing dalam komposisi terakhir mereka. Biasalah, jazz disentil biar dibilang eksploratif, progressif dan mumpuni?!…

Lepas Alice, masuk Thirteen. Jika pendahulunya, menyentil jazz, maka Thirteen berpindah dari satu genre ke genre lain dalam satu lagu. Menonton Thirteen adalah sebuah parade genre dari nintendocore ke metalcore melewati post hardcore menuju samba dan seterusnya. Makanya, tak ayal jika Pelor menggelari mereka sebagai “Protest The Hero yang sedikit Dream Theater”. Namun, Tuan Pelor, jika boleh saya berandai-andai maka Thirteen lebih sejajar jika dibandingkan dengan Heavy-Heavy  Low-low dengan sedikit sentuhan A Fine Boat That Coffin, bagaimana?!…

Terlihat feminin cantik dalam sejarah metal atau rock tidak pernah disalahkan. Mulai dari Elvis sampai Brian Molko tak malu menunjukkan sisi feminin mereka. Ada yang sekedar menaburi muka mereka dengan bedak, ada yang menjadi crossdresser, bahkan ada yang menjelma menjadi perempuan dengan memaksimalkan potensi androgini mereka. Nah, di manakah Killing Me Inside akan ditempatkan?! Personel band emocore/post hardcore Jakarta ini tak olah-olah cantiknya walau masih berkelamin laki-laki. Jelas mereka bukan Srikandi[5] yang berubah secara alami menjadi laki-laki. Namun, secara alami pula mereka terlihat sangat cantik sampai-sampai Eric Martin atau Giddy Lee bisa mereka saingi. Sayang seribu sayang, yang bisa dibandingkan cuma feature biologisnya saja, masalah penampilan masih jauh berbeda. Dengan musik emocore yang standar, penampilan mereka makin biasa ketika sang vokalis mencoba terdengar feminin namun sumbang. Gini lo mbak eh mas, terdengar atau terlihat feminin sih boleh saja tapi tolong lakukan dengan baik dan benar lain kali…

Puas dengan segala kecantikan Killing Me Inside, penonton kini dihajar oleh Komunal dengan komposisi stoner. Sebagian yang datang juga mungkin bertanya mengapa Komunal bisa sepanggung dengan Thirteen, Killing Me Inside dan Alice?! Lumrah kalau ada yang berpendapat mereka salah panggung. Namun, jangan lupa stoner rock/metal bukan satu hal yang asing bagi para gig-goers. Toh, Seringai telah mewartakan stoner metal dengan baik, jadi lumrah jika salah satu komradnya naik panggung malam itu. Di samping itu semua, Komunal lah yang pertama kali menciptakan riak gempita penonton [salah satunya Themfuck] di malam itu. Bersama Komunal, mereka diajak bersenandung Tarankanua, Pemuda Belati, Manusia Baja serta Pasukan Perang dari Rawa.

Straight Out menjadi palang pintu terakhir. Percaya atau tidak ini adalah kali pertama saya menyaksikan band papan atas Jakarta ini beraksi. Straight Out yang kerasukan black metal ternyata tampil cukup mengecewakan. Apa yang digadang-gadang sebagai perpaduan The Black Dahlia Murder dan Cradle of Filth [sebagian komposisi yang disuguhkan berasal dari album Forsaken Upon Nemesis] kurang bisa dinikmati malam itu. Entah itu sound gitar yang tumpang tindih, atau keyboard lebih banyak terkubur alih-alih menjadi latar atau angelic vocal yang gagal terdengar. Memang bukan Straight Out sepenuhnya, tapi kuping penonton tak pernah peduli; pertunjukkan yang enak didengar titik.

Jam tangan reporter di sebelah saya menunjukkan pukul 22.30 ketika Misery Signals mengambil alih panggung. Tak butuh persiapan lama, band yang baru merasakan kepenatan Jakarta itu langsung menggelontorkan komposisinya dari album Controller dan album-album sebelumnya. Mereka yang belum pernah berkenalan dengan komposisi mereka bisa membayangkan komposisi hardcore/metalcore ala Poison The Well dengan sedikit sentuhan post-rock. Ingat kata sedikit saya garis bawahi di sini sebab Misery Signals bukan Envy atau Dying In Motion yang tak malu-malu mengintegrasikan post-rock passage yang panjang. Misery Signals hanya sesekali menunjukkan kecenderungan post-rock-nya. Selebihnya mereka hardcore/metalcore dengan break-break berat yang, apa boleh buat, terdengar sama dengan band sejenisnya.

Buta dengan segala komposisi mereka, saya hanya terdiam seperti Destarata[6] di pojok kanan panggung. Jujur, saya bahkan hanya mampu menyebut satu judul lagu yang dimainkan malam Nyepi tahun 2009 itu; Weight of The World. Sisanya saya hanya seorang penonton pandir yang diam terpaku. Keadaan berbeda di depan panggung; ada circle pit, ada yang menari, ada yang menyambut setiap judul lagu dengan teriakan, serta ada pula yang setia berteriak mengikuti setiap baris liriknya. Terbalik sudah perkiraan saya. Gig yang saya kira sepi dengan teriakan dan adegan senandung masal malah berubah 170 derajat. Saya lupa tak ada lagu yang tak bisa dimainkan dalam sebuah dunia yang Wasudewa-nya[7] adalah Internet.

Di Sarinah, dini hari 27 Maret 2009, tepatnya di emperan jalan, di sebelah angkot arah Pasar Minggu, saya sampai pada sebuah kesimpulan; Tuhan memang tersenyum minggu itu. Rob, vokalis Navicula, pernah berkata, “Agamamu adalah di mana uang dan waktumu dihabiskan.”[8] Jelas, beberapa Tuhan kami pasti tersenyum. Kami telah membelanjakan uang kami dengan tulus jalannya. Dharma telah kami jalankan dengan menari dan bernyanyi. Peluh telah kami kucurkan. Balasannya, kami meneguk elixir dan mabuk dalam ekstase. Kami gembira, Tuhan kami tersenyum. Kali ini, Tuhan-Tuhan itu bernama Malevolent Creation dan Misery Signals…

 

[innerciatic manneken]


[1] Diilhami oleh karya milik Charles Dickens, A Tale of Two Cities.

[2] Joko Suprianto adalah salah satu juara dunia bulu tangkis dari Indonesia yang berjaya di era 90-an. Ia dijuluki “Si Mesin Diesel” karena permainannya yang lamban panas. Kerap kali ia menyerah di set pertama. Konon, ini dilakukan untuk mempelajari tipe permainan lawan. Mike Tyson, sebaliknya, adalah petinju yang memanfaatkan kelambanan lawan di ronde-ronde awal. Pada masa jaya Tyson, pertarungan tinju kelas berat berubah menjadi pertarungan yang amat singkat namun penuh dengan pundi-pundi dolar.

3 Tokoh yang diperankan oleh Johny Depp dalam trilogi Pirates of The Carribean. Di akhir cerita tersebut, Jack Sparrow dikabarkan berlayar mencari ‘fountain of youth’ dengan sebuah sekoci kecil dengan sebuah peta, kompas ajaib dan sebotol rum.

4  Medan perang di mana Pandawa dan Kurawa saling menghabisi satu sama lain dalam sebuah perang dahsyat.

[5] Srikandi adalah putri Drupada yang berkelamin perempuan. Ia kemudian lambat laun berubah menjadi seorang laki-laki. Dalam perang Kurusetra, ia adalah salah satu senopati Pandawa. Perannya sangat besar dalam membantu Arjuna mengalahkan Bhisma.

[6] Destarata adalah dari Duryudana. Ia adalah seorang raja yang buta. Ketika perang berkemelut di antara Pandawa berkecamuk, Destarata hanya bisa mendengarkan kabar kematian anak-anaknya [Kurawa] dari Sanjaya.

[7] Nama lain Krishna. Wasudewa memiliki arti roh tertinggi yang meliputi seluruh alam semesta.

[8] Dinukil dari profil band Navicula.

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: