Lolyta And The Disgusting Trouble

Mereka adalah pendekar baru asal kota Malang yang siap bermain di kancah rock & roll tanah air. Mereka membawa mesin musik tujuh-puluhan ke peradaban seni populer saat ini. Berbekal riff gitar yang ajaib, tarian senar bass yang seksi, dentum drum yang tenang, serta ocehan vokal yang penuh ekspresi. Lolyta and The Disgusting Trouble seperti mengadaptasi sebuah semangat lawas yang lalu dituangkan dalam ekspresi kecil tentang psikedelia rock akhir zaman. Setelah mengedarkan mini album gratis lewat ReloadYourStereo, kami berkesempatan berbincang dengan Limbang Nidiasmoro [vokal/gitar] serta diajak mengendarai mesin waktu rock & roll yang sangat dia yakini sepenuh hati…

 

Seperti apa rasanya merilis Mini Expression EP?

Wah, kami merasa sangat lega. Akhirnya beberapa track kami dapat dirilis di RYS, jadi teman kita yang di seberang sana dapat mendengarkan musik kami. Lega dan girang, haha…

Kenapa titelnya Mini Expression?

Karena formatnya kita kemas sebagai mini album, dan ‘expression’ itu mewakili keempat track yang kami sajikan. Dengan kata lain album ini salah satu bagian dari ekspresi kami tentang musik yang kami mainkan…

Lirik lagu dalam mini album itu menceritakan tentang apa saja?

Di track pertama, Get Up [The Party Tonite], seperti pada umumnya kalau anak-anak muda ingin selalu bersenang-senang. Kami lantunkan tembang itu dengan beat yang cukup agresif. Di track kedua, Wake Up From My Sins, di lagu ini kita mengambil tema tentang sebuah pengharapan. Dari salah satu teksnya, “Wake up hey queen…”, kita percaya di dalam diri kita ada satu sosok yang membuat kita menjadi lebih lunak. Di track ketiga, Rock n’ Cold, menghadirkan sebuah tema yang begitu ‘keras dan dingin’, haha. Ya, lagu itu menceritakan sebuah kisah klasik terjadinya pergulatan cinta. Dalam teks “Please play rock tonite!” kita menggambarkan wanita yang lebih vokal saat pergulatan itu terjadi. Dan teks selanjutnya “Feeling cold with me in bed”, untuk tetap merasa tenang walau pergulatan di atas ranjang semakin panas, haha. Di track keempat, Black Lights, judul lagu ini kami gambarkan sebagai sifat emosional saat hati sedang sakit dan kita menjadi mudah naik pitam. Membuat gaya bicara saat berkomunikasi menjadi terkesan kaku. Dalam teks “The new lights is come…” kita tahu saat perasaan emosi itu mereda. Ada perasaan baru yang lebih segar, membuat kita lebih jernih saat berpikir…

Kalian memainkan jenis musik rock yang cukup klasik yang bahkan eksis sebelum kalian lahir. Bagaimana anda menjembatani rentang waktu itu?!

Lintas waktu musik rock memang sangat sulit kita nalar jika kita terpacu dalam satu generasi saja, dan saya percaya musik yang kami mainkan itu bisa menjadi ‘mesin waktu alternatif’. Dengan mempelajari dan mendengarkan lagu-lagu supergroup era 70-an, saya coba memperhatikan bagaimana para musisi di jaman tersebut menghadirkan bunyi-bunyian yang pada saat itu dianggap sebagai ‘angin ribut’. Kemudian saya coba mengambil sisi emosional sang musisi saat mereka on stage. Saya melihat mereka seperti berada di dunia lain, dan akhirnya saya tercengang!…

Led Zeppelin, Deep Purple, Rolling Stone hingga Rainbow. Dari mana anda mengenal mereka?

Mereka adalah gunung es yang pernah lancip. Saya mengenal mereka dari beberapa pemuda yang biasanya nongkrong di salah satu studio di sekitar tempat tinggal saya. Mereka mengenalkan beberapa hits dari grup-grup tersebut, lalu saya belajar memainkan lagu itu, dan saya menikmatinya…

Dan fans kalian yang masih muda belia cukup paham dengan root musik tersebut?

Biasanya para pendengar yang masih belia menganggap musik kami sebagai musik yang cukup unik, haha. Mungkin mereka bingung di saat trend musik seperti sekarang ini, kita malah memainkan musik rock klasik. Tapi mereka merasa terhibur dengan musik yang kami mainkan. “You rock!”, kata mereka.

Atau mungkin kalian justru mengincar segmen pendengar dari kalangan tua?

Oh tidak, justru kita menghadirkan musik kami untuk kalangan pra tua dan muda. Tapi kami juga tidak melarang kalangan tua mendengarkan musik kami, sebab mereka juga bisa menjadi penasehat bagi kami. Saya sangat berharap kalangan muda juga bisa merasakan dan menikmati musik kami.

Sepertinya ada unsur psikedelik dalam aransemen musik kalian…

Unsur psikedelik sedikit diambil dan kami jadikan pemanis saat kami menyempurnakan materi atau merancang lagu-lagu baru.

Apakah berarti ada unsur drugs atau LSD juga dalam kehidupan bermusik kalian?

Hahaha, kami pernah tahu benda-benda itu. Tidak dan tentu tidak, sebab kami adalah para penikmat ‘bapak djenggot’, haha. Ya, memang tidak dapat dipungkiri jika unsur psikedelik identik dengan drugs dan sejenisnya. Karena saat budaya psikedelik booming pada jamannya, saat itu sedang maraknya obat-obat terlarang dan para mafia drugs menyelipkan benda-benda tersebut di setiap pertunjukan musik.

‘Sex, Drugs and Rock & Roll’, sejauh mana anda meyakini paham tersebut!

Bagi saya pribadi, saya tidak begitu yakin dengan paham tersebut. Di mana saat budaya glamour semakin mencuat di kalangan para musisi rock, mereka menciptakan sensasi dengan budaya hedon, dan musisi selanjutnya pun terpengaruh dengan paham tersebut. Terlebih para fans kalangan wanita belia yang histeris dengan penampilan para musisi idola mereka…

Kalian pernah menulis statement ‘If you try to Rock, you must try to Roll’, apa maksudnya?

Kata-kata itu saya ambil dari kalimat dasar ‘Rock and Roll’. Memang terlalu banyak opini tentang kalimat itu. ‘If you try to Rock, you must try to Roll’, saya menganggap saat telinga saya menikmati musik rock, saya tidak ingin menikmatinya dengan lewat begitu saja. Saya ingin mendapatkan kepuasan yang lebih dari sekedar sound yang noise sampai kepala bergoyang dengan sendirinya. Saya ingin tahu bagaimana musik rock itu terbentuk menjadi konsep yang sangat megah dan bagaimana musik rock itu bisa melakukan perjalanan dari abad ke abad. Apa saja yang terjadi dengan musik rock saat dia melewati tiap jengkal waktu yang berbeda dan saya berharap jangan sampai kita seperti apa yang Led Zeppelin katakan, “To be a rock and not to roll.”

Sebenarnya apa yang membedakan LATDT dengan The Brandals, Teenage Deathstar, atau The Changcuters misalnya?

Semua band jelas punya perbedaan yang kuat di corak musik mereka. Band kami lebih ke arah rock yang mengalami transisi dan sedikit menjelma ke arah hard rock. Dengan beat yang cukup emosional, tapi kami tidak akan melupakan sentuhan klasik seperti blues dan juga rock & roll itu sendiri. Sound yang kita sajikan juga hasil dari perpaduan digital dan vintage. Jadi kita kemas alunan klasik dengan modern hardware, lalu menyajikan permainan emosi saat kita melantunkan lagu di atas panggung…

Siapa yang pertama kali mengajarkan anda memainkan gitar?

Di usia 12 tahun saat masih di bangku SMP, di depan tempat tinggal saya ada tetangga yang cukup mahir bermain gitar. Dia yang mengajarkan cara bermain gitar pada saya. Jadinya hampir setiap sore saya belajar gitar. Saya ingat satu lagu yang pertama kali saya mainkan dengan gitar itu sebuah tembang dari Almarhum Gombloh, judulnya Berita Cuaca. Lestari alamku, lestari bumiku…

Siapa gitaris Indonesia yang paling anda suka dan segani?

Di Indonesia banyak sekali gitaris yang patut diacungi empat jempol. Tapi yang paling saya suka itu Sonata Tanjung [AKA/SAS], Ian Antono [Godbless], Eet Syahranie [Edane], Andra [Dewa19/Andra & The Backbone], dan juga Piyu [Padi].

Apa yang akan anda lakukan jika bertemu dengan mendiang Jimi Hendrix?

Hahaha, dia adalah tuhan kedua bagi para musisi rock, tapi saya tidak akan melakukan apa-apa. Saya hanya akan bertanya, “Halo mister Jimi, bagaimana kabar anda? Apakah anda pernah menonton pertunjukan musik The Tielman Brothers?!” Dan saya berharap beliau menjawab, “Halo Limbang, kabar saya cukup baik. Ya, saya pernah melihat konser mereka, dan mereka adalah inspirator saya!”

Seperti yang kita tahu Led Zeppelin sudah reuni. Jika mereka manggung di Indonesia, lagu apa yang paling anda tunggu?

Semoga mereka meluangkan waktunya untuk datang ke Indonesia. Saya ingin mereka melantunkan tembang Babe I’m Gonna Leave You

Sudah terlalu banyak band dan musisi yang mengkover lagu Smoke On The Water. Dari sekian banyak itu mana yang paling anda suka?

Bagi saya pribadi untuk grup yang paling memukau saat mengkover lagu itu adalah Metallium, band dari eropa. Mereka berhasil menghantam telinga dengan melipatgandakan frekuensi rock yang ada pada lagu tersebut. Edan!

Seperti apa rasanya eksis dalam scene musik lokal yang didominasi genre punk dan metal?

Saya pribadi tidak mempermasalahkan genre apapun yang mendominasi di kota Malang. Saya rasa itu menjadi semacam pengetahuan tambahan tentang genre musik yang teman-teman band lain mainkan. Kita juga berteman dengan mereka, terkadang nongkrong bareng dan sharing ringan atau sekedar bercanda…

Sudah cukup berbahagiakah kalian dengan iklim bermusik di scene kota Malang?

Mengenai iklim bermusik di kota Malang memang cukup jauh dari kata bahagia. Seperti perbincangan yang kami dapat dari teman-teman, di kota ini masih sulit mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menggelar sebuah pertunjukan musik. Percuma memang, kalau kita mengaku sebagai kota yang penuh dengan talenta-talenta baru, tapi media pendukung seperti itu tidak ada. Peran pemerintah kota juga sangat berpengaruh.

Ada band baru yang anda rekomendasikan dari kota Malang?

Band yang membuat saya tersentuh saat melihat on stage-nya antara lain seperti Andjoeran Pengoeasa, kemudian ada empat wanita cantik dari Suster Clinic, dan  ada satu band metal yang sering saya liat performanya, yaitu Monstruel.

Sebutkan album-album favorit yang sudah merubah hidup anda!

AKA – In Rock, The Tielman Brothers – Rock n Roll Our First Love, Janis Joplin – Ultimate, The Doors – LA Woman, Deep Purple – Fireball, Led Zeppelin – BBC Sessions, Black Sabbath – Paranoid, AC/DC – Let There Be Rock, dan Guns N’ Roses – Appetite for Destruction.

Kalau ‘lolyta’ kami tahu, itu nama perempuan dan judul film. Tapi kami masih penasaran dari mana kalian mengambil kalimat ‘the disgusting trouble’?

Nama ‘lolyta’ kita ambil dari judul film drama, yang mana adalah nama perempuan cilik yang menjadi tokoh utama di film tersebut. Film itu menceritakan kehidupan gadis belum dewasa yang diperlakukan secara bejat oleh ayah kandungnya sendiri. Nah, perilaku ayahnya itu kita ambil sebagai ‘the disgusting trouble’…

Konon kabarnya kalian cukup liar dan ekspresif kalau di panggung…

Sound yang kita mainkan kadang membuat kita seperti terbius untuk menjadi liar dan ekspresif saat di panggung. Tapi itu bisa dikatakan bagian dari penjiwaan, dan sebagian lainnya menjadi ekspresi kita saat memainkan musik…

Lalu seperti apa konser impian LATDT?

Konser bersama Erwin Gutawa, haha. Konser yang penontonnya bisa menyanyikan lagu-lagu kita. Sedikit atau banyak penonton nggak jadi masalah…

Terakhir, akan sebesar apa band kalian ini di kemudian hari?

Sebesar perut drummer kami, haha. Ya, kami tidak terlalu berambisi untuk menjadi band besar, tapi kami tetap optimis untuk selalu menghadirkan ‘rock’ di setiap pertunjukan…

 

[Samack]

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: