Dead Vertical ; Grind On!

Di awal tahun yang silam, Apokalip pernah memuat preview tentang 25 nama yang bakal mewarnai kecadasan nusantara selama tahun 2008. Salah satunya ada nama Dead Vertical, grinder belia asal Jakarta yang pernah dipercaya membuka konser the godfather of grind, Napalm Death. Trio ini masuk dalam jajaran artis label ekstrim Rottrevore Records dan memuntahkan album “Infecting The World” yang meraup banyak respon positif. Hari ini mereka sudah melompat ke deretan band cadas papan atas di Indonesia. Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan berbincang tentang kecepatan dan intensitas mereka selama ini. Grind mode on!…

 

Halo, bagaimana ceritanya konser release party kalian kemarin?

Halo, release party Dead Vertical beberapa waktu lalu alhamdullilah berjalan lancar.yah. Meskipun ada beberapa kendala teknis, tapi secara general acara berjalan sukses…

Tapi kenapa kok jarak antara rilis album dengan release party itu cukup lama?

Ya, sebenarnya kita gak punya rencana untuk buat release party. Dari pihak label kami juga tidak ada rencana untuk itu. Tapi kebetulan ada kawan-kawan kami yang berbaik hati dan mendukung pembuatan release party tersebut.

Album kalian disebut-sebut sebagai salah satu album lokal terbaik oleh beberapa media…

Alhamdullilah kalau album kami dinilai terbaik. Tapi masih banyak kekurangan dalam karya-karya kami. Dan kami terus mencoba untuk menghasilkan hasil karya yang lebih baik lagi sampai saat ini.

Bagaimana kalian bisa menggandeng DJ Winky di album Infecting The World?

Awalnya dari ketertarikan DJ Winky terhadap musik kami sewaktu melihat Dead Vertical show menjadi opening act Napalm Death di Gelora Senayan. Setelah itu kita berkenalan dengan beliau. Seiring dengan waktu kami mulai memberanikan diri meminta bantuan beliau buat sampling intro-outro yang bernuansa gelap, dan Mas Winky langsung mau! Sekedar bocoran, DJ Winky pada era 90-an pernah jadi seorang ‘corpsegrinder’ juga. Pada dasarnya kita ingin memadukan genre metal dengan style drum & bass sehingga menciptakan suatu track yang unik di dalam album Infecting The World.

Atau jangan-jangan personil DV sendiri doyan clubing dan mendengarkan musik ajep-ajep…

Hahaha….Clubing?! Gak lah, duitnya aja seret mau ajep-ajep, haha. Tapi kalo yang suka clubing kita gak anti sama mereka. Itu hak masing-masing aja…

Pernahkah terbayang untuk mengajak DJ Winky berkolaborasi dalam konser kalian?

Pernah dong tentunya! Sebenarnya waktu release party kemarin kita sudah mengundang Mas Winky untuk ikut memeriahkan acara, tapi kebetulan beliau gak bisa hadir karena lagi sibuk dengan job di luar kota.

Bagaimana rasanya bekerjasama dengan Toteng yang jadi engineer di sesi rekaman Infecting The World?

Kita sangat puas bekerjasama dengan Toteng karena dia sebagai sound engineer yang profesional sering memberi masukan berharga dalam proses pembuatan album kami. Toteng banyak memberi masukan tentang fill gitar, drum, gitar, bass dan vokal sehingga lagu yang dihasilkan jadi lebih maksimal dan variatif.

Apa ada rencana untuk ‘go international’ macam tour ke luar negeri atau rilis album via label asing misalnya?

Sebenarnya kita punya cita-cita untuk bisa go internasional, tapi sekarang ini kita belum bisa mewujudkan itu karena masih banyak hambatannya. Bagi dead vertical saat ini, misi terpenting adalah musiknya dapat diterima oleh metalhead dan audiens lainnya di Indonesia.

 

Seperti apa kondisi scene musik grindcore di Indonesia hari ini?

Kondisi scene grindcore di Indonesia saat ini sudah banyak perkembangannya. Misalnya mereka jadi lebih kritis terhadap sisi musikalitas. Kebersamaan mereka secara umum sudah kompak dan tetap berbaur dengan scene-scene lainnya seperti metal, hardcore, atau punk.

Kalian pernah bilang di sebuah media bahwa musik grindcore tidak bisa diremehkan. Kalau selama ini grindcore identiknya sangat underground dan DIY, maka kalian akan membuktikan sebaliknya. Apa maksud dari statement tadi?

Statement musik grindcore tidak bisa diremehkan adalah apabila grindcore itu dimainkan secara benar dan memakai sound yang bagus maka musik grindcore bisa jadi musik yang lebih cadas, serta mampu membius orang yang mendengarkan seperti halnya genre metal lainnya. Kami ingin menghasilkan musik grindcore yang baik dan layak didengar oleh banyak orang melalui album kedua kami ini…

Apakah ini sama halnya dengan obsesi kalian agar musik grindcore juga diputar di Starbucks, McDonald, dan lobi mall misalnya?

Wah, kayaknya obsesi itu lebay banget deh, haha. Di sini belum memungkinkan untuk mewujudkan obsesi kayak gitu. Bisa diperdengarkan di tempat-tempat penjualan alkohol lokal, rumah bandar ganja, atau rumah terkutuk aja udah bersyukur banget, hahaha…

Atau mungkin musik grindcore sudah bisa dinikmati oleh kaum hipster yang cenderung modern, gaul dan kekinian?

Kalau itu sih bergantung pada masing-masing aja. Kalau musik grindcore-nya berkualitas dan kebetulan yang mendengarkan suka walaupun dia bukan ‘corpsegrinder’ ya bisa saja dinikmati khan…

Anda yakin musik grindcore yang anda mainkan bisa diterima oleh telinga masyarakat umum?

Yakin dong, karena itu jadi motivasi kami bertiga. Mungkin sekarang belum banyak yang menerima musik kami, tapi next time kami yakin musik kami akan lebih banyak didengarkan…

Apakah band grindcore juga punya peluang untuk mendapatkan akses groupies?

Kalau peluang mendapatkan groupies itu bisa berlaku buat semua anak band. Tergantung cara tuh anak-anak band nyikapin mau punya groupies atau enggak?! Pengalaman menarik bersama groupies? Gak ada! Kebetulan kita semua udah punya pacar masing-masing, hehe…

Kebanyakan lirik musik grindcore adalah tema sosial-politik melulu. Kenapa hampir tidak ada tema cinta di dalam genre musik ini?

Tema cinta di grindcore?! Haha, kayaknya susah tuh mengemasnya dalam grindcore. Lagipula sudah menjadi ciri khas, bahkan mungkin norma, bahwa tema utama musik grindcore adalah sospol. Tapi sebenarnya bisa kok mengangkat tema lainnya seperti horor, iblis, sadisme dan permabukan ke dalam genre grindcore. Banyak band mancanegara yang melakukan itu seperti Pigsty, Mummakil, Coldworker, Rotten Sound, Jigsore Terror, Leng T’Che dan lainnya.

Pengalaman apa yang kalian dapat ketika membuka konser Napalm Death?!

Pengalaman tehnis equipment menghadapi panggung besar, serta bagaimana cara membuat massa yang begitu banyak menjadi fokus pandangannya kepada aksi kami adalah pengalaman paling berharga saat jadi opening act Napalm Death di tahun 2007 silam.

 

Sebutkan band grindcore dalam negeri yang paling anda segani!

Noxa! Good quality of sound and performance…

Selain musik grindcore, jenis musik macam apa lagi yang masuk di telinga kalian?

Banyak jenis musik yang kami suka. Dari yang cadas seperti death, thrash, metal, hardcore, sampai ke musik yang lebih soft seperti indie pop/rock, blues, reggae,  dsb.

Kapan DV rilis album lagi? Dan bakal seperti apa rilisan kalian nantinya?!

Kita belum ada target yang pasti untuk rilis album berikutnya. Tapi kemungkinan akhir tahun 2009 atau pertengahan 2010. Doain aja, yang jelas kita pengen album berikut jadi lebih baik dari album-album kami sebelumnya…

Siapa musisi yang kalian harapkan bisa diajak kolaborasi pada album DV selanjutnya?

Siapa ya?! Haha, tunggu aja yah!…

‘Grindcore Can Kill The Pop’, percayakah kalian dengan slogan ini?

Hahaha, kayaknya gue tau tuh slogan dari siapa! Ya menurut kami tuh slogan boleh dipercaya atau enggak,..terserah! Tapi kalau kami masih suka kok mendengarkan musik-musik pop biar gak pecah nih kepala dan juga buat nambah referensi…

 

[Samack]

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: