The Good, The Bad and The Ugly

 

Dengan diawali intro ‘Ecstasy of Gold’, inilah penggalan cerita ringan dari seorang [mantan] fans grupband Metallica. Seperti layaknya penggemar yang fanatik, berlebihan dan nyaris menjadi ‘groupie’. Ada satu masa di mana seorang fans musti mengejar pengalaman yang indah dan seru. Sekalipun itu harus bertindak nekat, bodoh dan konyol. Juga sedikit tampak naif, childish, dan fetish. Hingga tiba-tiba merasa dikhianati, lalu marah dan memilih untuk murtad. Pengalaman baik atau buruk kadang memang perlu diceritakan. This is a Metallica fans story based on his own words. And why so serious?!…

 

Pertama kali tahu dan mengenal Metallica?! Mmhh, sulit diingat kapan tepatnya. Tapi yang pasti masih awal-awal masa seragam putih-biru alias SMP, sekitar tahun 1989 – 1990. Yah, itu tidak lama setelah saya mengenal musik keras. Ini juga tidak lepas dari jasa kawan sebangku SMP yang pertama kali mengenalkan saya kepada band-band keras, sekaligus sahabat saya sampai hari ini. Namanya Asrofin alias Wencling. Thanks to you dude!…

 

Album Metallica yang pertama kali saya beli adalah Master of Puppets di lapak kaset bajakan sekitar Toko Buku Siswa [Malang]. Harganya cuma tiga ribu perak. Mutu rekamannya tidak terlalu bagus. Sampulnya adalah hasil foto reproan.

 

Tidak lama, di tempat yang sama, saya juga membeli The Best of Metallica, sebuah kaset C-90 yang berisi koleksi lagu dari tiga album pertama mereka. Kayaknya sih ini rekaman bootleg. Sebab tidak pernah ada dalam diskografi resmi Metallica.

 

Gara-gara dua kaset bajakan itu saya jadi suka dan nge-fans ama Metallica. Mulai memproklamirkan diri sebagai seorang metal militia dan metallikatz. Hidup saya mulai berubah…

 

Selanjutnya saya selalu membeli semua kaset Metallica yang asli di toko kaset. Baik itu versi album, live, kompilasi, maupun singel yang cuma 3-4 lagu itu. Mulai dari era Kill ‘Em All sampai kepada Black Album. Komplit!…

 

Lima album pertama Metallica adalah favorit saya semua. Tidak ada yang lebih baik, dan tidak ada yang lebih buruk. Dulu kalau sendirian di kamar pas malam hari, saya sering memutarnya secara berurutan, mulai dari Kill Em All sampai Black Album.

 

Sampai hari ini, belum pernah ada album thrash metal sebaik Master of Puppets, tidak juga Reign In Blood-nya Slayer!…

 

Lagu The Thing That Should Not Be adalah salah satu track metal paling elegan yang pernah saya dengarkan.

 

Setiap mendengarkan lagu Creeping Death, tepatnya di bagian tengah lagu yang klasik itu, saya selalu mengucapkan koor “Die! Die! Die!” dalam hati, seakan ikut berteriak di konser mereka.

 

Awalnya lagu Helpless, Am I Evil dan The Wait saya kira lagu asli ciptaan Metallica, ternyata bukan yah?!…

 

Menurut saya, album And Justice For All adalah salah satu pionir dan landmark bagi musik progresif metal dan math-metal. Semua lagunya bernuansa epic!..

 

Lagu One sering saya bayangkan cocok jadi soundtrack film Platoon. Yah, pas intro perang dan suara baling-baling helikopter itu…

 

Saya kenal Pushead dari Metallica. Dari sleeve cover And Justice For All tepatnya, atau artwork yang dinamai Hammer of Justice.

 

Black Album kayaknya bisa jadi rekaman cadas yang paling easy listening yang pernah ada di muka bumi.

 

Sampai pada Black Album, saya ingin tanya kepada anda ; Adakah band metal di planet ini yang sukses secara musikal dan komersil seperti Metallica?!

[ya, oke, saya tahu jawaban anda…]

 

Rata-rata untuk setiap album Metallica saya pernah membelinya sebanyak tiga kali – terpaksa gara-gara rekaman itu hilang, dipinjam tidak kembali, atau rusak.

 

Saya bisa memainkan full lagu Nothing Else Matters, Fade To Black, dan Enter Sandman dengan gitar bolong. Juga potongan intro Seek and Destroy, serta petikan akustik Master of Puppets dan One meskipun gak sempurna.

 

Semua koleksi rekaman Metallica saya adalah format kaset. Gila, sampai hari ini saya tidak pernah punya apalagi membeli satu pun CD Metallica. What a bad fans?!…

 

Kamar saya dulu sempit. Cuma 4 x 2 meter. Hampir seluruh dindingnya tertutup poster band. Maaf, cuma ada poster Metallica, band lain gak boleh, hehe.

 

Hey, bukan poster import yang gede dan berkualitas baik itu. Melainkan poster berbahan kertas karton biasa yang sering dijual di kaki lima. Poster-poster Metallica itu saya beli di pinggir jalan seharga 250 – 500 perak pada jaman itu.

 

Saat itu, fanatisme yang berlebihan terhadap Metallica ternyata bikin saya kurang ‘menguasai’ Slayer, Anthrax, Megadeth, atau Testament.

 

Sejak SMP sampai SMA saya suka mencoret-coret buku sekolah saya dengan logo klasik Metallica maupun judul lagu-lagu mereka.

 

Gara-gara suka Metallica, saya jadi ikut sentimen dan gak suka sama Dave Mustaine. Juga sebisa mungkin mengabaikan Megadeth!…

 

Saya dan teman-teman sempat kecanduan potongan rambut skin, yaitu sisi rambut yang ditipiskan seperti potongan Jason Newsted paska Black Album.

 

Cliff Burton dan Jason Newsted adalah member Metallica favorit saya!

[yang berarti tidak ada lagi personil favorit dalam formasi Metallica saat ini?!]

 

Saya dan seorang kawan sering iseng membanding-bandingkan suara setiap penyanyi. Kami sempat punya tebakan ; Siapa penyanyi Indonesia yang suara vokalnya mirip James Hetfield?! Jawabannya adalah Sawung Jabo!

[gak percaya?! Bandingkan aja suara mereka berdua!…]

 

Era awal 90-an ada band lokal namanya Nevermind dan Meteor. Saya suka nonton dua band ini karena mereka selalu mengkover lagu-lagu milik Metallica. Btw, drummer Nevermind itu akhirnya kita kenal sebagai Ravi, gitaris Extreme Decay.

 

Saya dan kawan-kawan dulu gemar naik gunung. Kami pernah naik gunung Panderman [2200mdpl] yang terletak di sebelah barat kota Malang dengan membawa poster flag Metallica hanya untuk foto-foto. Weird?!…

 

Saya, Budi dan Feri adalah tiga sekawan yang berangkat dari Malang untuk nonton konser Metallica di Jakarta [1993]. Pas hari H, saya terpaksa berbohong kepada ayah saya kalau mau nonton film midnight di bioskop. Sorry dad, it’s Metallica!…

 

Kami bertiga benar-benar perjuangan untuk nonton Metallica. Naik kereta kelas ekonomi, duit pas-pasan, dan tidak punya kenalan di Jakarta. Benar-benar bonek, Modal nekat!…

 

Sebelum show, kami sempat jalan-jalan ke Blok M sekedar untuk mencari suvenir yang berbau Metallica, seperti kaos atau postcard.

 

Di Lebak Bulus kami sempat terjebak di tengah ‘perang’ massa vs aparat, menerobos barikade, kucing-kucingan sama petugas, sampai kepala kegencet pintu masuk. A near death experience?!…

 

Tapi akhirnya kami ada di dalam arena menjadi saksi hidup konser Metallica – dan segala kerusuhan yang ada di luar stadion. Fight fire with fire! Haji kami mabrur!…

 

Potongan tiket konser Metallica masih saya tempel di belakang pintu kamar. Di sebelahnya juga saya tempel postcard Master of Puppets yang dibeli di Blok M.

 

Menuju konser Metallica adalah perjalanan ‘tour’ saya yang kedua, setelah berangkat ke Surabaya menonton konser Sepultura [1992] bersama Wencling.

 

Saya tidak pernah punya kaos original atau import Metallica. Cukup sulit mencarinya pada saat itu. Kaos-kaos Metallica yang pernah saya beli itu produk lokal dari C59 atau More Shop [Blok M, Jkt].

 

Saya bahkan pernah membeli kaos One warna putih di Mitra Department Store Malang!

 

Kaos Metallica favorit saya sebenarnya adalah Sad But True. Itu loh yang gambar dua tengkorak saling berhadapan dan biasa dipakai Jason Newsted ketika manggung. Sayang, sampai sekarang belum kesampean punya kaos itu!…

 

Akhirnya saya sempat punya kaos Metallica yang orisinil [import] berdesain Ride The Lightning yang didapatkan teman saya, Plecie, dari kios pakaian bekas. Tapi entah di mana kaos itu sekarang…

 

Gara-gara terpengaruh oleh penampilan Metallica, saya juga jadi suka memakai kaos hitam polos dan jins hitam ketat.

 

Bacaan favorit saya tentang Metallica adalah Hai Klip edisi Metallica yang diterbitkan oleh Majalah Hai menjelang band itu show di Jakarta [1993]. Saya sampai beli dua kali, dan keduanya hilang tanpa jejak. Cari lagi mana mungkin ada…

 

Ketika saya tinggal di Bandung, kaset bootleg The Best of Metallica itu saya berikan pada Alan, gitaris Tympanic Membrane. Ternyata dia juga fans Metallica, selain Carcass dan Bad Religion katanya.

 

Album Metallica yang terakhir kali saya beli adalah kaset Garage Inc di lapak kaset bekas di stadion Gajayana Malang. Sekedar ingin tahu seperti apa Metallica kalau mengkover lagu orang…

 

Saya tidak pernah membeli album Load [1996] sampai St.Anger [2003]. Mendengarkannya pun nyaris gak mau!…

 

Sejak album Load keluar, saya menyatakan diri bukan fans Metallica dan putus hubungan dengan mereka. Kadang saya anggap band ini udah tidak ada dan layak diimbuhi kalimat [RIP] alias Rest In Peace di belakang nama mereka – untuk sementara sih, sampai mereka rilis karya yang bagus dan ‘normal’ kembali!…

 

Saya sempat membenci Lars Ulrich ketika Metallica bersengketa soal mp3 dan menuntut Napster. Sebab saya merasa tidak ada yang salah dengan mp3 dan file-sharing. Lars aja yang kelewat sok dan arogan…

 

Kasus sengketa Metallica versus Napster sempat akan jadi topik skripsi saya pas kuliah di fakultas hukum. Tapi sayang gak jadi, karena di Indonesia saat itu belum ada peraturan hukum di bidang terkait [tehnologi informasi, internet, mp3].

 

Proyek S&M bersama pasukan orkestra-nya Michael Kamen itu lumayan. Cukup kreatif dan sensasional…

 

Saya punya DVD bajakan Some Kind of Monster tapi hanya saya setel sepotong-sepotong dan belum pernah ditonton secara lengkap.

 

Metallica di era St.Anger adalah blunder terbesar mereka. Mendengarkan album itu rasanya seperti mendengarkan band baru yang ingin menjadi the next Limb Bizkit atau the next Linkin Park!…

 

Blunder Metallica lainnya adalah ketika mereka semua mencukur pendek rambutnya dan merekrut Rob Trujillo sebagai bassist. Avril Lavigne di konser MTV Icon?! Bah!

 

Saya tidak suka sama bassist berperawakan gorila, Rob Trujillo. He’s a lucky bastard. Tambah benci lagi karena dia suka pake celana pendek selutut pas manggung. Metallica with short pants?! Damn you!

 

Ada ribuan bahkan jutaan band yang mengkover lagu Metallica. Dalam berbagai versi dan genre. Tetapi hanya beberapa yang menjadi favorit saya, antara lain Whiplash [Motorhead, Kiss of Death], Motorbreath [Jeruji, 3rd], dan One [Korn, MTV Icon].

 

Band lokal yang selalu mengingatkan saya pada Metallica adalah Roxx, Rotor, Nevermind, Meteor, Jeruji, dan Seringai.

 

The next Metallica is Mastodon!… bukan Trivium apalagi Avenged Sevenfold!

 

Saya baru tahu kalau ada situs penggemar Metallica di Indonesia [fansite]. Cek aja di www.indonesiapullingteeth.com.

 

Saya pertama kali mendapatkan album Death Magnetic seminggu yang lalu dalam format MP3 yang dibawa Yoda ke rumah. Langsung saya setel bersama Budi dan Feri. Ini takdir yang menarik. Sebab kami bertiga juga yang sama-sama nonton konser Metallica bareng di Jakarta, tahun 1993 lalu. Thanks meister Yoda!

 

Saya menaruh harapan yang sangat besar ketika mendengar berita bahwa Rick Rubin akan memproduseri album Death Magnetic. Sebab Bob Rock selalu gagal selepas Black Album.

 

Sudah seminggu terakhir ini saya selalu memutar Death Magnetic dan lagu-lagu lawas Metallica. Demi sebuah nostalgia dan tuntutan berwacana…

[serta untuk menyiapkan edisi spesial di Apokalip!]

 

Setelah Death Magnetic apakah saya masih menolak Metallica atau musti kembali menjadi fans mereka?! Well, sampai pada baris terakhir ini saya belum memutuskan…

 

Waiting for the one

The day that never comes

When you stand up and feel the warmth

But the sunshine never comes

No the sunshine never comes

 

 

[Some Kind of Samakk]

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: