Primitive Chimpanzee ; Krossover Jenaka

Primitive Chimpanzee adalah empat pemuda antik dalam pengaruh game strategi, kartun, kopi hitam, aktifitas distro, tehnik sablon, film drama korea, dan sepeda pancal. Vokalis Viktor, gitaris Agus Moron, bassis Gindhung dan drummer Agung kembali turun gunung, melintasi hutan, menyeberangi sungai, lalu masuk studio untuk merekam sebuah ‘monsterpiece’ yang tidak akan ada duanya…

 

Beberapa pekan lalu Primitive Chimpanzee [PC] menjalani sesi recording untuk materi album baru mereka. Belasan lagu sukses direkam secara marathon di studio Delta [Malang] selama total enam jam dengan supervisi Supret [Anorma]. Proses rekamannya sendiri digarap secara santai, sarat canda, dan penuh spontanitas.

 

Dalam suatu kesempatan, penulis bertemu Agus Moron di distro Rock Bandits, sore hari menjelang petang yang mendung. Ketika itu Agus yang ditemani sang istri tampak bersemangat menceritakan semua proses penggarapan album mereka.

 

“Nah, iki loh rungokno! Sueep pokok’e. Sukak aku ambek band iki…” cetusnya sambil mesam-mesem bangga memamerkan beberapa lagu PC dari komputer tokonya. Riff gitar Agus memang terdengar lebih serem dan berat dari biasanya. Cenderung lebih thrashing seperti Slayer dengan jurus kuncian hardcore yang old-school. Konon saat rekaman dia memakai gitar miliki Mentho [Keramat]. Mmhh, pantes aja…

 

Pada dasarnya, musik PC memang tetap berada di jalur crossover. Di antara metal dan hardcore. Namun kali ini nuansa klasik thrash-nya cukup kental – seperti perpaduan antara Tankard, Assassins, Merauder, dan Anthrax. Tentu dibalut lirik spontan, absurd, dan sarat dengan humor lokal yang kayaknya cuma bisa dipahami benar oleh sebagian orang. Terutama teman-teman terdekat mereka sendiri. Mungkin cara terbaik untuk memahami maksud dari lagu-lagu PC adalah dengan berkumpul bersama mereka. If you don’t mind…

 

Viktor yang menulis lirik-liriknya sesaat sebelum dia take vokal. “Sambil duduk bersila di teras studio, trus serius menulis sesuatu di kertas. Ditemani sama kacang, Chiki, dan jajanan aneh lainnya,” jelas Agus sambil geleng-geleng kepala seperti kehabisan akal memahami vokalisnya yang ‘ganjil’ itu.

 

Dalam kesempatan yang lain, penulis bertemu Viktor di sebuah rumah kontrakan di daerah Celaket – atau yang biasa mereka sebut ‘Ceko’. Dia sedang serius menghadap komputer dan asyik maen game perang-perangan bersama Gus Dinn [aktivis Kolektif Radiasi]. Tak lama, dia mematikan game-nya lalu membuka file lain yang berisi kumpulan desain dan artwork. “Ini loh untuk desain kovernya PC nanti,” katanya sambil meringis.

 

“Saya menggambar sketsa kover ini sambil mendengarkan Cannibal Corpse!” ungkap Viktor ketika menunjukkan gambar-gambar kartun sangar dengan dominasi warna-warna cerah. Belakangan menurut beberapa sumber, untuk finishing desain kovernya Viktor malah memutar lagu-lagu dari Obituary. Mungkin untuk mendapatkan mood yang pas, sket yang seram, atau entah kenapa…

 

Menurut Viktor, kemasan sampulnya nanti cukup eksklusif dan tidak biasa. Sebab dilengkapi dengan lirik dan koleksi foto-foto PC selama karirnya di berbagai kesempatan. “Sini kalo kalian ada foto-foto lawas PC, ntar aku masukin!” pinta Viktor kepada saya, serta Budhy Sarzo dan Wencling yang juga kebetulan ada di sana.

 

Setelah ngobrol soal sampul, kami mulai beralih topik tentang musik thrash dan lagu-lagu yang ada di bakal albumnya PC nanti. Budhy cerita soal konser Comeback Kid yang dia tonton sepekan sebelumnya di Jakarta. Lalu mereka asyik membahas band-band thrash dari jaman baheula sampai yang sedang hype saat ini seperti Municipal Waste atau Evile. Sementara Wencling tampak sibuk di dapur memasak mie instan dengan segenggam cabe merah.

 

Viktor mengaku hampir semua lagu-lagunya itu adalah karya spontan yang terinspirasi dari kejadian sehari-hari. “Bahkan ada satu lagu berjudul Death Monkey Squad yang kita bikin mendadak pas rekaman di Delta kemaren,” katanya.

 

Sementara lagu Rawon of Tuyul terinspirasi setelah dia makan di warung Rawon Tuyul [daerah Oro-Oro Dowo] bersama Gus Dinn. Rawon ini memang cukup melegenda. Rasanya cukup lezat dan mereka langsung lahap memakannya. Sampai akhirnya pas bayar di kasir, mereka kaget campur jengkel karena satu porsinya seharga enam belas ribu!…

 

“J@nc#k, mahal amat!” ujarnya geram. Dari kejadian itulah dia dapat ilham untuk menulis lagu Rawon of Tuyul yang penuh dengan sumpah serapah. Tembang ini diyakini oleh sebagian teman bakal jadi hits di scene lokal tidak lama lagi.

 

“Total saya cuma take vokal sekali aja. Gitarnya tiga kali, trus bass-nya satu atau dua kali gitu lah…” kata Viktor agak lupa-lupa ingat. Dua sobat karib mereka, Nonot [eks Don’t Regret] dan Bagus [The Apathies], ikut mengisi suara latar di album ini. “Aslinya mereka bantu-bantu di sektor katering pas rekaman, tiba-tiba langsung aja kita ajak ngisi vokal sekalian,” kata Viktor.

 

Sebuah intro yang konyol mereka buat secara iseng di sisa waktu rekaman. Berisi bagian riff gitar ala Slayer yang mereka cubit seperti aslinya dan langsung pakai tanpa peduli mau mengeluh macam apa Kerry King nanti. Edan!

 

Rasanya kita perlu bersiap untuk rilisan yang satu ini. Albumnya nanti berisi total 15 lagu, termasuk beberapa lagu lawas yang mereka garap ulang seperti SOS, Kutang, Jungle Riot, Awas Anjing Galak, PCHC Anthem, dll. Rencananya album bertitel Primitive Chimpanzee itu dirilis tengah tahun ini lewat label rekaman milik sahabat mereka, Apri ‘si manusia baja’ dari grupband J’et Adore. “Tinggal finishing aja kok. Sama nambah-nambah materi foto lawas buat sampul,” jelas Gindhung suatu malam ketika ngopi bareng di Sumbersari. Can’t hardly wait!…

 

Sambil menanti, coba ikuti sepetik kalimat dari intro ugal-ugalan mereka ;

“Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak / Sugeng mendengarkan Primitive Chimpanzee / Bakul tulup, bakul rombeng, tukang becak / Huahahaha / Pun monggo pinarak / Awas kecantol / J@nc#k / hehehehe…”

 

Ya, band ini memang ajaib!…

 

[Samack]

 

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: