Let’s Make A History Or Let’s Make Us Sorry!

“JRP hari ketiga dibatalkan!” begitu pesan singkat yang sampai ke piranti seluler saya, siang bolong Minggu [13 Juli] kemarin. Sontak saya geragapan menghubungi beberapa rekan dan panitia. Kabut mulai tersingkap; Jakarta Rock Parade [JRP] tetap jalan tapi dengan band dan panggung yang tersisa serta rundown acara yang ‘sedikit’ molor!…

 

Pass gratis di tangan, saya dan beberapa rekan tetap melaju ke Senayan karena toh pasti ada yang masih bisa saya tonton. Lagipula mungkin saja Mono, Elpamas, Voodoo dan Flowers masih termasuk band yang ‘tersisa’. Pukul 17.00, setelah tersesat dalam kawasan Senayan, saya berhasil masuk ke dalam area Jakarta Rock Parade. Gila! Venue acara lengang! Hanya terlihat beberapa penonton dan segerombol wartawan di depan panggung Rock Lounge. Rupanya isu batalnya JRP hari ketiga sudah memakan korban! Sementara di ujung sana, Miracle tengah menjajal setlist-nya. Sejauh yang saya ingat, Miracle menyuguhkan progressive metal dengan sentuhan neo-prog yang lumayan terasa. Ini di luar perkiraan karena saya pernah diperingkatkan teman saya bahwa, “Miracle is just another Dream Theater next copycat!” Sore itu, performance mereka cukup flawless [one or flaws are acceptable]. Yah sebagai sambutan awal, Miracle was just fine [thanks for the neo-prog touch dude!].

 

Miracle tuntas, terdengar kabar Voodoo sudah beraksi di dalam Tennis Indoor. Dari luar ruangan terdengar jelas sound gitar bersih milik Edo Widis berdenting. Sudah pasti Voodoo yang tengah dielu-elukan penonton. Tampak Edo Widis duduk dengan berjuntai di sebelah kanan panggung. Jari kurusnya tampak santai merunut nada gubahan Brian May dalam Love Of My Life dengan precise. Tuntas tembang legendaris tersebut, meluncurlah repertoir Voodoo lainnya. Susah rasanya mengingkari kenyataan bahwa malam itu Edo Widis dkk terlihat santai memberikan ‘kuliah singkat’ bagaimana cara bermain musik rock dengan manis, indah dan sound maksimal. Sayangnya, karena adanya generation gap antara penonton dengan performer, ajakan untuk bernyanyi bersama disambut nyanyian lirih oleh sebagian kepala saja. Nampaknya, masih banyak yang terlalu muda untuk mengingat kejayaan band yang satu ini. Tak terasa setlist Voodoo tuntas, tapi bagi sebagian penonton, termasuk saya, merasa ada yang kurang. Benar saja, hanya beberapa detik setelah panggung gelap, sang vokalis berceloteh, “Eh, masih ada!”. Lalu meluncurlah Salam Tuk Dia. Kali ini, koor terdengar lebih keras. Nice show!

 

Di Rock Lounge Stage, tampak personel Nymphea beraksi. Sependengaran saya, mereka memainkan alternative rock/grunge. Nymphea tampil all out tanpa memperdulikan jumlah audience yang menonton mereka. Sayang, output gitar yang terlalu tajam cukup memekakkan telinga.

 

Hanya bertahan beberapa set saja, Sajama Cut sudah menunggu di dalam Tennis Indoor. Terlambat satu lagu, saya mendapati crowd tengah menyenandungkan “Outside, outside you can be anyone you want!”. Sejatinya, saya tidak terlalu hapal repertoir band yang satu ini. Tak ayal, setelah lagu tersebut tuntas, saya berubah menjadi penonton dungu yang mencoba mencari judul lagu di setiap chorus yang dinyanyikan Marcel [sorry guys!]. Pencarian membuahkan hasil yang nihil selama beberapa lama sampai saat Marcel memperkenalkan gitaris tamu mereka malam itu, Adrian Adioetomo, saat itulah Marcel menyebut judul lagunya, Lullaby. Ok, thanks for saving me from my relentless title searching project. Saya pun bebas menikmati lagu tersebut dengan sayatan gitar Adrian.

 

Sejenak menghisap udara segar di luar Tennis Indoor, saya menemukan The Aftermiles tengah beraksi di Panggung Rock Lounge. Sayang tak sempat saya menikmati penampilan mereka, saya sudah diajak masuk lagi untuk menonton Vox. Saya hampir tidak mengenali mereka kecuali gitarisnya yang brewok. Rekan saya berceloteh, “Kayaknya ada yang ganti deh, Si Polo nggak ada!”. Saya cuma nyengir lantas lekas maju untuk menikmati pembagian vokal unik khas Vox. Benar saja, semua mikrofon yang ada di panggung dimanfaatkan dengan baik untuk bernyanyi bersama. Dua gitaris dan sang basis seperti tampil dengan energi berlebih. However, sang gitaris brewoklah yang paling asik untuk ditonton. Tak henti-hentinya ia meloncat layaknya bocah yang baru dikabulkan keinginannya, memberi komando pada penonton untuk menyanyi dan mencuri melodi sebuah tembang terkenal, kalau tidak salah dengar, Cucak Rowo!

 

Insting membawa saya keluar, tapi sayangnya sedikit telat. Saat saya sampai, Flowers tengah membuka lagu terkenalnya, Tolong Bu Dokter. Gila, rasanya celana yang saya gunakan kembali pendek dan biru saat lagu itu berkumandang. Crowd mendadak jalang dan ikut bernyanyi selama lagu tersebut dikumandangkan. Sayangnya, saat lagu tersebut kelar, saya terpaksa meninggalkan keramaian untuk mengurusi beberapa hal yang berbau ‘profesionalisme’.

 

Karena tetek-bengek tersebut, setidaknya Karon N’ Roll, Holy City Rollers, dan Efek Rumah Kaca terpaksa saya tinggalkan. Mahal memang harga yang harus dibayar. Konon saat Efek Rumah Kaca beraksi, Cholil dkk mengapit Iman [Zeke And The Popo] dan Adrian Adioetomo [lagi!] untuk memainkan Di Udara. Damn!

 

Tugas beres dan saya kembali bertualang. Kali ini saya masuk ke Tennis Indoor karena terdengar kabar Elpamas sedang beraksi. Benar saja, Dodi Keswara Katamsi tengah lantang bersuara. Saya kembali telat, bahkan tidak tahu apa yang tengah dimainkan Elpamas saat itu. Untungnya, saya tidak melewatkan cover classic Pink Floyd, Another Brick In The Wall [dengan urutan Part 1 – Happiest Day Of My Life –  Part 2]. Tampak penonton sumringah menyambut lagu tersebut, salah satunya Arian13 yang duduk di belakang saya. Seingat saya, seharusnya Seringai manggung hari itu, namun entah saya melewatkannya atau mereka batal manggung, saya tidak tahu pasti?! Kembali di atas panggung, Dodi Katamsi cs tampil superb dengan menirukan semua detil lagu lawas tersebut. Sementara sang gitaris menutup show mereka dengan membanting kapak elektriknya. Hebat! Malam itu hanya dia yang berani melakukannya – walaupun kemudian kru-nya jelas terlihat cemas ketika mengambil kapak tuannya dari lantai panggung!…

 

Puas dengan Elpamas, saya kembali keluar. Untuk beberapa waktu yang lama, saya akan menghabiskan waktu di panggung ini. The Brandals tampak sedang bersenang-senang di panggung. The Brandals tampil intense dan penuh raw power. Jika Elpamas menghajar Another Brick In The Wall, maka The Brandals merombak Love Me Two Times. Tapi bukan itu yang saya tunggu malam itu: Saya selalu tertarik omongan lancang Eka Brandals di setiap jeda antar lagu. Malam itu, ia berceloteh tentang kekurangan event tersebut dan bagian tubuh rahasia milik Andy Tielman. Well done!

 

Female-fronted Wonderbra naik panggung setelah The Brandals. Wonderbra dengan cuek mengawinkan rock, funk, blues, psikedelia serta kabaret guna melawan sihir Efek Rumah Kaca yang berkumandang di dalam Tennis Indoor. Sementara itu, tampak beberapa anggota White Shoes & The Couples Company terlihat asyik menonton di depan Rock Lounge Stage. Rupanya Wonderbra membuka parade singkat female fronted band karena setelah Wonderbra menyelesaikan setlist-nya, naik sebuah band dengan formasi serupa namun dengan stilistika musik yang jauh berbeda. Maaf saya lupa nama band tersebut, what I remember is that this female fronted modern metal band tried real hard to win the remaining audience. Sementara sayup terdengar, “Bicara dengan lampu mati / Lampu hidup aku mati…” dari dalam Tennis Indoor.

 

Sejenak beristirahat di pinggir pelataran, saya bisa melihat bahwa dalam hitungan menit Rock Lounge akan dihajar cerita tentang kawat telegram yang rusak, anjing-anjing yang dibiarkan lepas dan terjemahan bebas dongeng urban tentang terciptanya blues. Yup, Adrian Adioetomo, salah satu manusia paling sibuk hari itu, tengah bersiap di atas panggung. Dengan santai ia membuka show dengan celoteh kepada siapapun yang berkuasa di atas sound di Rock Lounge Stage, “Mas, keringin aja gitar saya, tapi kalo suara saya kasih efek dikit juga boleh soalnya suara saya nggak bagus-bagus amat”. Kontan semua audiens tahu the man is just being humble. Karena toh sejurus kemudian Adrian fasih menawarkan delta blues dengan tangan dan suaranya yang, seperti biasa, luar biasa! Dengan tangannya ia meracik blues tua nan garang sementara dengan suaranya ia bercerita tentang iblis, anjing, telegram dan berbagai hal lainnya yang tak mampu saya tangkap dengan ingatan saya. Hebatnya lagi, ia mampu menantang ‘kekuasaan’ panitia akan durasi dengan memperpanjang lagu terakhir hingga batas yang dia kehendaki. What a sweet revenge!…

 

Adrian berlalu, Zi Factor masuk. Harapan saya cukup besar akan performance band ini karena dari selentingan yang saya terima, Zi Factor adalah band dengan rekaman berkelas internasional. Tetapi selentingan hanya sekedar selentingan. Sejatinya, Zi Factor bermain modern metal yang intense dengan sentuhan neo-classical dan pilihan nada etnis di beberapa bagian lagu. Sayangnya, malam itu output performa mereka kurang maksimal. Bahkan muncul di kepala saya sebuah pertanyaan sederhana; kalau memang Zi Factor berstandar internasional kenapa sound gitar malam itu kurang bisa dinikmati?! Apakah mungkin karena piranti yang disediakan panitia tidak berstandar internasional?!…

 

Sayup-sayup terdengar sajian band asal Italia, Brandon Ashley and The Silverbugs, dari dalam Tennis Indoor Stage. Saya bergeming karena toh saya lebih penasaran akan penampilan The Southern Beach Terror. Tanpa waktu lama untuk setting alat, The Southern Beach Terror langsung menghajar Rock Lounge dengan surf rock yang antik, menawan dan prima. Yang saya ingat, mereka membuka dengan Wild Seahorses yang menawan. Setelah itu, semua tenggelam dalam liukan guitar dan keyboard suguhan The Southern Beach Terror. Di sela-sela lagu, sang frontman menunjukkan kelasnya sebagai entertainer. Ia berceloteh tentang surf rock yang dilupakan dan berkata bahwa hanya orang bodoh yang mau bermain surf rock. Pendeknya, tak percuma menunggu lama dan melupakan aksi band asal Italia tersebut untuk The Southern Beach Terror karena mereka cukup menghibur. Titik!.

 

Puas dengan The Southern Beach Terror, Mono menunggu. Sejumput manusia berkumpul di bibir panggung. Banyak dari mereka yang mengenakan baju bertuliskan Mono atau nama band post rock lainnya. Mengasyikkan melihat para personel Mono yang turun langsung melakukan soundcheck. Tampak kru panggung lokal sibuk melayani kemauan empat manusia Asia Timur tersebut. Lucunya, entah karena ada language gap atau tidak, ada sesuatu yang mengundang tawa ketika ternyata salah satu monitor baru diketahui belum dalam posisi ‘on’ menjelang akhir soundcheck!… Sementara di bawah panggung, semua pengunjung dan performer berkumpul menjadi satu dengan sabar menunggu proses tersebut. Tak jarang terdengar teriakan nakal dari penonton yang entah sabar atau sebaliknya, “Miyabi!” atau “Maria Ozawa!”. Untung saja, satu-satunya personil wanita Mono tidak ambil pusing dengan celotehan nakal dan cenderung humiliating itu. Entah apa jadinya jika ia melayani celotehan tersebut. Mungkin ia lebih pusing dengan Gallien Krueger atau mungkin ia menertawakan mereka yang masih terpasung hegemoni Maria Ozama di tengah jutaan pilihan lainnya!

 

Beres Mono soundcheck, saya sempat melongok ke Rock Lounge guna menyaksikan Divine. Dengan penonton segelintir, ternyata Divine tak lantas kendor. Bahkan dengan santainya mereka masih bisa membangun komunikasi dengan metalhead yang tersisa. Satu-satunya set yang saya ingat adalah Logika Perlahan Mati. Sepersekian detik sebelum closing statement muncul dari vokalis Divine, salah satu sobat saya meminta kembali masuk karena Mono sudah siap di atas panggung.

 

Mono, hidangan utama malam itu, tampil nirkata. Sepertinya mereka menganut paham ‘let the instruments do the talking’. Sepanjang performance tidak ada kata terucap dari satupun personil band tersebut. Mulai dari pukul 01.14 sampai 02.14 dini hari Senin 14 Juli 2008, Mono hanya menyuguhkan momen post rock yang kadang jernih, kadang garang, serta eksperimen noise yang kerap berlangsung cukup langgeng tanpa sedikit pun melakukan komunikasi dengan penonton. Semua anggota Mono sibuk trance dengan musik yang mereka mainkan sendiri di atas panggung, sedangkan para penonton sibuk menganggukkan kepala, berdecak kagum dan bertepuk tangan di setiap ujung lagu.

 

Ada untungnya juga tidak mengenal repertoir Mono sama sekali. I was empty like an empty glass, jadi saya bisa menikmati performa mereka tanpa harapan apapun dengan hasil yang maksimal. Bagi saya, Mono menyuguhkan pertunjukan post rock yang maksimal dengan tata cahaya yang mumpuni dan tentunya sound yang prima [bahkan Voodoo pun tak bisa menandinginya]. Risih dengan penonton yang terus meneriakkan “Yeah!” atau “Sadis!!”, saya lalu pindah ke lantai dua Tennis Indoor. Di sinilah Mono terdengar dan terlihat lebih maksimal. Dari sudut pandang ini, Mono seperti sekelompok penari yang tengah menari dengan ritme yang kadang cepat, kadang lambat, dalam taburan cahaya yang indah. Dari sini pula, paduan instrumen terdengar sangat pas!

 

Sejam berlalu Mono pun menyelesaikan set-nya – di bawah sebagian penonton yang meneriakkan “Encore, encore!” serta kalimat standar lainnya seperti “We want more!”.. Tapi saya yakin Mono tak pernah akan kembali untuk sebuah encore pun setelah mereka meletakkan instrumen dan mengambil air mineral serta melambaikan tangan saat meninggalkan panggung. Alih-alih Mono, yang muncul adalah sang empunya acara yang berbicara sekilas untuk berterimakasih serta berharap semua penonton bisa berkumpul pada JRP berikutnya, dan ditutup dengan kalimat standar, “Loe semua rock & roll banget!…”

 

Berikutnya?! Itulah kata yang berputar di otak saya saat duduk di bangku taksi. Sementara teman yang duduk di samping saya tengah menegaskan statusnya terhadap perempuannya, dan rekan lainnya mengoceh tentang Mono. Saya salut dengan panitia JRP yang nekat memutuskan untuk meneriakkan ‘the show must go on’ di tengah nyinyir wajah beberapa penonton serta mangkirnya sebagian performer. Sementara saya masih terkesima dengan ‘inovasi’ panitia tentang sebuah acara rock yang diniatkan untuk menyaingi, setidaknya SingFest atau Fuji Rock Festival, tanpa sponsor apalagi promosi yang berarti [sinting!]. Jauh di dalam lubuk hati saya, susah menepis cibiran akan carut marutnya acara. Susah juga menghapus kenyataan bahwa JRP mungkin telah mencatat sejarah – sesuaikan dengan tagline Let’s Make A History?! – sebagai festival dengan jumlah performer yang mengundurkan diri terbanyak. Yang jelas, jika memang masih ada JRP berikutnya, tolong pastikan bahwa event berikutnya dikelola dengan jauh lebih baik. Ini jika tidak ingin dibandingkan dengan acara musik seperti Jazz Goes To Campus atau pensi-pensi SMU, atau seperti tukas rekan saya, “Mending gue nonton siaran langsung F1 kalo tau acaranya kayak gini!…”

 

[Innerciatic Manneken]

Penulis adalah salah satu kontributor Apokalip yang cukup aktif di rubrik ‘resensi musik’. Identitas aslinya masih dirahasiakan. Tulisan di atas merupakan liputan konser yang pertama dia bikin secara eksklusif untuk webzine ini.

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: