Get In The Van

Henry Rollins

2.13.61 Publishing

Tidak banyak buku yang mengupas langkah dan perjalanan sebuah kelompok musik rock dengan begitu jujur dan komplit. Kalaupun ada kebanyakan bertutur tentang kisah grup musik itu saat mencapai popularitas dan kesuksesan. Memang kebanyakan masyarakat menganggap popularitas bagi seniman, musisi, atau artis adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Kepopuleran mereka diyakini sebagai anugerah serta keberuntungan yang banyak diidamkan oleh para musisi muda. Mereka yang sering membayangkan bahwa perjalanan show atau tour grup musik itu penuh glamour, hotel berbintang, panggung megah, perempuan cantik, kejaran pers dan histeria fans – akan segera sirna setelah membaca beberapa tulisan di buku ini. “…By turns bluntly sobering and darkly hilarious, ‘Get In The Van’ is a fascinating firsthand look into the band that defined a sound and attitude of an era.” Begitulah kalimat yang tertulis pada halaman depan buku yang berjudul asli Get In The Van ; On The Road With Black Flag ini. Sang vokalis Henry Rollins mengisahkan kembali perjalanan karir band-nya sejak awal bergabung di tahun 1981 sampai bubar di tahun 1986. Dekade 80-an merupakan era penting bagi perkembangan musik punk/hardcore di Amerika Serikat. Bahkan dianggap sebagai tonggak awal progresi jenis musik punk/hardcore, yang diusung oleh kelompok-kelompok macam Minor Threat, Dead Kennedy’s, The Circle Jerks atau Black Flag sendiri. Sehingga dikenal istilah New York Hardcore ataupun 80’s Hardcore di kalangan penggemar musik cadas sampai saat ini. Henry Rollins adalah seorang pencinta musik keras yang bekerja sebagai penjaga toko es krim. Pertama kali ia mengenal Black Flag saat menonton show mereka di Washington DC. Setelah kenal baik dengan para personilnya, barulah dia ditawari untuk mengisi posisi singer di band tersebut. Sejak itu ia resmi bergabung sebagai vokalis salah satu sindikat punk/hc yang cukup berpengaruh di Amerika Serikat. Henry memaparkan cuplikan kisah-kisah perjalanan karir mereka dari hari ke hari, dari berbagai tempat di sela rangkaian tour-nya di Amerika dan Eropa. Buku ini juga ibarat cuplikan jurnal atau buku harian baginya. “What you’ve got here is all the journal entries from 1983 to 1986 and two chapters detailing events in 1981 and 1982 when I wasn’t keeping a journal…” Di fase awal karir Henry bersama Black Flag, dia selaku ‘orang baru’ masih merasa jengah dengan apresiasi publik yang meragukan kemampuannya. Untung para anggota band serta sobat karibnya, Ian macKaye [frontman Minor Threat] itu kerap memberi dukungan kepadanya. Saat tur di Eropa, mereka mendapatkan ujian yang cukup berat dari band lain, kalangan pers maupun publik setempat yang banyak merendahkan kemampuan band asal Amerika Serikat. Selama karir Henry bersama Black Flag, mereka telah melakukan tur ke berbagai tempat, mulai dari New York sampai dengan Vienna. Termasuk di antaranya gigs yang biasa digelar di klub, hall, maupun acara party yang berlangsung hampir setiap hari. Bahkan pada awal tahun 1985, Black Flag beberapa kali tampil secara instrumental saat show di California. Mereka menyewa van yang menjadi ‘markas’ bagi seluruh anggota band dan roadies-nya. Van itu pula yang mereka kendarai dari satu tempat ke tempat yang lain. Termasuk tinggal dan tidur di dalamnya jika tidak ada rumah kenalan yang bisa dikunjungi. Setiap kali akan show, mereka lebih sering berkeliling di jalan-jalan kota menyebarkan flyers atau pamflet sambil menginformasikan konsernya sendiri kepada publik. Sungguh unik, sebab jarang ada musisi atau artis yang mau capek keliling kota mempublikasikan dan menyebarkan poster konsernya sendiri. Berbagai pengalaman menarik yang mungkin patut disimak adalah saat mereka dibenci dan kerap dilempari oleh penonton. Terkadang hal tersebut berimbas pada perkelahian masal di antara penonton sendiri. Mereka juga pernah ditangkap polisi setempat karena dianggap biang rusuh atau kumpulan berandalan. Pengalaman buruk juga terjadi saat mereka ditipu oleh pihak promotor show, atau mulai dijelek-jelekkan oleh band lain yang merasa tersaingi. Memang, setelah membaca penggalan kisah demi kisah yang diungkapkan dalam buku ini, semakin banyak pula fenomena menarik yang terjadi dalam perjalanan sebuah band independen yang teguh memegang jargon do it yourself-nya. Henry sekarang masih eksis sebagai vokalis Rollins Band. Dia juga dikenal sebagai penulis serta spoken word performer yang sering diundang tampil di berbagai teater dan kampus-kampus perguruan tinggi di Amerika Serikat maupun Eropa. Dia juga seorang aktor, yang pernah bermain dalam film The Chase dan Johnny Mnemonic. Pada tahun 1988, Henry mendirikan usaha penerbitan yang diberi nama 2.13.61 Publishing, untuk merilis karya-karya seniman sekaligus penulis berbakat seperti Nick Cave, Henry Miller, Iggy Pop, Ross Halfin, maupun karya Henry sendiri. Dia telah menulis banyak esai, puisi maupun cerita pendek. Beberapa karyanya yang lain juga sudah dipublikasikan, seperti High Adventure in The Great Outdoors, Black Coffee Blues, The First Five ataupun Eye Scream. Buku yang tersedia pula dalam format spoken word audio [CD dan kaset] ini juga menyuguhkan gambar dan foto-foto mereka saat onstage, backstage, touring, bersama fans dan kerabat, sampai proses rekaman di studio. Juga banyak gambar-gambar ilustrasi poster, flyers dan tiket konser mereka di berbagai tempat. Plus jadwal tur Black Flag mulai dari 1981 sampai 1986. Alhasil buku ini ibarat dokumentasi paling lengkap tentang perjalanan karir Black Flag. Get In The Van juga menegaskan seorang manusia kelas bawah biasa bernama Henry yang ingin meraih impiannya dengan segala pola pikir positif. Seperti yang dia ungkapkan sendiri di akhir lembaran buku setebal 258 halaman ini, “…This is what I do. This is who I am. I am a guy who used to work at an ice cream store in Washington DC. I am of average intelligence. There’s nothing special about me. If I can get this far, I would be very surprised if you couldn’t get at least twice as far. Fuck them. Keep your blood clean, your body lean and your mind sharp.” [livingOz]

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: