Friday The Thirteen

Tembok Jericho seakan memagari kota Malang pada hari Jum’at, 13 Juni 2008. Oh no, it’s Friday The Thirteen. Menjebak ribuan anak muda dari berbagai daerah untuk datang berduyun menyaksikan Walls of Jericho, kelompok female-fronted hardcore yang kesohor asal Detroit, USA. Band ini hadir bersama schedule yang ketat, aksi yang cemerlang, dan syal Arema di atas panggung. Friday the 13th is [not always] your worst nightmare!….

 

Konser dimulai sekitar pukul 19.30 bersama band pembuka Primitive Chimpanzee. Badut-badut thrashing-hardcore ini naik pentas bak jagoan asal pulau Madura dengan kaos bergaris merah putih dan celana gombrong hitam yang penuh jahitan warna-warni. Sepintas ada asesoris jaran kepang dan reog ponorogo. Kostum mereka memang semeriah musiknya. Irama hardcore yang lugas dengan intensitas thrash metal yang agressif. Malam itu, Viktor dkk melantunkan S.O.S, Awas Anjing Galak, Dead Monkey Squad, Hardcore Pret, Rawon of Tuyul dan Raining Blood-nya Slayer. Sekitar 30 menit kemudian, panggung berpindah menjadi medan tempur bagi Screaming Factor. Novi dkk tampil rapi dan cukup istimewa. Mereka mengusung Behind The Fangs, Eyeless Crown, Welcome Pieces, All My Life [Foo Fighter covers], hingga I’m Still Broken While You Become A Mirror. Dua band pembuka ini telah membuktikan bahwa mereka masih berbahaya dan pantas menjadi ancaman dari scene cadas Malang.

 

Candace Kucsulain [vokal], Chris Rawson [gitar], Mike Hasty [gitar], Dustin Schoenhofer [drum], dan Aaron Ruby [bass] satu-persatu naik ke panggung diiringi dengan sebuah intro yang megah dan heroik. Tanpa basi-basi Walls of Jericho [WOJ] langsung menghajar kuping-kuping yang sudah sekian lama menanti. “We are here but not to entertain you!” seru Candace kepada sekitar 2000 crowd yang memadati venue Dome UMM. Perempuan bongsor ini memang dikenal selalu heboh di setiap panggungnya. Gerakannya sungguh enerjik dan luwes. Dia seperti menari, atau bahkan aerobik di atas stage?! Damn, she’s so hot and powerfull. She’s like a wonderwoman. Entah berapa kali pula dia memprovokasi penonton untuk turun dari tribun dan mengajak ‘penduduk moshpit’ untuk terus bergerak. Komando yang meluncur dari mulut Candace seperti “C’mon, makes some noise!” atau “Turn around, turn around!” juga diucapkan berkali-kali sambil memutar-mutarkan tangannya. Crowd pun tidak tinggal diam. Mereka ikut larut dalam aksi WOJ yang prima dan memecah moshpit menjadi begitu seru serta menakjubkan. Pogo, slam dan diving seakan tidak pernah berakhir sejak awal lagu pertama. Menjadi gelombang arena moshpit yang besar. Suatu pemandangan yang keren. Terus terang cukup lama penulis tidak melihat moshpit seramai ini semenjak konser The Exploited di lokasi yang sama, dua tahun lalu.

 

Well, kinerja WOJ malam itu rasanya sangat layak untuk ditiru oleh band-band lokal. Bayangkan, mereka hanya datang berenam – tanpa kru tehnisi dan hanya mengajak seorang perempuan cantik yang berperan sebagai sound engineer merangkap road manager WOJ dalam tour kali ini. Hasilnya sungguh luar biasa. Mutu sound yang keluar cukup terjaga, dan mereka terbukti tetap bisa bekerja secara efektif serta profesional. Padahal pagi tadi Candace dkk masih berangkat dari Singapore menuju Surabaya, terus langsung ke Malang untuk check-in hotel, wawancara radio, soundcheck dan tanpa kembali ke hotel mereka siap tampil di atas panggung. “Nanggung ah balik ke hotel, kita standby di venue aja. Mau liat band pembuka sambil prepare buat show kita nanti. Gak papa biar sekalian capeknya!” ujar Candace ketika ditemui penulis di backstage sehabis soundcheck sore harinya. Itu mungkin belum seberapa. Sehabis show di Malang mereka musti segera istirahat dan bangun jam tiga subuh untuk melanjutkan trip ke Jakarta untuk manggung di sana malam harinya. Wuih! Mungkin mitos itu benar, tour bagi sebuah band itu sangatlah biadab. Mirip dengan perjalanan tanpa istirahat, persiapan matang dan tuntutan fisik yang prima. Siapkah [band] anda?!…

 

Kalau dilihat secara produksi, show malam itu memang cukup baik dan lancar. Sebagian malah menganggap terlalu rapi dan ketat. Terbukti dari jumlah aparat keamanan yang agak berlebihan. Pintu loket dan barikade yang mirip tembok dan sulit ditembus. Kadang juga tampak koordinasi panitia yang agak keteteran dan repot sendiri. Sementara kerja sound dan lighting cukup prima. Penonton juga tertib dan tampak bersenang-senang. A good show anyway…

 

Balik ke suasana konser, highlight malam itu terjadi di kala encore, saat Candace kembali naik ke panggung dengan mengenakan syal Arema di lehernya. Sontak penonton menyambut riuh pemandangan tersebut. Setelah beberapa lagu tambahan, Candace dkk pamit sambil terus memuji seluruh crowd atas semua sambutan hangat yang mereka terima. Apalagi dia mengaku kalau konser malam ini adalah show pertama WOJ setelah masa jeda selama lima bulan. Pantas saja mereka tampak begitu bersemangat dan puas menyaksikan respon penonton malam itu. “Yeah, you’re all the great crowds. And we loves you!…”

 

[lucifersam]

Dari atas stage setelah konser, penulis mencabut lembaran setlist WOJ yang ditulis tangan oleh Candace. Urutan lagunya seperti ini ; Intro / Little / And Hope / Through / Welcome / The Prey / Hollywood / Try.Fail.Repeat / Day / American Dream / No I / Plastic / Playing / All / Trigger / Revival.

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: