Setangkai Dahlia Hitam Dari Begundal


Stori menarik di antara partisipasi Burgerkill ketika membuka show The Black Dahlia Murder di Jakarta, [03/11]. Sepulang dari konser tersebut, Ebenz menyandarkan gitar kesayangannya dan mulai mengangkat pena. Tentunya bukan untuk membuat laporan penyelidikan atas kasus pembunuhan The Black Dahlia. Konseptor Burgerkill tersebut dengan bangga menceritakan pengalaman serunya selama seharian itu. Dituliskan spesial hanya untuk pembaca Apokalip.com. And we will bleed, for sure…

Alhamdulillah, akhirnya kami diberi kepercayaan untuk menjadi band pembuka konser The Black Dahlia Murder [TBDM] di Hall Basket A Senayan. Band asal Michigan yang baru saja merilis album bertajuk Nocturnal itu datang ke tanah air dalam rangkaian Nocturnal World Tour 2007. Pada event ini, Dead Squad dan Purgatory juga ikut tampil sebagai talent pembuka. Tentunya kedua nama tersebut akan menambah panasnya aura event metal akbar di hari Sabtu yang lumayan cerah ini.

 

Sekitar jam 08.30 pagi rombongan kami tiba di venue untuk melakukan soundcheck. Kebetulan lokasi venue tidak terlalu jauh dari daerah Kebayoran tempat di mana kami menginap semalam. Sambil menunggu para tehnisi menurunkan semua alat dari atas bis rombongan, saya berjalan-jalan menengok kondisi venue konser malam nanti. Saya melihat sebuah panggung ukuran lumayan besar yang dilengkapi soundsystem berkapasitas sekitar 30.000 watt, dan sebuah backdrop besar di bagian belakang panggung yang dilengkapi logo besar TBDM. Wuiihh, rasanya masih gak percaya kalau bisa sepanggung dengan band sekelas mereka. Benar-benar sebuah kesempatan besar buat saya dan teman-teman satu tim untuk unjuk taring di depan mereka. Dan tentunya kami bisa menyaksikan langsung konser TBDM tanpa harus membeli tiket yang dibandrol seharga 200 ribu, hehe.

 

Sementara menunggu Dead Squad menyelesaikan soundcheck-nya, saya mencoba menghampiri salah satu panitia untuk menanyakan jadwal soundcheck TBDM. Menurut informasi yang saya dapat ternyata semua peralatan TBDM tertinggal di San Fransisco karena adanya kesalahan pihak bandara di sana dan terpaksa jadwal soundcheck mereka mundur hingga jam tiga sore. Wah, agak sedikit kecewa sebetulnya, rencana kami melihat langsung cara kerja mereka dalam hal menggarap sound panggung terpaksa dilewatkan karena kami tidak mungkin menunggu selama itu, dan harus kembali ke tempat menginap untuk istirahat. Pas jam sepuluh Burgerkill mulai soundcheck. Memang agak lumayan mundur dari jadwal yang ditentukan yaitu jam delapan pagi. Setelah hampir dua jam dan merasa yakin sejauh ini semua peralatan, lighting dan soundsystem berjalan baik, jam dua belas kami semua turun dari panggung dan bersiap untuk pulang.

 

Ketika berjalan menuju bis, ternyata di luar kami melihat tiga orang personil TBDM sedang bercanda bertelanjang dada sambil mengepal sebuah botol bir di tangan mereka. Perawakan yang cukup besar dibungkus tato yang menghiasi sebagian badan, membuat tampilan mereka segan untuk dihampiri. Namun ternyata dugaan saya salah, sewaktu salah seorang dari kami berusaha menyapa, mereka langsung menghampiri dan mengajak kami semua berkenalan. Cool, they nice. Hal itu yang ada di benak saya ketika pertama kali berkenalan dengan mereka. Setelah meminta izin akhirnya kita bisa berfoto bersama. Di kesempatan itu juga saya memberikan sebuah poster TBDM berbingkai yang sengaja saya disain khusus untuk mereka sebagai cinderamata. Dengan antusias mereka mengucapkan terima kasih dan merasa sangat disambut oleh teman-teman di Indonesia. Tidak lama kemudian kami berpamitan pulang, dan mereka bertiga langsung dibawa oleh pihak panitia untuk melakukan interview dengan sebuah majalah lokal.

 

Sekitar jam 19.30, kami tiba di venue dan langsung membawa semua peralatan yang akan dipakai. Sial, Saya terlambat. Di atas panggung Purgatory sedang menggempur hampir 3000-an metalhead yang sudah hadir dengan musik yang powerfull dan tehnikal. Enam lagu mereka mainkan dalam durasi lebih dari 40 menit dan cukup membuat para metalhead kelelahan. Band yang dimotori dua bersaudara, Al dan Lutfi, membuka event ini dengan sebuah tontonan yang menarik. Atraksi panggung yang cukup liar mereka suguhkan mulai dari Impious yang intens hingga lagu terakhir Error. Sebuah perpaduan baik antara emosi musik Purgatory dengan performance yang cukup menghibur. Hanya saja yang saya sayangkan mereka tidak tampil dengan kostum lengkap yang sudah menjadi ciri mereka. Ditambah adanya sedikit trouble di speaker PA beberapa kali. Yeah, but they still rocks as a rule!

 

Setelah break setting 15 menit, sekitar jam 20.30 giliran Dead Squad yang mengambil alih panggung. Pasukan perang debutan ibukota yang dimotori oleh beberapa wajah lama komunitas underground Jakarta ini langsung menyerang dengan Pasukan Mati. Andyan [ex-Siksa Kubur] bermain sangat apik di belakang set drumnya. Ditemani Boni [ex-Tengkorak], Stevie, Babal, dan Prisa sebagai ratu perang juga ikut memanaskan crowd yang jumlahnya terus bertambah. Serangan mereka sempat terhenti ketika di tengah setlist terjadi masalah dengan drum trigger yang dipakai. Tampak beberapa tehnisi mereka dengan cekatan berusaha memperbaikinya. Yah, terkadang kendala teknis memang sulit dihindari di tengah konser. But the show must go on! Band yang dalam waktu dekat berencana untuk masuk studio dan merampungkan album pertamanya ini akhirnya melanjutkan setlist dan menutup konsernya dengan Bangsat Kuasa. Walaupun ada sedikit masalah teknis, namun Dead Squad tetap tampil sangar dengan kekuatan maksimalnya. Benar-benar sebuah band debutan yang layak untuk disimak!

 

Akhirnya jam tangan saya menunjukan angka 21.15, giliran saya dan teman-teman Burgerkill untuk melakukan eksekusi. Sambil menunggu MC dan para tehnisi menyiapkan semua peralatan, kami berlima melakukan pemanasan di sisi panggung dan berembuk tujuh buah lagu dari setlist yang telah disiapkan. Setelah MC memanggil kami untuk ke atas panggung, melalui speaker PA terdengar intro petikan gitar Resah Dera Jiwa diputar sebagai setlist pembuka konser kami. Tanpa basa-basi Darah Hitam Kebencian dibesut sebagai tanda kami telah siap untuk menampar telinga para audience. Respon yang luar biasa pun dipertontonkan oleh para metalhead yang semakin memenuhi Hall Basket A Senayan. Benar-benar sebuah kondisi yang sangat membakar emosi kami di atas panggung. Di tengah lagu Shadow of Sorrow, saya melihat Brian Eschbach [gitar] dan Trevor Strnad [vokal] dari TBDM berdiri di samping set-drum Andris sambil mengacungkan kepalan tangannya dan ikut bergoyang. Hehe, ternyata mereka bisa juga menikmati musik kami.

 

Baru saja setengah lagu We Will Bleed kami mainkan sebagai set list penutup, tiba-tiba seluruh amplifier dan speaker yang ada di panggung mati total! Dalam kondisi panik saya coba menanyakan sebabnya kepada pihak panitia yang berada di dekat panggung. “Wah sorry bos, genset-nya kehabisan solar!” jawabnya. Damn! Kehabisan solar?! Benar-benar sebuah jawaban yang sulit dipercaya. Seharusnya pihak penyelenggara sudah mengantisipasi hal ini sebelumnya. Sebuah kejadian yang harus tidak ada di event sebesar ini. Tapi mau bilang apa? Kami tetap punya kewajiban menyelesaikan konser ini dan terpaksa harus menunggu sampai genset-nya bisa digunakan lagi.

 

Ada kejadian lucu ketika kami semua sedang menunggu di sisi panggung, tiba-tiba Bart [gitar] dari TBDM naik ke atas panggung dan langsung memasang semua peralatan miliknya. Langsung saya menghampiri dan menerangkan kepadanya bahwa kami belum selesai konser. Tiba-tiba saja dia memeluk saya dan meminta maaf karena dikiranya setlist kami sudah selesai. Hehe, he’s a good guy. Setelah itu dia juga mendatangi satu-persatu tim kami untuk meminta maaf. Dua puluh menit kemudian semua listrik di panggung menyala, kami langsung menggeber Atur Aku dan kembali disambut oleh para metalhead yang masih bersemangat. Yah, untung setelah rehat yang cukup lama, mereka tetap bisa memanaskan gedung yang berkapasitas 4000 orang ini. Hingga lagu Sakit Jiwa sebagai akhir dari konser kami malam itu.

 

Setelah turun dari panggung, Trevor Strnad dan Bart mendatangi kami seraya berkata, “You’re already blew this fuckin’ place dude! Great show, we really enjoy it!” Wah gila, gak nyangka mereka memperhatikan konser kami. “Thanks dude, but don’t worry those guys in the pit are waiting for you to destroy this place too!” jelas saya kemudian. “No fuckin’ way. We can’t do that. Just wish me luck okay!” balasnya. Tak lama kemudian Bart kembali mendatangi saya dan berniat meminjam efek Tube Screamer, karena efek miliknya mendadak tidak berfungsi dengan baik, dan saya pun meminjamkannya.

 

Saatnya The Black Dahlia Murder naik ke atas panggung. Tak bisa disangkal hampir semua mata tertuju kepada lima orang pemuda bergaya gaek yang langsung menghajar audience dengan Elder. Shannon Lucas [drums] sebagai pendatang baru di tubuh TBDM bermain sangat presisi memotori setiap lagu yang dimainkan. Sementara John Kempainen [bass] juga bermain konstan menemani Brian Eschbach, Trevor Strnad, dan Bart di baris depan panggung.

 

Permainan apik dan akurat yang mereka suguhkan semakin menghibur diimbangi oleh emosi crowd metalhead yang terus memanas. Sound yang dihasilkan melalui speaker PA pun cukup nyaman untuk dinikmati. Di tengah Vulgar sebagai lagu ke-10 dari setlist mereka, tiba-tiba saja aliran listrik di atas panggung kembali drop dan mengakibatkan seluruh peralatan mati sejenak. Terlihat Trevor Strnad dengan geram membanting microphone yang dipegangnya. Brian Eschbach pun langsung memarahi salah satu panitia yang berjaga di atas panggung. Untunglah tak lama kemudian listrik menyala dan mereka kembali melanjutkan konsernya.

 

Setelah kejadian tersebut nasib sial masih terus menimpa TBDM, beberapa kali level suara dari speaker monitor dan speaker PA naik turun dikarenakan tegangan listrik yang tidak stabil. Tentu saja hal ini sangat mengganggu konsentrasi seluruh personil TBDM. Hingga lagu terakhir Funeral terlihat sekali ketidaknyamanan mereka. Namun di akhir konsernya mereka berlima tetap semangat dan sopan berpamitan kepada para metalhead Indonesia dari muka panggung, “We’ll be back someday. You guys fuckin’ rules. Thank you Indonesia!” Yah walaupun banyak terjadi kendala, setidaknya TBDM tetap memperlihatkan kelasnya sebagai band kelas dunia berkapasitas super. Sebagai pendengarnya saya merasa sangat puas menyaksikan konser mereka malam itu.

 

Tepat jam 23.30 event yang berjalan aman ini kelar dengan segala kejadian teknis yang perlu dikaji ulang dan diperbaiki lagi ke depannya. Mudah-mudahan kita sebagai negara yang mulai dilirik oleh para artis dan band internasional, dapat berusaha lebih maksimal untuk memfasilitasi segala kebutuhan teknis sebuah konser. Rasa kepuasan dan kenyamanan di dalam konser sudah menjadi syarat mutlak yang harus dijaga kualitasnya – baik dari sisi musisi ataupun penonton.

 

Akhirnya tepat jam dua belas malam kami berlima mendatangi dressing room TBDM. Sambutan hangat pun kami terima dari mereka yang ternyata sangat senang bisa berkenalan dan bermain bersama Burgerkill. Setelah berfoto bersama, bercanda, bertukar CD dan menenggak beberapa bir yang disediakan, kami pun berpamitan. Sebuah pengalaman yang tidak mungkin kami lupakan. Ini sebuah momen di mana kami diakui oleh mereka sebagai bagian dari pergerakan komunitas heavymetal yang solid dan tersebar di seluruh dunia. One Mission, One Vision, and One Blood. So guys, see you on the next metal concert, and keep smokin’ metal engine!…

 

[Ebenz]

Gitaris & Frontman Burgerkill

Foto dok.BKHC

Tulisan di atas merupakan kontribusi spesial dari sahabat kami, mr. Ebenz, kepada tim Apokalip & Begundal Malang. Bermula dari perbincangan telpon antara Ook dan Ebenz di tengah malam paska show TBDM, “Oke deh, ntar ceritanya aku tulis buat Apokalip…”

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: