Rebel Yell

Bulungan menjadi ajang silahturahmi paska lebaran bagi para metalhead dari berbagai daerah. Dihibur oleh tujuh band pilihan dari Jawa dan Bali – yang anehnya malah tidak ada satupun wakil dari Jakarta?! Berikut laporan pandangan mata dari Rebel Fest part 2 garapan New Hope Inc di Bulungan Outdoor Jakarta, 27 Oktober 2007 lalu. Music-fest berdistorsi tinggi di antara stage yang luas, sound berkekuatan maksimal, crowd yang ekspresif, hingga barikade panggung yang akhirnya jebol…

 

Kru Apokalip baru memasuki areal acara sekitar pukul 19.30 – yang artinya ketinggalan aksi dari Devadata [Surabaya] dan Parau [Bali]. Damn, sayang sekali. Agaknya kami terlalu lama bercengkrama dengan kawan-kawan lama di luar venue tadi. Bulungan malam itu dipadati oleh ratusan metalhead yang berbusana dominan hitam. “Termasuk ramai nih penontonnya!” seru seorang kawan yang sudah lama bekerja di ibukota. “Mungkin karena abis puasa-an, lama gak ada konser. Lagian yang maen juga keren-keren semua!”

 

Di atas panggung, Killharmonic sedang bersiap-siap. Band yang dikomandoi gitaris Innu ini sudah datang jauh hari dari Kediri sekalian untuk nonton konser Megadeth, dua hari sebelumnya. Stage pun berguncang keras ketika mereka tampil. Komposisi deathmetal yang cenderung tehnikal. Melepas beat-beat unik yang mungkin sedikit rumit bagi telinga awam. Banyak memamerkan skill bergitar yang piawai. Malam itu mereka cukup sukses, dan membuktikan bahwa band daerah tidak bisa lagi diremehkan.

 

After All Over bahkan sempat menarik Innu [Killharmonic] sebagai gitaris tamu di salah satu list lagu mereka. Band Bekasi ini boleh dibilang ‘tuan rumah’ dan penggagas acara malam itu. Terakhir kali kami bersama mereka saat After All Over menemani Burgerkill tur ke Jatim dan Bali, awal tahun lalu. Sekarang musik metalcore olahan Ajie dkk tampak semakin berkembang dan matang. Diselipi unsur-unsur progresif yang menarik. Stage act mereka pun lebih rapi dan powerfull.

 

Salah satu yang kami tunggu adalah penampilan Death Vomit. Kami penasaran apakah kualitas panggung Roy dkk sedahsyat yang terdengar di rekaman istimewa mereka. Damn, band Jogja itu ternyata gak main-main. Lugas, padat, dan intens. Meski hanya bertiga tapi musiknya terasa penuh nan rapat. Jauh sekali dari kesan minimalis. Sederet repertoir dari album terakhir The Prophecy, termasuk lagu kover Criminally Insane [Slayer] sangat mampu menyiksa crowd. Cah Jogja kuwi pancen edan!…

 

Oh, malam itu banyak juga penonton yang menanti aksi perdana Extreme Decay di tanah batavia. Meski ExDx harus tampil bertiga minus vokalis Afril – yang tugasnya sementara dirangkap oleh Rafi [gitar/vokal]. Sejak tembang pertama, baris depan meluapkan emosi sambil merekues lagu-lagu klasik milik asal Malang itu. Secara musikal, agaknya tidak jauh berbeda ketika ExDx tampil bertiga atau berempat. They’re still grinding as fuck!…

 

Mendaulat Forgotten sebagai aksi pamungkas adalah keputusan terbaik dalam konser malam itu. Sudah lama tidak menonton aksi mereka di atas panggung. Apalagi sekarang Adi Gembel [vokal] dan Toteng [gitar] mengenalkan bassist dan drummer anyar. “Itu aslinya drummer pop, tapi skill-nya bagus. Kita racuni aja pelan-pelan…” jelas Toteng di backstage sebelum manggung. Berempat mereka langsung menyulut api dan mulai membakar Jakarta. Adi Gembel masih sarkastik dalam berkoar. Toteng tampak semakin bandel menjelajahi fret gitar. Bassist dan drummer baru mereka ternyata cukup menguasai perannya. Memberondong dengan tembang anthemik nan klasik seperti Tuhan Telah Mati, Tiga Angka Enam, Perang Demi Setan, sampai pada karya gubahan Smoke On The Water [Deep Purple]. Penonton kontan bersorak dan ikut bernyanyi. Moshpit meluap liar dan ekspresif. Forgotten tampil sangat keren dan masih menunjukkan kapasitasnya sebagai band panggung terpanas. Mereka memberi klimaks yang tidak terlupakan malam itu. Performa dan musik yang brilian, koor yang emosional dari penonton, serta barikade panggung yang akhirnya jebol…

 

[lucifersam]

Thanks to Malik & New Hope Inc for a great show. Goodluck at Rebel Fest Camp!…

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: