Mutilasi Masal Pasukan Metal

Jumat malam [02/11], tepat satu hari sebelum konser The Black Dahlia Murder, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, saya menelpon Bongky untuk berkoordinasi menyaksikan konser metal yang paling diantisipasi metalheads di Indonesia. Tiba-tiba Bongky menawarkan saya untuk menulis laporan konser TBDM buat webzine Apokalip. Segera saja saya menjawab bersedia, serta langsung menghubungi panitia yang lalu mengundang saya untuk menghadiri konferensi pers dan mendapatkan Press ID pada hari Sabtu jam 10.00. Oh no, Sabtu pagi saya tidak bisa hadir karena telah memiliki agenda yang jauh lebih penting, yaitu mengantarkan anak ke dokter untuk di-imunisasi. Ya, sebuah pilihan yang berat!… Akh, persetan dengan Konferensi Pers dan Press ID, toh jauh-jauh hari saya telah membeli tiket untuk menyaksikan keganasan band melodic deathmetal/metalcore asal Michigan dengan line-up terakhir ; Trevor Strnad [Vokal], Brian Eschbach [Gitar], John Kempainen [Gitar], Ryan “Bart” Williams [Bass, ex-Today I Wait] serta Shannon Lucas [Drums, ex-All That Remains]. Dan inilah laporan singkat dari konser The Black Dahlia Murder “Nocturnal World Tour 2007” di Hall Basket A Senayan Jakarta untuk kalian semua pengunjung Apokalip. Enjoy!…

 

Tampaknya acara dimulai tepat waktu, karena saat saya tiba sekitar pukul 19.45 dari luar gedung sudah terdengar deru kebisingan dari band pembuka pertama, Purgatory. Saat saya masuk ke dalam venue, salah satu vokalis band nu-metal ini sedang mencoba merayu sekitar tiga ribu metalheads yang tampak masih tenang-tenang saja. Mungkin crowd masih menyimpan energi buat The Black Dahlia Murder. Sejujurnya walaupun musik yang dibawakan Purgatory tidak terlalu match dengan selera saya, namun sound mereka sangat baik. Didukung pula dengan skill para personil yang handal. Lagu yang dibawakan didominasi dari album Beauty Lies Beneath, lengkap dengan message yang relijius. Sebuah metode penyampaian pesan keagamaan yang unik…

 

Setelah itu Dead Squad, band metalic-hardcore asal Jakarta yang beranggotakan Stevie Item pada gitar [saudara kandung penyanyi Audy yang juga tergabung dalam grup band rock Andra & The Backbone], serta Prisa pada gitar [personil grup metal, Zala]. Sayangnya sound yang saling bertumpuk membuat penampilan mereka kurang begitu dapat dinikmati. Ternyata memiliki dua orang personil yang juga tergabung dalam grup band ‘besar’ tidak otomatis membuat sound Dead Squad tersusun dengan rapih. Rasanya ini menjadi PR positif bagi Dead Squad agar terus eksis di scene metal nusantara.

 

Lalu giliran Burgerkill yang menghajar audiens. tanpa basa-basi Burgerkill yang kini memiliki Vicky sebagai vokalis anyar langsung menggelontorkan lagu demi lagu dari seluruh album mereka. Sound yang prima, skill yang mumpuni, stage-act yang gahar, serta vokal Vicky yang tidak kalah mengerikan dari [alm] Ivan Scumbag, mampu menghipnotis penonton yang sudah tidak sabar untuk menggila bersama jurus-jurus klasik konser metal ; moshing, headbanging, dan tidak lama crowd-surfing mulai tampak di antara lautan manusia berkaos hitam-hitam. Terlebih ketika lagu fenomenal seperti Sakit Jiwa dan Atur Aku dibawakan. Praktis Vicky tidak perlu bernyanyi karena sudah diwakili oleh penonton. Yes, ternyata peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi pada konser band pop satu juta kopi saja!…

Sayang penampilan Burgerkill sempat terganggu oleh matinya genset pada dua lagu terakhir. Too bad. Setelah masalah genset beres, Burgerkill kembali menyelesaikan set terakhir. Two thumbs up untuk penonton yang tetap sabar dan kembali menggila. Nyaris saja pagar pembatas di tribun kiri dan kanan roboh akibat adrenalin yang memuncak dari penonton tribun. Para personil Burgerkill mengakhiri penampilannya dengan memberikan salam hormat kepada penonton – layaknya malam itu adalah konser tunggal mereka…

 

Sekitar 30 menit panggung dipersiapkan untuk aksi The Black Dahlia Murder. Tidak lama satu-persatu personil band ini mulai naik ke atas panggung, dan saya sangat surprised karena mereka melakukan sendiri semua proses check alat yang akan digunakan. Bahkan saya melihat sound enggineer yang stand-by di FOH pun bukan orang bule, melainkan kru lokal yang telah dipersiapkan panitia. Hmm, pasti ini strategi yang memang mereka rencanakan untuk menghemat perjalanan tour dunia. Attitude ‘anti-rockstar’ seperti ini memang perlu dikagumi. Sebab untuk menyebarkan pesan hardcore ke belahan dunia ketiga memang diperlukan lebih banyak lagi band-band dari manca negara yang low-profile seperti mereka. Yeah, more power to them!

 

Nomor-nomor sangar seperti Contagion, Miasma, What A Horrible Night To Have A Curse, serta lagu-lagu dari album baru Nocturnal memuaskan dahaga pencinta metal yang hadir malam itu. Dengan sound deathmetal, ketukan drum blast-beat yang rapat, dan riff fast-deathmetal serta attitude hardcore menjadikan TBDM memberi sajian konser metal yang cukup sempurna malam itu – jika saja tidak terganggu oleh matinya kembali genset pertunjukan, what a shame! Tentu saja panitia mempunyai segudang alasan akan peristiwa matinya genset. Akan tetapi tetap saja kejadian ini mengecewakan penonton, band penampil, dan tentu saja bisa memberi kenangan yang kurang baik buat TBDM. Hal ini tampak jelas ketika sang vokalis Trevor Strnad membanting microphone-nya dan mengucapkan gerutuan. Sebuah harga yang harus dibayar, sebuah pengalaman yang berharga. One lesson learned!…

 

Untungnya TBDM masih bersedia melanjutkan pertunjukan. Dan penonton kembali menggila melupakan sejenak semakin tidak masuk akalnya macet di Jakarta akibat proyek busway, melupakan ancaman gelombang krisis ekonomi akibat melonjaknya harga minyak dunia, atau melupakan sejenak heboh aliran-aliran menyimpang yang dibawakan oleh ‘nabi-nabi’ baru. Hingga ketika para personil The Black Dahlia Murder mengakhiri pertunjukan dan seperti biasa penonton berulangkali berteriak “We want more!”, saya perlahan meninggalkan venue karena sang istri dan anak yang menanti di rumah…

 

The Black Dahlia Murder, band yang namanya diambil dari peristiwa pembunuhan misterius aktris Elizabeth Short [often reffered as Black Dahlia] yang mati dalam keadaan mengenaskan akibat mutilasi, telah memberikan satu lagi konser metal yang bermutu dan aman. Tentu saja kita berharap setiap band manca negara yang tampil di negeri ini membawa cerita positif ke seluruh dunia. Hingga bukan tidak mungkin suatu ketika Indonesia akan menjadi tempat impian bagi konser-konser band metal kelas dunia. Semoga saja!….

 

[Uncu Putra]

More power to ; Uncu Putra, kawan kami yang bekerja di salah satu stasiun tivi nasional di Jakarta. Juga Mister Bongky Cadas, bos distro Revolver99 di Malang. Thanks dudes!

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: