Efek Rumah Kaca – Efek Rumah Kaca [Paviliun]

Album seperti Efek Rumah Kaca ini yang membuat saya bersemangat kembali melihat masa depan musik lokal. This is fukking beautiful, musically and lyrically. Selain berani menawarkan genre musik yang berbeda dalam musik pop, Efek Rumah Kaca juga sarat dengan pesan positif tanpa menggurui. Sangat moderat, juga cerdas. Quite easy listening. Plus, mereka memiliki nama band yang sangat keren untuk saat ini, ’efek rumah kaca’. Damn. Terus terang saya sudah lama tidak me-review band pop, karena biasanya tidak jauh dari rock dan metal, jadi agak sulit untuk mengingat kembali kira-kira influence terbesar dari Efek Rumah Kaca adalah siapa saja. Memang bukan ’sesuatu yang baru’, tapi band Jakarta yang satu ini memiliki influence kuat dari Jeff Buckley, dan [menurut saya] kadang ada part-part yang mengingatkan kepada versi lebih pop dari tipikal musik yang dimainkan oleh band post rock lama, Codeine [yang kemudian meng-influence Jesu]. Untuk telinga sekarang, mungkin terdengar seperti musik yang dimainkan oleh Travis atau Coldplay namun bisa jadi lebih kelam. [hey, thanks untuk Ricky yang bisa membantu mengingatkan kembali, heheh] Dan, kecerdasan musik pop mereka sama sekali tidak pretentious, tidak seperti beberapa band-band pop independen underrated yang saya dengarkan akhir-akhir ini. Dari 12 lagu yang ditawarkan dalam album ini, nyaris semuanya memiliki warna sama, hanya saja tidak berarti monoton. Ada dua track upbeat, Cinta Melulu yang cukup catchy, dan juga Belanja Sampai Mati. Musik tidak perlu dipertanyakan lagi, kalau kalian menyukai band-band yang saya sebut di atas, tentu akan menikmati musik Efek Rumah Kaca. Lirik, mendapat tempat istimewa di hati saya. Tidak banyak lirik band pop lokal yang memiliki tema sevariatif ini, dan ini penting. Berapa banyak band pop yang mengkritisi tema cinta yang standar? Sepengetahuan saya, tidak ada. Seperti dalam Cinta Melulu dan Jatuh Cinta Itu Biasa Saja, di mana industri musik pop lokal didominasi dengan tema cinta yang itu-itu lagi. Dekadensi. Atau dalam Bukan Lawan Jenis, saya menangkap tema unik dan tidak banyak diangkat ; gay. Entah ya, tapi saya menangkap Efek Rumah Kaca menunjukkan support mereka kepada kaum gay dan lesbian melalui lagu ini tapi disajikan dengan ’santai’, seperti, ”I’m not homophobic but I am flattered that you like me, unfortunately I’m straight but we sure can be friends.” Benar? Semoga benar. Sudah seharusnya ada band yang melempar tema seperti ini. Di Udara, bercerita tentang pembunuhan Munir, namun spiritnya tidak pernah bisa dibunuh. Biasanya band punk-rock yang lantang menyuarakan tema ini, tidak pop. Namun Efek Rumah Kaca menyajikan tema ini dengan balutan musik yang sangat, sangat cantik dan indah. Belanja Sampai Mati yang anti konsumerisme, hingga tema unik lainnya yang less-political, Insomnia. Kalau Efek Rumah Kaca dibilang band politikal, well, politik adalah apapun yang dilakukan atau tidak lakukan. Dan Efek Rumah Kaca memilih untuk melakukan sesuatu: mengangkat tema-tema yang jarang [atau belum berani?] dikumandangkan band pop. Dengan musik indah. Dan penulisan lirik yang puitis. Namun dalam pemilihan single, mereka memilih Jatuh Cinta Itu Biasa Saja, sementara saya sendiri berharap lagu indah seperti Melankolia atau mungkin sekalian Cinta Melulu. Tapi, saya rasa tanpa memilih single pun mereka sudah menjadi juara. Album ini ditutup oleh nomor cantik, Desember, dan sepertinya dunia menjadi positif dan terlihat cerah. Saya senang Efek Rumah Kaca hadir dalam stagnasi musik pop lokal. Saya kira semua orang harus membeli dan mencoba mendengarkan album ini, terutama kalau masih punya harap akan musik Indonesia yang lebih terang. Menurut informasi, album mereka bisa didapatkan di toko-toko CD/kaset besar/umum, karena didistribusikan secara cukup mainstream. Saya bisa tidak berhenti memuji rilisan ini, tapi mungkin sebaiknya harus dihentikan, otherwise menjadi sangat subjektif, haha. Hanya ada dua jenis musik di dunia, musik bagus dan musik buruk, dan Efek Rumah Kaca masuk ke dalam kategori pertama. Mereka menjadi band pop favorit saya kini. Kudos untuk label Paviliun Records yang menemukan dan merilis mereka. Apakah saya sudah bilang kalau musik mereka indah?… [arian13]

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: