Seringai ; Calling All The Wolves

Segerombolan serigala berlarian turun menyambut sensasi spektakular tentang karya anak manusia yang [masih] enggan dewasa. Mereka tampak lapar. Mulut menganga. Unjuk taring dan terus meneteskan liur kental. Sesekali melolong ikut merayakan hadirnya rekaman rock oktan tinggi dalam energi dan intensitas yang maksimum. Gembar-gembornya, Seringai siap membawa balik ‘the heydays of rock music’. Mengembalikan musik rock kepada kaidahnya. Berikut ini perbincangan bersama Arian13 [vokal] dan Ricky Siahaan [gitar] tentang serba-serbi album “Serigala Militia”, optimisme akan scene lokal, dan [tentu saja] marijuanaut…

Serigala Militia sepertinya dikerjakan secara lebih serius dibandingkan rilisan kalian terdahulu. Pengalaman baru apa saja yang kalian rasakan selama proses tersebut?

A: Lebih serius karena budgetnya juga lebih ada, hahaha! Yang dirasakan, ya selalu excited.

R: Wah, berbagai jenis pengalaman. Pengalaman baik adalah akhirnya Seringai punya kesempatan buat mengerjakan sebuah rilisan yang punya keleluasaan biaya sedikit lebih baik jadi produksinya bisa lebih bagus. Pengalaman buruk adalah rilis terlambat dua tahun akibat manajemen waktu yang cukup menghimpit karena kita udah pada kerja.

Ada makna apa di balik titel album Serigala Militia? Setahuku itu sebutan untuk fans Seringai khan?

A: Benar. Memang album ini didedikasikan untuk fans Seringai yang selalu loyal kepada kami. Kami memang memberi nama mereka ’serigala’ dan mereka juga senang menyebut diri mereka sendiri ’serigala’, so it fits. Dan terdengar cool, anyway.

R: Diambil dari judul lagu Serigala Militia. Sebuah anthem untuk penggemar musik Seringai. Album ini adalah ode buat mereka. Kata ’militia’ sendiri dipilih karena penggemar musik rock/metal menurut kami cenderung punya sikap militan.

Apa saja yang menginspirasi kalian saat mengerjakan Serigala Militia?

A: Industri musik rock lokal, hal-hal yang jarang diangkat, dan kejadian-kejadian yang kami alami sendiri.

B: Yap, gue pribadi terus terang ketika bikin album ini terinspirasi oleh sensasi gue ketika ngedengerin Roxx dulu waktu awal 90-an. Bukan dari sisi musikalnya seperti Roxx. Tapi sensasi kemunculan Roxx di scene rock Indonesia ketika itu. Berbeda dari yang ada di sekelilingnya. Ketika yang lain stagnan dan melemah, yang ini beda. Paradigma ingin menjadi seperti itu yang ngedasarin gue ngerjain abum ini.

[pertanyaan dari Afix, fans Seringai asal Ende] Berapa ‘nutrisi’ yang kalian konsumsi selama proses menggarap album tersebut? Beer, weed, liquor, or something like that?!

A: Wah, tidak tahu. Dalam mengerjakan album ini sebagian besar juga dalam keadaan sober, karena kami tidak mau membuang uang sendiri. Tapi ada beberapa sesi rekaman tertentu yang kami meriahkan bersama beer atau anggur Orang Tua atau ganja. Standar lah. Di mana-mana kalau kebanyakan mabok juga nggak akan jadi apa-apa. Afik, yang pasti bukan dari pohon pepaya ya? Hahaha.

R: Iya kayaknya. Minum beer sepertinya karena haus, bukan karena ingin memenuhi ’gizi’ tertentu, hehe. Paling kerasukan jin pepaya alias kena genjos sedikit ketika sesi recording lagu Marijuanaut untuk dapetin eksperiens yang otentik. Agak susah untuk memainkan lagu yang tight dan intens di bawah pengaruh substansi. I guess thats why stoner rock or sludge usually is sloooooow…

[masih dari Afix] Gua suka lagu Berhenti di 15. Tapi kenapa harus ‘15’? Kenapa gak angka yang lain? ‘17’ kayaknya boleh juga tuh, lebih ’sweet seventeen’, haha…

A: Itu umur di mana remaja baru mencari jati diri dan kadang menemukannya. Kalau memang baru menemukan di umur 17 atau lebih tua, ya itu beda persoalan. Tapi yang pasti umur 15 adalah rata-rata. Haha. Atau malah lebih muda?…

Saya cukup tertarik dengan lagu Marijuanaut, tolong ceritakan soal track itu?

A: Ini adalah track terpanjang dalam album Serigala Militia. Tadinya, saya akan mengisi seluruh vokal, tapi kemudian ada ide untuk menampilkan vokal teman kami, Alexandra dari band Sieve untuk lagu ini. Karakter vokalnya indah dan haunting, jadi cocok dengan lagunya. Ketika kelar mastering, gue, Kemod & seorang teman, Jaymz, sempat pergi ke Bandung dan mendengarkan lagu Marijuanaut dalam keadaan giting. ternyata, hasilnya maksimal dan kami ulang berkali-kali. Hahaha! Cobain deh…

R: Sesuatu yang berbeda dari Seringai. Lagu gospel, hehe. Lagu ini dibuat dengan dasar pemikiran yang berbeda dibanding lagu-lagu yang lain. Gak terlalu banyak memikirkan kreativitas komposisinya, lebih jamming, biarin ngalir aja, gak perlu takut terlalu pendek atau terlalu panjang, apa yang menurut masing-masing personil enak ya keluarin aja…

Lagu Marijuanaut itu ‘dalem’ banget. Gak mungkin kalian dalam keadaan sadar ketika menulis lagu itu. A smoking song?!…

A: It is indeed a smoking song. Tapi ketika gue menulis liriknya sih, tidak dalam keadaan giting. Mungkin Kemod, karena dia sering sekali giting. He’s a true stoner, you know. Kalau gue giting gue gak mungkin menulis apapun, tapi akan tidur, dan tidurnya bakalan menjadi tidur terenak!

R: Menulis lagu itu dalam keadaan sadar, merekamnya dalam keadaan semi sadar, dan setelah jadi, cukup menyenangkan menikmatinya dalam keadaan tidak sadar, haha.

Ada lagu yang paling berkesan atau favorit di album itu?

A: Gue pribadi suka semua lagu dalam Serigala Militia. Ada beberapa lagu yang tadinya seperti belum selesai, tapi ketika diselesaikan di dalam studio rekaman, malah menjadi bagus dan tidak disangka-sangka.

R: I love every song… yang cukup berkesan adalah Marijuanaut dan Lagu Ini Tak Sependek Jalan Pikiranmu karena merupakan hal baru bagi kami.

Kenapa pilih Citra Natural sebagai singel pertama?

A: Karena tema lagunya cukup edgy.

R: Dan lagunya juga cukup catchy.

Arian, secara konseptual tolong ceritakan soal tema lirik di album kalian!

A: Terus terang gue nggak punya konsep keseluruhan dalam menulis lirik dalam album ini. Gue menulis apa yang gue rasa dan tahu saja. Seperti di Amplifier, tentang bagaimana excitement kami dalam sebuah gig, atau yang sedikit politis seperti Citra Natural atau Mengadili Persepsi [Bermain Tuhan]. Mengalir saja sebenarnya. Untuk album ini, lirik masuk setelah semua musik selesai diaransemen.

Ricky, beri gambaran soal tehnis dan sound gitar kamu di album kalian!

R: Teknis sih gak ribet. Selama rekaman gue pake gitar Gibson SG dan Les Paul Studio disetem rendah hingga kunci B, colok langsung ke amplifier Mesa Boogie dan Marshall, kencangkan volume dan overdrive ampli, selesai! Gue gak pake efek macem macem. Minimalis aja. Sound gitarnya sendiri sebenarnya yang natural aja sesuai dengan karakter gitarnya. Gue coba ngejar sound gitar metal yang tebal, tapi masih ada nuansa ’tua’ juga sedikit. Analoginya mungkin: Kalo Sabbath munculnya di tahun 2000-an, kira-kira soundnya seperti apa ya? Hehehe…

By the way, gimana ceritanya bisa signed dengan label Universal?

A: Sebenarnya bukan cerita aneh, karena ketika kami merilis CD High Octane Rock, kami sudah didistribusikan oleh Universal. Mini album itu sudah berumur setahun dalam versi kaset ketika kami merilis versi CD. Tapi tanpa promosi apapun, ternyata CD tersebut laku 2000 kopi. Ini memang dicetak terbatas, hanya saja berisi beberapa bonus yang tidak didapatkan dalam versi kaset. Dan ini membuat Universal percaya dengan kemampuan Seringai. Good thing.

Dan sepertinya kalian adalah band lokal paling keras yang pernah bekerjasama dengan Universal saat ini. Any opinion?

A: Universal Music Indonesia, iya. Tapi kalau di internasional, sempat ada Slayer, dan mereka masih memegang Hatebreed juga kan.

B: Yap, di Universal Music Indonesia.

Seberapa susahnya sih band indie/underground untuk menembus label mayor seperti yang kalian lakukan sekarang?

A: Tidak tahu, tapi memang selama musiknya cukup obscure akan sulit menembus pasaran musik Indonesia. Banyak banget faktor yang menyebabkan hal ini, tidak hanya label, tapi juga medianya, juga lainnya. Selama pihak labelnya, mau itu mayor atau independen tidak mengerti musik sang artis, ya akan susah menjualnya.

R: Iya tidak tahu. Yang kami tahu adalah sekarang industri rekaman sudah masuk ke posisi terburuknya. Pembajakan makin parah. Label mayornya juga banyak yang sekarat juga. Band independen kalo menurut gue harusnya punya sesuatu yang berdiri di luar hal ini semua. ’cult fanbase’. Kalaupun masih ingin menembus mayor ya, harus punya hal ini juga sebagai kekuatan tawar menawar.

Di saat penjualan kaset dan CD yang lesu di Indonesia, kalian yakin Serigala Militia masih bisa laku di pasaran? Berapa kopi yang ditargetkan untuk penjualan album itu?

A: Gue sih yakin akan mendapat tempat. Tapi kalau target, tidak kebayang sih. Karena terus terang ketika mau rilis gue lebih berpikir supaya segera dirilis dan melihat hasilnya belakangan. See what happens.

R: Setidaknya gue yakin kalo orang suka musik rock harusnya bisa relate sama Serigala Militia, dan ini belum tentu harus selalu ditentukan dengan angka penjualan. Ini adalah ’laku di pasaran’ versi kami.

Tidak mencoba alternatif lain seperti penjualan musik digital, Itunes, atau sejenisnya?

A: Sudah. Untuk iTunes, kami lewat http://www.equinoxdmd.com, sementara untuk digital dalam bentuk RBT bisa dilihat dalam sampul album Serigala Militia.

Atau mungkin ingin merilis Serigala Militia dalam versi english untuk pasar Asia atau internasional? Yeah, like what Nidji did!…

A: Tidak. Untuk sekarang, gue pribadi sih tidak merasa perlu.

B: Tidak tahu kalau nanti ya. Tapi sekarang kayaknya kami sih mending fokus dengan apa yang ada di dalam negeri dulu. Kalau band lain seperti Nidji ingin go regional, ya bagus untuk mereka. Kalau untuk Serigala Militia, misinya bukan itu.

Oya, kalian juga bikin tour release party, tapi kenapa cuma beberapa kota saja yang disinggahi?

A: Karena ketika kami menyebarkan tawaran kepada beberapa kota, yang merespon balik ya hanya kota-kota yang kami singgahi itu. Lagipula, tour ini kami arrange sendiri, jadi memang cukup menyita energi ekstra. Semoga ke depannya sih kami punya energi lebih untuk kembali meng-arrange tour ke kota-kota lain.

R: Tur ini juga belum usai sebenarnya, karena masih banyak daerah seperti Jawa Barat, Medan, yang kemungkinan besar akan disinggahi juga, Cuma karena waktunya dipepet libur lebaran jadinya memang harus vakum dulu sebentar.

Gimana kesan kalian dan respon publik setelah tour di Jogja, Solo dan Semarang barusan?!…

A: Sangat seru! Tiap kota berbeda, dan semuanya seru dan menyenangkan. Solo outdoor dan festival, Semarang lebih ke venue kecil dan packed, sementara Jogja di sebuah klub bagus dengan sound keren. Bermain tiga hari berturut-turut juga sangat menyenangkan dan buat gue sendiri adalah sebuah mimpi yang diwujudkan, touring it is. Gue pengen lagi tour.

R: Pengalaman pertama yang berkesan dan menyenangkan. Semua pihak sepertinya terlihat puas dan senang. Big shout out untuk temen-temen yang membanting tulang untuk menjadikan acara-acara tersebut. More power to them!

Kalian juga sudah beberapa kali main di music-fest terbesar, Soundrenaline. Bagaimana komentar kalian soal event tersebut?

A: Event itu seru, hanya saja menurut gue agak membosankan kalau selalu didominasi band-band besar yang itu-itu lagi. Kami sudah bermain tiga kali di Soundrenaline, tapi sepertinya Soundrenaline 2007 pengorganisasiannya agak keteteran. Lebih mantap yang sebelum-sebelumnya.

R: Akan lebih baik kalau Soundrenaline punya divisi Artist and Repertoire menurut gue. Supaya pemilihan band international-nya juga bisa lebih baik, bukan yang gak jelas gitu.

Dua orang jurnalis media, seorang penyiar, dan seorang pekerja video. Apakah Seringai merasa beruntung punya personil dengan profesi tersebut? Sebab tampaknya hal itu cukup membantu karir musik kalian juga khan?!

A: Hahaha! I guess so. Lebih memudahkan untuk bergerak, mungkin, karena kami jadi sedikit lebih tahu apa yang harus kami kerjakan. Tidak berarti kami menjadi bersantai juga. Gue berani bilang kalau Seringai, buat gue adalah band yang paling bekerja keras. Period. Kami masih punya pekerjaan, dan Seringai juga tetap kami jalankan, gue bangga dengan itu. Karena banyak banget band yang bubar karena para personilnya sibuk sendiri.

R: Beruntung karena hobi musik ini bukan hanya main musik, tapi juga nulis musik, dengerin musik, memutar musik, nonton video musik. Dan pada akhirnya membuat kami survive, dan semua hobi tersebut pada akhirnya saling mendukung.

Oke, ini menyangkut profesi kalian berdua yang jurnalis media. Bagaimana jika anda diminta boss atau editor kalian untuk me-review Serigala Militia? Kira-kira apa quote atau deskripsi singkat untuk Serigala Militia dan berapa rating yang akan kalian berikan [skala 1-6]…

A: Haha. akan kami tolak, karena kami ada di dalam band tersebut. Tapi kalau gue ceritanya bukan anggota Seringai dan gue boleh menilai sendiri ratingnya, dari 1-6, gue akan memberikan 7. File under ’real rock with balls’. Hahahaha!…

R: Kalau gue ratingnya 6. Every mother’s nightmare high octane rock and roll!!…

Dan jika disuruh memilih, siapakah rekan kerja kalian yang paling pantas untuk me-review Serigala Militia?

R: Saya rasa siapapun yang suka musik rock akan pantas meresensi album.

Scene musik di Jakarta sepertinya makin meriah. Well, sebenarnya gimana scene metal di sana sekarang?

A: Ada band baru, Dead Vertical, mereka memainkan grindcore straight in your face. Keren dan menjanjikan. Juga ada Ghaust, band post metal, instrumental metal yang keren. Kedua band ini main di event launching party kami kemarin dan crowd memberikan respon positif. Siksa Kubur juga baru merilis sebuah album baru, dan drummer baru mereka juga mengerikan. Secara scene sih gue rasa scene metal di Jakarta baik-baik saja. Hanya saja kalau untuk gue pribadi, gue berharap ada yang berani membawakan sesuatu yang baru. Di luar metal, gue suka Fall, band post hardcore Jakarta. Mereka sudah punya sebuah album. Coba cek band-band yang kami feature di profile myspace kami, they are all interesting.

R: Kalau gue pribadi akhir-akhir ini sangat menggemari Dead Vertical. Kemudian Fall, mereka memainkan hardcore yang dibalut sentuhan shoegaze, pop dan punk, fenomenal! Dan tentunya Ghaust…

Apa kalian cukup optimis dengan scene rock/metal di Indonesia, khususnya Jakarta?

A: Selalu! Selama wawasan luas, saya akan selalu optimis dengan band-band baru yang tidak hanya mengekor kepada kecenderungan metal kekinian.

R: Tentunya. Sudah seharusnya seperti itu. Pada akhirnya, penyebaran informasi via internet dan memurahnya teknologi rekaman membuat banyak band jadi produktif dan karya bagus menjadi makin kompetitif. Makin keren lah intinya.

Setelah album kalian kelar, apakah berarti Ricky bisa segera fokus pada band-nya yang lain, Stepforward?

A: Kalau Ricky tidak diculik kami untuk tour sih gue rasa iya ya? Hehehe.

R: Pastinya, hehe. Stepforward mulai bergerak lagi untuk rekaman saat bulan puasa ini. Jill akan membunuh saya bila tidak.

Secara personal, personil Seringai terlibat juga dalam albumnya Speedkill Metallium AD yah?

A: Ya. Gue, Sammy dan Kemod ikut mendanai persenjataan dalam sesi rekaman Metalium AD. Sudahkah kalian mendengarkan Speedkill? They fukking shreds and rips. Yeah!

Lalu ada proyek apa lagi nih di depan?

A: Kami masih fokus kepada promo Serigala Militia, jadi sesudah lebaran kami hopefully akan meneruskan show-show, dan semoga tour panjang akan terjadi…

R: Main terus lah…

Last shout!…

A: Majukan scene Malang! Hahaha! Fukking Primitive Chimpanzee rules. Sayang gue belum pernah nonton live-nya…

R: Great job on the website guys. Jendela Malang Rock City kepada dunia. Salam buat Afik NDHC, hehehe…

[Samack]

Artikel ini spesial buat Afix Munafix, fans berat Seringai yang masih lebaran & liburan di Ende City Hardcore, Flores. Akh, udah gak salah lagi, kau pasti sedang kerasukan ‘jin pepaya’ di sana. Sakawbabaw!…

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: