Ovan Tobing ; The Rock Messenger

Ovan Tobing

Jika BBC pernah punya John Peel, maka Senaputra FM cukup berbangga memiliki Ovan Tobing. Beliau yang bertanggungjawab atas setiap program musik rock di ‘Radio’ne Arek Malang’ tersebut. Di balik meja siaran, beliau bak seorang orator ulung. Meledak-ledak. Penuh semangat. Dan tentunya sangat berwibawa. Semua kalimat yang meluncur dari mulutnya adalah propaganda positif. Ajakan untuk bagaimana membangun scene musik yang kondusif, figur musisi yang baik, fans yang loyal, atau penonton konser yang apresiatif. Sangat edukatif, membius, sekaligus membakar. Pria macho yang akrab dipanggil Bang Ovan atau OT ini juga spesialis pembawa acara atau MC untuk sejumlah konser rock penting, khususnya yang digelar di Malang atau Jawa Timur. Mulai dari pertunjukan rock di era 70-an, sampai pada jaman keemasan serial Festival Rock garapan Log Zhelebour. Beliau pernah memandu [hampir semua] konser band domestik, sampai berdiri di panggung Sepultura, Helloween, Wall of Jericho, hingga Caliban. Berikut ini kami muat artikel wawancara antara tim redaksi Common Ground magz dengan Ovan Tobing, sosok penting yang sejak era 70-an sampai sekarang masih berdiri di garda depan komunitas musik rock kota Malang!…

Awal menjalani karir di dunia entertainment?

Dari radio, kalau istilah saya ini di militer aku ini sudah ‘jenderal bintang lima’. Karena saya di radio ini mulai dari radio amatir. Yang memakai antena bambu, pada tahun 74-an. Jadi saya sudah mengalami dari era amatir, kemudian masuk ke radio yang ditertibkan oieh pemerintah. Era itu adalah era piringan hitam, masuk kepada era tape/kaset, dan sampai sekarang era komputerisasi. Orang seangkatan saya, rata-rata sudah mendapatkan impian mereka. Yaitu, kalo tidak sebagai manajer dari radionya, maiah ada yang jadi owner atau pemilik radio. Kalo saya masih menikmati menjadi penyiar radio. Kalo ditanya mengapa sebagai penyiar? Ya, karena saya melihatnya di radio ini saya mendapat kepuasan, saya bisa menyenangkan banyak orang. Kalo di dunia entertain, saya muncul pertama kali sebagai pembawa acara. Waktu itu AKA bubar menjadi SAS, show pertama mereka di GOR Pulosari. Show pertama itu tahun 84-an, pertama kali [SAS] muncul setelah [AKA] pecah dengan Ucok. Itu juga karena kawan yang membuat show di Pulosari, di malam tahun baru dia gak punya pembawa acara. Dia bilang pada saya, “Wes koen ae sing gowo acara!” Waktu saya tampil, karena saya juga tidak berpengalaman sebagai MC, kalimat pertama saya di atas panggung dan menghadapi publik yang ribuan itu adalah, “Aku kudu ngomong opo iki?! Saya harus bicara apa ini?!” Nah kalimat saya itu mengundang gelak tawa penonton. Waktu mereka tertawa, saya jadi tau mereka merespon saya. Lalu mulai keluar, trus ngobrol. Sejak itu orang mulai mengenal saya sebagai pembawa acara…

Kapan persentuhan pertama kali OT dengan musik rock?

Sejak telinga saya mengenal rock. Di usia muda dan saya tidak berubah sampai sekarang. Jadi sampai hari ini pun saya masih menyukai musik rock. Dan [selera] saya sebenarnya bukan hanya musik rock. Klasik pun saya dengerin, lagu-lagu romantis saya nikmati. Kemudian sampai pada dengar The Beatles. Meningkat mendengarkan lagu-lagu rock. Meskipun terasa aneh musik mereka. Black Sabbath, Deep Purple, itu sangat mempengaruhi telinga saya. Little Richard, pemusik kulit hitam pertama yang main rock n’ roll juga saya dengarkan. Sampe sekarang di saat temen-temen saya sudah mendengarkan instrumental. Lelah mungkin karena telinganya itu sudah tua. Buat saya itu kan lagu-lagu kematian. Lagu istirahat siang, itu kan bisa keterusan istirahatnya…

Sejak dipercaya menjadi MC, apa event terbesar yang pernah OT pandu?

Saya pernah di Ancol, di event Rock Kemerdekaan. Itu materinya mulai dari Hari Mukti, The Rollies, God Bless. Pentas rock yang mulai jam sembilan sampai malam. Itu saya tampil bersama Bagito Grup [pelawak]. Semua event itu harus menjadi besar di mata saya. Karena tugas saya juga untuk ‘membesarkan’ nilai event itu…

Sepultura di tahun 1992?

Untuk Indonesia bisa menjadi besar karena kita kedatangan grup selevel mereka. Tapi kalo saya jadi MC-nya saya justru mendapat lebih banyak hal tentang apa yang mereka kerjakan di backstage. Bukan waktu show-nya. Apa sih yang dikerjakan orang-orang Sepultura? Saya pelajari, saya lihat. Aku kan mau tau pemusik­pemusik dengan level dunia ini. Apa ya kerjanya?! Apa sama dengan anak-anak band di Indonesia?! kalau musiknya dan penontonnya sendiri buat saya sama saja…

Sepultura membuka pikiran masyarakat Indonesia terhadap musik cadas?

Ya, bisa kita bilang bahwa Sepultura ada nilai tambahnya pada perkembangan musik rock di Indonesia. Tapi kalo kita bicara tentang panggung-panggung rock di Indonesia jaman lama. Justru sebeium Sepultura itu lebih serem. Trencem itu kalau main bawa peti mati ke panggung. Jadi ada atraksinya, tidak seperti show yang sekarang. Jadi mereka selain bermusik, juga ada teaternya di atas panggung. Itu sisi daripada pemikiran pemusik-pemusik kita dahulu. Kalo saya langsung masuk pada perbedaan sekarang. Sekarang mereka hanya nyanyi di atas panggung, sama saja dengan mendengarkan kasetnya, dengar rekamannya. Mereka kan tidak bisa memilah, bahwa saya masuk dalam studio rekaman atau saya berada on stage di mana sosok dan atraksi saya ditunggu oleh publik. Bukan sekedar lagu…

Apa kabar musik rock Indonesia?

Semua sakit, keadaan daripada musik rock sekarang lambat menyadari peran mereka. Saya juga belajar mengerti, ternyata rnereka menyadari, sulit hidup dari bermain musik rock dan selalu pada klise kalimatnya `tuntutan perut’. Itu membuat mereka harus berubah, kalo tidak ya bubar! Sisi lain rock terkikis, karena mudahnya sekarang orang membuat lagu. Cukup dengan komputerisasi, menjual Ring Back Tone, selesai!… Jadi jangan kaget, kalo sekarang banyak band cepat naik, tapi mari kita berhitung berapa lama dia akan bernyawa. Gak lama! Bedakan dengan God Bless. Tahun depan mereka tour, saya beri jaminan pasti meledak. Kerinduan orang lama pada mereka, dan generasi sekarang yang ingin tau bagaimana sih Ian Antono itu, bagaimana sih Ahmad Albar itu? Itu yang menjadi kelebihan daripada God bless. Komitmen mereka terhadap musik!…

Akar rumput musik rock yang benar-benar mati?

Jadi mereka ragu-ragu terhadap musiknya sendiri. Kan bisa saya bilang aneh. Tetapi sebenarnya sekarang pun banyak. Katakanlah seperti komunitas underground itu menyebar sangat luas. Gak karuan jumlah band-nya, dan mereka sangat berani show dalam posisi gedung yang sangat tidak memenuhi persyaratan. Mereka memaksakan diri hanya untuk `pengakuan’. Bahwa kita ini ada!…

Jika dibandingkan dengan luar negeri, dengan kembalinya Black Sabbath, AC/DC, dan Led Zeppelin?

Kalo saya mernbacanya, satu! Komitmen mereka terhadap dunia mereka tidak pernah berubah. Jadi mereka dari dulu sampai sekarang tetep bermain rock. Ya karena tidak berubah komitmen, bahwa saya adalah pemusik rock. Jadi saya akan bermain di areal yang seperti ini.

Bagaimana dengan pasarnya sendiri?

Justru saya mulai mengkhawatirkan dalam setahun atau dua tahun ke depan. Melihat menggeliatnya band-band lama ini kembali muncul. Terakhir kita tau Motley Crue rnelemparkan album, AC/DC yang kembali ‘back to basic’, itu jadi satu warning. Nah yang di Indonesia ini masih tidur-tiduran, nunggu, mereka masih diterima gak?! Yang kedua, lirik-lirik lagu rock Indonesia harus mengalami banyak perubahan, harus lebih berkarakter lagi. Kita pernah berjaya kok dengan jamannya Power Metal, era-era emas itu! Jadi siapa bilang kita tidak bisa berjaya lagi? Nah, kembali kepada pelaku-pelakunya…

Bagaimana dengan di luar pelaku itu sendiri. Seperti misalnya record label [Loggis Records sebagai sampel], pemerintah, dan yang lain?

Saya melihatnya, festival-festival berseri yang diadakan oleh Log yang tadinya berpijak pada lagu-lagu rock, di seri-seri terakhir mereka mencoba merubah dengan lagu-lagu rock yang mudah dipasarkan. Sehingga pada seri yang terakhir, lahirlah juara-juara yang justru menjadi pertanyaan oleh komunitas­komunitas rock. Kemudian saya melihat lagi, Log juga belum melakukan tour-tour dengan memboyong para juara. Karena jangan lupa, dengan hasil-hasil dari festival yang dia garap itu banyak band-band yang menjadi abadi. Contohnya lagu Kaisar `Kerangka Langit’, sampai sekarang orang dengerin itu masih nyaman. Bahkan frekuensi pemutaran lagunya lebih banyak daripada juara-juara yang baru. Mengejutkan sebenarnya dan harusnya menjadi pelajaran. Kenapa tidak kembali pada basic-nya? Kalo mau maen rock, rock yang gimana? Ya maen aja di metal, saya lihat masih banyak dan sekarang kayaknya metal sudah kenceng­kencengan lagi. Sejak Dragon Force memproklamirkan diri di dunia internasional, semua mimpi lagi dengan mereka…

Dragon Force berani keluar dengan speed/power metal, bagaimana dengan kita?

Yang masih diam dan tidur itu ya mungkin kita. Grup-grup lama sekarang menggeliat kok. Bangun lagi. Mulal tour lagi. Makanya suka atau tidak suka, saya lihat kalo kita mengacu pada orang luar, kita melihat Rolling Stones aja. Dia tidak pernah neko-neko, tidak pernah berubah, tapi sampai usia sekarang toh masih tour dan masih gila. Nah orang kita ini kan masih takut. Apalagi sekarang iklim di Indonesia, saya lihat makin sulit untuk gelar-gelar show, nyaris di seluruh Indonesia. Terlalu banyak pilkada, pilgub, itu membuat Event Organizer [EO] tidak punya waktu…

Pemerintah sendiri seperti apa?

Ka!o pemerintah sendiri kan seharusnya melihat segala yang disenangi masyarakat. Bicara kerusuhan juga susah, bola rusuh ya main terus. Jenis musik lain juga rusuh. Ya itu tadi, pengertian terhadap memberi tempat kepada musisi yang seharusnya ada patronnya yang muncul sampai ke akarnya di daerah pemerintahan itu. Ya sama dengan Malang. Sudah tidak ada tempat yang bisa dijangkau oleh EO tanpa background perusahaan besar untuk sebuah show. Malang sudah kehilangan…

Bagaimana dengan musik rock di Malang sendiri setelah ditinggal hijrah para pendahulunya ?

Ya karena mereka keluar Malang, setelah dibesarkan di Malang, adalah untuk hidup. Yang menjadi pertanyaan sekarang setelah Malang ditinggalkan oleh pemusik-pemusik yang tadinya menjadi idola orang Malang, kenapa sampai sekarang tidak ada generasi berikutnya yang bisa mengambil posisi mereka menjadi idola publik Malang? Pertanyakan itu! Abadi Soesman, Ian Antono, dan Totok Tewel keluar? Mereka sudah memberikan ruang untuk generasi berikutnya, tetapi sayang tidak dimanfaatkan oleh generasi berikutnya…

Apa karena `warisan` dari pendahulunya yang tidak sampai?

Saya pikir di dalam musik kita tidak bisa bicara warisan. Kita hanya melihat satu momentum. Jadi kalau kita lihat banyak musisi Malang di Jakarta itu sangat dihormati, selain Totok, Ian, masih ada Noldy [eks Gang Voice]. Nah itu sebenarnya nilai tambah. Yang salah itu pemusik-pemusik yang di Malang ini melihat kesempatan, tapi kurang mereka pergunakan. Padahal saya dengar band di Malang ini jumlahnya ada ratusan. Karena terlalu banyak jadi kacau, terlalu sedikit susah, gak jelas! Dan baru di kemudian hari saya mendengar nama Begundal Lowokwaru yang kemudian saya katakan sebenarnya ini bisa menjadi salah satu yang baru di Malang, karena massanya sangat kuat…

Sifat militan orang Malang yang sudah hilang?

Sudah hilang. Sekarang saya sering katakan. Band-band luar Malang datang ke Malang terus dia cuma kencing dan berak, lalu dia pulang. Apa yang mereka berikan kepada Malang? Tidak ada! Karena band Malang dulu, kalo mereka menjadi pembuka pembuka selalu tampil lebih gila dari band utamanya. Band-band utama kalo mau manggung di Malang selalu tanya, “Pembuka gue siapa?”, sehingga dia punya bayangan, ”ini pasti band gila jadi kita harus lebih gila!” Makin atraktif, makin gila di atas panggung, orang Malang tambah senang.

Berarti selama ini beberapa show belum bisa mengakomodir band-band Malang sendiri?

Iya belum, karena saya sudah bertanya kepada kawan perusahaan sponsor yang mengadakan show di Malang juga kesulitan. Siapa band yang berhak mendampingi band yang saya datangkan dari luar? Kalau dulu band luar yang masuk ke Malang  openingnya tanpa band Malang, habis dia! Orang Malang pasti tersinggung. Kelompok besar [major] yang datang dari Jakarta atau Bandung main di Malang tanpa ada opening-nya band Malang? Jangan harap selamat shownya!…

Malang sebagai barometer musik rock, kapan?

Era 80-an. Luar biasa itu. Kenapa Malang bisa sampai demikian? Karena penontonnya dianggap gila oleh kawan-kawan pemusik. Karena kan lagu-lagunya masih lagu bule. Mereka [band] selalu mewanti-wanti dirinya jangan sampe `slip’ dengan lirik lagu. Karena kalo band itu salah, penonton pasti tau. Sehingga orang katakan, “Ini kota yang gue cari, nyanyi melulu!”

Berarti publik Malang itu kritis?

Sangat kritis! Mereka masih mendengarkan kaset waktu itu. Kaset itu mereka dengarkan dengan seksama. Kalau kaset itu kan ada teks lagu di dalamnya, itu dipelajari, meskipun suaranya ancur tetapi mereka bisa nyanyi, ngerti liriknya. Dan kalau saya boleh menyimpang sedikit dari musik, yang masih berkaitan dengan radio. Itu yang saya kerjakan dulu di radio Senaputra. Karena Malang dulunya penonton musiknya dikenal rusuh. Malang itu ‘kota batu`, begitu kata kalangan entertain. Hal yang membuat saya berpikir, “kenapa sih kok mereka tidak bisa ngikuti musik?” Dengan memakai sarana radio Senaputra ini saya mencoba memberikan ‘pelajaran’ kepada [calon] penonton. Jadi ada kaitannya antara media dengan orang-orang saat on-stage atau orang-orang entertain. Sejak kembali ke radio ini, ingin saya tularkan lagi dan mungkin hasilnya sudah sedikit kelihatan. Kecelakaan saat ini adalah karena sebagian besar penonton kan gak ngerti lagunya. Kerusuhan-kerusuhan banyak terjadi karena orang tidak ngerti lagunya. Jadinya mereka pikir kok lagunya gak dikenal? itu yang sering terjadi di konser musik sekarang. Makanya, kalo gak suka dan gak punya acara, ya jangan nonton konser!

Bagaimana identitas Malang sebagai ‘kota rock’?

Memori itu masih ada. Kita bisa lihat dengan Soundrenaline. Jadi musik dan penontonnya di Malang itu masih sangat diperhitungkan. Karena materi yang bersinggungan dengan kata `rock’ untuk dibawa ke Malang itu lebih mudah untuk dijual. Meskipun band-band pop besar sekarang juga laku dijual. Cuman pertanyaan kita kan kalo kita masuk ke tontonan kita pasti mengharapkan suatu ‘entertainment’. Kalo mau jual wajah jangan ke sini, karaoke aja!…

Bagaimana dengan pemusik Malang sendiri?

Saya lihat masih banyak yang tidak menyadari bahwa ruang bergerak yang sangat luas sebenarnya adalah di dunia rock. Kenapa demikian? Karena banyak karya-karya anak muda yang kita terima di radio ini justru lagunya ‘melas-melas’. Jadi kalo mau mencari satu warna, mereka harus memberikan warna yang berbeda agar bisa menjadi omongan orang. Begitu juga dengan show, kalau suatu show diadakan di Malang kemudian tidak diomongkan oleh masyarakat, buat saya itu gagal. Kalau dulu sebuah band baru manggung itu efeknya berhari-hari sampai berminggu-minggu jadi obrolan. Kalo sekarang saya lihat, konser band selesai, ya tidak ada yang ngobrol lagi. Gak ada yang mengesankan. Berarti apa? Mereka tidak berhasil memberikan sesuatu untuk dikenang publiknya. Menyedihkan! Kalau mereka mengklaim dirinya seorang musisi, sebagai seorang seniman yang berada di dunia  art, ini menyedihkan! Suatu karya yang hanya lewat begitu saja. Anak Malang sekarang kurang menyadari bahwa sebetulnya mereka punya ruang. Kenapa mereka harus bersaing dengan band-band yang sudah mapan, nyanyikan lagu yang mirip-mirip, kesedihannya mirip, terus dia mau jual apa? Itu yang membuat gregetnya musik-musik di Malang sangat hilang…

Berarti harus punya ciri atau karakter ?

Lho itu harus, Ya itu tadi, orang Malang harus punya sesuatu yang gila. Kegilaan atraksi di panggung itu penting. Itu akan selalu dibicarakan dan menjadi nilai plus pada akhirnya. Membuat kita yang sudah nonton, “Wah, band itu gila!”. Itu kan jadi ada memori. Nah kalo sekedar datang biasa, ya lewat. Anak Malang tidak punya sesuatu yang istimewa, sama sekali tidak ada akhirnya. Padahal sampai detik ini, kalo pemusik mendengar kata Malang selalu telinganya langsung terbuka. Cuma pertanyaan yang selalu diberikan pada saya, “Mana? Band Malang mana? Yang apik mana?!” Mati aku gak bisa ngomong!… Karena itu saya pingin ada satu band yang di setiap acara pementasan, band ini mesti menjadi band pembuka kalau sebuah perusahaan [sponsor] besar raksasa mengadakan show di Malang. Memberi kesempatan band lokal yang punya kualitas bisa mengumpulkan massa. Memberikan warna pada panggung-panggung pertunjukan. Itu akan merangsang band-band lain untuk mengikuti band ini.

Bagaimana dengan peran band-band indie?

Saya pertama mendengar kalimat `indie’ itu bingung sebenarnya. Karena di mata saya, yang bisa menilai musik kita itu adalah masyarakat. Pemusik harusnya menyadari bahwa mereka membuat suatu ‘menu makanan’ yang harus disajikan kepada masyarakat. Bahwa ini dikatakan rock n’ roll, ini musik punk, ini musik ini, biar masyarakat yang berbicara. Dengan demikian pemusik itu akan lebih bangga bahwa, inilah saya dengan musik saya, Kalo diterima, jalan terus. Kalo gak diterima, ya coba rubah lagi. Mereka kan menjual? Apalagi anak-anak indie tuh, saya boleh tanya, apa sih mimpi mereka sebenarnya? Indie itu kan dilahirkan untuk mengimbangi mereka para pemusik major label kalau saya tidak salah meniliknya. Satu komunitas yang memberontak pada kemapanan major label. Tapi indie kan juga akan menjadi besar, berproses, kemudian ‘dicaplok’ juga oleh major label. Masihkah dia mau bermain pada komunitas indienya? Sementara dengan misi musiknya dia akan bisa melebarkan sayapnya lebih luas. Dia akan dikenal lebih jauh, karyanya akan diterima oleh lebih banyak telinga. Poin pemusik itu adalah di sana. Bahwa karya saya didengar oleh banyak orang. Kalo cuma hanya didengar oleh komunitas, ya jangan pernah punya mimpi yang tinggi. Kalo ada major label yang mau ngambil, selama major label itu tidak mencampuri kebijakan­kebijakan band dan saya cuma bisa bilang satu, “Lebih menghargai sesama pemusik lah. Jadi gak usah, kalo ada satu band baru, belum apa-apa sudah divonis jelek!” Padahal yang memvonis juga tidak lebih bagus dari yang divonis. Kalo seniman, makin banyak berkumpul kan akhirnya ada satu solusi. Kalo di indie Malang ini kan sudah susah. Saya pernah kok diketemukan dengan komunitas indie, sampe aku pulang ya bingung, apa yang dicari? Kadang pertanyaan saya, “Apa yang kamu harapkan sebagai seorang, katakanlah sebagai seorang musisi? Kalo kamu seorang pencipta lagu, apa yang kamu harapkan? Ya, lagumu didengar orang kan?!” Dan kelihatannya kalo di Malang band-band indie itu ‘easy come easy go’. Lahirnya cepet, matinya juga cepet. Hukum alam juga pada akhirnya…

Pola pikir apa yang seharusnya dirubah?

Bahwa kalo kalian sudah memutuskan untuk mulai memasuki dunia entertainment, maka bertahanlah. Cobalah untuk bertahan selama mungkin di dunia entertainment. Rata-rata band sekarang itu, satu-dua bikin album lakunya sedikit. Bikin dua laku lagi, bikin tiga turun. Ya, jadi saya katakan mereka tidak punya tanggung jawab terhadap dirinya. Tidak punya tanggung jawab kepada publik yang mulai mencintai mereka. Selama orang itu masih mau mencintai profesi yang dikerjakan, dia akan hidup kok. Kalo ngomong seneng-susah ukurannya pada harta itu pilihan yang rumit. Tapi karya, kalau saja di Malang ada satu band besar, dengan massa yang besar, lagunya ditunggu-tunggu orang, maka dia itu sudah bisa jadi ‘raja kecil’ di Malang!

Bisakah band Indie berperan untuk mengembalikan kota Malang sebagai barometer musik?

Loh bisa. Saya juga sebenarnya melihat selain daripada pihak pemusiknya, yang juga bisa membuat Malang mendapat nilai plus itu adalah peran radio-radio swasta. Saya berkali-kali ketemu temen­temen band Malang. Selalu saya bilang, yang juga harus sangat diperhatikan temen-temen band Malang yang generasi sekarang ini, “Not only the music!” Tidak hanya musik! Tapi juga penampilan keseharian mereka, performance mereka. Ini akan menolong citra band di mana mereka bermain. Jangan salahkan, masih banyak mayoritas warga negara kita ini yang melihat orang itu dari sosok luar. Kalimatnya ‘kesan pertama’ itu penting sekali. Kalo mencintai profesi yang kamu masuki, maka kamu juga akan menjaga cintamu terhadap profesi ini. Kalau kalian bermain di musik, ya jaga juga musiknya. Bukan hanya musiknya saja, pandangan orang terhadap pemusik, ini sensitif loh bagi orang-orang Malang. Kita kan gak bisa disamakan dengan kota Bandung. Pemusik Bandung, biarpun itu dia band pemula, tapi penampilan kesehariannya beda. Gak mewah tapi beda. Ya itu yang saya lihat, di Malang hal itu harus juga diperhatikan. Kedekatan dengan kawan-kawan radio juga harus dijaga. Karena adalah menyenangkan sekali kala kawan­kawan band indie membuat lagu, kemudian terdengar di radio. Sehingga radio juga ikut terus menjaga lagu-lagu mereka terus beredar di antara lagu-lagu yang lain. Karena kita melihat, band-band indie kalau bikin acara kan komunitas. Nah, saya selalu mengatakan, “Kalian sudah punya modal bagus, yaitu komunitas kalian. Tapi permasalahannya adalah bagaimana mengambi! orang dari luar komunitas kalian agar ‘masuk’ ke dalam komunitas kalian. Jadi mereka yang tidak tau, menjadi tau. Mereka yang gak mengerti, menjadi mengerti. Itu berarti usaha kalian berhasil!” Kalo kita bicara dengan komunitas kan gampang. Tapi orang yang tidak pernah tau ini mau bergabung, mau berada di dalam komunitas indie, itu berarti mereka yang bisa me-manage atau memasarkan. Itu yang menjadi PR bagi pemusik Malang. Karena kalo kita bicara indie, menurut saya, makin melebar komunitas yang kalian dapat, makin mudah kalian untuk menjual produk…

Kita punya banyak band indie, bagaimana dengan kualitasnya?

Itu juga tadi yang saya bilang. Kenapa mereka mengikuti model­model musik yang lagi trend. Mereka juga harus ada perubahan. Oke, saya mendengar band ini, mencari sisi lain yang bisa mereka jual. Kalo konsep musik sama, orang tetep gak mau beli lah! Akhirnya kan saya bilang indie-indie yang tidak kreatif. Kalo sudah tidak kreatif, kita masuk dalam dunia art, ya kita sudah selesai di sana, berhenti. Bukan stuck, kita sudah mati! Kalo di dunia musik itu mestinya, menurut saya, orang dengar itu langsung sudah tau, ”Oh, ini band ini!” Dalam bahasa Indonesianya punya jatidiri, punya ‘colour’. Ya kalo indie tetep bermain dengan warna yang ada di pasaran, tidak ada sesuatu yang beda, akhirnya ‘indie’-nya menjadi pertanyaan lagi, “Indie-ne endi? Mana?” Jika kamu tidak memberikan sesuatu yang beda, mana unsur perlawananmu terhadap major? Ya, bukan maksudnya memusuhi [major], tapi memberikan perbedaan di dalam art. Itu sah, tidak ada hukumnya!…

Berarti anda optimis dengan perkembangan band-band independen sekarang?

Saya selalu berupaya tetap optimis. Saya pernah mengalami era gemilang. Era kejayaan musik kota Malang. Di mana kalo orang mendengar saya dari Malang, mereka selalu sering mengatakan, “Wow, Malang. Gila tuh musiknya! Penontonnya juga gila!” Saya pernah mengalami era keemasan itu. Dan saya ingin, kenapa kita tidak bisa mengulang era itu tadi. Sehingga jangan ada pertanyaan-pertanyaan lagi pada saya, “Malang itu dulu disebut sebagai barometer musik, bos. Gimana sih ceritanya?” Lagi-lagi saya harus sabar menceritakannya. Nah di antara itu, saya hanya mengemas musik kepada publik, bukan kepada pemusiknya. Saya tidak berhak dan saya sangat menjaga agar tidak masuk pada visi-misi atau kebijakan suatu band. Tapi publiknya saja yang saya kemas, saya kerjakan, ini loh Malang dulu! Karena apa sih? Penontonnya itu bernyanyi! Kenapa sih kamu mau datang?  Karena kamu mau nonton! Itu yang sering saya berikan dalam dua atau tiga show besar terakhir di lapangan Rampal. Itu sudah membuat EO Jakarta terkagum-kagum dan itu dinyatakan pada saya, “Gila bang, penontonnya nyanyi terus!”. Ada harapan di sana. Kalo publiknya sudah seperti itu maka marilah pemusiknya berpikiran seperti itu…

Bagaimana anda memaknai eksistensi?

Biar publik yang melihatnya. Biar masyarakat yang menilai saya. Cuma sekali lagi kalo orang bertanya kepada saya tentang resep di atas panggung, bertanya kemampuan. Saya selalu mengatakan kepada mereka, “Saya tidak bisa melakukan hal sebesar itu, saya tidak pernah bisa mengerjakan hal sebaik itu, kalo yang ‘di atas’ tidak kasih ijin sama kita!”

[Tim CommonGround]

Artikel di atas bersumber dari Common Ground music magz issue #5 [Desember 2008]. Thanks buat Ucie, Ogive, Antok Celz, dan seluruh redaksi CG.

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: