We Owe You Nothing

We Owe You Nothing

Punk Planet: The Collected Interviews

Akashic Books

Kalau ada fanzine yang benar-benar meng-influence saya, maka itu adalah fanzine Punk Planet. Fanzine dwibulanan ini merupakan sebuah media alternatif yang tidak hanya menawarkan musik alternatif yang menarik tapi juga pandangan politik alternatif dan lifestyle yang tidak kalah menarik. Way beyond this so called punk rock lifestyle or aesthetic. Begitu pula dengan interview-interviewnya. Selalu menarik, intelek, terlebih lagi Punk Planet banyak meng-interview orang-orang di belakang layar suatu movement. Bahkan, kadang karena kita tidak tahu movement-nya, lewat interview-interview ini, awareness orang menjadi lebih peka. Tidak hanya tentang counter culture yang kita kenal sebagai punk rock, tetapi bagaimana budaya tersebut memang menjadi sesuatu yang membuat hidup dapat lebih berarti dengan mencoba berpikir out-of-the-box-thinking, hanya untuk membuatnya lebih baik. Apa yang membuat Punk Planet menjadi lebih menarik dibanding, misalnya Maximum Rock N’ Roll, karena kecenderungan mereka untuk membuka pikiran secara lebar, tapi tidak ada intensi untuk mendoktrin [dibanding MRR, yang kadang seperti kitab suci yang tidak dapat didebat]. Gaya Punk Planet seperti sikap ‘this is how we do it, this is what happens, now what can you do about it and what are you going to do about it?’. Lebih friendly, tapi tetap intelek dan serius. Punk Planet adalah salah satu pionir dari media alternatif yang mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai alternatif dari alternatif [seperti MRR, misalnya]. We Owe You Nothing adalah kumpulan interview-interview menarik dan terbaik dari 10 tahun eksistesi mereka. Dari tokoh pergerakan sampai ke musisi, interview yang dilakukan juga dalam. Misalnya seperti interview dengan Voice In The Wilderness, sebuah kelompok radikal Amerika Serikat yang menentang sanksi pemerintah Amerika atas Irak. Voice In The Wilderness mengusahakan dan mengirim peralatan dan bahan medis untuk negara tersebut. Tidak banyak memang, tapi mereka sangat berusaha. Sebuah proyek humanis. Atau, interview dengan Ruckus Society, juga sebuah kelompok radikal yang memberikan workshop dan training untuk mereka yang ingin mengadakan aksi protes secara efektif: bagaimana secara efektif memprotes dengan tubuh sendiri, atau protes lewat aktifitas organisasi. Tentu saja, ada interview dengan para scenester aktif, dari Ian MacKaye, Jello Biafra sampai ke Steve Albini. Salah satu yang menarik adalah interview dengan band Los Crudos, di mana mereka menantang scene punk rock dengan cara mereka sendiri, dan mengembangkan komunitas sendiri [Hispanik]. Los Crudos sendiri terkenal dengan liriknya yang cerdas dan disampaikan dalam bahasa Spanyol, di mana mereka membuktikan bahwa bahasa tidak selamanya menjadi rintangan untuk berkomunikasi, dan sebuah pernyataan identitas dari komunitas mereka. Juga, dengan para tokoh feminis dalam punk rock, seperti Jody Bleyle dan juga tidak tertinggal, Kathleen Hanna [Bikini Kill/Le Tigre]. Pandangan-pandangan mereka tentang seksualitas, gender, dan juga bagaimana mereka menginspirasikan kaum wanita untuk lebih vokal dan maju dalam pemikiran mereka. Ada juga interview dengan Duncan Barlow [Endpoint/Guilt/By The Grace Of God], yang secara terbuka menyatakan ‘resign’ dari komunitas punk rock/hardcore. Interview sejenis, juga dilakukan bersama Ted Leo dan penulis fanzine gay-Outpunk, Kevin Wobensmith. Cerita mereka masing-masing menunjukkan kalau ternyata kultur perlawanan yang selama ini mereka pahami, memiliki keterbatasan sendiri: banyak aturan dan bahkan peraturan. Interview dengan Steve Albini juga sangat menarik, pandangannya tentang musik independen, dan bagaimana industri musik dibandingkan dengannya. Sementara interview dengan Frank Kozik, juga menarik, sudut pandang yang berbeda, dan memiliki jalan pikir sendiri yang logis dan bisa dimengerti tentang budaya perlawanan itu sendiri. Buku ini merupakan bacaan yang sangat menarik, dan ketimbang hanya menyajikan interview tentang musik dengan band, dan pertanyaan-pertanyaan standar, buku ini menyajikan wacana-wacana menarik untuk dibahas, dan bahkan menginspirasikan siapa pun yang tertarik untuk membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik, pencarian atas kehidupan yang lebih baik. Tidak pretensius. Direkomendasikan, terutama untuk mereka yang mencari alternatif, atau sesederhana tidak pernah membaca fanzine Punk Planet. By the time kamu membaca resensi ini, sayangnya majalah Punk Planet tutup setelah 1 dekade membantu mengembangkan scene independen. [arian13]

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: