Extreme Music For Extreme People?!?!

Hail extreme people!… Masih suka liat event musik cadas di Malang? Ehm, pasti hampir tiap minggu kamu nonton kan? Yup, bisa dibilang setiap minggu acara musik digelar di kota Malang. Dari event yang menampilkan band-band yang lagi naik daun, aliran punk/hc/metal, maupun band-band luar kota yang sengaja diundang para EO, atau yang sekedar mampir pingin ‘uji nyali’ bermain di Malang. Pasti kalian sering bertanya-tanya kenapa seh belakangan ini hampir setiap gigs di Malang pasti ada keributan? Mungkin ini pertanyaan yang harus kita renungkan…

Akhir-akhir ini aku bersama temen-temen sering ngobrol ngalor-ngidul ngebahas seputar scene lokal, dari awal pertama kali ada event di Malang sampai trend baju hitam dan sepatu vans yang udah jadi trademark para ‘ABG labil’ untuk datang nonton konser. Yah bisa dibilang scene Malang udah gak kalah dengan Bandung atau Jakarta. Tidak kurang 500 sampai 800 penoton pasti hadir di setiap acara. Band-band lokal udah bisa dibilang lumayan berkualitas dan tinggi jam terbangnya. Ditambah lagi kemasan acara udah mulai bisa dinikmati. Tetapi sayang sungguh sayang, setiap pertunjukan musik kenapa harus ternoda dengan perkelahian?!…

Ya emang seh ini musik keras. Alkohol juga bisa memacu adernalin kita yang suka gak terkontrol tanpa peduli lagi apa yang kita lakukan. Apalagi band yang kita sukai udah mulai memainkan nada-nada yang bikin badan ini bergerak terus, berpogoria, headbang, slamdance, dan moshing. Suasana semakin panas dan menggila saat ratusan massa udah mulai beringas sikut sana-sini, tendang kanan-kiri, melompat-lompat dan injak kepala. Berputar-putar ikuti irama musik cadas dan tanpa kita sadari udah banyak jatuh korban, sampai ada yang berdarah segala. Yup, itulah mungkin gambaran konser musik cadas kita hari ini. Tapi sayangnya, kesadaran kita untuk ‘menolong’ para korban sangatlah kecil. Kita lebih asyik dan terlena dengan kebrutalan massa. Apalagi jika kita udah di luar kontrol terus tiba-tiba ada tangan atau kaki yang mengenai kepala kita. Atau ketika ada salah satu penonton yang berdansa brutal tanpa aturan. Apalagi kamu tidak kenal siapa dia, “Wah dia bukan satu tongkrongan ama kita neh. Dia itu preman yang gak ngerti musik. Ayo hajar aja sampai mampus!…” Dari sinilah awal dari sebuah chaos. “Juaaancok koen, jangan sok jagoan kamu!” Serta segala jenis cacian khas arema lainnya. Bak-buk-bak-buk. Belum sempat dilerai, pukulan dan tendangan udah bertubi-tubi mendarat di tubuh korban. Belum lagi andil teman-teman kita yang ‘sangat peduli’ dan mengatasnamakan ‘setia kawan’ gak tau apa masalahnya langsung aja ikutan menghajar. Satu orang lari kesana-sini dihajar oleh puluhan pemuda. Kayak kita nonton pelaku curanmor yang digebuki massa beringas. Semakin panas suasana, semakin ricuh acara. Kadang malah gak tau lagi siapa yang bikin onar, siapa yang korban. This is fuckin a hell!…

Apakah ini yang dinamakan ‘Exteme Music For Extreme People’? Jika kita emang mengaku pencinta musik cadas apapun alasannya kayaknya gak mungkin deh  seenaknya menghajar atau menghakimi seseorang tanpa tujuan yang jelas. Kita udah merogoh kocek dan keluar tenaga hanya pingin menikmati hiburan musik. Hasilnya, sekarang aja udah banyak venue yang emoh dipake gigs gara-gara sering terjadi keributan. Jika udah gak ada venue lagi, kita mau bikin acara di mana? Kita sendiri yang rugi kan kalo bakalan gak ada acara lagi di Malang?!…

Yah masalah ini emang komplek banget. Kita sendiri kadang kurang menghormati antar penonton. Kita kadang masih egois dan sok jagoan. Belum lagi masalah pribadi terpendam yang dilampiaskan pas ada acara. Please guys, respect now!… Maybe no? Maybe yes? Mari kita datang ke setiap gigs dengan hati yang dingin. Bener-bener niat nonton konser musik dengan damai. Penampilan boleh serem dan sangar. Plus musik keras, alkohol 40%, sedikit ‘daun surga’ gak papa. Tetapi tetep harus saling menghormati sesama kalangan pencinta musik. Yah moga-moga aja untuk ke depannya kita jadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah ini. Semuanya demi kemajuan scene underground dan musik lokal. PEACE, LOVE, RESPECT!…

[xoox666]

Foto & gambar diambil dari netz

Sebuah wacana sektoral dari berbagai insiden yang sering terjadi di Malang belakangan ini. Sebenarnya ini kasus klasik & bisa terjadi di mana saja ; New York, Tegal atau Kazakhstan sekalipun. Sebaiknya pembaca bisa mengambil hikmahnya. Think positive, have fun & pay respect!…   

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: