Battle of 777

Puncak rangkaian festival Battle of Bands ada di Balai Merdeka Unmer Malang, 7 Juli kemarin. Sepuluh band finalis dari Jatim dan Bali serius berburu peruntungan dan gelar. Dua band lokal dan satu band dari Jakarta dijadikan guest, serta memberi percontohan bagaimana band rock itu seharusnya. Di dalam venue kayaknya nyaris ada 1000 kepala dan sebagian besar adalah fans dari tiga band headliner penutup. Skip and go!…

Pasukan Antiphaty naik stage sekitar jam sembilan malam. Bertelanjang dada, penuh tato, dan frontman yang layaknya berandalan biker. Malam itu Catur dkk memainkan empat lagu dalam tensi crusty-punk yang tinggi. Sejak lagu pertama, Apostate, mereka sudah mampu memanaskan suasana. Anti Punk Fuck Off malah jadi koor masal bagi sebagian punkers di baris depan. Riff gitar Yoyok memang makin ‘bandel’. Mesin drum yang bernama Eko terus menabuh beat, berpadu dengan cabikan senar bass Antok. Aksi mereka cukup powerfull, serta tampak mulai jago menguasai panggung. Dan nama Antiphaty makin melesat ke deretan atas dengan jadwal show-nya yang lumayan padat.

Kompleksitas adalah kata kunci yang baru bagi Screaming Factor. Mereka coba menawarkan materi-materi anyar seperti Behind The Fangs, The Hell and Paradise Within Her, Welcome Pieces, dan Eyeless Crown. Lima anak muda ini patut disalahkan atas progres musik SF. Mereka menciptakan aransemen dahsyat dalam beat dan presisi yang tidak sederhana. Kredit khusus buat drummer Ayok yang punya talenta juara dan skill yang mempesona. Tetapi entah apakah karena kerumitan musik SF juga yang bikin dua gitaris dan satu basis mereka tampak terlalu tenang, serius, dan tidak banyak bergerak. Jauh berbeda dengan singer mereka, Novie, yang cukup enerjik dan lebih prima di atas stage. Semua pasti sepakat kalau mereka lebih atraktif pasti pertunjukan SF akan lebih menarik. Next show maybe?!…  

“Gua udah nunggu limabelas tahun untuk bisa manggung di Malang!” seru vokalis Arian13 membuka penampilan perdana Seringai di bumi arema. Mereka langsung menghajar dengan sebuah intro yang disambung Puritan. Crowd mulai sedikit merapat dan ada beberapa anak yang jejingkrakan. Hampir semua penonton memang baru pertama kali melihat langsung aksi Seringai, dan tampak serius mengamati panggung. Nomor baru, Berhenti Di 15, secara tematik mungkin bisa jadi ‘B-side’ dari anthem klasik Alkohol, yang membawa spirit tetap muda dan menolak tua. Dilanjutkan kemudian dengan Amplifier, Akselerasi Maksimum, dan Citra Natural. Oh, tampaknya Arian cs ingin merangkum lagu-lagu lama dan baru dalam setlist mereka. Bakal album Seringai yang bertajuk Serigala Militia memang baru akan dirilis 16 Agustus nanti, dan momen malam itu cukup tepat untuk mengenalkan materi anyar mereka. Di atas panggung, performa Seringai selalu seru, maksimal dan kicking ass. Sound gitar Ricky terdengar begitu garang, dan Khemod cukup tenang di balik perangkat drum. Sammy sesekali ikut bernyanyi dan mengangkat gitar bass-nya ke udara. Sementara Arian tetap dengan gayanya yang khas ; menginjak speaker, lompat-lompat, teriak-teriak, sambil sesekali memutar kabel mic-nya. Lagu demi lagu terus dimainkan dalam restu kain bandana dan sepatu vans. Lencana, Mengadili Persepsi dan Membakar Jakarta ikut masuk dalam sajian. Klimaksnya adalah sebuah lagu kover Anti Social yang didedikasikan khusus buat seorang pemuja Anthrax dan para serigala setempat. Well, the battle was done. Kota Malang sudah mencapai tengah malam, dan tanggal keramat terlewati dengan selamat. Seven-seven-seven, the number of the beat!…

 [Samack] 

Notes ; 777 adalah tanggal baik? Sekaligus aneh dan penuh misteri? Seorang jurnalis ibukota dijebak jadi juri musik. Seorang sound engineer mendadak ingin mengucapkan ijab kabul. Sopir lokal yang tersesat dan hilang. Dan jin pepaya tetap tertawa. Weird!…

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: