Pada Suatu Hari Di Dekade Yang Lalu

Sekitar satu dekade yang lalu, sejumlah pemuda yang hobi musik keras punya ide gila untuk merancang konser underground yang pertama di kota Malang. Setahun sebelumnya mereka udah membentuk Total Suffer Community (TSC), sebuah institusi bawah tanah yang anehnya justru mendaftarkan diri sebagai organisasi massa / pemuda yang legal di Pemda (?!). Mereka adalah kumpulan anak belasan tahun yang masih mengkultuskan jargon-jargon sakti macam ‘support your local underground scene!’, ‘fuck off trendy!’, atau ‘commercial sucks!’. Gagasan bikin konser bawah tanah itu muncul secara tiba-tiba. Yah, anak-anak ini sungguh naif, tidak profesional namun sangat emosional. Tekad mereka hanya satu saat itu, “Jangan sampe Malang kalah ama kota-kota lain. Underground Malang harus disegani di negeri ini!”. Yah, se-sederhana itu aja. simpel dan naif. Sebuah cita-cita luhur yang sangat perlu di-amini.

 

Ketika itu musti diakui kalo scene Malang emang sangat dekat dan cukup terpengaruh oleh scene Bandung sejak dulu. Proyek itu pun terobsesi oleh acara serupa yang udah digelar di Bandung, seperti Hullabaloo (1994), Bandung Berisik (1995) Gorong-Gorong Bdg (1996), dan Bandung Underground (1996).

Setelah beberapa kali rapat dari rumah ke rumah, ngobrol seru pada setiap tongkrongan TSC di depan kantor kabupaten, akhirnya mereka sepakat membentuk panitia ‘elek-elekan’ yang bekerja secara sporadis. Sama sekali bukan orang-orang yang berpengalaman di bidang Event Organizer. Meski segilintir anak pernah mencicipi rasanya bikin event kecil di SMA-nya masing-masing.

Akhirnya titel acara diputuskan. Simpel namun powerful. Band pengisi acara juga udah di-list. Sebagian besar justru dari oknum panitia dan kalangan dalam juga – hingga seolah-olah ini seperti proyek bikin acara sendiri, main-main sendiri, dan ditonton sendiri. Sponsor? fukken hell, jaman itu mana ada distro ato kloting? Kompeni pun mikir-mikir untuk support acara yang gak jelas ini. Modal acara murni swadaya ; patungan panitia, bahkan band yang main pun musti bayar!… Semua dana yang masuk langsung abis untuk sewa gedung, urus ijin, sewa sound yang butut, publikasi, dll. Selebihnya panitia dimodali oleh semangat dan tekad bulat. Mereka udah kontrak mati siap bekerja keras, rela banting tulang dan begadang. Semua saling membantu dengan rasa solidaritas dan kekeluargaan. Gak akan pernah mundur, proyek ini harus terwujud!

Panitia mulai bagi tugas ; ada yang dandan rapi jali tiap hari pake kemeja dan bawa map lusuh keluar-masuk kantor pemerintah untuk urus ijin acara. Yang tampangnya serem ditugasi menagih sumbangan / patungan dari anggota panitia dan band. Yang hobi gambar mulai bikin sketsa pamflet, tiket, ID card dan backdrop – yang hasilnya langsung disablon sendiri. Yang doyan jalan dan begadang ditugasi fotokopi serta keliling nyebar/masang pamflet yang bergambar kartun jahat. Ada juga yang rajin ngurus band dan rundown seolah-olah dia seorang stage manager yang handal. Sisanya standby di sekretariat panitia dalam kondisi siap menjalankan tugas yang lain!…

Hingga tepat sepekan setelah Rotten Corpse membuat tercengang ribuan penonton di gedung Saparua pada event Bandung Underground 2. Hari Minggu siang, 28 Juli 1996, obsesi anak-anak itu terwujud. Parade Musik Underground (PMU) resmi digelar di gedung Sasana Asih YPAC Malang. Bands yang main berturut-turut adalah ; Ritual Orchestra, Knuckle Head, Confusion, Sektor Death, Zombie, Succubus, Radical Squadron, Hippies Local, Glorious Butchered, Brain Maggots, Vindictive Saviour, Satanaz, Mutant, Courvoisier, Sacrificial Ceremony, Obnoxious, Sinner (Sby), Grindpeace, Santhet, Ingus, Sekarat, Musyrik, Bangkai, Genital Giblets, No Man’s Land, The Babies, Perish, Slowdeath (Sby) dan Rotten Corpse.

Crowd? Gak terlalu banyak. Sekitar 500-an kepala datang dengan sangat antusias, tertib dan penuh totalitas seperti sedang merayakan lebaran-nya. Untuk pertama kalinya di kota ini terjadi konsentrasi massa yang cukup masif. Lengkap dengan dandanan khas dan nyeleneh seperti kaos metal item-item, rambut gondrong dan mendadak bule, masker wajah, rambut mohawk warna-warni hasil karya lem kayu & zat pewarna kue, atribut rantai, peniti dan kalung gembok. Ya, hari itu seperti hari raya underground di Malang. Semua tampak menyenangkan dan cukup menyentuh.

Lalu untung berapa panitia? Huh, balik modal aja enggak! Tapi mereka cukup puas dan tidak pernah menyesali proyeknya. Sebab PMU akhirnya menjadi landmark gigs cadas di Malang. Itu jadi langkah awal yang monumental. Karya kecil yang berdampak luar biasa dan penting. Itu kalo kita mau riset berapa anak muda yang akhirnya memutuskan membentuk band setelah menonton acara tersebut. Atau berapa anak yang akhirnya merasa yakin bahwa bikin gigs itu ternyata mudah dan bisa dilakukan. Juga hitung berapa banyak anak yang akhirnya memutuskan betah dan eksis di scene cadas ini hingga sekian lama. Hingga mendorong scene Malang lebih aktif dan produktif dalam berkarya, serta diakui eksistensinya di negeri ini.

PMU sendiri malah sempat jadi serial konser underground lokal terbesar. Di tahun-tahun berikutnya sudah mampu mengundang bands luar kota yang berbahaya. Seperti misalnya Motor Death, Noise Damage, Vexation, Hellgods, Eternal Madness, dan masih banyak lagi. PMU akhirnya bertahan hingga sekuel ketiga pada tahun 1998, dan tidak pernah dilanjutkan lagi hingga sekarang.

Yah, ini hanya cerita kuno dari kejadian satu dekade yang lalu. Anggap saja sebuah romantisme jaman dulu. Kisah kecil yang mungkin gak penting buat anda. Jaman sudah berubah. Biarlah ini jadi catatan dan sejarah. Untuk kamu yang masih eksis di sini, ambil saja semangatnya. Buatlah sejarah-mu sendiri dan terlibatlah di dalamnya. Jadilah pionir, jangan mau jadi pengekor saja. Lakukan yang terbaik meski itu hanya sebuah tindakan sederhana untuk lingkungan terkecil di sekitar anda… Sekian.

[lucifersam]

Esai ini aslinya pernah dimuat dalam newsletter Gronzero. Kami rasa masih exciting dan esensial. Maka di-remix dikit dan ditampilkan kembali pada kolom ini. Well, apa yang tidak menarik dari sebuah nostalgia dan pengalaman?…

 

 

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: