Antiphaty ; Dekade Agresi

Rabu malam itu, 11 Februari, hampir 200-an anak muda memadati pelataran Delta Café. Sebagian besar berdandan punk lengkap dengan segala asesorisnya. Sepatu boot dan rambut spiky warna-warni ada di mana-mana. Sisanya memakai pakaian kasual yang standard seperti kaos band atau kloting, celana jins, serta dibalut jaket atau sweater tebal untuk menahan hawa dingin kota Malang. Yah, sebuah pemandangan khas seperti di setiap acara gigs cadas. “Rame juga yah. Padahal acara ini gak ada publikasinya loh. Tau dari mana anak-anak ini?!” sahut seorang kawan heran bercampur kagum. Ah, nampaknya cukup sekedar gosip hangat plus kabar dari mulut ke mulut sudah bisa bikin crowd untuk datang dan memenuhi café sempit Delta. Apalagi kalau kabar yang didengar adalah sebuah gigs spesial untuk memperingati 10 tahun eksistensi salah satu band lokal yang paling fenomenal, Antiphaty!…

 

X X X X X

 

Semuanya berawal dari bulan Februari 1997 di kota Malang. Tersebutlah nama dua orang personil kelompok punk No Man’s Land, Catur Guritno dan Feri. Ditambah dengan Eko, seorang drummer berbakat yang tergabung di band deathmetal Keramat. Lalu ada Arthur yang merupakan adik kandung Feri. Empat anak muda itu mengagas sebuah konspirasi maut yang memainkan musik punk dalam bentuk yang lebih cepat dan keras. Yah, sesimpel itu awalnya. Dan mereka kasih nama yang singkat dan cukup keren ; Antiphaty.

Hari berikutnya, mereka berempat mulai berlatih. Musik Antiphaty agak mengarah pada jenis crusty-punk seperti yang dimainkan The Exploited atau Chaos UK. Unsur lain seperti hardcore, rock bahkan metal juga disertakan untuk menambah variasi musik mereka. Padahal jaman itu band-band [punkrock] lokal cenderung memainkan irama punk yang tradisional dan masih tergila-gila pada Sex Pistols, NOFX, Rancid, atau Bad Religion. Sedangkan Antiphaty tetap ngotot memainkan crusty-punk yang tidak begitu populer di telinga publik underground waktu itu.

Kemunculan Catur dkk tentu membawa nuansa baru dalam khazanah punk lokal kota Malang. Hampir setiap pekannya, mereka rutin berlatih di Centra, sebuah studio musik legendaris yang juga ikut membesarkan Keramat, Sekarat dan belasan band metal lokal lainnya. Beberapa undangan acara punk/underground juga mulai mereka ikuti. Dari pengalaman pentas tersebut, Antiphaty menjadi lebih baik dan mulai meraih penggemar sedikit demi sedikit.

Sejak awal terbentuk, Antiphaty memang lebih tertarik untuk menulis lagu sendiri serta membuat karya rekaman. Mereka sepertinya enggan menjadi band kover dan kagok untuk menyanyikan lagu orang lain. Mereka jadi lebih fokus pada proses pembuatan karya lagu untuk proyek debut yang sangat mereka impikan. Pokoknya musti cepet rekaman, obsesi mereka saat itu.

Akhirnya pada awal tahun 1998, Antiphaty merilis debut rekaman yang bertitel W.A.R. Album ini berisi lagu-lagu yang mengusung topik lingkungan dan konflik sosial. Catur yang menulis semua lirik-liriknya dalam bahasa yang lugas dan simpel, namun kadang terdengar sangat kasar. Rilisan ini langsung menjadi terobosan penting bagi publik punk serta kelangsungan karir Antiphaty sendiri.

Sayangnya, Feri dan Arthur kemudian memutuskan keluar dari Antiphaty untuk menekuni pekerjaannya. Catur dan Eko lalu menarik beberapa orang pilihan untuk memperkuat barisan mereka. Di antaranya ada Antok Celeng, pemuda fanatik punkrock yang sangat berbakat dalam memetik senar bass.

Setahun kemudian, Antiphaty bergabung dengan label Confuse Production dan merilis album kedua yang mereka kasih titel Undercontrol. Album ini dikerjakan di studio Kangean oleh tiga orang ; Catur [vokal/gitar], Eko [drum] dan Antok [bass]. Secara umum, materinya tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya. Still fast, straight and intense. Bersama label Confuse, mereka juga ditarik untuk mengisi split-tape dengan Extreme Decay [Malang’s grind monster] yang bertitel For Freedom.

Mereka juga ikut serta di beberapa proyek kerjasama dalam bentuk rekaman yang lain. Seperti misalnya split-tape dengan band punkrock Singapura, Depress, yang dirilis oleh Broken Noise records [S’pore]. Kemudian kompilasi Saudara Sebotol [Raw Tape recs], dan Tributes To Terrorizer [Edelweiss recs] dengan lagu kover Corporation Pull In.

Lalu terjadi lagi reformasi di tubuh Antiphaty. Masuk tambahan dua tenaga baru ; gitaris Yoyok [eks Horrid Truth], dan Wawan, eks gitaris metal alumni dari Rotten Corpse dan Adzab. Line-up kemudian menjadi formasi terbaik dan tersolid. Mereka berlima mulai bekerja keras dan menikmati masa-masa kejayaan Antiphaty dalam berbagai pentas musik.

Jadwal show Catur dkk juga makin padat. Tidak hanya di Malang saja, namun hingga menyeberang ke Bandung, Surabaya, Kediri, Blitar hingga Denpasar. Antiphaty mulai berhasil merangkai penggemar fanatik di wilayah Jawa dan Bali. Nama mereka mulai harum dan hangat untuk dibicarakan.

Catur sendiri makini fokus pada karirnya di Antiphaty. Ia bahkan menyatakan cabut dari band lamanya, No Man’s Land, untuk berkonsentrasi penuh pada Antiphaty. Terakhir kali Catur ikut manggung bersama No Man’s Land adalah pada event Brotherhood di Gedung Bioskop Kelud. Antiphaty yang sedang panas-panasnya langsung serius menulis materi baru untuk album selanjutnya…

X X X X X

 

Pada tahun 2000, Antiphaty merilis album For The Scene [Raw Tape recs]. Album ini bisa dikatakan album terbaik mereka. Catur dkk berhasil meramu musik punk yang lebih cepat dan powerfull. Sekilas mulai merambah irama swedish-punk. Aransemen musik mereka dilengkapi dengan unsur beat yang crusty, hook-hook metal yang kental, serta soundscape yang raw dan distortif. Titel album For The Scene memang diambil dari frase For the Punks milik The Casualties. Album konsep ini mengambil tema utama seputar kondisi scene dan komunitas punk/underground di kota Malang. Catur yang menulis semua lirik dalam ungkapan jujur, sarkastik dan terbuka. Namun tetap konstruktif tanpa terkesan menggurui. Ia mengaku terinspirasi dari segala stori dan suka-duka selama hidup di scene lokal. Boleh juga dibilang For The Scene adalah cermin dari kondisi scene Malang saat itu.

Meskipun dirilis dalam jumlah dan distribusi yang terbatas, album For The Scene berhasil mendapat respon yang cukup baik dari pasar dan scene musik cadas tanah air. Sejumlah lagu seperti Mati atau Pahlawan Bertopeng, berhasil menjadi hits dan favorit di kalangan fans Antiphaty. Bahkan ada yang menyebut For The Scene sebagai album punk masa depan, sebuah wujud dari musik punk di masa yang akan datang!…

Uniknya, konser Launching album For The Scene sendiri justru digelar di kota Denpasar bersama band-band lokal setempat. Maksudnya sebagai kado dan penghormatan kepada basis fans Antiphaty yang memang terkenal cukup masif di Bali. Bali pun menjadi daerah favorit bagi Antiphaty pada jaman-jaman itu. Banyak band baru yang bermunculan di sana dan mengaku sangat terinspirasi oleh musik Antiphaty.

Selayaknya band yang mulai berkembang dan dibicarakan banyak orang, berbagai kontroversi dan pro-kontra juga mulai hinggap di tubuh band ini. Seperti misalnya image dan slogan ‘Malang Drunk Punk’ yang sudah terlanjur melekat pada Antiphaty dan fans-nya. Sebuah asas yang melegalkan aksi mabuk-mabukan di panggung bersama penonton?! Beserta puluhan botol miras di setiap show Antiphaty?! Hiks…

Dan salah satu yang paling heboh adalah saat foto Catur yang berdandan punk lengkap dengan rambut mohawk-nya dijadikan sampul tabloid lokal Malang Voice di edisi Underground Issue. Terus terang, kejadian tersebut banyak mengundang pro dan kontra di dalam scene punk di Malang. Catur bahkan langsung diprotes fans-nya dan mendapat perlakuan yang memojokkan. Ia juga sempat dikatakan sell-outs, komersil dan dianggap keluar dari ‘jalur punk’?!…

Ironisnya, segala stori suka dan duka di dalam scene yang jadi tema utama album terakhir mereka malah bikin Antiphaty mulai goyah. Segala konflik, intrik dan kontroversi yang terjadi di scene lokal selama itu akhirnya membuat Antiphaty sendiri merasa tidak nyaman. Dan puncak dari kegalauan itu akhirnya meletus dalam diri sang frontman, Catur. Tiba-tiba sekembalinya dari konser launching For The Scene di Denpasar, ia memutuskan untuk berhenti dari Antiphaty. Ouh, What’s a nightmare…

Berita tersebut kontan membuat publik shock dan tak percaya. Namun apa mau dikata, Catur telah memilih ‘keluar’ dari band dan scene punk. Baginya semua ‘aktifitas dan karir punk’ itu sudah selesai, serta tutup buku untuk selamanya. Ia kemudian mencari peruntungan lewat usaha klotingnya yang berlabel Unscarred, order desain dan sablon, serta menekuni hobi sepeda ekstrim BMX. So, is it the end of Antiphaty?!…

X X X X X

 

Scene Malang di awal era 2000-an memang cenderung sepi dan menurun produktifitasnya. Berbagai band mulai dihinggapi masalah internal, vakum bahkan bubar. Label rekaman, zine dan organiser gigs mulai redup dan menghentikan kerjanya. Otomatis tidak ada karya yang benar-benar menarik pada jaman itu.

Begitu juga yang sempat dialami oleh Antiphaty sepeninggal Catur, band ini sepertinya juga ikut shock dan mati rasa. Setelah masa hiatus beberapa saat, Eko dkk mencoba tetap bertahan dengan sisa personil yang masih ada. Gitaris Yoyok langsung dimutasi untuk mengisi posisi vokalis. Johan [Keramat] sempat dipanggil untuk mengisi sektor gitar. Beban yang sangat berat tentu ada di pundak Eko dkk untuk melanjutkan eksistensi Antiphaty. Apalagi pesan Catur kepada mereka ketika itu, “Jangan bubarkan Antiphaty. Terusin aja. Aku support dari belakang!”

Eko dkk akhirnya tetap menulis lagu dan berlatih di studio, meski tidak se-intens dulu. Mereka sempat merasa kehabisan akal dan energi untuk jalan terus. Antiphaty hanya kebagian beberapa undangan gigs lokal seperti Hardcore Attack, dan opening act di konser tur-nya band Ingrowing [Ceko]. Namun aksi panggung mereka sudah tidak setangguh dahulu. Kejadian ini tidak se-simpel band yang kehilangan vokalis, tetapi juga seorang frontman. Menurut teman-teman dekatnya, ‘soul’ itu mulai hilang dan hanya ada pada diri seorang Catur Guritno. Ugh!

X X X X X

 

Pertengahan tahun 2006 lalu, Kolektif Radiasi mendapat proyek konser The Exploited [UK] di Malang. Saat itu pikiran mereka langsung tertuju pada Antiphaty dan Catur Guritno. Dua nama itu harus bisa disandingkan dengan legenda punk/crust Inggris yang jadi inspirator dan influens penting di awal karir Antiphaty. Yes, mereka pikir ini momen yang tepat untuk mengawinkan mereka kembali. Eko, Yoyok, Wawan dan Antok menyatakan sangat antusias dengan rencana ‘mengembalikan’ Catur ke Antiphaty. Yah minimal sebagai kejutan untuk satu kali penampilan membuka show The Exploited. Kalaupun akhirnya reuni itu berhasil dan mereka tetap bersatu malah jauh lebih baik lagi!…

“Waduh, aku wes gak kuat nyanyi punk-punk-an rek!” alasan Catur ketika ditawari untuk balik ke Antiphaty dan membuka show The Exploited. Berbagai pihak mulai dari personil band, panitia acara, sahabat sampai orang-orang terdekatnya terus memaksa Catur untuk kembali. Awalnya Catur masih pikir-pikir dulu, dan kemudian dengan suara pelan ia menyerah, “Oke, aku coba deh…”

Yes, rencana mulai dimatangkan. Catur kembali berlatih bersama Eko dkk. Sebagai pemanasan menuju proyek utama, Antiphaty sempat main di acara Ontrant-Ontrant #4 bersama Jeruji, Disinfected, Begundal Lowokwaru. dll. Dan puncaknya seminggu kemudian, Catur dkk benar-benar beraksi di Dome UMM sebagai pembuka konser The Exploited. Mereka bermain apik dan prima, seperti mengembalikan kejayaan Antiphaty. Ribuan crowd bersuka ria dan menyambut antusias. Jelas bukan sesuatu yang sia-sia untuk ‘mengembalikan’ Catur ke tubuh Antiphaty. Yeah, misi suci telah berjalan baik!…

Tidak terduga, Antiphaty makin bersemangat dan berlari setelah momen itu. Hari-hari mereka kembali dipenuhi rasa optimisme yang tinggi. Menulis materi-materi baru, briefing dan latihan di studio kembali jadi aktifitas rutin. Mereka terlihat makin kompak dan solid. Meski sempat ditinggal Wawan yang memilih ikut pacarnya ke Ukraina, toh kenyataannya Antiphaty tetap jalan dan tidak tergoyahkan. Menegaskan kembali slogan baru mereka, Malang’s punk attack!…

X X X X X

 

Band yang berikutnya ini pernah manggung di sini pada tahun 1998. mereka menjadi favorit dan mempengaruhi band-band sini. Yah, mereka kembali lagi. Mari kita sambut…Aaan-tiiiii-phaaaa-tyyyyy!” teriak mc di Jak Resto Kuta [Bali] akhir Januari lalu. Mereka memang di-plot sebagai band pembuka konser tur Burgerkill di Bali. Antiphaty lalu naik panggung, beraksi dan berhasil memenuhi hasrat fans-nya malam itu. Sisa-sisa kejayaan Antiphaty masih sangat terasa di Bali. Selalu menyenangkan bagi Catur dkk untuk berada di ‘rumah kedua’ mereka. ‘Daerah penaklukan’ yang pernah membesarkan nama Catur dkk, serta membuat Antiphaty menjadi penting di dalam scene punk. And also, the ‘Arak’ can speaks louder!…

Dan tidak terasa kemudian masuk bulan Februari 2007, berarti eksistensi Antiphaty sudah genap berusia satu dekade. Hasilnya adalah tiga album penuh, dua proyek split-tape, dua proyek kompilasi, serta pengalaman manggung yang tak terhitung. Tambahkan juga, beberapa orang yang pernah mencicipi jadi member Antiphaty, dan ribuan botol minuman keras. Dan tentu saja, pengalaman baik nan berkesan serta pengalaman buruk nan menyakitkan yang hampir sama porsinya.

Well, kalau memang benar bahwa punk adalah gaya hidup, maka tentunya itu musti gaya hidup yang keras. Dan rasanya anda perlu belajar banyak dari Catur dkk. Sebab mereka telah menjalani suka-duka yang menarik selama sepuluh tahun ini. Sudah pernah merasakan hidup di jalanan. Sempat berjaya dalam karirnya. Tahu rasanya dielukan dan dicaci maki. Serta sempat tegap berdiri bangga di atas boot, maupun dianggap sebagai sol boot itu sendiri. Pada akhirnya Antiphaty tetap eksis, berkarya dan menginspirasi banyak anak muda hingga detik ini…

X X X X X

 

“Hey, acara ini untuk menyenangkan kalian semua!” teriak Catur di kafe Delta pada malam yang spesial itu. Antiphaty menggeber setlist lagu yang diambil dari koleksi album pertama hingga materi baru mereka. Mulai dari nomor hits Apostate, Mati, Damai, sampai Anti Punk Fuck Off, Welcome In My Hell, atau Betrayer. Di tengah-tengah pertunjukan, sempat ada kue tart, mister Jack D, dan berbotol-botol bir. Kejadian di antara crowd jangan ditanya, moshpit sangat seru dan riot oleh aksi pogo serta moshing di hampir seluruh ruangan kafe. Semuanya tampak larut dan bergembira bersama. Kelar acara, jabat tangan dan peluk erat di antara kerabat Antiphaty. Malam itu memang sangat istimewa. Langit yang mendung pun ikut puas dan mengurungkan hujannya. Sebuah momen bahagia yang mungkin gak semua band lokal bisa merasakan. Sepuluh tahun, dan riwayat mereka masih akan terus kita catat…

[Samack]

foto dok. Antiphaty

Artikel ini kami dedikasikan spesial kepada Lek Catur Guritno, Eko Plokotho, Yoyok Rampox dan Antok Celeng. Juga buat seluruh eks personil, sahabat, dan fans Antiphaty. So, heavy fucking anniversary, motherfuckerz!…

 

 

 

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: