Agresi Punk Rock Barmy Army

Jum’at siang, 2 Juni 2006, pelataran kampus Universitas Muhammadiyah Malang sudah mulai dipenuhi gerombolan orang yang berdandan aneh, nyentrik, dan menarik perhatian awam. Anak-anak muda penuh piercing, tato dan rambut berwarna-warni. Berbalut dengan celana jins ketat, kaos belel atau jaket kulit yang berbaur spike, pin dan emblem. Mirip sebuah visualisasi gaya fashion adikarya Vivienne Westwood atau Malcolm McLaren di era kejayaan style punk rock akhir 70an. “Wah, ini benar-benar seperti hari raya-nya anak-anak punk rock!” celetuk seorang rekan yang hadir saat itu.

Acara sempat molor dua jam lamanya dari jadwal. Sekitar pukul enam sore, Begundal Lowokwaru tampil membuka perhelatan ‘pesta dayak’. Pasukan punkrock lokal ini selalu heboh layaknya setiap show mereka. Fans mulai merangsek pagar barikade dan panggung, serta ikut bernyanyi. Ya, suasana moshpit cukup meriah. Lalu giliran DOM 65 (Jogja) yang naik pentas. Sayang mereka seperti bermain kurang maksimal. Semacam agak bermasalah pada sound system. Aksi personilnya juga kurang pol. Semoga ini tidak berarti anak-anak Jogja tersebut masih trauma dengan guncangan tektonik yang baru melanda daerahnya. Namun sebuah kover lagu Shine On You Crazy Diamond dari Pink Floyd yang apik cukup menyelamatkan performa mereka. Band crust/punk kebanggaan Malang, Antiphaty, kembali dengan vokalis orisinilnya. Catur dkk cukup bertenaga mengusung karya-karya tembang, seperti Mati, Manusia, Apostate, Damai, dll. Antiphaty juga sempat mengkover UK82-nya The Exploited yang konon liriknya mereka dapatkan langsung dari sang vokalis Wattie Buchan sehari sebelum konser.

Sementara penonton di dalam venue UMM Dome sudah mencapai 5000 kepala serta telah memenuhi seputar lantai festival dan tribun atas. 80% di antaranya lengkap dengan dandanan dan atribut khas layaknya seorang punk rockers. Gila, datang dari mana saja anak punk sebanyak itu?! Baru kemudian diketahui ternyata banyak rombongan ‘delegasi punk’ yang datang khusus dari berbagai daerah di Jatim, Jateng, DIY, Bali, bahkan Madura. Demi sebuah nama besar yang bikin mereka kenal dan akhirnya doyan punkrock!…

Frontman Wattie Buchan (vokal) bersama adiknya Willie Buchan (drum) plus Robbie Davidson (gitar) dan Robert Halket (bass) mulai menaiki stage. Tanpa banyak omong, The Exploited langsung tancap gas menggeber berbagai komposisi lagu dari stok album Punk’s Not Dead (1981) sampai Fuck The System (2003). Tidak banyak jeda, saat satu lagu kelar langsung disambung ke lagu berikutnya. Kredit positif buat Wattie yang masih enerjik dalam usianya yang ke-49 tahun. Dia sendiri sebenarnya tidak terlalu komunikatif atau over-talks pada crowd. Kecuali aksi-aksi standar seperti menawarkan mik pada penonton, mengajak sing-along, atau memainkan mimik mukanya yang memang komikal. Sedangkan personil yang lain lebih sibuk dengan perangkat instrumennya. Hasilnya, The Exploited bermain cukup ‘safe’ dan konstan – kalau tidak bisa dibilang cukup biasa dan tidak terlalu istimewa. Namun memang nama besar selalu menyimpan suatu aura tersendiri bagi penggemarnya. Penonton tidak tampak lelah untuk terus ber-pogo dan mengikuti setiap anthem pada nomor-nomor klasik macam Punk’s Not Dead, UK82, Beat The Bastard, Noize Annoys, Holiday In The Sun, atau Fuck The System. Setelah dua kali encore, Wattie dkk menyudahi aksinya. Total ada 22 lagu yang terangkum dalam setlist mereka malam itu.

Konser yang berakhir sekitar pukul 10 malam itu benar-benar istimewa serta fenomenal. Catatan pentingnya bahwa dari awal hingga akhir konser berjalan aman dan tertib, tanpa keributan! Semua telah puas berpesta. Poin bagus untuk tim organiser lokal dari Kolektif Radiasi. Yah, Jum’at itu benar-benar menjadi hari raya punk rock bagi mereka yang ikut merayakannya!…

[smck]

 

About apokalipwebzine
Ini hanyalah blog sementara di masa hiatus Apokalip.com yang tiba-tiba sejak Mei 2010 kemarin. Blog ini berisi arsip-arsip pilihan editor Apokalip yang pernah dimuat selama kurun waktu tiga tahun terakhir, 2007-2010. Ada kumpulan artikel, esai maupun resensi lawas yang mungkin masih menarik untuk dibaca serta bisa jadi sumber referensi. Yah, sebut saja ini the best archives versi editor Apokalip. Semua tulisan kami muat sebagaimana aslinya, tanpa editing ulang untuk mempertahankan orisinalitas. Semoga anda terhibur dan terbisingkan... Apokalip adalah proyek situs musik online yang idenya digagas oleh sejumlah anak muda di kota Malang. Proses pengerjaan konsep dasar dan konstruksi situs ini dimulai dari November 2006 sampai dengan April 2007 oleh Yuda Wahyu dan Samack. Apokalip.com resmi online sejak tanggal 10 Mei 2007 dengan tagline Menyerukan Kebisingan. Selain mengelola webzine, Apokalip juga memiliki projekt lain seperti Klub Apokalip [blog/portal], ReloadYourStereo [netlabel], Apokalip|Show [event organizer], Apokalip Strong-Merch [merchandise], dan Kios Apokalip [online store]. Manajemen dan pengembangan situs ini dikelola secara independen oleh Apokalip Media Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: